Manusia yg banyak dosa ini sedang berusaha tawakal dgn takdirMu ya Allah
Show & Tell
hello vonnie
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Peter Solarz
Fai_Ryy
cherry valley forever
Jules of Nature

JVL
Not today Justin
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
YOU ARE THE REASON

Discoholic 🪩
Stranger Things
he wasn't even looking at me and he found me

Product Placement
Cosimo Galluzzi

izzy's playlists!
sheepfilms
🩵 avery cochrane 🩵
untitled
seen from Thailand
seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from United States

seen from Singapore
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Switzerland

seen from Spain

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from India

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from United States
@artyassblog
Manusia yg banyak dosa ini sedang berusaha tawakal dgn takdirMu ya Allah
Ketidakmungkinan dalam Kisah Nabi Musa dan Pengaturan Allah dalam Kisah Nabi Yusuf
Hari ini gue baca surat Thaha dan sampai pada doa Nabi Musa:
"Ya Rabb lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku atas segala urusanku"
Lalu gue jadi bertafakkur pada kisah dua Nabi. Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Kehidupan keduanya terabadikan dengan sangat indah dalam Al Qur'an dan tentu ada banyak hal yang bisa kita pelajari.
Salah satunya adalah bahwa kehidupan Nabi Musa AS itu dipenuhi banyak "ketidakmungkinan". Bahkan mukjizat yang diberikan oleh Allah ke beliau pun bertentangan dengan sunnatullah yang dipahami manusia. Laut terbelah, tongkat tiba-tiba jadi ular, makanan turun dari langit, dan banyak lagi.
Di antara segala ketidakmungkinan itu juga masih ada "ketidakmungkinan" lain. Beliau adalah bayi yang seharusnya dibunuh tapi akhirnya malah dirawat oleh Fir'aun. Beliau juga tidak mampu berbicara dengan fasih tapi lawannya Fir'aun yang sudah seperti tuhan bagi kaumnya. Menurut hitungan manusia, Nabi Musa AS tidak mungkin menang.
Maka dalam segala ketidakmungkinan itu, Allah juga memberi jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka kita melihat jejak-jejak doa nabi Musa AS adalah doa yang sangat pasrah dalam segala usaha beliau. Dan sesuai janji-Nya, Allah tidak pernah meninggalkan Nabi Musa AS.
Di sisi lain kita melihat Nabi Yusuf AS. Sepanjang hidup beliau diuji dengan kesulitan, kebencian sesama manusia, dan fitnah. Dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara, dan dilupakan.
Namun justru melalui semua itu, jiwa beliau ditempa. Hingga pada akhirnya beliau mampu menjalankan amanah dengan sangat baik sebagai petinggi kerajaan yang membantu Mesir melewati masa paceklik.
Maka ucapan beliau setelah melewati semua badai itu adalah:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
Ada banyak jalan dari Allah untuk membentuk manusia dan membantu manusia menyelesaikan masalah. Kadang Allah menempa manusia seperti Dia menempa Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS. Kadang Allah menyelesaikan masalah lewat arah yang tidak pernah kita sangka. Atau kadang Allah membantu kita dengan hidayah melalui logika sehingga kita bisa membuat keputusan-keputusan yang baik di saat-saat genting.
Cara Allah menyapa hidup kita bisa lewat sesuatu yang tampak luar biasa. Bisa juga melalui sunnatullah yang sudah sangat kita kenali. Bahkan kadang lewat kelapangan dada untuk terus melangkah satu hari lagi.
Maka di saat-saat sempit, ketika hati kita masih terasa lapang, syukurilah. Karena itu salah satu bentuk pertolongan Allah.
Lalu bermohonlah pertolongan-pertolongan yang lain. Jangan pernah berputus asa.
Karena Rabb yang mengurus kita adalah Rabb yang mengurus Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS. Dia menemani hamba-Nya yang sedang berusaha. Dia juga tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang tetap bertawakkal dalam segala keluh kesahnya
Lathif
Gara-gara membahas doa Nabi Yusuf AS, gue juga jadi teringat dengan makna kata Laṭīf.
Di Indonesia, Al-Laṭīf biasanya diterjemahkan dengan "Maha Lembut". Tapi kalau kita membaca tafsir para ulama, makna "lembut" dalam bahasa Indonesia jadi terasa sempit sekali.
Kata Laṭīf mengandung makna sesuatu yang halus, detail, samar, dan bekerja dengan cara yang tidak selalu terlihat. Ada nuansa gentle sekaligus subtle. Sampai-sampai kebaikan-kebaikan Allah terkadang sampai kepada hamba-Nya melalui cara yang tidak kentara, sehingga kita tidak akan menyadarinya kalau tidak mencoba connecting the dots.
Makanya dulu waktu membaca terjemahan secara literal, gue sempat bertanya-tanya:
"Lah, Nabi Yusuf AS dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, dipenjara, dan dilupakan. Kok masih mengatakan bahwa Rabbnya Maha Lembut?"
Ternyata setelah membaca tafsir para ulama, baru paham bahwa Nabi Yusuf AS mengucapkan:
إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ "Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
bukan ketika beliau berada di sumur atau di penjara.
Beliau mengucapkannya setelah seluruh perjalanan hidupnya tersambung. Setelah beliau melihat bagaimana Allah mengeluarkannya dari sumur, membawanya ke rumah Al-Aziz, memasukkannya ke penjara, mempertemukannya dengan raja, mempertemukannya kembali dengan keluarganya, dan menjadikan semua luka itu tidak sia-sia.
Maka ucapan itu seolah bermakna:
"Sesungguhnya Rabbku mengatur semuanya dengan cara yang begitu halus, begitu detail, dan begitu rapi."
Ada jalan-jalan yang dahulu tampak seperti musibah, tetapi ternyata merupakan bagian dari pertolongan-Nya. Ada sebab-sebab yang dahulu terlihat acak, tetapi ternyata berada dalam pengaturan-Nya yang sangat teliti. Kadang keterbatasan bahasa memang membuat kita ikut terbatas dalam memahami.
Dan mungkin memang sebagian kelembutan Allah baru bisa dikenali ketika kita sudah cukup jauh berjalan dan menoleh ke belakang.
Lalu berkata seperti Nabi Yusuf AS:
"Sesungguhnya Rabbku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki."
50 posts!
Apalah arti memiliki ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami
Rindu-Tere Liye
Mengakhiri hari ini dengan hamdalah. Alhamdulillah telah dicukupkan kebutuhan dan keperluan ku hari ini. Alhamdulillah sudah melindungi saya dari segala bahaya baik dari manusia maupun bukan manusia. Alhamdulillah sudah mempertemukan dengan teman yg baik. Alhamdulillah jantung ini masih berdetak memberi semangat untuk tidak menyerah
Tentang Doa yang Pernah Meneduhi Duniamu
Di sebuah sudut kafe kecil di Jogja, ketika malam mulai menua dan lampu-lampu temaram menggantung lesu di antara wangi kopi dan rintik gerimis, seorang teman berbicara dengan suara yang nyaris remuk oleh kenangannya sendiri. Tak ada dramatika dalam ucapannya, hanya kejujuran yang terucap sebagaimana adanya—dan justru karena itu terasa menohok.
“Aku bisa bertahan sampai hari ini karena teduhnya doa ibuku. Doa-doanya seperti langit yang menaungi tanpa suara, menjaga tanpa meminta terima kasih. Tanpa itu semua, aku tak pernah punya kekuatan untuk berdiri di tengah hidup yang kadang terlalu bising, kadang terlalu sunyi”.
Ia terdiam sejenak, menatap cangkirnya seakan berharap ada jawaban di dasar ampas.
“Sekarang beliau sudah tiada. Dan aku sungguh menangisi diriku sendiri—yang kini merasa tak lagi memiliki sesuatu yang keramat untuk kujadikan pegangan."
Kata-katanya menggantung di udara. Lama. Tak ada yang berani menyela, seolah kesedihan itu terlalu suci untuk dibantah, terlalu dalam untuk disentuh dengan kalimat yang tergesa. Tak banyak yang bisa kukatakan, karena aku belum pernah berdiri di tempat yang sama dengannya — belum pernah kehilangan seorang ibu. Perlahan ku coba menyentuh perihnya dengan seutas kata yang mudah-mudahan tak melukai:
“Kalau dulu Tuhan meminjamkan seseorang sebagai tameng dan naungan untukmu menjalani hidup, maka saat Tuhan mengambilnya kembali, berati Tuhan pun sudah menjamin, bahwa sekarang kamu telah cukup kuat untuk meneduhkan hidupmu dengan doa-doamu sendiri”
Kita tak pernah benar-benar siap ditinggal oleh seseorang yang menjadi suara sunyi kita di langit. Tapi hidup terus berjalan, dan iman kita pun harus terus belajar dan berkembang.
Dan Tuhan, yang dulu hadir melalui pelukan ibu, kini mengajarimu cara menemui-Nya langsung: dalam sepi, dalam sajadah yang mungkin basah air mata kerinduan, juga dalam langkah-langkah yang tertatih namun selalu jujur.
Langit masih mendengar, dan Tuhan tidak pernah alpa.
—————————
Dan angin malam kota terasa ikut memeluk luka yang tak terucap, seolah paham, bahwa ada duka yang tak minta dihibur—hanya ingin dihormati dalam diam.
- Yogyakarta, Agustus 2025
Jatuh cinta kali ini terasa menenangkan. Aku tidak ingin mengejar, aku juga tidak berharap dikejar. Aku tau rencana-Mu jauh lebih indah, pun jika aku tidak bersamanya pun tidak apa.
Aku hanya merasa lebih tenang dibanding yang dulu, mungkin alasanku tidak lagi mengejar karena aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama lagi. Aku tidak mau memukul rata semua lelaki, kali ini aku hanya lebih berhati-hati.
Persetan dengan kata orang perihal cinta habis di orang lama. Itu tidak berlaku padaku karena aku bisa memberikan cinta yang lebih besar daripada yang dulu. Hanya saja cinta itu akan ku berikan di waktu yang lebih tepat.
Tuhan, aku titip satu nama untuk kau jaga. Semoga ada dan tidak ada kabar darinya, dia selalu baik-baik saja. Tolong jaga dia dimanapun dia berada. Hanya Engkau satu-satunya yang aku percaya.
Aku sembuh dan sangat membaik dengan perlahan namun pasti dan tidak mengingat yg kemarin lagi karena sangat mensyukuri apa yg ada sekarang. Yg kemarin cukup dijadikan pelajaran untuk menbangun hubungan keluarga dan kehidupan yg lebih baik dan terarah, bukan untuk dikenang
Kehilangan Masa Kini
Seberapa sering kamu kehilangan masa kini demi masa depan yang belum tentu datang?
Pikiranmu terus menerus berpusat pada hal-hal di masa depan yang kamu takutkan, pernikahan, anak,rumah, pekerjaan, rezeki, dan semua hal yang diawal dengan : nanti bagaimana? Hingga semua ketakutan itu menggerogoti kebahagiaanmu hari ini. Meniadakan pandanganmu pada nikmat yang kamu miliki seperti kesehatan, oksigen, makanan, bisa tidur di bawah atap, bisa internetan, dan semua hal yang membuat harimu saat ini tidak diiringi ketakutan besok makan apa. Bahkan, saat kamu sadar bahwa kamu masih punya pilihan, itu merupakan anugerah yang luar biasa.
Karena banyak orang yang tidak memiliki pilihan dan dipaksa untuk menjalani apa yang ada di depan mata tanpa punya pilihan yang lain.
Ketakutanmu tidak memiliki rumah di masa datang, menjerumuskanmu pada utang berkepanjangan. Ketakutanmu tidak memiliki pasangan hidup, menjerumuskanmu pada hal-hal yang mendekati zina dan maksiat. Ketakutanmu pada kemiskinan, menjerumuskanmu pada tidak pedulinya lagi kamu pada halal dan haram. Seberapa sering kamu kehilangan masa kini, demi masa depan yang belum tentu datang? Bagaimana kalau kematian datang lebih dulu? (c)kurniawangunadi
Bila perasaanmu begitu mendalam terhadap sesuatu hal, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah biar dirimu tidak tenggelam dan bila pikiranmu terlalu jauh merenungkan suatu urusan, maka pulangkanlah urusan itu kepada Allah biar dirimu tidak tersesat.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepadaNyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepadaNya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud: 123)
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Anak yang cengeng adalah anak yang memiliki bibit empati, tapi belum memiliki skill regulasi emosi. Anak yang sulit diberi tahu adalah anak yang berpendirian kuat, namun belum memiliki skill negosiasi. Anak yang peragu adalah anak yang mampu mempertimbangkan resiko, tapi belum memiliki skill problem solving. Anak yang berbicara nada tinggi adalah anak yang berani berpendapat, namun belum memiliki skill komunikasi.
Parents, jangan hilangkan bibit baiknya, tapi bangun skill yang tepat untuk mengasahnya.
-dr. Rina A. Sumantri
Menjadi Hebat yang Tak Terlihat
Dulu. dulu sekali. Sosok wanita hebat yang kupikir adalah wanita yang punya banyak titel, cantik, bisa memimpin rapat, orasi di atas podium, bawa mobil sendiri, punya banyak relasi di luar dan sederet prestasi yang membanggakan lainnya. Dulu sempat ingin menjadi sosok yang demikian dengan segala ambisi dan tentunya ekspektasi orang-orang sekitar.
Lalu kemudian aku mengenal seorang lelaki yang pada waktu itu memberiku sebuah buku berjudul "Ibunda para Ulama". Akupun melihat sosok hebat dari sisi yang lain. Aku melihat wanita hebat adalah pejuang keluarga. Bagaimana ibunda Imam Syafi'i berjuang mengantar anaknya ke majelis, berjalan jauh sejak pagi buta sambil menggendong anaknya yang masih belia. Bagaimana ibunda Imam Ats Tsauri mendidik hingga anaknya memiliki kejujuran yang tinggi, Ibunda Imam As Sudais, dan masih banyak lagi.
Ketika menikah dan mendalami Islam diatas fitrah wanita sebagai istri dan ibu yang Allah anugerahkan kepadaku, akhirnya benar-benar aku menyadari bahwa wanita hebat adalah pejuang keluarga yang berhasil menata kehidupan suami dan anaknya. Akupun benar-benar merasakan betapa susahnya mengatur menu makan anak, jadwal tidurnya, pendidikannya, belum lagi dengan kewajiban kita sebagai istri.
Entah, aku akan merasa cukup hebat jika berhasil dengan mengatur lingkungan yang kecil ini. ya Allah mudahkan kami.
Aku titip hidupku ya Allah.. Bagaimana jalannya, Engkau yang atur semua. Aku tidak ingin sok tau lagi mengatur hidupku ini. Hidup ini milik-Mu, bagaimana ujungnya ku balikkan pada-Mu.
Beberapa waktu ini sedikit menjauh dari sosial media dan menjaga jarak dengan orang tertentu. Bukan tanpa alasan yg jelas, tapi karena menyadari bahwa satu satunya tempat pulang hanya lah Allah. Yg tidak pernah meremehkan kesulitan sekecil apapun keluhan ku.
Di keadaan seperti ini jarang sekali ada org yg bertanya "gimana harimu?" "Apa kamu baik baik saja?". Bukan jarang namun memang tidak ada yg bertanya, bahkan orang tua sendiri.
Kadang luka kita memang berasal dari lingkungan terdekat kita atau orang terdekat kita, mulai dari seorang ayah misalnya.
Aku ingin mendapat suami yg baik dan benar untuk dunia dan akhiratku, bisa membimbing aku, saling menerima dan sabar satu sama lain. Aku ingin anakku mendapat ayah yg baik dan benar. Yg tidak hanya diam dan jaga image di depan anaknya karena gengsi jika terlihat perhatian.
Saat ini satu satunya yg bisa menguatkan hanyalah Engkau cukup Engkau yg tau hari hariku, tau perasaan ku yg terdalam, tau apa yg aku butuhkan. Terimakasih ya Allah