Semua orang juga berjuang. Bedanya, ada yang kelihatan dan ada yang tidak.
Taufik Aulia
Show & Tell
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
taylor price

祝日 / Permanent Vacation

oozey mess

izzy's playlists!
almost home
Cosimo Galluzzi
d e v o n
Jules of Nature
will byers stan first human second
Xuebing Du

ellievsbear

Discoholic 🪩
dirt enthusiast

JVL

#extradirty

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Israel
seen from United States
seen from Spain

seen from Australia

seen from Italy

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from South Africa

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from T1

seen from United Kingdom
@faith2rahman
Semua orang juga berjuang. Bedanya, ada yang kelihatan dan ada yang tidak.
Taufik Aulia
Local bookshops are now back! What books are you looking for?
Did you know this?
Kalau gak cuma COVID-19 yang bisa bikin 'a new normal', tapi Ramadan juga.
Kemaren dan hari ini kita masih ramai membicarakan kondisi normal baru setelah datangnya pandemi di mana diramalkan akan banyak kebiasaan dan aspek hidup kita yang berubah. Bahasan soal ini sangat rasional dan terasa sekali di keseharian.
Ramadan juga sama, Allah perintahkan kita puasa dan beribadah sebulan penuh di bulan Ramadan supaya diri kita sampai pada kondisi normal yang baru: takwa. Tapi kok sepertinya banyak orang tak peduli dan biasa-biasa saja, padahal Ramadan jauh luar biasa.
Hmm... btw kalau dipikir-pikir, ada sih perbedaannya.
COVID-19 adalah musibah, yang meski diabaikan atau dipedulikan dia akan tetap menampar muka dan kehidupan banyak orang. COVID-19 datang sebagai ujian juga teguran. Ujian bagi yang beriman. Teguran bagi yang durhaka.
Sedangkan Ramadan tidak datang dalam rangka memaksa atau menegur manusia. Ramadan datang menawarkan peluang kebaikan dunia akhirat. Ramadan hanya datang kepada hati yang imannya masih bisa beresonansi dengan visi dan pesan ilahi yang dibawanya. Yang tak beriman atau rusak imannya, tentu tak akan peduli. Atau, peduli tapi tak termotivasi.
Andai kita semua bisa melihat warna dan mencium aroma dari semua dosa kita, niscaya gak akan ada satu detik pun dari Ramadan ini yang kita lewatkan.
Satu Syawal nanti, akankah kita mendapatkan new normal itu?
© Taufik Aulia 2020
“I believe books will never disappear. It is impossible for it to happen. Of all mankind’s diverse tools, undoubtedly the most astonishing are his books…If books were to disappear, history would disappear. So would men.”
— Jorge Luis Borges
Seksisme Itu Masih Nyata!
Buat kalian yang belum mengerti apa itu seksis, misoginis, dan patriarkis, ini dia contohnya masih segar di depan mata. Pejabat publik dan terang-terangan bicara di depan publik. Berulang kali saya tulis di tumblr soal ini agar kita memahami dengan sederhana dan bisa sama-sama menghentikan–atau setidaknya mengurangi–kultur demikian. Tuhan menciptakan manusia sama, laki-laki dan perempuan. Yang membedakan hanya taqwa. Tidak lebih.
Seksis, patriarkis, misoginis. Ini adalah bercandaan normal umumnya bagi lelaki Indonesia. Mereka tidak sadar telah melecehkan perempuan. Bahkan mengklaim sekadar guyon. Termasuk dalam suasana agamis sekalipun. Semakin salih dan salihah seseorang, seharusnya semakin menghargai antar sesama. Apalagi untuk orang-orang yang telah berjanji di atas mitsaqan ghaliza. Partner hidupmu adalah bagian lain dari hidupmu. Dia bukan objek yang harus kau kontrol. Bahkan, bukan benda yang bisa kau atur hidupnya.
Dear lelaki, hargai perempuan. Dear perempuan, hargai lelaki. Tidak sulit untuk saling menghargai, apalagi bagi orang-orang yang mengenal agamanya dengan dekat.
Baca artikel asli: https://nasional.tempo.co/read/1346921/solidaritas-perempuan-kecam-mahfud-yang-sebut-corona-serupa-istri/full&view=ok
Logika Terbalik
"Menurutmu, kalau aku ingin kuliah lagi dengan alasan 'suka' dengan ilmunya, apakah itu cukup?"
"Ya.. Nggak papa kalau memang suka."
"Tapi kuliah S2 itu beda sama spesialis. Kalau spesialis, setelah residensi dan lulus itu akan menjadi profesimu. Sementara lulus magister di kedokteran, belum tentu nantinya akan terpakai untuk sebuah profesi. Mungkin bisa jadi dosen, tapi kalau tinggal di tempat yg nggak ada univnya, juga nggak bisa."
"Sek kayaknya logikamu terbalik."
"Eh, terbalik gimana?"
"Kalau kamu tanya Kyai Cholil, beliau akan bilang, 'Pekerjaan itu akan mengikuti ilmu, bukan ilmu yang mengikuti pekerjaan'. Kalau kamu punya suatu bidang ilmu, entah bagaimana nanti, bisa saja dibutuhkan.".
Aku jadi malu karena sudah lupa konsep itu. Konsep seorang pembelajar, bukan seorang pencari kerja.
Terimakasih, untuk remindernya. Manusia memang perlu banyak diingatkan, betapa pun banyak ilmu yang sudah diterima, tetap saja berpotensi lupa.
Dan kalimat itu,
"Pekerjaan mengikuti ilmu, bukan ilmu mengikuti pekerjaan."
berhasil meneguhkanku sore kemarin.
Matur nuwun mba dokter, bisa jadi bahan pertimbangan 😁
“Tidak semua hal dari kita harus dipahami orang lain. Terkadang diam itu lebih menenangkan ketimbang memikirkan tafsir yang salah terhadap pikiran-pikiran kita.”
— Sama seperti berdiam pikir terhadap pikiran-pikiran orang lain.
EXIT STRATEGY
Begini saudara, kalian sadar tidak bahwa pemerintah X telah melakukan exit strategy yang ternyata berhasil. Berhasil menjadikan masyarakat sebagai komponen paling salah dalam penanganan wabah Corona. Strategi mitigasi kegagalan mengatasi wabah, malah kini masyarakat yang di-bully habis-habisan.
Padahal, mereka bukan tidak taat, tapi perut mereka lapar; tagihan listrik dan kredit motor harus dibayar; susu anak harus dibeli; kontrakan jangan sampai nunggak; hutang modal jualan harus dilunasi; kiriman uang untuk emak-bapak belum cukup. Siapa yang mau nanggung?
Mereka hanya menjalankan insting hidup normal memanfaatkan celah aturan yang tidak tegas dan fasilitas bantuan hajat harian yang minim. Tidak perlu disebut di sini aturan macam apa yang membuat bingung orang banyak. Semacam bansos pun harus tertunda hanya karena stiker “Bantuan Presiden” belum tersedia. Kalian pikir pemerintah ada untuk sekadar jadi manekin di etalase?
Masyarakat dibiarkan dalam limbo: kondisi serba salah. Diam salah, bergerak salah. Pemerintah X berguyon sana-sini. Sementara Saudara, kelas menengah ngehek, mem-bully masyarakat ini. Terperangkap dalam exit strategy.
Allah Tercipta Dari Apa?
Penasaran, kalau suatu hari ditanya gini saya bisa jawab dengan baik ngga ya:
“Allah itu tercipta dari apa?”
Jawaban dari ini emang bersifat aksiomatik, artinya sebuah kebenaran yang “emang begitu adanya”, tinggal diterima.
“Allah tidak tercipta dari apa-apa, karena Allah tidak ada yang menciptakan. Allah ada tanpa diawali dan tidak akan pernah berakhir seperti manusia. Kalau sesuatu terbuat dari sebuah material dan ada yang menciptakan, berarti namanya makhluk, dan ngga pantas dianggap tuhan.
Yang pantas disebut tuhan itu adalah sesuatu saking hebatnya hingga mampu menciptakan apapun tanpa ada yang menciptakan dirinya sebelumnya. Kamu mau menyembah tuhan yang diciptakan oleh sesuatu yang lebih kuat darinya?”
Tapi, jawaban aksiomatik gitu akan sulit diterima bagi yang belum menjalani proses berpikirnya, apalagi untuk anak-anak. Makanya mungkin lebih baik kalau dijawab dengan ngajak mikir dulu.
Gini. Kalau kamu bikin robot, apa berarti kamu adalah tuhan karena menciptakan robot? Enggak? Kenapa? Karena kamu harus dibuat dulu lewat rahim Ibu kamu, terus dilahirkan ke dunia. Masa tuhan harus dibuat dulu, terus dilahirkan? Kalau begitu yang lebih berkuasa yang dilahirkan atau yang melahirkan?
Terus, apakah Ibu kamu adalah tuhan karena melahirkan kamu? Enggak? Kenapa? Karena Ibu kamu juga ada yang membuatnya lewat rahim nenek kamu, terus dilahirkan ke dunia juga.
Begitu terus, nenek kamu dilahirkan buyut kamu, sampai ke Nabi Adam. Terus, apa Nabi Adam adalah tuhan karena mengawali semua manusia? Enggak? Kenapa? Karena Nabi Adam juga ada yang menciptakan. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama “Allah”.
Yang menciptakan Allah siapa? Engga ada. Udah mentok. Sang Pencipta Nabi Adam ada tanpa ada yang menciptakan dan ngga pernah ngga ada.
Kok bisa sih Allah ada tanpa ada yang menciptakan? Padahal segala sesuatu pasti ada penciptanya?
Gini. Segala sesuatu yang kita tau, termasuk aturan “segala sesuatu pasti ada penciptanya”, itu adalah ciptaan Allah. Allah juga bikin aturan-aturan lain, kayak fisika, matematika, kimia, biologi, astronomi, semuanya aturan yang dibikin Allah.
Semua aturan itu tunduk sesuai perintah dan kehendak Allah, tapi Allah ngga tunduk sama aturan-aturan itu–ya karena mereka semua cuma ciptaan Allah.
Jadi, hukum fisika, matematika, kimia, biologi, termasuk aturan “segala sesuatu pasti ada penciptanya” itu tidak berlaku buat Allah. Allah bisa ada tanpa perlu ada yang menciptakan, tanpa bahan-bahan seperti yang kita pahami di kimia, tanpa ada yang melahirkan seperti yang kita pahami di biologi.
Itulah kenapa kita menyebutnya “Tuhan”–karena Dia ngga sama dengan apapun yang diciptakan-Nya.
Hmm, nampaknya itu pun masih terlalu kompleks untuk anak-anak.
Let me try this one more time:
“Allah itu tercipta dari apa?”
Allah itu ngga tercipta dari apa-apa, Nak, karena Allah ngga diciptakan. Allah ada sendiri tanpa proses penciptaan. Kenapa bisa begitu? Karena Tuhan memang seharusnya begitu, tidak bergantung pada apapun. Satu-satunya yang bisa kayak gitu cuma Allah, makanya kita mengakui dan menyembah-Nya sebagai Tuhan, saking hebatnya.
Setelah Covid19 ini selesai, sembunyikan semua gadget dari pandangan mata saat kita bertemu dengan keluarga, teman, sahabat dan orang-orang yang kita rindui berinteraksi dengannya. Tidakkah cukup masa-masa ini sebagai momen kontemplasi bahwa kebersamaan itu begitu berharga?
Why must the internet hurt me like this? 😫 😫 😫
kamu boleh lelah.
nggak berarti kamu nggak bersyukur atas apa yang kamu punya dan tidak punya. nggak berarti kamu nggak ikhlas atas apa yang kamu kerjakan dan tidak kerjakan. nggak berarti kamu nggak sabar atas apa yang kamu hadapi dan tidak hadapi.
lelah itu wajar. kamu manusia, bukan malaikat.
hanya saja, kalau kamu lelah terus-menerus, kemungkinan besar ada yang perlu diperbaiki. bisa jadi caranya perlu diracik lagi. bisa jadi perangkatnya perlu diperbarui. bisa jadi perihalnya yang harus diganti.
kamu tau? bersama rasa lelah, ada dua yang turut datang. pertama, rasa nikmat karena telah berjuang. kedua, salah satu di antara keinginan untuk berhenti atau keinsyafan bahwa kamu dapat terus bergerak.
pilihlah untuk terus bergerak. hingga rasa lelah itu sendiri kelelahan mengikutimu.
I think I can help cheer people up better because I’ve been sad, not because I’m really happy. It’s never great when you’re sad, and I don’t romanticize it at all, but it’s kind of encouraging to me to know that some good can come out of my sadness. ;u;
Chibird Store | Patreon | Webtoon
Pernahkah kau perhatikan kulit pisang setelah kau kupas dan kau makan buahnya? Ya, betapa cepat membusuk layu, kulit yang ditinggalkan isi. Bagaimanakah hati jika imannya pergi?
-Ustadz Salim A. Fillah-
“I don’t think people understand how stressful it is to explain what’s going on in your head when you don’t even understand it yourself.”
— Sara Quin
“Raise your words, not voice. It is rain that grows flowers, not thunder.”
— Rumi.