Noah Kahan

pixel skylines
almost home
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!
Jules of Nature

Andulka
𓃗

Kiana Khansmith
taylor price
Fai_Ryy
NASA
RMH
todays bird
Cosmic Funnies
No title available
No title available
occasionally subtle

tannertan36
EXPECTATIONS
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
@astakata
Betapa lapangnya jiwa orang yang bertawakkal. Ia tidak resah oleh hasil, tidak patah oleh kegagalan, tidak bingung soal masa depannya, tak pula ia berprasangka buruk pada Tuhannya, ia pun jauh dari praduga-praduga hatinya, dan tidak mabuk oleh keberhasilan. Karena yang ia genggam bukan kepastian hasil dunia, melainkan kepercayaan sepenuhnya pada Tuhannya. Orang tawakkal itu, jarang, sangat jarang.
Jika jalan terasa berat, ia tahu itu pilihan-Nya. Jika pintu tertutup, ia yakin ada hikmah yang sedang dijaga. Dan jika pintu terbuka, ia paham itu bukan semata karena dirinya, melainkan karena kasih dan izin-Nya.
Tulisan ini seakan berbisik lembut ke dalam jiwa: bahwa iman tidak tumbuh dari kegaduhan rencana, melainkan dari kepercayaan yang jujur.
Tawakkul adalah sunyi yang penuh keyakinan.
Ia hadir ketika lidah telah berdoa, tangan telah berusaha, dan hati memilih untuk bersandar hanya kepada Allah. Dalam tawakkul, manusia belajar mengecil, menanggalkan rasa mampu, menundukkan kesombongan sebab, dan mengakui bahwa di balik setiap gerak ada kehendak-Nya yang Maha Mengatur.
Kadang, kita tahu ilmu soal tawakkal ini, tapi seringkali luput dari penerapannya. Padahal, tawakkal iyu bukan sekadar perintah, tetapi pelukan bagi hati yang lelah. Sebab iman yang sejati selalu berujung pada penyerahan, dan penyerahan yang benar hanya mungkin bila hati mengenal Tuhannya.
@jndmmsyhd
Di tengah banyaknya musibah saat ini, ada seseorang yang berjalan dengan dada tegap tetapi hati yang gelap. Ia adalah sosok yang merasa kekuasaan adalah hak mutlaknya, dan bahwa dunia seharusnya tunduk pada kata-katanya. Ia tidak menyadari bahwa setiap langkahnya meninggalkan jejak luka pada orang lain.
Ia memperlakukan orang di sekitarnya seperti batu pijakan, bukan sebagai sesama manusia. Ia menuntut dihormati, namun tak pernah belajar menghormati. Ia ingin dipercaya, namun menabur kebohongan demi memenuhi ambisi dirinya. Baginya, kelemahan orang lain adalah peluang, dan kesalahan orang lain adalah alasan untuk menguasai.
Namun kedzaliman, sekuat apa pun tampaknya, tidak pernah berdiri abadi. Ada saatnya ia menanggung benih yang ia tanam. Kesombongannya mulai retak, kekuasaannya perlahan menipis, dan suara hati kecil yang dulu ia bungkam mulai meminta pertanggungjawaban.
Dan pada akhirnya, suatu saat ia menyadari sesuatu yang terlambat ia pahami bahwa seseorang yang menindas orang lain sebenarnya sedang menindas dirinya sendiri dengan cara mengikis kemanusiaannya hingga hampir tak tersisa.
Semoga Allah menjaga hati kita tetap hidup, yang melihat musibah di negeri ini sebagai pelajaran agar kita tidak menjadi hamba yang dzalim, tidak meremehkan dosa kecil, tidak melukai tanpa sadar, dan tidak lalai dari amanah-Nya.
Cirebon, 18 Jumadil Akhir 1447 H.
Pagi tadi menuju berangkat kerja, truk di depan tancap rem mendadak. Kupikir hampir terulang lagi kejadian lost gas seperti Mei kemarin. Alhamdulillah aku masih cukup fokus pagi ini. Ternyata ada remaja berseragam putih-abu gagal menyalip; menabrak Becak. Seketika bergumam, "ya Allah, ada-ada saja..."
Siapa yang tau, dari rumah Bapak mungkin sudah penuh harap juga siap menerima berkah hari ini dengan penuh semangat. Tapi lagi-lagi rencana Tuhan tidak bisa ditebak, ya. Pemandangannya cukup mengusik empati, dengan hati-hati Bapak mendorong Becak coklat yang sudah rapuh semi lusuh untuk menepi, perlahan menjauh.
Sekilas aku sempat merutuki remaja itu, "ceroboh sekali" spontanku. Tapi kalau dipikir kembali, justeru dengan cerobohnya remaja tersebut Bapak Becak Allah selamatkan dari hal yang mungkin akan lebih mengenaskan. Walaupun harus menerapkan ikhlas sepagi itu, karena kulihat Becak Bapak rusak.
Memang benar, ya... kadang dalam situasi yang menurut kita paling tidak nyaman sekalipun Allah selalu punya maksud baik.
Ya Allah, tolong beri beliau sebaik-baik pengganti, seluas-luas rejeki, dan rasa gembira di hati, yaa Fattah, yaa Razzaq...
Astaghfirullah, yaa Allah... Umi mohon ampun.
Terlalu banyak celah salah Umi sebagai manusia. Terlalu banyak Umi udah ngerasa seolah yang paling sakit, paling berat, paling lika-liku jalan hidupnya.
Padahal ya Allah, Umi pun tau, Engkau gak mungkin biarin Umi rasain semua ini, kecuali memang Umi mampu buat jalaninnya.
Ya Allah, tolong jaga Umi selaluu di jalanMu, ya. Wallah, Umi gak mau jadi rusak hanya karena rasa kecewa Umi sama mahlukMu.
Ihdinasshirathal Mustaqiim..
Tolong tetep sayangi Umi ya Allah. Rahmati Umi dengan hidayahMu selalu...
"Tidak perlu mencurahkan isi hatimu, mereka tak selayaknya tahu sisi lemahmu"
Hei, kenapa tidak? Aku hanya suka menulis, senang menganalisis.
Sisi lemahku? Kurasa tidak sepenuhnya begitu. Bisa jadi, tulisan demi tulisan justeru membantuku menemui yang disebut "kelegaan" . Siapa yang tau, saat nanti aku sudah benar-benar sampai di titik "ikhlas، lepas, hidup lebih selaras", aku akan kembali membaca tulisanku dengan sudut senyuman di bibirku juga sedikit kerutan di siku mataku. Pikirku bukan sebuah kelemahan, melainkan sebuah kenangan juga bagian dari perjalanan untukku menjemput "kekuatan, keihlasan, ketenangan juga kebahagiaan di masa kemudian"
Bukankah hidup hanyalah susah senang yang silih bergantian? Selagi tidak berlebihan, mengapa harus takut hanya untuk menumpahkan setiap perasaan?