Dan bahkan saat kau ulang tahun pun, aku tidak bisa menyampaikan kata 'selamat'. Aku tidak bisa menghadiahkan buku, atau apapun seperti sebelum-nya. Ya, di hari spesial itu aku hanya bisa mendesiskan kalimat doa, semoga Allah menjagamu. Semoga kau baik-baik saja. . Duhai, aku tidak ingin menghidupkan nafas-nafas rasa, yang sudah lama kusembelih dengan perlahan. Aku tidak ingin kau kembali hadir dalam mimpi-mimpi, setelah lama aku terlelap dengan damai. Pula, aku tidak ingin menggali kenangan, setelah lama kukubur yang bahkan nisan-nya telah berlumut. . Duhai maafkan aku, ya. Andai waktu bisa kuputar, mungkin kisah kita tidak akan seperti ini. Seharusnya, dulu, tidak ada ungkapan rasa yang pada akhirnya malah patah oleh sebuah perpisahan. Sekali lagi andai waktu bisa berulang, kita mungkin bisa menjadi sahabat saja. Berbincang tanpa harus ada senyum yang tertukil malu-malu. Bersapa tanpa perlu ada harapan yang diam-diam tersimpan dalam dada. Berjumpa tanpa harus ada detak yang lebih kencang dari biasanya. Ya, semestinya tak perlu ada cinta yang diselipkan dalan perjumpaan kita kala itu. Tapi sudahlah. Sejuta kali bilang 'Andai' pun, semua tetap sia-sia, kan? . Duhai maafkan aku, ya. Jika tak ada lagi sapaan 'apa kabar', jika tak ada lagi ucapan 'selamat malam', atau jika tak ada lagi senyum saat kita berpapasan. Sungguh bantulah aku, untuk secepatnya melupakan-mu, Wahai. Untuk secepatnya menghanguskan bara cinta yang mengobar dalam jiwa. Demi Allah aku tidak mau kita berjarak seperti ini. Sebab di antara kita memang tak pernah ada benci, kan? Namun apa daya, jika berjauhan saja rasa ini masih susah kuusir, apatah lagi kala melihat senyummu saat kita berdekatan, bukan? . Duhai maafkan aku, ya. Mesti hati menolak setuju, aku sudah putuskan untuk menyelesaikan kisah kita. Menamatkan cerita yang sejatinya belum usai ini. Kau tahu? Aku sedang ikhtiar merapikan perasaan agar hanya Allah-lah yang senantiasa menjadi tujuan. Sungguh, aku telah lelah berharap pada selain-Nya; termasuk kepadamu. . Sebagai penutup, kapada kau, di layar 7 inchi ini aku ucapkan selamat ulang tahun. Ucapan yang pastinya tak kau dengar sebab disampaikan dalam bibir yang membisu. Kudoakan semoga usiamu berkah, ya. Tercapai segala cita, cinta, dan bahagia. Dan semoga pula kau disegerakan bertemu dengan sosok yang kauharapan kehadiran-nya itu. Sosok yang pastinya bukan diriku. Ah, semoga kau disatukan dengan hati yang kaurindu. Dengan lelaki yang kau tunggu. Aamin. . Yaa Allah, kenapa doa barusan membuat dada ini terasa sesak, ya? . ~Aby A. Izzuddin~