Boleh kita merencanakan, tapi tidak untuk ambisius. Bukan sekedar mengusahakan, tapi juga mengejar ridhonya Allah. Karena tipis sekali perbedaan antara nafsu duniawi dengan keikhlasan hakiki.
@luthfirhmn (via luthfirhmn)

Love Begins

Origami Around
RMH
No title available

pixel skylines
★
Cosimo Galluzzi
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
EXPECTATIONS

Product Placement
ojovivo
h

Kiana Khansmith
occasionally subtle
Interview Vampire Daily
🩵 avery cochrane 🩵

shark vs the universe
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Discoholic 🪩

izzy's playlists!
seen from Türkiye
seen from Argentina

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Malaysia
seen from South Korea
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from Vietnam

seen from Pakistan
seen from Indonesia

seen from United States
@asyiahmuchlisah-blog
Boleh kita merencanakan, tapi tidak untuk ambisius. Bukan sekedar mengusahakan, tapi juga mengejar ridhonya Allah. Karena tipis sekali perbedaan antara nafsu duniawi dengan keikhlasan hakiki.
@luthfirhmn (via luthfirhmn)
Tidak harus terus berlari untuk mengejar impian atau keinginan. Rehatlah sesekali, dengan itu kau bisa lari lagi lebih cepat.
(via choqi-isyraqi)
Hafal Al-Qur’an Anti Lupa
Ust. Deden menjelaskan akan pentingnya menjaga hafalan. Sebab hafalan yang tidak di muroja’ah ibarat mesin/sepeda yang tidak dipakai, maka akibatnya akan berkarat dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Orang yang rajin me-muroja’ahhafalannya, maka ia ibarat mengendarai kendaraan yang fresh, sehingga ia merasa nyaman dengannya.
Menghafal Al-Qur’an membutuhkan tekad yang kuat, semangat yang tinggi dan sifat konsistensi. Sebab hafalan yang telah dihafal, bisa lupa dalam hitungan jam kalau tidak di muroja’ah (ulangi). Rasulullah saw sudah berpesan sejak dahulu bahwa, menghafal Al-Qur’an itu mudah namun sangat mudah juga lepas, bahkan lebih cepat lepas dari hewan buruan yang tidak diikat. Karenanya ia harus di ulang setiap saat.
Membiarkan waktu luang tanpa memanfaatkan untuk muroja’ah bisa menjadi penyebab Allah mencabut kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an. Hidup dibawah naungan Al-Qur’an adalah hidup yang paling nikmat, namun hanya segelintir orang saja yang merasakan kenikmatan itu.
Agar hafalan bisa lebih terjaga, ada beberapa tips muroja’ah yang dijelaskan oleh ust. Deden. Diantaranya:
Menghafal secara keseluruhan dengan bil ghayb (tanpa memegang mushaf)
Mengulang hafalan dengan tujuan semakin melancarkan dan bukan sekedar mempertahankan
Mengingat dan mencatat kekeliruan yang terjadi sebagai bahan evaluasi
Kemudian setelah itu mempetakan lagi kategori hafalan untuk dimuroja’ah:
mengulang hafalan yang sudah lancar
Mengulang hafalan yang belum lancar
Mengulang hafalan baru
Cara muroja’ahnya dimulai dari yang terbaru/paling segar, karena ini yang paling mudah lepas. Setiap hari diulangi sampai tujuh hari berturut-turut. Setelah itu bisa ditinggal selama satu pekan. kemudian pada pekan berikutnya coba untuk diulangi lagi.
Yang paling penting untuk diperhatikan juga adalah, menghafal patokannya bukan berapa lembar atau berapa juz yang dibaca melainkan berapa durasi yang dihabiskan.
Dalam menghafal AL-Qur’an juga ada dua tipe penghafal, pertama menghafal karena nafsu dan yang kedua menghafal karena Allah.
Orang yang menghafal karena nafsu, ciri-cirinya adalah :
Ia selalu berfikir, bagaimana menghafal menjadi mudah/tanpa tantangan
Bagaimana menghafal cepat
Terburu-buru ingin segera selesai 30 juz
Sementara yang menghafal karena Allah, ciri-cirinya adalah :
Menghafal baginya adalah sebuah kenikmatan
Dia selalu merasa betah dengan yang sulit. Tidak cepat menyerah
Berusaha untuk terus mempertahankan hafalannya sampai mati
Terakhir ust. Deden berpesan, agar menghafal itu dengan sekali jadi. Artinya hafalan yang telah dihafal jangan sampai lepas kembali, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih ekstra untuk mengembalikannya. Berikan yang terbaik dari waktumu untuk Al-Qur’an, karena Al-Qur’an tidak mau dinomor duakan.
Selamat menghafal….!!!
Ditulis oleh Abu Faqih
Hindari menggenggam perasaan saat sedang proses menghafal Al-Qur'an. Walaupun itu manusiawi, tapi menggenggam perasaan yang belum waktunya adalah cara terbaik untuk melalaikanmu dari sempurnanya proses menjaga hafalan. Al-Qur'an tidak akan mau disambi, walaupun hanya dengan secuil maksiat hati. Yakini saja, bahwa yang terjaga akan bertemu dengan yang terjaga. Kamu dan dia akan bertemu di satu getar yang sama, sama-sama menyatu untuk mencintai Al-Qur'an.
©Quraners Jaga hati, jaga interaksi dari apa-apa yang berlebihan. Jaga hati dari celah untuk memikirkan apa-apa yang tak perlu dipikirkan. Orang yang sedang menghafal Al-Qur’an itu banyak ujiannya, salah satunya hati dan perasaan. Jaga pandangan, jaga hati, jaga interaksi. Bukankah Allah hendak menjaga hatimu dengan Al-Qur’an? (via quraners)
Tamparaaan :(
Wa'iduu
“Sengajakah kita melupakannya?” ————————————-
Saat diri sudah dihadapkan dengan putaran waktu. Saat itu pula, ada hal yang terubah dari posisi semula.
Kala kemarin, diri ini dididik dengan sentuhan terbaik. Dengan landasan ilmu sebelum beramal.
♡ Dijaga dengan tutur yang lembut ♡ Hariannya kian terhiasi dengan lantunan ayat-ayat syurgawi. ♡ Menjaga genggaman dan sambutan lembut jemari saudara. ♡ Menjaga hati, pandangan, pakaian, lisan, interaksi, dengan penjagaan yang paling baik. Bahkan bunyi candaan dengan lawan jenis tak sempat terfikir. ♡ Mengepal, mengumpulkan tenaga di tangan, dan menggucang takbir “Allahu, Allahu, Allahu Akbar” karena zaman selanjutnya akan dibuai dengan Ghazwul Fikr.
Lantas, Apakah keadaan yang sudah baik ini akan tergerus dengan segala yang kian memburuk karena digerogoti masa?
> Ketika akhirnya, dasar ilmu sudah sengaja dilupakan > Ketika dasar dari menjaga ‘izzah dan 'iffah seorang diri sudah tak lagi tertanam dalam jiwa > Ketika maksiat terus melaju, rasa malu dengan Rabb-nya sudah tak menderu deras menyesakkan dada > Ketika rasa cinta kepada makhluk lebih tinggi dibanding dengan Sang Pencipta Semesta. > Ketika nasihat, teguran tak didengar lagi. Bak omong kosong > Ketika acuh dengan kebenaran menjadi kebiasaan yang mengakar. > Ketika panggilan sholat sudah tak lagi menjadi seruan-Nya yang harus disegerakan. > Ketika mengejek menjadi aktivitas mulut yang dibiasakan.
Semua sudah hilang!
Tidakkah malu pada diri sendiri? Yang sengaja tersenyum bangga, canda tawa dan menikmati indahnya buaian maksiat. Hanya karena nikmat dunia; bukan akhirat yang kekal. Hanya karena ingin dipandang, dipuji, diagungkan manusia, menjadikan diri tertampil mempesona sempurna. Bukan lagi ingin dipandang oleh Sang Khaliq.
Sudah ditutup kah hati ini dari gambaran syurga? Tak rindukah diri dengan semua kebiasaan dan penjagaan itu? Tak malu kah dengan diri yang sebenarnya sangat tau dengan syari'at Islam yang pernah diajarkan, tapi justru ia-nya yang sangat kuat mengingkarinya?
Bagaimana akan membentuk keajaiban zaman yang dahulu pernah kita cita-citakan, jika satu persatu ummat Rasulullah luntur, mengabaikan hak dan kewajiban Agamanya?
Tak inginkah dirimu pulang? Pulang ke rumah kita. Tempat dan suasana paling nyaman untuk ber-ekspresi membuai cinta milik-Nya. Menata jiwa dan hati sebaik-baiknya. Ya, memang Dia tujuan utama kita. Tak pernah lupa kan kau dengan slogan sederhana namun menggetar jiwa ini? “Allahu Ghaayatunaa”
Sekedar reflesksi sederhana untuk saudara-saudari tercinta Alumni Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Semoga Allah jaga kita sampai akhir perjalanan. Aamiin ya Mujiibassailiin.
Bumi Rantau Yogyakarta, 23 April 2015/4 Rajab 1436 (Si Sulung)
Membaca dan Menghafal Al-Quran
Dengan membaca Al-Quran akan didapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Disamping itu, akan melahirkan kebersihan jiwa, kejernihan perasaan dan mempertebal ketaqwaan. Membaca Al-Quran merupakan kebaikan dan merupakan syafaat yang akan diberikan pada hari akhir. Rasululloh bersabda, “Bacalah Al-Quran, karena pada hari Kiamat, Al-Quran akan datang untuk memberi syafaat kepada orang yang membacanya.”
Sedangkan menghafal Al-Quran merupakan keutamaan yang besar. Melalui hafalan, hati akan lebih hidup dengan cahaya Kitabullah, manusia juga akan segan dan menghormatinya. Bahkan dengan hafalan itu derajat di akhirat akan semakin tinggi, sesuai dengan banyaknya hafalan yang dimiliki. Rasululloh saw. bersabda, “Dikatakan kepada orang yang menghafal Al-Quran, bacalah dan naiklah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia dengan tartil. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.” (H.R Abu Dawud dan Tirmidzi)
Agenda bimbingan TA saja kamu jadwalkan. Masa untuk murajaah hafalan hanya di waktu luang?
#selfreminder
Tawakal penting tapi jangan lupakan ikhtiar
reminder
Tenang it's mean Sabar
Tuh kan kalo disikapi dengan tenang jadi enak kaan, tidak semua prasangka kita 100% benar, apalagi prasangka saat emosi.
Bertingkahlaku-lah dengan tenang, sebesar apapun masalah yg membuat kita naik darah, berpikir ulanglah untuk marah, selain bisa melembutkan yg keras bermanfaat bagi kesehatan juga bukan?
Bisa jadi dibalik kesalahan seseorang terselip niatan baik. Hanya saja kita yg melihat dari kacamata depan menilai itu salah. Jika kita mengambil jalan marah. Akankah kebaikan itu kita rasakan? Mungkin bisa, namun tidak utuh :D
Dingin
Bagi pria yang belum punya niat nikah, belajarlah untuk dingin. Kerena kehangatan bisa timbulkan cinta. Terutama di hati wanita.
Mencegah lebih baik dari pada mengobati bukan?
Jakarta, 1437 H || Sen @SenyumSyukur
(via senyumsyukur)
Adab-Adab Para penghafal Al-Qur'an.
Sumber: Facebook Fanpage Pondok Qur'an.
Good
Karena dakwah itu seni. Ya, seni bagaimana menyampaikan, tidak melulu seputar teori namun seni berkomunikasi.
Ketika Hafalan Perlahan Hilang
Cukuplah satu ayat yang terlupa dari hafalan yang ada sebagai teguran keras dari Allah pada diri seorang penghafal Al-Qur’an. Teringat akan wejangan ustadz bahwa Al-Qur’an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan). Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik.
Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan. Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih? Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks.
Cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga Al-Qur’an, ada hati yang sering terlenakan, ada frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan. Evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaanNya pada diri kita. Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya. Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.
Ya Allah jika nanti telah habis masa kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik.
Self reminder
©Quraners Surabaya, 11 Desember 2015
Metamorfosa dalam Hangat Ukhuwah
Ukhuwah, barangkali adalah salah satu hal paling berharga dalam proses metamorfosa menjadi pribadi shalih shalihah. Ada hangat ikatan dan manis senyuman saat hari-hari berlalu dengannya. Ada cinta akan iman dalam tatap pertama dengan para ikhwahfillah, ada ajakan mesra untuk senantiasa belajar menyurga bersama di tengah masa muda yang seringkali terlena dengan pandangan sempit tentang cinta.
Masih terasa erat genggam tanganmu, masih terasa iringan langkahmu saat kita sama-sama belajar menjaga iman agar ia senantiasa dalam ketaatan, saling mengingatkan dari kekhilafan. Barangkali dari sana kita belajar, bahwa rejeki Allah mungkin tidak selalu dalam bentuk harta, tapi teman-teman setia bisa jadi jauh lebih berharga. Percayakan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Ada kasih sayang Allah yang mempertemukan kita dalam indah dakwah ditengah sibuknya sekolah. Adakah kau rasa? Bagaimana kabar iman hari ini kawan, masihkah ia terjaga? Bagaimana kabar niat untuk selalu berjuang di jalanNya, masihkah ia tertata?
©Quraners Surabaya, 10 Desember 2015
Berhati-hatilah saat memasang umpan. Karena menjaga lebih sulit daripada mendapatkan.
Bagi yang sekarang memiliki teman
Jangan mudah menghapus kenangan hanya karena hal-hal kecil yang kurang kita sukai dalam persahabatan
Bagi yang sekarang memiliki hafalan
Jangan lupa murajaah Quran karena fokus menambah hafalan sama artinya kita berlelah-lelah melupakan Quran
Bagi yang akan mempunyai pasangan
Jangan terlalu fokus memikirkan siapakah gerangan namun fokuslah pada apa yang harus dipersiapkan menuju pernikahan
Apakah musibah itu tetap akan dikatakan musibah, jika ternyata ia justru menjadikan kita semakin dekat kepada-Nya?
Jangan berburuk sangka kepada Allah. Allah lebih tau mana yang kita butuhkan. Karena baik menurut kita belum tentu baik menurut-Nya.
Tidak akan pernah ada rasa kecewa jika semua hal yang kita lakukan diniatkan hanya untuk Allah.
Bagi yang sedang mengusahakan sesuatu. Tengok kembali hati apakah tujuannya sudah untuk Illahi?