Just sharring. Bukan maksud tuk menggurui, atau merasa lebih baik atau benar. -auldreyjune
d e v o n
todays bird

No title available
Alisa U Zemlji Chuda
AnasAbdin
🪼

Origami Around

祝日 / Permanent Vacation

Kiana Khansmith

tannertan36
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
TVSTRANGERTHINGS
macklin celebrini has autism
Claire Keane
tumblr dot com

No title available
we're not kids anymore.
Jules of Nature
No title available

❣ Chile in a Photography ❣

seen from Italy

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Japan
seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Brazil
seen from Spain

seen from Malaysia

seen from Bangladesh
seen from Bangladesh
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from Spain
seen from Sweden
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
@auldreyjune
Just sharring. Bukan maksud tuk menggurui, atau merasa lebih baik atau benar. -auldreyjune
Angka 8. Aku sangat menyukai angka itu. Dia berbeda dari angka yang lain. Biasanya angka yang lain putus diujungnya. Tapi tidak dengan angka yang aku suka. Mereka berhubungan. Yayayayaya. -auldreyjune
Aku lelah menyambutmu lalu tidak lama kemudian aku harus melambaikan tanganku lagi. Bisakah kamu diam ditempatmu, cobalah bertahan. Bisa? Apa kamu tidak lelah? Aku saja lelah.
-auldreyjune
Sudah lama aku menunggumu. Sejak kepergianmu yang mendadak, harapanku tak pernah mati. Ia ingin selalu tetap hidup, walau ia tau harapannya berbuntut dengan sia-sia.
-auldreyjune
Aku merindukanmu.
Tapi apa daya, aku terlalu takut dengan perasaanku.
Aku takut ia akan tumbuh menjadi perasaan yang kuat ingin dipertanggung jawabkan.
Aku takut perasaan ini meledak, lalu menahanmu sebentar untuk kumiliki (lagi).
-auldreyy
Apakah ada yang bertanya tentang mauku? Inginku yang sebenarnya? Apakah ada yang dapat membedakan senyuman palsuku? Adakah yang mengerti, bahwa aku sedang membutuhkan pelukan? Kurasa tidak.
Mereka mengganggap dirinya benar, dan aku kalah. Aku harus diam dan menurut. Kejam.
-auldreyjune
Kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga harus diuji oleh cinta seseorang yang ternyata hanya datang untuk menunggu kekasih yang sebenarnya pulang?
(via mbeeer)
Sakit yaaa...
Hai Tuan, apakah alam bawah sadarmu merindukanku? Entah mengapa, koneksi yang sudah lama terputus seakan terjalin kembali-aku dapat merasakan sesuatu tentang dirimu tuan.
-auldreyjune
After The Fall
.
Gue keluar kamar mandi sambil celanaan panjang doang. Sedangkan anduknya gue pake buat ngeringin kepala. Dan pemandangan pertama yang gue lihat adalah mahluk itu malah lagi duduk di kursi komputer memangku salah satu bantal tidur sambil melipat tangan di dada dan menghadap ke gue.
Gue cuma ngeliatin doang sepintas, kemudian membuka lemari dan memakai baju. Gue buka pintu kamar kos lalu menaruh anduk di jemuran luar dan kembali menguncinya. Mbak Adele masih aja ngeliatin gue tanpa berbicara banyak.
Serem amat nih cewek, mana di luar udah ada suara Adzan pembuka waktu subuh lagi. Diem aja nggak ngomong nanti kalau kesurupan siluman laron baru tau rasa dah. Gue lihat kasur masih bersih, yaudah, badan gue sekarang sudah bersih dan gue juga udah ngantuk.
Gue matiin lampu kamar, lalu siap-siap tidur di kasur sebelum kemudian gue dilempar sama bantal dari belakang. Spontan gue langsung nyalain lampu lagi dan menengok ke arahnya.
Dan dia cuma ngeliatin gitu aja tanpa berbicara. Gue liatin lagi lebih lama, eh dia malah lebih melotot. Gue jadi takut. Gue ambil sarung di atas meja, menggelarnya di lantai, lalu kemudian menaruh bantal itu di sana.
Tanpa bicara, gue menunjuk ke arah sarung itu mengisyaratkan agar dia tidur di sana saja.
Gue kemudian mematikan lampu lagi. Sebelum tiba-tiba baju gue ditarik sampe gue jatuh ke lantai. Dan mbak Adele langsung loncat ke atas kasur. Gue buru-buru nyalain lampu lagi.
“MAU LO APAAN DAH!!!!” Gue akhirnya bete juga.
“Enak aja. Lo yang tidur di bawah! Jadi cowok kok seenaknya. Gue ngantuk! Besok ada kelas, nggak usah banyak ngobrol!” Katanya sambil kemudian mematikan lampu dan meninggalkan gue berdiri gitu aja sedangkan dia tidur di kasur.
Jadi cowok seenaknya gundulmu! Ini kan kostan gue. Ngapa juga gue yang harus tidur di lantai. Menyesal rasanya gue harus kenal sama dia. Dan malam ini gue benar-benar mengutuk kelakuan iseng gue beberapa jam sebelumnya yang mengakibatkan gue harus berada di keadaan kampret ini.
.
===
.
Tok Tok Tok tok!!
Pintu kamer gue digedor keras dari luar. Bukan lagi diketok, tapi digedor. Dengan sigap gue langsung membuka pintunya. Begitu gue buka, ada sosok anak kost paling cerewet di sana, lengkap dengan tengtop dan celana gemas ciri khasnya kalau lagi tidur.
“RYAN!!” Teriak dia tepat di depan muka gue.
“Buseeet, gak usah sambil ngeludah gitu juga kalee.” Gue ngelapin muka yang kena semburannya barusan.
“Ryaaan!! Gimana ih ini!” Rengeknya lagi
“Apaan sih pagi-pagi gini?”
“Air gue belum nyala juga!! Gue ada kelas dua jam lagi ini, Ryan! Mana kelasnya harus pake pakaian formal lagi. Kelas umum soalnya.”
“Kan Budi udah bilang, jam 10 baru dateng tukang airnya.”
“Terus masa gue nggak mandi?!”
“Ya mau gimana lagi?” Kata gue sambil melihat ke arahnya yang sedang ngedumel sendiri, “Btw, Ra? Terus kemarin lo nggak boker dong? Apa jangan-jangan elu boker, tapi gak cebok?” Kata gue cengengesan.
“IH!!”
Tanpa pikir panjang rambut gue langsung dia jenggut sambil diacak-acakin. Ciri khas ini bocah kalau lagi iseng dari semenjak kami SMA bareng dulu. Iya, gue sama dia dulu satu alamamater ketika SMA, dan kemudian ketika tahu gue ngekost di sini. Dia langsung pindah kostan dan hinggap di mari sampai sekarang.
“Ryan jelek~, gue mandi lagi di tempat lo lagi yaaak~” Rayu dia sambil maju-majuin mukanya sampai deket banget sama muka gue.
Gue langsung mundurin muka sedikit, “Nggak usah deket-deket begini.”
“Gue kalau belum mandi dan baru bangun gini lucu kan? Kan lo dulu juga bilang gitu.” Dia makin mendekat.
Gue langsung mendorong mukanya jauh-jauh pake jari telunjuk, “Yaudah, jangan pake peralatan mandi gue tapi ya.” Sambung gue.
Dan dia cuma angguk-angguk doang sebelum kemudian mencoba menerobos masuk ke dalam kamer gue.
“Eh eh eh, mau ngapain lo masuk?!” Gue langsung kelabakan.
“Numpang tiduran bentar~ Masih ngantuk gu…”
TIba-tiba omongannya terhenti begitu melihat ke arah kasur. Matanya mendelik dan langsung nengok ke arah gue sambil mundur beberapa langkah. Mirip kaya kucing lagi liat timun.
“i.. i… i-tu.. Si..siapa?” Tanyanya sambil sesekali ngintip dari luar pintu.
“Orang lah masa lu kira kangkung.”
“Iya gue juga tau, Ryan!! Maksud gue, kenapa dia bisa sampe nempel di kasur lo begitu?!” Kata Rara tidak terima.
“Nempel di kasur emangnya permen karet. Dia numpang doang tidur di tempat gue, kemarin kemaleman pulangnya. Pelanggan gue di toko, kebetulan anak kampus juga. Seangkatan.”
Rara memicingkan matanya mendengar penjelasan gue.
“Kok lo bisa tau detail gitu? Jangan-jangan..” Rara mendekat dengan wajah makin serius.
Gue geleng-geleng, “Enggak, enggak kok. Nggak yang kaya lo pikirkan.” Gue kembali mendorong mukanya, kini dengan lima jari penuh. Dan ketika gue mendorong mukanya pake telapak tangan, dia malah melet sampe kemudian tangan gue jadi kena lidahnya.
“ASTAGA!! KEBIASAAN YA LO!!!” Gue langsung ngelapin tangan gue ke anduk yang lagi asik santai ngegantung di situ.
“Pfft asin. Abis ngapain sih lo, yan? Jangan-jangan abis olahraga 5 jari ya pagi-pagi?”
“Tolol.”
“Hahahaha.” Dia ketawa kenceng banget, “Eh jelasin dong! Kok malah ngomongin begituan sih jadinya?!”
“Ya yang ngebahas itu kan elo.”
Akhirnya gue jelasin semua dari pertama gue ketemu itu anak, sampai alasan kenapa malam ini dia bisa menclok di tempat gue. Penjelasan gue nggak pernah selesai dalam satu tarikan napas, baru ngejelasin A eh si Rara langsung nanya, gue jelasin B, dia langsung nanya lagi. Apalagi waktu kejadian semalam.
Dia penasaran banget apa gue tidur sama dia semalem? Dan gue menjelaskan bahwa dari malem gue belum tidur. Gue malah main game online di meja komputer sampai kemudian kamar gue diketok sama orang yang miskin air.
Lagi asik ngobrol berdua di depan kamer, tiba-tiba pintu kamar gue dibuka dari dalem. Sontak kami berdua kaget dan nengok. Di sana ada mbak Adele yang sepintas terlihat seperti baru bangun, tapi juga sudah sedikit lebih rapih.
Mungkin dia terbangun gara-gara mendengar percakapan kami berdua.
“Mau ke mana?” Tanya gue
Dia menatap ke arah Rara, lalu melirik ke arah gue.
“Kelas.” Jawabnya dingin.
“Eh mbak..” Tiba-tiba Rara memotong, sontak mbak Adele langsung melihat ke arahnya.
“Anak 2010 juga?” Tanya Rara.
Mbak Adele angguk-angguk.
“Kenal Rico nggak?”
“Rico ketua angkatan?” Tanya Mbak Adele.
“Iya, yang badannya agak gede. Tapi nggak setegap si gembel ini.” Rara nunjuk ke arah muka gue. Dan entah kenapa gue jadi merasa tersinggung.
“Iya iya iya, kenal kok. Kenapa?”
“Dia kemarin gue tolak.” Kata Rara polos.
“EH SERIUS?!?!” Kemudian mbak Adele makin mendekat ke arah Rara, semetara gue dicuekin gitu aja.
“Jadi.. elo yang selama ini diceritain Rico toh??” Kata mbak Adele makin akrab.
“Eh, emang Rico cerita apa?”
Dan.. seperti yang gue duga. Mereka sekarang tiba-tiba jadi akrab banget kaya teman lama hanya karena kenal dengan subjek gosip yang sama. Begitulah wanita, bisa mendadak akrab karena ngomongin hidup orang lain. Luar biasa.. Gue yang badannya gede begini aja dicuekin coba. Bahkan ketika gue ninggalin mereka berdua dan masuk ke dalam kamer pun mereka berdua gak sadar.
Ya Allah. Gue dicuekin kaya duit kerokan.
.
====
.
Gue rebahan di atas kasur dengan posisi tengkurap meninggalkan mereka berdua yang lagi asik di luar kamer ngegosipin orang yang namanya Rico.
“Ryaaan~, Dia tau loh kejadian waktu di taman belakang kampus..” Tiba-tiba kepala Rara nongol dari pintu, tapi gue masih asik merem tidak menggubris.
“Ish, dia malah tidur.” Sambungnya lagi lalu kemudian pelan-pelan menutup pintu.
Meski gue merem, sebenarnya gue nggak tidur. Gue paling nggak bisa tidur dalam keadaan banyak suara kaya gini. Terlebih mereka berdua makin asik hahah-hihi ngomongin orang di luar sana.
Tapi, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba alur topik pembicaraan mereka berubah.
“Ryan?” Terdengar ada pertanyaan dari Rara yang disambung dengan suara ‘ssttttt’ yang panjang.
“Baik kok. Gue nggak pernah nemu cowok yang sebaik dia. I mean, he always listen without judging people. Ada alasan juga kenapa anak-anak di sini fine-fine aja sama Ryan. Ya karena dia udah seperti sosok kakak di sini.”
Kemudian ada hening panjang.
“Nggak, setau gue sih belum.” Jawab Rara.
Kemudian ada suara kecil dari Mbak Adele, gue nggak bisa terlalu mendengar.
“Banyak banget!! Hahaha, kemarin aja waktu temen-temen gue tau ada Ryan di sini jadi pada mau pindah semua. Tapi Ryan mah gitu orangnya. Doyan PHP-in anak orang. Hahahaha.”
Ah brengsek kenapa gue jadi yang diomongin sekarang?
“Bukan sih, baik kok. Baik banget malah. Karena terlalu baik itu jadi orang-orang ngira dia lagi pdkt, padahal mah engga. Emang pada dasarnya supel aja. Gue udah sering bilang jangan terlalu baik, tapi ya emang pada dasarnya Capricorn sih ya, jadi paling adem kalau dengerin curhatan orang. Pernah dulu ketika salah satu anak kost di sini lagi ada masalah sama cowoknya sampai mau silet-silet tangannya sendiri, terus Ryan dateng.”
Gue hanya mendengarkan dalam diam. Sebuah kejadian yang nggak pernah mau gue inget-inget lagi itu.
“Dia satu-satunya orang yang bisa dari semua orang yang mencoba. Tapi..” Rara tampak tidak melanjutkan. Gue tau alasannya apa.
“Pokoknya paling bisa diandalkan deh dia itu! Kami semua di sini kalau lagi ada masalah pasti ngedatengin dia. Hahaha, dia lahir di bawah beduk kayaknya sampe bisa menarik gitu.”
Tae! Lu kira rahim emak gue dari kulit sapi apa?! Lagi rebahan sambil masih diam-diam menguping, gue mendengar ada suara gerbang kost dibuka. Gue lirik ke arah jam dinding, udah jam 10 ternyata. Ah tukang air udah dateng nih kayaknya.
Gue langsung membuka pintu kamer, dan mereka berdua kaget melihat gue di hadapan mereka.
“Ra, mandi tempat gue sana. Udah jam 10. Gue mau ngurus kamer lo dulu, kang aer dah dateng.” Kata gue sambil beranjak pergi menuju bawah.
“Eh yan!” Tiba-tiba Rara memanggil. Gue nengok.
“Di kamar mandi gue..” Sambungnya lagi.
“Iya iya gue tau. Lo lagi jemur celana dalem kan? Nanti gue amanin dulu. Yang renda merah itu lagi kan? Sering bener itu celana dalem lo cuci, emang abis ngapain sih lo?” Kata gue.
“BRENGSEK RYAN!!!”
Syuuung~ Dia lempar selopnya ke arah gue yang udah keburu ngabur duluan sambil ketawa ke lantai satu.
.
===
.
“Jadi, gimana kang?” Tanya gue yang ngawasin kerjaan kang aer dari luar kamar mandi.
“Tinggal diganti pralonnya aja pak. Sejam juga beres.” Balas kang aer sambil masih ngodok-ngodok ke dalem tembok.
“Nggak perlu ditaplok kan itu?”
“Nggak usah pak. Tapi saya juga harus ngecek ke arah toren penampungan di atas.”
“Yaudah. Bud, nanti temenin ya.” Kata gue kepada Budi yang juga ada di sana.
“Iya mas.” Budi angguk-angguk doang.
Hnnnggghtt… Hnnggthh… Hp Gue bunyi. Dari Rara.
“Paan, Ra?” Tanya gue.
“Ryan, lo di mana sekarang? Kampus ga?” Tanya Rara dengan suara tergesa-gesa.
“Di kostan, ngurus kamer lo. Btw ini mampet nih saluran pembuangan elo. Elo ngapain aja sih Ra kalau di kamar mandi?” Balas gue bercanda.
“Ok gue ke sana sekarang.”
Dan telepon tiba-tiba diputus sepihak. Tumben-tumbenan dia nggak marah waktu gue bilang kaya tadi. Biasanya dia bakal ngamuk-ngamuk. Lagi kelas kali ya? Yaudah deh. Gue berjalan kembali masuk ke kamer gue lalu menyalakan komputer. Hari ini gue nggak ada kelas, jadi bebas bisa nyantai di kamer.
Selang 30 menit, ada mobil nglaksonin terus dari luar pager. Pas gue liat dari jendela, ada mobil Honda Jazz warna merah. Tumben-tumbenan si Rara nggak buka pintu sendiri. Manja amat dah. Dari jauh Budi buru-buru membukakan pager. Kasian emang si Budi tuh, terlalu polos. Sering banget disuruh-suruh sama anak kost yang lain dan dia nurut-nurut aja. Makanya tiap Budi mau pulang kampung, pasti anak-anak cewek pada nahan-nahan. Soalnya nggak ada yang ngurus mereka nantinya.
Gue nggak memedulikan lagi ada apa di lantai satu, gue kembali asik sama game online gue dan malah menaikkan volume lagu Kodaline - After The Fall yang lagi gue dengarkan saat itu. Ada sedikit suara ribut-ribut di luar, gue denger sih itu suara Rara. Apa dia berantem lagi sama mbok-mbok Bubur lemu ya?
“Mas ian!!” Tiba-tiba Budi memanggil dari bawah, dan gue masih diem aja.
“Mas!! Mas Ian!!” Teriakan Budi makin keras, kepala gue nongol ke luar jendela.
“Apaan, Bud?” Tanya gue.
“Tolong mas ini mas..” Kata Budi rusuh sampai-sampai dia gak jelas ngomong apaan.
“RYAN!!!” Mendadak Rara teriak kencang sekali. Gue langsung mengalihkan pandangan gue ke arah pager.
Di sana ada Rara sama Mbak Adele. Lah ngapain tuh orang dateng lagi ke kostan gue?
“Ryan!! Tolong!! Ini ada cowok mau mukulin gueee Ryaaaan, tolong cepet turun!!” Suara Rara terlihat ketakutkan sekali.
Gue kaget banget mendengar penjelasan singat dari Rara barusan. Dengan sigap gue langsung keluar dari kamer dan turun ke lantai satu. Begitu sampai di halaman, gue lihat pintu pagar memang masih ditutup paksa sama Budi, tapi dari luar tampak ada seseorang yang sedang mencoba menerobos masuk sambil teriak-teriak.
Di teras gue menjumpai Rara sedang memeluk mbak Adele. Gue masih belum tau ini ada keadaan apaan, tapi yang jelas nggak boleh ada cowok yang masuk ke sini selain gue sama Budi. Dan sudah tentu, ada masalah apapun sama penghuni kostan sini, semuanya menjadi tanggung jawab gue.
Gue datangin Rara yang lagi terduduk berdua di sana.
“Kenapa? Ada apa ini?” Gue memegang bahunya.
“Ryan, itu, pacarnya Lifana dateng, tadi di.. Di kampus, dia udah nyegat kita berdua. Ryan tolong, tadi Lifana sempat dijenggut. Gue takut, yan. Gue takut.” Kata Rara sambil masih memeluk erat mbak Adele.
“Terus?! ELO DIPUKUL?!” Tanya gue dengan nada suara yang mulai tinggi.
Raraspati cuma geleng-geleng.
“Ah brengsek!”
Dan gue lihat, Mbak Adele tubuhnya gemetar ketakutkan. Mirip kaya di film-film hidayah jaman dulu waktu mayat ditanya sama malaikat Izroil. Melihat hal itu, gue langsung berjalan cepat ke arah pagar.
“Budi! Minggir!” Teriak gue, dan Budi langsung mundur ke belakang.
Sontak pintu pagar jadi kebuka dan orang itu langsung menrobos masuk. Namun belum sempat ia masuk lebih jauh. Dengan gegas gue langsung menangkap kerah bajunya, lalu membantingnya ke arah pagar yang lain.
JDUAK!! Suara badan yang diadu dengan besi pagar terdengar keras banget, membuat beberapa tetangga jadi keluar rumah karena penasaran.
Dengan tubuh besar seperti ini, tampak mudah buat gue untuk membanting orang seenak yang gue mau. Udah kaya kang martabak lagi banting-banting adonan kulit martabak biar makin lebar.
Badan orang itu terpental hingga bersandar di paggar,
“Si Anjing!”
DUAK!! Gue memukul pelipisnya keras. Dia langsung sempoyongan.
Gue tarik kerah bajunya lagi lalu sedikit mengangkatnya dan mendorongnya keras-keras ke arah pagar hingga pagar kostan jadi sedikit dekok. Orang itu meronta namun tetap kalah sama tenaga gue.
Dari jauh, Rara teurs menenangkan mbak Adele yang masih tampak histeris.
“Tenang, Ryan udah di sini…” Kata Rara bisik-bisik.
“Ta..Tapi..” Mbak Adele mencoba memotong namun kemudian Rara menahannya.
“Tenang aja, kalau urusan beginian Ryan emang jagonya semenjak SMA. Lo harus tau, ada satu alasan tersendiri kenapa Ryan terpaksa harus pindah ke Bandung semenjak lulus SMA dulu. Alasan yang sama kenapa Ryan bisa dengan mudahnya diterima kerja di tempat kamu pertama ketemu Ryan dulu itu..” Sambung Raraspati.
.
.
.
.
Bersambung.
❤️❤️❤️
Aku mengenalmu, kau terlahir special. Menurut mereka, kau biasa saja-tapi tidak denganku, kau lebih baik dari itu.
Jangan dengarkan mereka, itu hanya membuatmu jatuh dan menunda mu untuk terbang tinggi.
Aku tahu apa yang kamu mau. Fokuslah. Aku tahu kau bisa. Hanya butuh sedikit dorongan untuk membuatmu percaya kau bisa.
Buka matamu, ada kehidupan yang harus kau jalani.
Jangan mencari cahaya dari sumber kegelapan, jangan salah langkah.
Aku takut kamu terluka, dan menangis-lalu bertanya ‘mengapa ini terjadi’
Cerita hari ini ;
Tempat favorite gw dipojokan cafe udah terisi, mau gak mau gw harus naro ni pantat di bangku tengah cafe. Otomatis, badan gw ngebelakangin orang, dan diri gw bisa jd pusat perhatian orang lain.
Meja gw selalu rame klo gw lg di cafe, selalu ada chocolate panas, kentang goreng beserta cocolannya alias saos, beberapa buku yang mau gue baca, buku catetan gw dan peralatan tulis gw-hari ini gw lagi males bawa laptop (beruntung juga sih, karena gw lg gk naro ni pantat duduk ditempat favorite gw-pojokan cafe).
Lagi asik baca buku sambil nyemilin tu kentang yang isinya gak seberapa tapi lumayan mahal, pulpen gw jatoh ngegelinding ke samping meja gw, refleks gw nunduk mau ngambil tu pulpen, ternyata ada cowok yang juga lagi nunduk karena botol air mineral doi yang kalo diiklan selalu ada kata "ada manis-manisnya gitu" jatoh, dan deketan ama pulpen gw, alhasil kepala gw ama kepala doi ketemuan- gwnya teriak-dianya teriak kaya padus di SMA, tu orang ngeliat ke arah gw sambil megangin palanya-gw rasa tu orang amnesia-mukanya polos parah jir-gwnya juga ngeliat kemuka doi.
"Eh maaf yaa" permintaan maaf yang keluar dari tu mulut si cowok, pelan tapi gw bisa denger kok, gini-gini gw selalu nyisain uang jajan buat beli cottonbud.
Gw ngangguk "iya"
Doi ngambil tu botol air mineralnya, gw jg ngambil pulpennya.
Bersambung........
-auldreyjune
Mau tanya, pintu keluar dari hatimu dimana yaa? Sepertinya Aku tersesat.
-auldreyjune
Masih ingatkah kamu tentangku? Tentang apa yang kusuka? Apa yang tidak kusuka? Makanan apa yang menjadi favoritku? Warna kesukaanku? Hewan yang ku inginkan? Tempat favoritku? Dan yang lainnya. Jika kamu lupa, tak apa. Karena aku tidak pernah lupa-tentangmu. -auldreyjune
Aku merindukanmu lebih dari yang kamu tahu, aku merindukanmu berada disampingku, menggenggam tanganku, beriringan denganku, tapi kamu memilih berhenti-membiarkanku jalan sendiri. -auldreyjune
Mungkin kamu akan berfikir bahwa aku berubah, mungkin kamu akan berfikir bahwa aku tak lagi peduli denganmu. Ingin ku jujur padamu, bukan karena aku berubah ataupun tidak lagi peduli denganmu. Tapi ketahuilah, itulah sikapku yang kutunjukkan pada orang yang tak lagi berada didalam lingkaran kehidupanku. -auldreyjune
Aku sungguh tak ingin membuatmu menjadi orang asing didalam hidupku, tapi apa dayaku-kau memaksaku melakukannya. -auldreyjune
Your Favorite Place
.
Dahi gue berkerut kaya dasi anak SD baru beres pramuka. Mencoba mencari cara lain biar orang di depan gue ini nggak harus nginep di tempat gue. Sempat terpikir untuk nitipin dia di kamar anak kost yang lain, tapi nanti malah jadi makin nggak bener. Kagak deh. Mulut anak-anak kost udah kaya kompor tukang pecel lele yang dinyalain kenceng, yang suaranya Woooossshhh. Sekali nyerocos bisa mengundang huru-hara.
Terlebih kostan tempat gue tinggal adalah kostan cewek, cewek kan mulutnya dua. Atas bawah. Kalau udah menyangkut gosip mah, beuh laron lagi berkembang biak di lampu teras aja bisa jadi bahan gosip.
Bahaya.
Namun malam ini gue mengurungkan niat untuk lebih banyak omong dan kagak protes. Cukup deh cukup gue melakukan kesalahan kaya tadi sekali aja. Sekarang lebih baik gue diam daripada harus menghadapi masalah lebih dari ini. Malam ini mulut gue sudah menyebabkan gue melanggar salah satu janji paling besar yang gue buat dulu sehari setelah pergi dari rumah.
“Yaudah.” Ucap gue seraya menutup laci kasir dan menaruh uangnya di dalam brankas toko.
Gue kemudian pergi lewat pintu belakang dan si cewek itu mengikuti sambil sesekali fokus sama hapenya. Mungkin lagi mencoba cari alternatif lain daripada harus nginep di kostan cowok.
Hujan masih sedikit terasa. Lebih kecil dari rintik-rintik namun stabil. Meski hujannya nggak besar, cuaca jam 2 malam yang hampir menyentuh jam setengah tiga pagi di Bandung seperti sekarang ini adalah kombinasi pahit manis yang luar biasa menyiksa kulit. Dinginnya udah nggak pake otak. Embun juga sudah mulai turun. Aduh kisut dah ini yang di dalem celana menciut jadi segede sukro kembar.
.
===
.
Motor gue yang selalu diparkir tepat di bawah lampu jalanan membuat gue tidak harus kesusahan mencari itu sepedah roda tiga di tengah malam gelap begini. Sambil berjalan menghampiri motor, gue sempat terpikir bisa nggak ya motor gue itu dipake boncengan berdua?
Soalnya beberapa bulan yang lalu Jessica pernah minjem motor gue buat beli persediaan telor ayam, terus tiba-tiba itu motor mati gitu aja di tengah jalan sampe dia nangis-nangis di telepon minta jemput ke gue. Jessica yang badannya segede singkong ditambah telor 2 kilo aja bisa ngebuat motor itu ngadat. Lah gimana gue yang badannya tinggi gede ditambah cewek ribet ini?
Semoga nggak aneh-aneh dah Ya Robb.. Malam ini sudah cukup melelahkah.
Ketika gue hendak membuka bagasi motor di bawah jok, lagi-lagi gue diem sebentar. Si cewek di belakang ini sudah melindungi kepalanya dari rintik hujan dengan tas kampusnya.
“Loh? Naik ini?” Tanya dia kaget.
Mendengar pertanyaannya polosnya itu, hati gue terasa patah. Dompet gue menangis.
Gue melirik dengan perasaan bete. Dan dia cuma ngeliatin dengan perasaan was-was dan rasa takut kalau-kalau ini motor mendadak bannya ngegelinding sendiri pas dinaikin nanti.
Wajar sih kalau dia kaget. Ya tapi nggak usah merendahkan kaya gitu lah! Gini-gini juga motor ini gue beli pake uang gue sendiri nih! Meski masih nyicil :(((
“Taksi aja lah! Lagian hujan.” Rengek dia masih dengan posisi yang sama, berteduh di bawah tas kampusnya.
Gue nengok ke kiri dan kanan.
“Lu pikir ada taksi jam segini?” Gue akhirnya ngomong juga saking betenya, dan dia cuma mendengus kesal seperti tidak terima.
Gue membuka jok motor dan melihat ada seonggok plastik jas hujan di sana. Gue lirik sedikit ke si mbak Adele, lalu gue kembali melihat ke arah jas hujan kucel itu.
Waduh, masa plastik tipis begini gue kasihin ke dia? Ntar dia kaya bibit lele dong di atas motor sambil diwadahin plastik begitu. Kasian amat. Lagian mana mau dia dipakein jas hujan 10 ribuan begini. Ini sih bukan jas hujan, tapi lebih tepatnya kertas kresek ukuran jumbo. Bahkan sama Trash Bag aja masih tebelan plastik Trash Bag dibanding jas hujan gue ini.
Akhirnya gue tutup lagi itu jok motor lalu membuka jaket gue. Dan gue serahin gitu aja sama dia. Keadaan dia saat itu hanya memakai kemeja formal sama luaran jaket denim yang pendeknya cuma sampe di bawah dada doang. Entah itu jaket apa tanktop dah kagak tau gue kegunaannya apaan. Nutupin udel aja kagak.
“Pake aja. Hujan.” Kata gue sambil nyerahin jaket gue gitu aja.
Gue nggak nawarin, tapi gue langsung nyerahin jaket itu. Karena gue tau dia bakal basa-basi nolak kaya cewek kebanyakan. Daripada drama, lebih baik gue skip aja dah adegan begitu sebisa mungkin.
Gue nyalain motor gue dan menurunkan step kaki penumpang satu-satu pake tangan. Dengan helm yang juga seadanya, gue nengok sambil nyuruh cewek itu naik.
Dan dia masih kelihatan ragu.
Malem ini ootd gue jelek banget. Kagak pake jaket, helmnya kaya helm proyek. Terus celana jeans gue digulung sampe di bawah dengkul. Udah mirip tukang ojek lagi maksa anak SD yang baru turun naik angkot.
“Cepetan keburu hujannya gede terus motor ini hanyut nanti!” Bentak gue.
Dan dia langsung buru-buru naik gitu aja di jok belakang.
.
===
.
Meski kecepatan motor ini nggak lebih cepat dari mobil tamiya, namun sudah lebih dari 2 kilometer tampaknya motor ini tidak terlihat ada keluhan sama sekali walaupun per di jok motornya udahmenimbulkan bunyi-bunyi menakutkan.
Sepanjang perjalanan, badan gue menggigil. Ya gimana enggak?! Gue nggak pake jaket + kesebor air hujan + naik motor di kota Bandung subuh-subuh begini. Geblek! Gigi gue gemeletuk, Si mbak Adele di belakang mah enak, Jaket gue yang besar malah menutupi dirinya yang berpostur sedang dengan sangat baik. Enak bener dah.
Sekarang gue sedang melintasi jalan Diponegoro. Depan Museum Geologi. Meski sudah jam segini, masih terlihat ada beberapa penjaja makanan kaki lima yang tendanya masih buka. Setau gue di sini ada yang jual bajigur terkenal banget di Bandung. Tanpa pikir panjang, gue langsung belokan motor gue ke jalan Cilaki dan parkir di depan salah astu tenda yang bertuliskan menjual bajigur dan bandrek itu.
Ketika motor gue selesai parkir, si mbak Adele langsung mukul helm gue sampai kaca depannya muter ke belakang.
“Kenapa malah berhenti?! Keburu makin pagi!” Katanya marah-marah sambil mukanya ketutupan hoodie jaket gue.
Gue nggak peduliin ucapan mak lampir yang satu itu. Gue langsung masuk ke dalam tenda dan memesan dua bajigur panas. Satu diminum di sini, satu lagi dibungkus. Sambil menunggu pesanan dibuatkan, kepala gue nongol ke luar tenda.
“Mau jeruk panas gak?” Tanya gue.
Dia diem.
“Yaudah.” Gue masuk lagi ke dalem tenda.
“Mau deh satu.” Tiba-tiba dia berubah pikiran.
“…”
Sembari menunggu pesanan jeruk panasnya dibuat, minuman bajigur gue sudah jadi. Tanpa pikir panjang gue telan dengan ganas itu bajigur panas karena badan gue saat itu sudah sangat kedinginan. Bisa-bisa demam nih kalau gini caranya.
Sedangkan bajigur yang dibungkus di dalam kresek itu gue kasih tambahan tali rapia melingkar di kedua gantungan kreseknya, sehingga kreseknya bisa gue gantungin di leher dan si kresek bajigur itu nempel di perut gue.
ALHAMDULILLAH ANGET!! UDEL GUE NGGAK HARUS KEMBANG KEMPIS LAGI!!!
Goblok emang, tapi ini satu-satunya cara yang kepikiran oleh gue saat itu untuk menghangatkan perut. Sebelum kembali naik ke atas motor, gue serahin jeruk panas yang sudah dimasukkan dalam plastik lengkap dengan sedotannya itu.
“Sedot di jalan aja.” Kata gue yang langsung memakai helm lagi.
Gue tau dia ngeliatin kresek bajigur yang menggantung di leher gue, tapi gue nggak peduli. Ah terserah lah, yang penting gue nggak masuk angin.
Motor pun kembali gue pacu secepat mungkin meski cuma mentok di 40 kilometer perjam doang. Mirip sama kecepatan kang becak yang baru nelen kratindeng.
.
===
.
Butuh lebih dari 30 menit hingga pada akhirnya kita sampai di depan gerbang besar kostan gue. Karena malam ini gue nggak bawa kunci, terpaksa gue harus bangunin budi dari luar gerbang.
“BUDI!!!!!”
“BUDI BANGUN!!!”
Harus lebih dari 6 kali gue memanggil Budi hingga pada akhirnya dia muncul keluar dan membuka gerbang.
“Tumben mas malem banget.” Tanya budi sambil mendorong gerbang.
“Haduuuh, musibah, Bud!” Kata gue sambil ngedorong motor gue masuk ke dalam gerbang.
“Eh?! Mas Ian kenapa?! Kecelakaan?!” Tanya Budi kaget tanpa menyadari ada satu mahluk di belakang gue lagi berdiri ngintilin gue dari tadi.
“Kagak! Lebih parah dari itu!” Balas gue bisik-bisik di sebelah Budi. “Noh liat belakang noh.” Sambung gue.
Dan Budi langsung nengok ke belakang. Budi cukup kaget melihat ada seonggok mahluk di belakang yang lagi berlindung di balik jaket yang kedodoran.
“Mas, itu cewek mas?” Tanya Budi bisik-bisik.
“Cewek lah, lu kira mangkok bubur.”
Ada kerut heran di wajah Budi, dan gue yang melihat hal itu cuma bisa nenangin Budi dan ngasih kode bakal gue jelasin semuanya besok.
“Bud, ada kamar kosong yang bisa dipake nggak?” Tanya gue sambil masuk ke ruang tamu dan mengambil salah satu anduk untuk mengeringkan badan.
“Nggak ada mas, adanya juga kamar di sebelah mas itu. Itu pun nggak ada kasurnya.”
“Waduh. Gimana ya.”
“Titipin ke anak kost yang lain aja mas. Ke mbak Rara mungkin?”
“Yah elo, Bud. Itu sih sama namanya kaya naroh sajen di bawah pohon pisang. Cari masalah aja ah.”
Budi cuma cengengesan.
“Yaudah, Bud. Gue ke atas dulu. Besok tukang keran jadi dateng?”
“Jadi mas, jam 10 katanya.”
“Oke.”
Setelah Budi balik lagi ke kamarnya, gue nengok ke arah Mbak Adele yang masih diam saja dari tadi, gue menyuruhnya naik ke atas dengan gerakan kepala dan dia cuma mengikuti saja.
.
===
.
Begitu pintu kamar dibuka, gue langsung menahan cewek itu sebelum masuk ke dalam kamar.
“Sepatu buka.” kata gue.
Dan dia nurut.
“Keset dulu.”
Dia nurut.
“Nih, elap dulu betisnya.”
“Ribet amat sih!!”
“Yeeee udah numpang malah protes!”
“Loh lo pikir gue mau numpang di sini? Lo kira ini sem..”
“Iya iya iya. Dah ah jangan ribut, nggak enak sama tetangga. Cepet masuk.” Gue tarik badannya untuk masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam.
“Kalau celana lo basah, jangan duduk di kasur. Duduk di lantai dulu aja. Nanti gue cariin baju ganti.” Kata gue yang makin perfeksionis sama kebersihan.
Si cewek itu tidak mendengar, dia malah lebih memilih melihat-lihat keadaan kamar gue yang bisa dibilang rapih banget ini. Semua benda tersusun dengan benar. Tidak ada benda berserakan begitu saja. Bahkan sprei kasur pun selalu dalam keadaan rapih tidak ada lipatan sama sekali.
Gue membuka lemari, mengambil beberapa baju dan celana dalam. Biarpun sekarang sudah hampir subuh, tapi gue lebih memilih mandi daripada harus tidur dengan badan yang kotor begini. Gue buka hape gue dan memilih satu lagu di playlist musiknya. Yaaa.. kebiasaan buruk gue yang lain adalah, kalau mandi harus sambil dengerin lagu. Karena sudah malam, gue memilih lagu Jazz Chill gitu, dari band Joey Pecoraro yang judulnya Your Favorite Place.
Baru satu langkah mau masuk ke kamar mandi, tiba-tiba mbak Adele memanggil gue.
“Gue tidur di mana nanti?” Tanyanya sambil meletakkan tasnya di atas kursi komputer gue.
Gue berpikir sebentar, lalu menunjuk ke arah kasur. “Kasur.” Jawab gue singkat.
Dia melihat ke arah kasur, dan kembali melihat ke arah gue.
“Lo tidur di mana nanti?” Tanyanya lagi.
Gue berpikir lagi,
“Kasur juga lah. Masa gue tidur di lantai?”
Dia langsung nengok kaget ke arah gue, dan dengan polosnya gue langsung menutup pintu kamar mandi.
.
.
.
.
Bersambung
❤️❤️❤️