Curhatan gue si anak indigo
Indigo dalam kamus bahasa diartikan sebagai warna nila (warna yang dihasilkan dari biru dan ungu). Istilah “anak indigo” atau anak nila dikaitkan dengan cakra tubuh yang berada tepat di kening bagian tengah sehingga sering disebut juga “mata ketiga”. Ketika cakra tubuh ini dominan, cakra ini akan memengaruhi seluruh organ dalam kepala termasuk pancaindera dan memberikan kepekaan terhadap instruksi dan ketajaman perasaan untuk hal yang abstrak. Anak indigo ini memiliki intuisi yang sangat kuat dan sejumlah kemampuan di luar nalar seperti Telepati atau kemampuan membaca pikiran dan perasaan baik manusia atau makhluk tak kasat mata. Klervoyans atau kemampuan untuk melihat kejadian yang sedang berlangsung di tempat lain. Prekognisi atau kemampuan untuk memprediksi peristiwa yang akan terjadi. Retrokognisi atau kemampuan untuk melihat masa lampau. Mediumship kemampuan menggunakan ruhnya atau orang lain sebagai medium. Psikometri atau kemampuan menggali informasi dan berkomunikasi dengan objek apapun khususnya tak kasat mata.
“Jangan di gelapin!!!” itu titah si anak nila. Engga sedikit orang yang takut gelap. Iya gak sih? Dan banyak reaksi orang kalo takut sama gelap entah itu merem, teriak, atau lari mencari cahaya. Itu reaksi orang pada umumnya. Tapi gimana dengan si anak indigo? Dengan auranya yang memancar menjadikan mereka yang tak kasat mata selalu memiliki antusiasme yang tinggi untuk kami. Entah itu sekedar curhat, meminta sesuatu dari yang positif sampe yang negatif. “Sesungguhnya kami tidak takut dengan mereka, hanya saja energi kami lebih cepat habis ketika gelap karena BANYAK sekali yang mau berkomunikasi dengan kami.” Begitu katanya.
Perkara wujud yang buruk sudah tidak menakutkan lagi buat kami. Tapi terkadang tingkah mereka membiat kami kaget dan menakutkan. Bagaimana tidak? Ketika kita sedang diam seketika “mereka” muncul tepat di depan wajah kita sedekat ketika sedang menatap layar handphone bahkan bisa lebih dekat entah itu melotot atau mengejek. Kadang pula kita kaget karena ketika kita tidur lelap tiba-tiba terdengar suara nafas berat atau teriakan yang melengking. Lebih parahnya ketika kita makan, mereka lewat dan tercium wangi yang tidak enak entah itu bau sampah atau bau anyir atau bahkan bau terbakar. Terkadang kami juga takut karena sebagian dari mereka jahat, matanya merah dan wajahnya hitam terbakar sambil menatap tajam layaknya tokoh antagonis dalam sinetron bahkan lebih parah.
Sebagian reaksi muncul juga kerap terjadi. Orang pada umumnya hanya merinding atau merasa berat di bagian leher ketika ada yang menempel. Kami? Sesak nafas, mual, dan bahkan lelah hingga menjadi pemarah. Itu semua karena kepekaan kami terhadap “mereka”. Tidak jarang juga mata kami terlihat menghitam karena penglihatan kami “terbuka”.
Soal pertemanan, kami sama seperti pada umumnya hanya saja kami menjadi lebih selektif. Kami tidak bisa bercerita seenaknya tentang siapa kami, karena reaksi kalian yang tidak seperti kami kalau tidak menertawakan yaa menganggap sepele kami. Yaa, mungkin ada yang antusias dengan kami tapi justru menyulitkan kami karena mereka mengorek sesuatu yang tidak seharusnya dan bahkan menganggap kami sebagai dukun. Tidak banyak orang-orang yang dekat dengan kami, hanya beberapa dan mungkin kalau banyak dengan sejenis kami. Ketika kami menemukan dan memiliki teman sejenis kami, kami layaknya menemukan benda berharga. Karena kami bisa saling sharing dan menceritakan menurut kami lucu padahal mungkin menurut kalian “apaan sih?”.
Entah harus senang atau sedih dan takut. Kami berbeda dari kalian, tapi kami bersyukur. Terkadang. Kami bisa lebih cepat mengetahui dari apa yang belum kalian ketahui mekipun sebagian dari kami diam karena “takut mendahului Tuhan” atau bahkan takut salah karena kami tidak percaya akan sesuatu yang kami ketahui itu. Sedih karena rasanya dalam keramaian kami merasa sendiri kalau kami berkumpul seperti kalian yang tidak seperti kami atau bahkan sedih karena kami tidak bisa bercerita. Intinya kita ini ada 😂😂😂