A coragem não é a ausência do medo, é a persistência apesar do medo
Nelson Mandela

seen from Germany
seen from United States
seen from Ukraine

seen from United States
seen from China

seen from Denmark

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from Peru
seen from United States

seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from Canada

seen from United States
A coragem não é a ausência do medo, é a persistência apesar do medo
Nelson Mandela
- http://amorscan.blogspot.com/
Toda escolha implica perda:
A todo momento em nossas vidas, fazemos escolhas, e são elas que determinam o tipo de realidade que vivemos. Muitas vezes, agimos inconsequentemente, acreditando que nossas decisões não são tão importantes assim no grande esquema das coisas, e que não precisamos necessariamente abrir mão de algo para recebermos outra coisa em troca.
Dessa maneira, acabamos por tomar decisões precipitadas, que nos colocam em uma realidade de infelicidade e insatisfação, e sem entender as consequências de nossas próprias atitudes, acabamos culpando o outro por aquilo que nós mesmos plantamos.
Precisamos ganhar a consciência de que nós estamos no comando de nossas vidas, e que cada uma de nossas escolhas corresponde a uma renúncia, cada “sim” acompanha um “não”, e para que possamos viver com plenitude, precisamos aceitar as perdas que acompanham nossas atitudes.
-Leandro Karnal
Deleuze once said of cinema that every act of creation is also an act of resistance. What does it mean to resist? Above all it means de-creating what exists, de-creating the real, being stronger than the fact in front of you. Every act of creation is also an act of thought, and an act of thought is a creative act, because it is defined above all by its capacity to de-create the real.
Giorgio Agamben
“ - O choro pode durar uma noite, uma semana, ou até um ano inteiro, mas a felicidade vem pela manhã.”
AlehWilliams
Qual'è la vera vittoria, quella che fa battere le mani o battere i cuori?
Pier Paolo Pasolini.
“De resto, me é odioso tudo que simplesmente me instrui, sem aumentar ou imediatamente vivificar a minha atividade.” – Goethe
Tenho pensado muito a respeito desta frase de Goethe e tentado aplicá-la em todas as áreas da vida humana.
É interessante como nós sempre somos obrigados a aprender coisas que não fazem sentido nenhum e não tem utilidade nenhuma para nossas vidas.
Nós vivemos em uma época em que tudo é relativizado, até mesmo o amor - este, supostamente, deveria ser a pedra angular da vida humana. Só que se pensarmos que tudo que é relativo, acabamos por relativizar coisas que são absolutas, como as ciências exatas.
A verdade é que nossa sociedade está tão desesperada em busca de respostas para nosso vazio interior que acabou caindo em uma terrível desilusão e é esta desilusão que tem nos obrigado a aprender coisas que não queremos e vivermos como cegos caminhando em direção ao buraco do vazio existencial.
As pessoas que tem depressão enxergam esta doença como uma ótima professora, mas ocorre que a depressão só nos ensina coisas que não nos vivificam e não fazem nenhuma diferença em nossa vida.
Nós somos acumuladores compulsivos. Amamos nos entupir de tralhas e lixos emocionais, e sempre traramos nossos corações como se fosse um aterro sanitário. Só que essa atitude autodestrutiva não nos ensina nada que realmente nos faça crescer.
Abrir mão de coisas vazias é o primeiro passo para o crescimento verdadeiro.
Os poetas e os escritores são os que estão mais próximos de alcançar este ponto de desapego das dores emocionais, pois eles sempre se permitem sentir as dores, mas nunca abrem mão dela.
Quando deixamos as dores saírem, é aí que nos tornamos grandes e fortes.
Não devemos relativizar a dor, deixemos ela ir embora e ser livre longe de nós.
Hikmah Secangkir Kopi
layaknya stereotype yang melekat pada kebanyakan millenials yang senang menghabiskan waktu dalam diskusi dan berbagai perbincangan di kedai-kedai kopi, mengikuti tren lifestyle dari berbagai influencer media sosial tentang tempat-tempat trendy, hits, dan instagrammable, ataupun memanfaatkan berbagai review untuk mencari rekomendasi tempat dengan citarasa kopi yang dinilai terbaik. aku pun terkadang menikmati segelas kopi pahit dan melibatkan diri dalam perbincangan santai di beberapa kedai kopi bersama segelintir orang-orang lainnya, ataupun sekedar menikmati keramaian dan aroma kopi sambil menyendiri dan tenggelam dalam duniaku sendiri.
keputusan untuk menyesap segelas kopi biasanya sudah kupertimbangkan baik-baik, atau kadang-kadang kulakukan hanya karena orang-orang meminumnya. mungkin memang aku dapat menikmati pahitnya bergelas-gelas kopi hitam yang kadang kuminum secara impulsif, tapi hampir selalu ada penyesalan setelahnya. setidaknya, jika tak membawa penyesalan bagiku keputusan kecil untuk mengambil secangkir kopi tetap saja mampu membawa pada berbagai kontemplasi.
kalau orang-orang pada umumnya meminum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk, meningkatkan performa, mengembalikan stamina, atau alasan-alasan kesehatan lainnya, ternyata fisik tubuhku memiliki reaksi otomatis yang seringkali membuat jemari bergetar, jantung berdebar, dan berujung pada kecemasan dan perubahan mood yang kemungkinan juga dipengaruhi oleh reaksi fisiologis tersebut. dengan reaksi fisik tubuh sendiri yang kurang bersahabat dengan kopi ini, jelas bahwa saya bukan seorang coffee addict, atau mungkin sensasi yang membuat berdebar-debar ini justru menimbulkan efek adiktif tersendiri?...
semakin dipelajari, ternyata semakin banyak pendapat yang muncul dari dunia kesehatan tentang manfaat kopi, juga bahayanya. sebagian praktisi kesehatan pernah menganggap kopi membahayakan kesehatan, bahkan dinyatakan sebagai salah satu pemicu kanker. di satu sisi, tidak sedikit juga penelitian yang mendukung berbagai manfaat kopi sebagai stimulan, bahwa meminum kopi dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung. pada intinya, tentang konsumsi kopi ini sama seperti banyak hal lainnya, selama tidak berlebih-lebihan (in moderation) dalam mengikuti hype-nya tren kopi yang sedang disebut-sebut sebagai third wave of coffee, sah-sah saja sesekali menikmati kopi dan mungkin bahkan beberapa manfaatnya dapat dirasakan.
tapi bagiku, sebuah kontemplasi yang terbersit dari secangkir kopi ini dapat berkaitan dengan pengalaman personal terkait berbagai efek fisiologis yang kurang bersahabat tadi, kadangkala perhatianku tersita untuk beberapa saat hanya memandangi jari-jemari yang tengah bergetar, tremor, sambil menikmati debaran jantung yang lebih kencang dari biasanya. Ya, semua ini bisa muncul hanya karena sebuah keputusan kecil sesederhana meminum secangkir kopi hitam pekat. Ah, rasanya seolah-olah aku diingatkan akan betapa lemahnya manusia, betapa kita tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bahkan jari yang tengah gemetar itu tidak bisa kukendalikan, kuperintahkan untuk tenang. begitu mudahnya ternyata kehilangan kendali atas tubuh sendiri. setiap denyut jantung dan tarikan nafas yang otomatis terjadi ini ternyata memang telah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Lalu terbayang betapa banyaknya kemungkinan kejadian yang dapat membuat tubuh ini tidak mampu berfungsi lagi, sebuah hal yang kadang luput dari syukurku, atas nafas yang masih berhembus dan jantung yang masih berdenyut hingga detik ini, alhamdulillah...
sesederhana meminum secangkir kopi. pagi ini aku mendapat pengingat.
*semoga kita selalu diberi kelapangan hati untuk dapat memaknai dan memetik hikmah dari berbagai kejadian