Halo, selamat pagi. Sudah lama sekali sungguh tidak berjumpa. Terakhir mungkin 2014 di Hari Raya.
Tidak berjumpa, tidak berkabar lancar, sudah lupa juga apa kah masih berteman. Teman harusnya membalas pesan-pesan doa dan ucapan hari kelahiran.
Mungkin memang tidak punya pulsa, mungkin memang sedang hibernasi, seperti biasa. Ya sudah, sudah maklum, sudah mengerti. Dari awal juga memang tak berharap lebih.
Tapi tadi pagi kita bertemu. Tidak, tidak, hanya sekedar saya yang melihat kamu. Refleks mulut saya terbuka bersama dengan tarikan nafas cepat. Kaget.
Kamu bukan?
Iya itu kamu.
Lelaki bercelana pendek, sendal jepit, dan sweater hitam lusuh gombor. Berjalan kaki 400m mencari sarapan pagi, sepertinya. Iya pasti kamu mau beli bubur ayam. Haha deduktif sekali.
Tapi benar kan ya itu kamu?
Kenapa jadi lelaki gemuk, ikal gondrong, tembam begitu?
Ah iya saya yakin kamu. Saya tahu.
Lalu apa yang saya lakukan?
Tetap terus melaju 40-50 km/jam. Ada hal yang harus saya kerjakan. Mungkin jika cepat selesai bisa langsung berbalik pulang dan masih berkesempatan melihat kamu lagi. Haha, keinginan macam apa itu, sekedar melihat, haha.
Tugas selesai, the moment of truth. Pastikan itu dia. Toh saya memang belum sarapan. Toh bubur ayam memang selalu jadi pilihan kesukaan. Pas. Tepat.
Tapi tunggu dulu, wajah apa yang di cermin ini. Wajah kusam, mata sembab kurang tidur lengkap dengan lingkaran hitam berkat mascara yang tak sempat dibersihkan semalam. Tidak, tidak, tidak pas.
Loh bukankah harus percaya diri. Teman kan? Kenapa harus malu? Ayo.
Tapi baru teringat pula sedang tak bawa uang sepeser pun. Mau beli bubur ayam pakai apa? Tidak, tidak, tidak tepat.
Lagipula ya sudah lah memang sungguh wajah-pagi ini tak layak pandang. Tidak, tidak, tidak pas, tidak tepat.
Sudah, sekedar lewat dan melihat lagi saja sudah cukup kan? Ayo, pastikan wajah tak terlihat dulu, tutupi, jangan terlalu mencolok atau melakukan hal bodoh. Cukup lihat, dan lewat. Ayo, kamu bisa.
Lalu lewat lah, dan terlihat lah. Lelaki sweater hitam di bangku panjang tengah menyuap kerupuk dengan postur tubuhnya yg duduk membungkuk. Zzing. Ya Tuhan, setelah sekian lama. Untuk apa zzing itu lagi tadi? Ah.
Ah. Ah!
Kamu tahu sepanjang jalan saya bernyanyi? 🎵Being in the same town, walking down the same street🎵 Mencipta lirik dan nada sendiri. Saya dan kamu itu maksudnya. Sebegitunya ya? Haha, iya.
Eh, tapi tunggu dulu. Ah, ya! Dia juga sedang ada di kota ini kan? Terima kasih media sosial yang sudah menginfokan saya. Haha. Jadi lagu itu bisa untuk kamu dan dia juga. Haha. Ah. Ah!
Ya sudah, jadi ya begitu lah. Sekedar begitu saja lah. Beberapa menit bahkan detik dengan kepastian informasi hasil ilmu deduksi tinggi. Cukup sesingkat itu lah hal yang selalu akan ada di pikiran saya untuk beberapa hari ke depan. Merusak progress yang sudah saya jalani dengan yang lain. Selalu begitu. Dan kamu tidak tahu kan? Terima kasih. Semoga tadi kamu menikmati bubur ayamnya dengan baik, dengan tenang, tanpa hal lembek untuk sekedar bahas perasaan. Seperti biasa kamu menikmati hidup.
Eh, tapi tunggu! Tetap harus ada hal yang dilakukan dengan penampilan kusam ini. Ah, memang kemarin-kemarin terlalu banyak main di alam, panas-panasan. Saya selalu suka sih. Tak pernah terpikir juga akan menyesal seperti ini. Dan itu apa pula noda merah radang di wajah! Hari ini harus dipersembahkan untuk perawatan wajah dan badan. Ya, bersihkan. Hm, itu bisa melembutkan. Ya, ya, beberapa wewangian itu juga bisa dipakai. Harus total.
Ah, hei, sedang apa saya ini. Oh, ya Tuhan, sebegininya kah (lagi)?