Betapa lapangnya jiwa orang yang bertawakkal. Ia tidak resah oleh hasil, tidak patah oleh kegagalan, tidak bingung soal masa depannya, tak pula ia berprasangka buruk pada Tuhannya, ia pun jauh dari praduga-praduga hatinya, dan tidak mabuk oleh keberhasilan. Karena yang ia genggam bukan kepastian hasil dunia, melainkan kepercayaan sepenuhnya pada Tuhannya. Orang tawakkal itu, jarang, sangat jarang.
Jika jalan terasa berat, ia tahu itu pilihan-Nya. Jika pintu tertutup, ia yakin ada hikmah yang sedang dijaga. Dan jika pintu terbuka, ia paham itu bukan semata karena dirinya, melainkan karena kasih dan izin-Nya.
Tulisan ini seakan berbisik lembut ke dalam jiwa: bahwa iman tidak tumbuh dari kegaduhan rencana, melainkan dari kepercayaan yang jujur.
Tawakkul adalah sunyi yang penuh keyakinan.
Ia hadir ketika lidah telah berdoa, tangan telah berusaha, dan hati memilih untuk bersandar hanya kepada Allah. Dalam tawakkul, manusia belajar mengecil, menanggalkan rasa mampu, menundukkan kesombongan sebab, dan mengakui bahwa di balik setiap gerak ada kehendak-Nya yang Maha Mengatur.
Kadang, kita tahu ilmu soal tawakkal ini, tapi seringkali luput dari penerapannya. Padahal, tawakkal iyu bukan sekadar perintah, tetapi pelukan bagi hati yang lelah. Sebab iman yang sejati selalu berujung pada penyerahan, dan penyerahan yang benar hanya mungkin bila hati mengenal Tuhannya.
@jndmmsyhd















