Definisi happy ending 🤍
No title available
h

Kiana Khansmith
AnasAbdin
we're not kids anymore.
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Lint Roller? I Barely Know Her

@theartofmadeline
Keni

❣ Chile in a Photography ❣
Alisa U Zemlji Chuda
No title available
wallacepolsom
ojovivo
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Claire Keane
RMH

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Arab Emirates
seen from Lithuania

seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from Brazil
@arunnika
Definisi happy ending 🤍
Jodoh, Takdir, dan Kekhawatiran
Tulisan yang bahas tentang (mencari) pasangan hidup memang tidak ada habisnya. Seolah-olah, satu fragmen hidup ini menjadi hal yang begitu besar hingga menyita waktu, pikiran, dan tenaga yang besar.
Tapi sebenarnya, apakah benar demikian? Apakah segenting dan sekrusial itu hal ini, hingga kita memiliki pengharapan yang besar agar bisa melewati satu tahapan ini dengan kebaikan yang paripurna? Sebagai orang yang sudah menikah hampir sepuluh tahun ini, saya bisa mengatakan : YA, INI SANGAT PENTING tapi dengan catatan.
Hal ini penting, tapi tidak sampai menjadi landasan untuk buru-buru.
Hal ini akan lebih mudah diterima pada orang yang memiliki value tentang pernikahan sebagai bagian penting dalam hidup, kalau bagi orang lain yang memiliki value tidak memilih untuk menikah, pembahasan ini tidak diperlukan.
Kita sedang dalam kondisi mental dan emosional yang stabil, karena pada saat lagi eror (baik secara anggapan pribadi / hasil assesement), ada dua kemungkinan : denial atau termotivasi sampai hilang logika.
Mari kita lanjutkan pembahasannya.
Mengapa fragmen hidup ini perlu kita usahakan sebaik mungkin?
Pasangan hidup adalah orang yang akan memiliki pengaruh sangat amat signifikan dalam hidup kita. Sehingga, memastikan diri kita mendapatkan pasangan yang baik dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan menjadi sebuah upaya yang penting untuk dioptimalkan. Sekalipun, konsekuensi dari proses pencarian ini akan memakan waktu, menguras emosi dan tenaga, bahkan menguras biaya.
Semua itu, worth it banget saat kita bisa mencapai tujuan besar kita. Mendapatkan pasangan yang baik, sekufu, karakter dan pemahamanya cocok sama kita, serta kita ridha sama agamanya.
Jika saja kamu bisa mengintip takdir dan tahu bahwa proses untuk mengusahakannya butuh waktu 4 tahun dari sekarang, bersediakah kamu bersabar selama empat tahun ke depan? tentu kamu bersedia bukan?
Tapi kita tidak bisa mengintip takdir. Kita tidak tahu, dimana dan kapan, kita akan sampai ke tujuan. Hal yang bisa kita kontrol pada diri kita hanya bagaimana diri kita selama proses ini. Mengendalikan diri, pikiran, dan rasa kita akan tidak terjerumus pada hal-hal yang justru menjauhkan kita dari tujuan.
Jika saja empat tahun tadi memang harus kamu lalui, bukankah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan puluhan tahun yang akan kamu lalui bersama pasangan yang tepat? Empat tahun yang rasanya lama dan menyesakkan, empat tahun yang membuatmu melompati umur kepala tiga, bukankah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seumur hidup bersama orang yang paling dekat di hidupmu? Orang yang bahkan akan tahu luar dalammu, orang yang tadinya asing, bisa melihat auratmu seutuhnya yang bahkan orang tuamu tidak bisa. Orang yang akan menemani sekaligus mengusahakan keluargamu ke tujuan yang sama.
Untuk itu, setelah kujalani hampir sepuluh tahun ini. Ditambah dengan belajar kepada para guru dan mentor yang sudah puluhan tahun menikah. Ada satu kesimpulan besar yang terngiang-ngiang.
Nasihat finansial, karir, dan kehidupan (baik dunia/akhirat) yang terbaik dan universal adalah "pilihlah pasangan hidup yang tepat."
Sekuat itu pengaruh keberadaan pasangan hidup, pastikan kamu memilihnya dengan kesadaran, dengan keimanan, dan dengan keyakinan yang kuat. Kamu punya kuasa untuk membuat keputusan, gunakan kuasamu untuk membuat keputusan sebaik mungkin untuk dirimu sendiri.
Jangan lupa, senjatai diri dengan doa-doa yang kuat tak pernah putus. Mintalah doa pada orang-orang salih. Mintalah tolong pada orang-orang yang baik. Karena takdir-Nya mungkin akan melalui perantara siapapun, maka bukalah jalan untuk dirimu sendiri, jalan-jalan yang terbaik yang bisa kamu siapkan untuk kehadirannya dalam hidupmu.
Selamat berjuang. Menangkan!
Kurniawan Gunadi
"Pelan-pelan aku belajar… bahwa tidak semua yang datang harus menetap, dan tidak semua yang pergi harus dikejar. Aku cukup membuka hati—bukan untuk menggenggam, tapi untuk merelakan. Sebab ada hal-hal yang tak bisa kuselami logikanya, hanya bisa kurasa dan kuimani dalam diam."
Takdir Pertemuan
Seiring bertambahnya usia, aku mulai menyadari satu hal: tak ada pertemuan yang sia-sia. Setiap orang yang datang dalam hidup ini, entah hanya singgah sebentar atau menetap lama, membawa pesan dan pelajaran yang dititipkan Tuhan.
Dulu, aku sering mempertanyakan kenapa harus bertemu dengan orang yang menyakiti, mengecewakan, atau membuatku kehilangan arah?Kenapa harus jatuh hati pada yang salah, atau berharap pada yang tak pernah kembali?
Tapi semakin berjalan, semakin aku mengerti. Semua itu bukan kesalahan, tapi jalan. Jalan untuk mengenali diriku lebih dalam. Jalan untuk belajar membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya mampir. Jalan untuk belajar melepaskan, tanpa harus membenci.
Kini aku tak lagi menyesali pertemuan-pertemuan yang tidak berjalan sesuai harapan. Tidak juga terlalu cepat berharap dari mereka yang datang dengan kata-kata manis. Karena ternyata, tidak semua yang hadir harus tinggal. Dan tidak semua yang pergi membawa luka.
Ada yang datang hanya untuk menyampaikan pesan. Ada yang pergi justru setelah menuntaskan tugasnya. Lalu aku pun belajar untuk tidak lagi terlalu bertanya:
"Dia akan jadi siapa dalam hidupku?"
Tapi lebih sering berbisik dalam hati:
"Apa yang ingin Allah ajarkan lewat dia?"
Dan di situlah letak tenangnya saat kita percaya, bahwa setiap pertemuan adalah takdir, yang tidak selalu harus indah, tapi selalu membawa hikmah.
Memilih Cara
Memilih cara mati artinya sama dengan memilih cara bagaimana kita mau hidup! Kalau mau mati dengan cara yang baik, akhir yang baik. Artinya, saat ini kita perlu mengupayakan sebaik mungkin cara kita hidup. Bukankah begitu? Tapi pernah nggak sih, memasukan rencana cara kita mati ke dalam life-plan kita? Apakah selama ini, yang masuk ke dalam life plan adalah tentang bagaimana kita mendapatkan pekerjaan impian, rumah impian, dan semua hal lain yang berusaha kita kejar setiap hari? Tapi sudahkah kita menentukan, memilih bagaimana cara mati kita nanti? Cara yang baik, yang buruk, atau yaudah terserah aja gimana nanti? Mau nggak sejenak ngajak ngobrol diri sendiri, mulai menanyai diri, nanti kamu pengin mati seperti apa? Pengin akhir yang kayak gimana? Berangkat dari situ, kamu akan tahu bagaimana cara kamu hidup. Kamu nggak akan bingung lagi sama hal-hal receh yang kamu temui dan menggelisahkanmu sekarang, karena yang nggak membuatmu mati dengan cara yang kamu inginkan, kamu ga perlu pusingin.
Aku jadi teringat, beberapa tahun yang lalu, saat berkunjung ke rumah salah satu guruku. Beliau gemar sekali melakukan perjalanan, terkhusus menyambung silaturahmi meski sudah berumur. Kata beliau, kalau beliau mati di perjalanan, nggak apa-apa, karena sedang dalam rangka niat baik menyambung silaturahmi.
Membungkus rangkaian aktivitas harian dengan niat baik adalah kunci yang beliau wasiatkan.
Nah, pernah nggak kita menjaga niat baik kita, setiap hari. Saat apapun. Bekerja, sekolah, berkendara, apapun itu?
Scene: Obrolan santai bareng temen di kafe kecil, sambil ngeteh dan bahas topik yang lagi rame di timeline
“Eh, bener gak sih... semua cowok tuh pasti tebar jala? Nge-chat banyak cewek sekaligus, deketin sana-sini, padahal belum tentu serius 🙂”. Tanyaku membuka percakapan.
Temenku nyeruput tehnya, lalu ngelirik aku sambil senyum kalem.
“Ngga semua sih. Tapi kalau kamu ketemu yang gitu, boleh banget pasang batas. Ingat: kamu bukan cadangan. Kamu bukan opsi. Kamu itu pilihan.”
Aku diem sebentar. Terdiam, tapi hati kayak lagi disiram logika.
Lalu aku ngangguk mantap.
“Asyiiiappp.” kataku.
Cerpen : Jatuh Cinta di Umur Matang
Lebih rasional.
Langsung menganalisa, apa tujuan dari jatuh cinta ini. Kalau hanya sekedar bermain rasa, lebih baik bekerja aja mencari uang buat membeli kesenangan. Karena jika jatuh cinta hanya untuk menerka-nerka mau ke mana ujungnya, lebih baik beli tiket kereta dan pergi berkelana sendirian, lebih minim risiko daripada jatuh cinta. Langsung mengkonfirmasi, apa aja yang kamu miliki dan aku miliki serta apa yang tidak. Untuk hal-hal yang tidak kamu miliki, bagaimana kamu mengupayakannya? Apakah kamu termasuk orang yang tidak peduli dengan harta halal dan haram selama bisa mendapatkannya atau orang yang hati-hati? Sebab aku sangat hati-hati. Untuk hal yang sudah kamu miliki, apakah kamu bersedia untuk berbagi? Langsung menyaksikan, bagaimana tabiatmu yang terbentuk selama puluhan tahun. Karena aku tidak bersedia jika aku menjadi alasanmu untuk berubah menjadi lebih baik, apalagi jika kamu berharap aku bisa menjadikanmu lebih baik. Bagiku sejak awal sangat realistis, aku ingin jatuh cinta pada orang yang baik. Karena tidak ada jaminan aku bisa mengubahmu yang telah hidup dengan caramu selama puluhan tahun dalam sehari semalam apalagi beberapa hari saja. Aku memang tidak cukup sabar untuk menemanimu berubah, silakan berubah dulu menjadi baik kalau kamu memang berniat. Langsung pada intinya, tidak perlu terlalu banyak seremoni yang uangnya bisa kita pakai untuk pergi umroh atau membeli rumah. Daripada harus lelah menyiapkan banyak ritual, bagaimana kalau kita beramal saja, misal berbagi kebahagiaan dengan mengundang keluarga dan juga berbagi ke orang-orang fakir dan miskin. Biar doa-doanya buat kita, tidak ada penghalang untuk sampai kepadaNya.
Tidak perlu banyak basa basi, kalau kamu memang berniat untuk jatuh cinta. Jelaskanlah tujuanmu hingga sejauh mana, kalau kamu tidak ada tujuan, lebih baik hilang.
Karena aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang-ulang kesedihan yang serupa. Karena aku pun sekarang lebih rasional, bukan lagi rupa menawan yang membuatku terpesona dan berkata "iya". (c)kurniawangunadi
Salah satu kemampuan bertahan hidup ketika dewasa adalah:
"Belajar untuk tidak disukai"
Nggak semua orang di sekitar kita punya cara pandang, cara berpikir, dan perasaan yang sama soal suatu hal seringnya justru beda-beda.
Melatih pikiran dan perasaan itu bukan berarti jadi cuek, tapi justru bisa bantu kita mikir lebih jernih dan bersikap lebih bijak saat menghadapi hal-hal yang nggak sejalan sama apa yang kita perjuangkan atau nilai-nilai yang kita pegang.
Manisfes 2025 :
Jadi perempuan yang meneduhkan dan membawa ketenangan untuk diri sendiri dan orang-orang disekitar
Mau nyimpen nasihat ini di tumblr
Ekspetasi dan realita dalam pernikahan
Segala sesuatu itu berawal dari niat termasuk menikah. Kalau menikah niatnya untuk ibadah, maka segala sesuatu yang terjadi setelah menikah itu harus diyakini bahwa itu mmng sudah menjadi takdir baik Allah.
Termasuk ketika kita melihat kekurangan pasangan, jadikan kekurangan pasangan sebagai ladang pahala dan amal sholeh.
Menikah bukan hanya tentang kenyamanan saja tapi bagaimana bisa menerima kekurangan pasangan yang akan menjadi ladang pahala dan amal sholeh.
Selalu ingat motivasi atau tujuan kita hidup di dunia ini untuk apa, kemana tangan kita berpegangan saat menghadapi badai kehidupan.
Seperti halnya safar, ada tempat-tempat yang memang hanya ditakdirkan untuk kita lewati, bukan sebagai pelabuhan utama. Jadi, jika ditakdirkan untuk lewat maka biarkanlah ia hanya sekedar lewat saja. Tak usah diperpanjang cerita dan masanya.
Ibarat mawar hitam yang kamu temukan di jalan, namun tak layak untuk diperjuangkan.
Yang lewat, pokoknya biarkan lewat saja.
Ruang semesta, November 2024.
Kebahagiaan adalah ketika jiwa kita merasa tenang bersandar kepada Allah Swt.
Autopilotkan dirimu.
Kalau terlalu terasa berat, istirahat dan cobalah lepaskan sesuatu yang mengikatmu dengan kekhawatiran.
Kembalikan semuanya kepada yang memberimu hidup. Kamu terbatas, sedangkan Dia, tidak.
Catatan:
Buku Yang Berbahagia ini berisi catatan persiapan dan perjalanan menikah. Meskipun bukan buku how-to, di dalamnya cukup banyak nasihat praktikal. Meskipun bukan buku agama, isinya mengandung sentuhan Islami.
Oya, bagi yang ingin membaca buku saya yang lainnya, Bertumbuh dan Teman Imani bisa dipesan melalui Tokopedia, yaitu di toko buku LangitLangit.YK.
Sekali lagi terima kasih karena berkenan membaca tulisan-tulisan saya. Semangat dari teman-teman sangatlah tak ternilai.
Haloo kak uti
Ijinkan saya memperkenalkan diri, saya risti. Pertama kali kenal tulisan kak uti dari buku bertumbuh. Karena suka sekali dengan tulisan kak uti, saya cari karya kak uti yang lain "teman imaji" , tapi qadarullah saat itu buku teman imaji sudah tidak cetak lagi 🥲, sempat nyari prelove pun ngga dapet. Dan seneng banget dapet kabar buku "teman imaji" cetak lagi taun ini di langit-langityk. Bismillah semoga bisa menjadi salah satu yang beruntung membaca " Yang berbahagia" 😊
"Ya Allah gpp kalau aku harus menunggu, yang penting hadiahnya adalah dia yang baik agamanya"
Kemarin dapat pertanyaan, apa definisi cinta yang tepat?
Dulu sebelum menikah dan saat proses menuju pernikahan, selalu di nasihatin sama seorang psikolog (mba tyas) kalau dalam pernikahan kita harus merendahkan ekspektasi. Berulang kali nasihatnya diulang-ulang.
Pun setelah menikah, menyadari bahwa cinta yang tepat adalah cinta yang tidak akan pernah sempurna dan tidak akan sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Namun meski begitu, cinta itu terasa utuh, tulus dan mencukupkan. Dari rasa cukup itu akan lahir banyak rasa tenang dalam menjalani kehidupan atas izin Allah. Tetapi tidak akan ada rasa utuh dan cukup jika hati enggan mensyukuri berbagai keadaan yang dihadapi dan ujian-ujian yang berhasil dilalui dalam pernikahan.
Di tengah ketidaksempurnaan, cinta itu terus bertumbuh untuk belajar mendewasa dan mengendalikan ego, dengan kesadaran untuk saling bertanggung jawab dan menjaga.
Di tengah ketidaksempurnaan itu pula, setiap saat cinta itu terus berupaya untuk saling menerima satu sama lain. Sebab, tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki kekurangan. Dalam pernikahan kekurangan diri ataupun pasangan—akan menjadi ujian atau salah satu tempat untuk menuai kebaikan, tergantung bagaimana mau menyikapinya. Apakah saling menerima lalu saling melengkapi? Atau memaksa untuk selalu sempurna hingga yang ada hanya rasa kecewa?
Perbedaan dalam pernikahan akan selalu ada, dan ia seperti sungai yang mengalir untuk memberi kehidupan dan warna dalam pernikahan. Jika pasangan kita sama persis isi hati, sudut pandang dan cara berpikirannya dengan kita, maka darimana kita akan belajar bertumbuh dalam pernikahan itu? Perbedaan ada untuk mengajari banyak hal; belajar bersabar, belajar berkompromi, belajar berkomunikasi, belajar untuk memahami dan belajar untuk menyesuaikan diri.
Pasangan adalah teman terdekat, seperti sahabat, ia mesti nyaman diajak membicarakan apapun, mudah diajak berdamai saat ada konflik dan mudah untuk beradaptasi dengan beragam keadaan yang dihadapi. Maka cinta yang tepat juga harus seperti squishy bagi satu sama lain, mudah dibentuk menyesuaikan keadaan dan mudah dibentuk untuk saling melengkapi apa yang kurang dan apa yang berlebih dalam diri bagi satu sama lain.
Usai subuh, 31 Maret 2024 05.58 wita
Jangan menikah hanya karna kamu jatuh cinta, tapi menikahlah karena kamu yakin surga terasa dekat jika bersamanya