Mengapa sebagian orang memandang aneh terhadap seorang yang masih sedikit ilmu namun semangatnya untuk menimba ilmu begitu berkobar?
Mengapa sebagian orang memandang aneh terhadap seorang yang baru menimba ilmu namun ilmu yang didapatnya ternyata membawa manfaat untuk dirinya sendiri dengan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?
Mengapa sebagian orang memandang aneh terhadap seorang yang kepribadian dirinya ternyata dapat jauh berbeda dari para keluarganya terdahulu? Seolah anak shalihah, hanya terlahir pada keluarga shalihah.
Mengapa sebagian orang memandang aneh terhadap seorang yang tak menimba ilmu dipesantren sementara ia berhasil mengenal sunnah, mendapat hidayah, dan berusaha untuk menjalankan kehidupan sehari-harinya sesuai yang Allah perintah? Seolah hijab syar'i hanya untuk mereka yang lulusan sekolah madrasah.
Mengapa sebagian orang memandang aneh terhadap seseorang yang cita-citanya ingin mengenal agamanya, hanya dengan menilai dari masa lampau dan aktivitas yang digeluti, padahal, bukankah masa depan itu milik siapa saja yang mau berusaha, atas seizin Allah?
Mengapa sebagian orang tak merasa aneh dengan seorang yang sudah banyak ilmunya, namun ia merasa cukup sehingga merasa malas berhenti belajar?
Mengapa sebagian orang tak merasa aneh dengan seorang yang sudah lama menimba ilmu, namun ia tidak mengamalkan ilmunya?
Mengapa sebagian orang tak merasa aneh dengan orangtua yang merasa dirinya dari keluarga beragama, membanggakan anaknya yang penuh ilmu, sementara anaknya tak dididik olehnya, lalu apa haknya memandang orang tua lain tidak cerdas dalam mendidik anak?
Mengapa sebagian orang tak merasa aneh dengan seorang yang menimba ilmu dipesantren, tetapi tak mencerminkan anak pesantren yang sesungguhnya? Mengapa banyaknya ilmu yang diagung-agungkan itu tidak membuatnya takut kepada Allah? Mengapa fasihnya membaca al-qur'an tak membuatnya ia rajin bertadarus? Mengapa banyaknya hafalan tak membuat ia menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari juga masih abai terhadap yang telah Allah larang?
Mengapa sebagaian orang tak merasa aneh dengan seorang jurusan PAI, Pesantren 6 tahun, terlahir dari keluarga terpandang beragama, tetapi keluar masih memakai celana dan kerudung yang dilipat pada lehernya?
Mengapa sebagian orang tak merasa aneh dengan seorang yang menimba ilmu agama dan duduk dibangku pesantren sementara ia mengeluhkan studinya, tak memahami pengajarannya, juga akhirat bukan tujuannya?
Mengapa hanya merasa aneh terhadap seorang pendosa yang bertaubat? Mengapa hanya merasa aneh terhadap seorang yang menggeluti ilmu-ilmu bisnis tapi ia meluangkan banyak waktu untuk mempelajari agama dan mengamalkannya?
Saya yakin, setiap orang berhak mengenal agamanya. Berhak mendekat pada Rabb-Nya. Bukan hanya orang-orang yang memiliki ilmu tapi ilmunya hanya sebagai hiasan. Saling memperbaiki. Jika ada yang kurang ilmu, maka ajari. Jika ada yang lupa mengamalkan ilmunya, maka diingatkan. Jangan pernah merasa baik!