Ketika berjalan sudah tak searah maka akan terpisah
Begitupun rumah tangga...
Jika salah satu sudah membuka hati untuk orang lain, apakah masih bisa bergandengan?

roma★

shark vs the universe
almost home
RMH
Noah Kahan
Mike Driver
$LAYYYTER
Monterey Bay Aquarium
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
todays bird
★
noise dept.

❣ Chile in a Photography ❣
Phantogram Three
I'd rather be in outer space 🛸
YOU ARE THE REASON
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always
cherry valley forever
hello vonnie
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Mexico
seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Greece
seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
@auliahidayati31
Ketika berjalan sudah tak searah maka akan terpisah
Begitupun rumah tangga...
Jika salah satu sudah membuka hati untuk orang lain, apakah masih bisa bergandengan?
You can't be everything to everyone.
Pernah jadi seseorang yang harus menyenangkan semua orang?
Pernah jadi seseorang yang harus selalu tampil sempurna di depan semua orang?
Lelah nggak? Pasti iya, pake banget!!
Nggak semua orang harus suka sama kita, dan nggak mungkin kita harus selalu suka sama attitude orang lain. Ini namanya perbedaan pandangan, perbedaan nilai. Wajar aja kalau punya pandangan yang berbeda, toh kita dilahirkan dari keluarga yang berbeda, nilainya juga beda.
Kalau pemikiran orang nggak sama seperti kita, kita nggak bisa maksa mereka harus sama, kan? Kalau sesuatu hal yang nggak sejalan sama apa yang kita pikirkan, kita juga boleh kan menentukan jalan kita sendiri? Semua punya pilihan dan bebas memilih, kan?
Kita nggak bisa jadi segalanya buat orang lain, kita ini terbatas, ada kapasitas. Kita juga nggak sempurna, kalau ini dipaksain yang ada bisa ngosongin diri kita sendiri.
Jadi harus gimana? Belajar say No, belajar mengendalikan pikiran kita, belajar untuk "jangan suka nggak enakan terus, karena kita yang kebagian nggak enaknya!", belajar punya prinsip hidup yang benar, belajar mutusin mana yang perlu dan mana yang nggak perlu. Harus ngerti bahwa semua orang punya kehidupan yang nggak sempurna juga, belajar acceptance daripada judgement.
Terkadang nggak semua hal bisa kita rubah sesuai keinginan kita, belajar untuk enjoy your life, nggak usah sibuk nyenengin orang lain yang bakal jadi beban buat kita. Dan belajar mana yang perlu di respon dan yang nggak perlu di respon.
/No-vem-ber/
Aku pernah jatuh sedemikian parahnya, lalu berusaha bangkit walau menapakinya harus tertatih-tatih. Aku bersyukur sebab keadaan yang semenyakitkan itu membuatku semakin dekat dengan Allah. Karna kasih sayang-Nya, aku mengenal hidayah. Dan semoga, aku bisa istiqomah hingga akhir hayat.
- @dwiramadhani
Pesan untuk yang Belum Terlahir.
Kasihku, cintaku, sayangku... yaa bunayya
Nak, janganlah kamu sekali-kali meninggalkan hak Allah dalam keadaan apapun, apalagi sebab dunia.
Nak, Janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia dengan sombong dan angkuh. Jika kamu bertemu dengan orang maka sapalah.
Nak, jika ada orang yang berdebat dengan dirimu maka tinggalkanlah debat tersebut.
Nak, jangan pernah mencela orang lain karena kita tidak pernah tau siapa yang terbaik diantara kita.
Nak, Jangan pernah engkau meremehkan kebaikan yang orang berikan kepada dirimu.
Nak, Allah tidak suka dengan orang yang sombong dan membanggakan diri, maka katakanlah bahwa ilmu yang engkau dapat itu berasal dari Allah.
Nak, jika ada orang yang kelaparan di hadapanmu maka berilah sebagian hartamu.
Nak, berdakwalah dengan ilmumu, hartamu, tulisanmu.
Nak, jika saat ini Allah menganugrahi ilmu kepadamu, maka pasti akan ada orang yang lebih berilmu darimu. Tidak ada yang perlu kalian sombongkan wahai anakku, maka yang lebih pantas sombong adalah Allah.
"Nak, ketika kamu melihat temanmu melakukan keburukan nasehatilah dengan kemampuanmu".
Nak, jika kamu sudah beramal ma'ruf dan mencegah nahi mungkar, maka bersabarlah atas apa yang menimpa dirimu.
Terkadang kita mengajak seseorang kearah kebaikan, tapi tidak semua orang diberikan hidayah bahkan kita sering dicaci.
Bahwasanya sebelum menasehati orang-orang, kita minta dulu kepada Allah, luruskan niat. Karena hati orang yang ingin kita dakwahi berada ditangan Allah.
Bersabar wahai anakku..
Calon Ibu
Kamu yang akan menjadi seorang ibu, mari berubah.
Karena anakmu kelak akan mengikuti setiap hembusan napasmu, setiap degup jantungmu, setiap langkah kakimu. Bagaimana caranya kamu berputar, melompat hingga terguling jatuh. Bagaimana kau merasakan luka, tangis hingga air mata. Bagaimana kau tersenyum, tertawa hingga terbahak-bahak.
Caranya (anakmu) menilai orang lain adalah tentang bagaimana caramu menilai orang lain. Caranya (anakmu) memaknai hidup adalah tentang bagaimana caramu memaknai hidup.
Anakmu akan belajar banyak darimu. Segalanya! Dari terbukanya kedua matamu di pagi hari hingga menutupnya kedua matamu di malam hari. Seluruhnya takkan luput dari pandangan matanya.
Karena pada usia emasnya yakni 0-4 tahun, ia akan banyak belajar dari apa yang ia lihat, bukan dari apa yang ia dengar.
Maka perhatikanlah gerak tubuhmu. Ayunan tanganmu, caramu menimang, merangkul dan memeluk. Pancaran sinar matamu, tatapan hingga lirikan, serta gerakan bibirmu. Pancaran tawa dan tangismu, hingga nada bicaramu saat memperkenalkan nama-nama benda yang perlu ia tahu.
Ingat, anakmu memulai mempelajari dunia, memenuhi 50% kapasitas otaknya dengan merasakan auramu. Maka kumohon berubahlah! Bangun kebiasaan baik dalam hidupmu sebelum kau menjadi seorang ibu.
Catatan :
Perkembangan otak anak
Usia 0 - 4 tahun, otak manusia berkembang 50%
Usia 4 - 8 tahun otak berkembang menuju 80%
Usia 8 - 17 tahun, otak berkembang seukuran orang dewasa menjadi 100%
- Rodiah Aljufrie
Jakarta, 1 Juli 2020
Tjurhat.
Jadi ceritanya, aku lagi main ke kampus buat ketemu teman. Duduklah tuh di depan perpustakaan. Tahu-tahunya, dari arah belakangku ada satu dosen lewat. Dia senyum aku balas senyum. Udah mo meleleh ajah rasanya di senyumin cidaha jaman dulu. Wkwkwk.
Itu bapak dosen, dulu kejam baget. Masih muda, akhir 20-an usianya. Setiap dia masuk, pada kesal tuh sekelas karena ke-songong-annya. Tapi aku malah suka liat dia.
Pas pertama dia ngajar, waktu itu pembagian kelompok. Sama kelompokku, aku di tunjuk buat jadi ketuanya. Terus, fungsi ketua itu buat jawab sama nulis di papan hasil dari quiz. Kelompokku duduk paling depan bejejer. Otomatis suka langsung hadap-hadapan sama si bapak. Dia biasanya suka ngasih quiz dadakn yang main tunjuk aja siapa yang jawab. Dan sialnya aku selalu kena. Sial karena aku harus liat ke matanya, kan aku suka doki-doki. Ehe.
Biasa, dia masuk ngajar barengan sama dosen 1. Kalo dosen 1 lagi nerangin, dia duduk di meja dosen sambil merhatiin sekelas. Pernah, aku gak sengaja malah fokus liat ke dia, dan rupanya dia sadar terus ngasih senyum ke aku. Aku langsung nyubit temanku, di balas cubit biar katanya aku gak usah mimpi.
Pernah juga, aku lagi kena flu. Batuk, bersin, sama narik-narik ingus. Pas lagi fokus nyari jawaban, aku narik-narik ingus gitu, terus hidungku dimasukin tisu sama temanku. Aku kaget, terus mukul temanku itu. Kata temanku sumpelin tisu itu hidungmu biar gak berisik. Karena aku sama temanku jadi berisik bantah-bantahan, temanku yang lain nyeletuk. Katanya, “woy, ngana tidak malu itu bapak liat-liat dari meja dosen. Di hapus ntar dari daftar gebetannya si bapak.”
Karena temanku ngomong gitu, otomatis aku liatin meja dosen dan memang dia lagi merhatiin aku dan temanku terus dia ketawa. Emang ketawa karena suaranya kedengeran. Waktu itu, aku cengo banget. Di cie-cie in sama teman se genk karena kata mereka aku akhirnya di notis.
Terus, hal itu berjalan aja selama perkuliahan. Dia masih nyebelin kalo ngajar, walaupun aku suka liat dia, tapi aku suka kesel juga. Hehehe.
Lalu, pas dia udah gak ngajar di kelasku, karena udah semester berikutnya. Waktu itu aku gak masuk karena sakit. Dapat pesen tuh dari temanku, katanya mau ke rumah. Dan jangan sedih. Aku bingung maksudnya apa.
Dan pas temanku ke rumah, puk-pukkin pundakku, terus ngasih selembar kertas yang di bungkus plastik, undangan. Kertasnya warna coklat, aku liat ada nama lengkapku tertera di alamat undangan. Aku nanya ke temanku kalo itu undangannya siapa, temanku bilang baca aja.
Dan pas ku baca. ASTAGA. Bapak dosen cidahaku yang bakal menikah. Asddghjkl. Temanku udah pada ngakak liat aku yang cengo bloon. Aku gak kesel. Sumpah. Aku speechless aja. KENAPA DIA NGUNDANG AKU? APA SELAMA INI DIA TAHU KALO AKU SUKA SAMA DIA? MAKANYA DIA MAU NYADARIN AKU DARI MIMPI AKU YANG TIDAK INDAH INI.
Terus temanku ngomong, “Kamu beneran dinotis. Sekelas, kamu doang yang diundang. Mana lengkap banget lagi itu namanya.” abis ngomong gitu, mereka pada ketawa. Teman kampret memang.
Besoknya, pas aku ngampus, pada ditanyain temen sekelas kenapa bisa dapat undangan. Ku jawab aja, enggak tau. Emang aku gak tau juga.
Dan dengan itu, aku berhenti buat jadikan dia cidahaku. Aku bersyukur dia udah berjodoh. Lagi pula, meskipun dia cidahaku, ya tetaplah aku sadar diri. Aku ini mahasiswanya, sama sekali gak ada niat buat macarin. Wkwkwkwk.
Udah udah curhatannya. Di ketawain temen nih nulis ginian di depan perpust.
Januari, 25 2017.
(si bapak senyumnya gak berubah, manis.)
Innalillahi wainnailaihi rojiun.
Bapak, terima kasih atas segala ilmu yang kelak akan menjadi amal jariyah. Segala tentang bapak abadi dalam ingatanku. Berpulanglah pada pemilik semesta dengan damai, doaku melangit untukmu.
Senyum manis itu akan selalu ku kenang.
Khusnul khotima, inshaa allah.
September, 25 2019.
Ketika saat ini saya bahagia, pasti akan ada yang terluka karena kebahagiaan yang saya dapatkan. Hidup mungkin memang seperti itu, kita adalah bagian dari rasa sakit seseorang meskipun kita tidak ingin melakukannya. Saya bersyukur karena telah diberikan begitu banyak kebahagiaan, dan saya sedih jika ada yang terluka krna saya, tapi ada satu hal yang bisa saya lakukan untuk mereka yang terluka itu, yaitu berdoa agar mereka mendapatkan kebahagiaan lebih besar dari rasa sakitnya. Suatu saat, jika saya terluka oleh kebahagiaan seseorang, semoga orang tersebut juga mendoakan saya, agar mendapat kebahagiaan yang lain.
Kita tidak bisa menghindar dari rasa sakit, namun ketika kita rela akan rasa sakit itu, kita bisa menjadi lebih bahagia. Jika dalam hatimu turut bahagia ketika orang lain bahagia, sesungguhnya kau telah berhasil merendahkan beberapa ego dalam dirimu. Kita tidak bisa memiliki semua kebahagiaan, tapi ketika kebahagiaan itu datang, kita bisa menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Semakin besar rasa sakit yang kau kalahkan, semakin besar pula rasa bahagia yang kau terima.
Perkara nikah, aku menikah dengan orang pilihan hatiku sendiri, tak sampai satu tahun kenal bisa langsung memantapkan hati memutuskan menikah.
Proses setiap orang beda beda, tak sedikit orang yang selalu membenarkan pemikirannya, merasa dia juru rumah tangga yang baik, dan menggurui seakan rumah tangganya lah yang paling sempurna.
Pilihanku, aku sama sama mengerti dan berusaha saling menguatkan dan selalu mau belajar, tidak selalu merasa puas telah melewati sehari dua hari setelah sah suami istri, tp selalu merasa kurang dan menanamkan rasa kami hidup seolah olah besok mati, sedih rasanya.. ngga tau kenapa mempunyai prinsip seperti itu,setidaknya sudah membuatku ingat selalu akan kewajiban kepada yang Maha Kuasa dan kewajiban seorang istri kepada Imamku 🥺
Tetap Sahabatku
Mungkin, aku takkan selalu ada. Hadir untuk berkumpul selingkaran, mungkin aku banyak alpa. Berkali waktu kadang tak kutepati pula janjiku karena tak ayal ada sesuatu yang lebih prioritas untuk kulakukan lebih dulu. Sekian waktu tak bertemu, aku mengerti, ekspektasi untuk setidaknya bertatap muka itu memang tinggi.
Mungkin, aku takkan selalu ingat. Kadang lama tak bertemu membuatku lupa melafalkan namamu, juga tergopoh meraba-meraba siapa panggilanmu, meski sebenarnya sosokmu terpatri kuat dalam memoriku. Membuatmu kadang ragu, kok bisa ya lupa nama sahabat sendiri?
Mungkin, aku takkan selalu peka. Aku memang tak sering menyapamu lebih dulu, tidak tiba-tiba datang bertanya apa kabarmu, tak pula sok bertanya tentang keadaan keluargamu. Meski begitu, tetap kutaruh rasa hormat dan senang ketika suatu kali takdir waktu yang bersilangan tiba-tiba mempertemukan, tak berkali-kali memang, tapi tetap kuanggap kau sahabat lama dengan segenap kepedulianku.
Kalau memang kau bilang bahwa sahabat itu harusnya sering berkumpul, selalu saling ingat, atau lebih dulu merasa peka, ya…
Mungkin saja aku bukan termasuk kriteria sahabat terbaikmu.
Bagaimanapun itu aku, tak lepas dari alpa. Tak sekonyong-konyong pula aku akan membela diri bahwa temanku banyak, bukan kau saja. Hanya, kau mungkin tak tahu, dari ribuan teman yang setiap hari datang dan pergi, sosok sahabat bagiku takkan pernah terganti. Terlepas apakah jarang bertemu, kadang pula lupa namamu, juga tak melulu peka lebih dulu, kugarisbawahi benar-benar dalam garis ingatanku…
Bahwa, kau tetap sahabatku.
@miftahulfikri
Nikah.
“tetep dong nikah itu butuh teori baru praktek, kita mesti tau ilmunya” kataku,
“percuman ujung-ujungnya bakal susah” kata dia,
“kok gitu?” tanyaku penasaran.
“keburu tua kalo nikahnya nunggu siap, toh siap nggak siap tetep nikah, urusan teori itu gampang yang penting prakteknya” tambahnya lagi.
Sejujurnya usia kita saat ini mungkin bagi sebagian orang merupakan usia yang cukup untuk membina rumah tangga. Tapi bagiku usia saat ini sungguh belum cukup untuk membina rumah tangga, memasuki usia 20 tahun masa dimana kita dituntut untuk mandiri, untuk belajar makna hidup, untuk menambah pengalaman, untuk belajar lebih banyak, dan untuk membahagiakan orang tua.
Dan juga masa-masa dimana pikiran kita seputar “untuk apa kita hidup, menghabiskan uang untuk bersenang-senang, berkumpul sama teman-teman, kemudian bagaimana masa depan kita kelak, dan bagaimana cara untuk mandiri dan akhirnya membahagiakan orang tua”.
Menikah itu bukan perkara yang mudah, kita harus mempersiapkan dengan matang, baik itu ilmu maupun materi. Karena menikah itu bukan hanya ijab kabul kemudian sah, tetapi bagaimana kita akan menjalani hidup setelah menikah, menghadapi bahtera rumah tangga yang penuh lika-liku. Kita butuh ilmu untuk menghadapi itu semua, dan hanya dengan cinta saja tidak cukup untuk menghadapi persoalan rumah tangga.
Sama tugas-tugas kuliah saja masih suka mengeluh, gimana kalo membina rumah tangga, yang tugas-tugasnya mungkin akan lebih melelahkan daripada tugas kuliah?
Menikah itu bukan sebuah pencapaian yang utama, tapi sebuah permulaan hidup yang sebenarnya. Jika hanya ingin tapi belum ada kemampuan, sebaiknya tunggu dulu sampai kamu memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup.
Jangan gegabah memutuskan untuk segera menikah.
– h.s
Surakarta, Mei 2019
Sebuah Pesan Menjelang Pernikahan
Proses menjelang hari yang dinanti, hari yang ditunggu beberapa tahun lalu. Beberapa jam lagi, hari dan waktu itu akan tiba. Tepat atau tidaknya waktu itu, tepat atau tidaknya pilihanmu itu, Allah bahkan lebih mengetahui semua.
Bukan prihal mudah menuju pada pilihan ini, diambang hari yang semakin dekat rasanya ada banyak pertanyaan dari diri sendiri, "Apalah aku siap? Apakah aku yakin memilih dia sebagai teman disisa hidupku?"
Tak heran, bukankah ini adalah dilema setiap orang yang akan mendekati pernikahan? Gini saja, jika yang lain pernah dilema dan mereka bisa melewatinya, artinya juga sama. Dirimu juga bisa melewati masa itu.
Bukan prihal mudah juga menuju hari setelah ucapan "SAH". Hati yang semakin berdetak lebih cepat, tangan yang menjadi es, mata yang tak bendung dengan airnya dan bibir yang terus berucap asma Allah lalu bersyukur. Begitu pun orang-orang akan berucap doa dalam hatinya. Mereka yang jauh mengenalmu lebih dekat, bahkan orang-orang tersayang akan ada air mata yang menetes wujud haru, wujud bahagia dan wujud kesedihan. Bagaimana dengan Mama tersayangmu, Kak? Ah, jangan ditanya lagi. Kau lebih tahu itu.
Aku, teman sejak masa kecilmu hingga kita tumbuh menuju dewasa juga merasakan deg-degan seperti kakak-kakakmu, keluargamu. Aku merasakan itu sebelum hari akadmu tiba. Aku tak ingin mengganggumu dalam mempersiapkan diri menuju hari kebahagiaanmu itu.
Ah iya, fisikku tak akan berada di sisimu esok pagi menjelang akad. Tak perlu dicari batang hidungku. Tapi Kak, do'a dari ku akan hadir sejak sebelum dirimu akad dan hingga akad bahkan setelah akad nanti. Kak, aku tak ingin membuatmu menangis hanya dari deretan kalimat ini. Tapi menangislah bahwa esok tanggungjawab atas dirimu akan berpindah. Pesanku, jangan lupa kunjungi kubur Papa-mu setelah akad bersama dia, si penerima amanah baru.
Kak, Barakallah. Semoga Allah mudahkan ya :)
Catatan Empat Hari Sebelum Pernikahan.
Empat hari sebelum hari pernikahan, bukan karena alasan filosofis aku memilih hari ini. Lebih karena mungkin beberapa hari ke depan aku akan sulit memegang laptop kesayanganku ini (yang usianya sudah 7 tahun dan dia masih fit sehat walafiat :’D). Laptop ini saksi semua cerita yang pernah kutuliskan, tentang orang - orang yang kutemui, tentang kegelisahan yang kurasakan. Sejauh ini tiada teman sebaik dia dalam menyimpan semua rahasia - rahasia yang kupunya. Baik tangisan maupun senyuman.
Aku merasa perlu menulis sesuatu untuk diriku yang belum menikah. Sebab setelah ini tulisanku bukan lagi tentangku, kegelisahanku, dan dunia dari sudut pandangku. Jika Allah mengizinkan kami sampai pada empat hari ke depan, maka tulisanku akan tentang kami, kegelisahan kami, dan dunia dari sudut pandang dua orang. Jika pandangku sedang tak bijak maka pandangnya yang akan melengkapi begitupun sebaliknya.
Banyak teman yang bertanya padaku “Sit, apa rasanya bentar lagi nikah?” Saat mendengarnya aku cuma bisa ketawa sambil bilang “mm..biasa aja.. ga degdegan.. mungkin belom kali ya.” Saat ini, aku merasa tak memiliki ketakutan sedikitpun untuk menjalani fase baru terhitung sejak 23 juli nanti. Mungkin karena telah menemukan orang yang tepat, yang cara-berpikirnya-sama-gilanya-denganku :D. Yang tidak mempermasalahkan hal - hal yang tidak terlalu esensial, tapi teguh pada apa yang diyakini. Mungkin memang beginilah rasanya bertemu dengan orang yang mengerti diri kita. Tak ada kekhawatiran. Sebab semua kekhawatiran telah dijawabnya dengan meyakinkan. Sikap - sikap skeptisku ia respon dengan manusiawi dan bijaksana. Terlebih aku belum pernah seumur hidup bertemu dengan seseorang yang begitu teguh dengan keyakinannya sebagaimana ia yakin padaku, seseorang-yang-bahkan-awalnya-dikenalnya- lewat-cerita-orang lain dan tulisan tulisanku yang ia baca melalui halaman halaman tumblr ini. Aku merasa begitu diperjuangkannya selama proses kami menuju pernikahan.
Akan jadi bab panjang hanya untuk menceritakan bagaimana seorang laki - laki gurun bisa sampai ke rumahku satu tahun yang lalu :). Kami tak punya kisah selain kisah proses menuju pernikahan. Satu hal yang ingin aku bagi padamu, pertimbangkanlah laki - laki yang datang dengan penuh keyakinan. Sebab pada keyakinannya kelak kamu akan mempercayakan satu satunya hatimu untuk ia jaga dan sisa hidupmu untuk ia pelihara. Bagaimana bisa kamu memberikan dua hal itu untuk laki - laki yang merasa ragu? :)
Logikaku berkata pernikahan adalah fase yang sama dengan fase baru yang tahap demi tahap telah kita lalui sebagai manusia. Dulu kita tak bisa berjalan lalu kita tertatih tatih belajar berjalan. Dulu kita tak bisa naik sepeda lalu kita terjatuh jatuh belajar naik sepeda. Dulu berbulan - bulan kita ketakutan akan hasil ujian kelulusan atau menunggu sidang skripsi selesai. Toh semua akan tetap berjalan menuju fase yang akan terus menumbuhkan. Begitupun dengan pernikahan. Kita hanya perlu melewatinya.
Perasaanku berkata pernikahan dan fase setelahnya akan sedikit berbeda dari semua fase yang telah kulewati. Akan ada orang baru yang begitu lama masuk ke dalam kehidupanku.Yang seumur hidup akan kukenal, yang akan mengetahui bahwa aku menangis jauh lebih banyak daripada apa yang nampak. Bahwa aku jauh lebih gila daripada apa yang kutunjukkan haha. Yang akan mengetahui kecerobohan - kecerobohan sederhana sebagai cacat dalam sifat perfeksionisku. Yang akan mengenalku tanpa lagi menghitung berapa banyak kurang dan lebihku. Untuk orang itu, aku ingin kamu diriku yang telah menikah nanti bahagiakanlah dia dan bahagialah bersamanya :)
Terakhir doa yang senantiasa aku panjatkan sejak mengenalnya, semoga Allah sampaikan kami pada hari dimana malaikat turun mendengar ucap akadnya. Pada hari dimana kembali lagi haru dan bahagia ayah ibu kami jadi satu , setelah hari dimana kami dilahirkan dulu. Semoga kami sampai. Sebab Allah lah tetap sang penguasa segala skenario pertemuan..
——-
Laptop ini saksi semua cerita yang pernah kutuliskan, tentang orang - orang yang kutemui, tentang kegelisahan yang kurasakan. Sejauh ini tiada teman sebaik dia dalam menyimpan semua rahasia - rahasia yang kupunya. Baik tangisan maupun senyuman. Mungkin setelah ini perannya akan tersaingi oleh seseorang :)
©Alizeti
Bertumbuh Bersama
“Karena barangkali, tantangannya kelak bukan lagi menumbuhkan mimpi sendiri, namun menumbuhkan mimpi bersama, dan sudah pasti memastikan bahwa orang-orang terdekatmu kelak sama-sama bertumbuh” - Mushonnifun Faiz S
Beberapa minggu yang lalu mendapat kabar bahwa seorang ayah dari teman selama di asrama dulu, sekaligus teman semasa kuliah di Eropa meninggal dunia. Sosok ayah yang bagi saya mampu dijadikan role model untuk membangun sebuah keluarga. Bagaimana tidak, ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Quran, walau beliau dan istrinya sendiri tidak menghafal keseluruhan Al-Quran. Padahal beliau dan istri sama-sama sibuk di ranah legislatif pemerintahan, juga segala aktivitas layaknya para aktivis dakwah. Namun di tengah kesibukan tersebut, beliau mampu menghasilkan generasi pecinta Al-Quran. Betapa haru saya membayangkan, mungkin beliau sekarang sedang tersenyum sembari bersiap menerima sepuluh mahkota dari anak-anaknya kelak di yaumul hisab. Bukan satu, bayangkan Sepuluh!
Pun juga banyak role model keluarga lainnya yang ada di Indonesia, juga dunia yang seperti ini. Dari yang sukses di aspek dunia. Ada yang sekeluarga menjadi dokter, memiliki bisnis bersama, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Namun tak sedikit pula keluarga yang kesuksesannya bisa timpang satu sama lain. Ada yang benar-benar sukses, namun ada pula yang justru jauh dari kata sukses, bahkan masih bergantung ke orang tua dan kakak-kakaknya.
Fenomena ini selalu membuat saya kembali bermuhasabah dan merenung bahwa kelak ketika kita sudah berkeluarga, bukanlagi membicarakan tentang kesuksesan individu. Apalah arti dari sebuah sukses, jika ternyata anak dan cucu masih terlunta-lunta. Apalah arti dari sebuah kepandaian, jika ternyata anak sendiri ternyata tidak lulus sekolah. Apalah arti dari sebuah bisnis yang besar, jika ternyata kelak anak-anaknya tidak ada yang mampu meneruskan, dan justru anak-anaknya menjadi bergantung akan kehadiran sosok ayah dan ibunya saat semisal diberi kepercayaan memegang bisnisnya.
Apakah mudah? Tentu saja barangkali tidak, namun semua sudah tentu bisa diperjuangkan. Dari awal kelak ketika berumah tangga, tantangannya sudah tentu dari iktikad kuat dari diri sendiri, dalam hal ini terutama seorang kepala keluarga, bagaimana ia harus memiliki visi yang kuat untuk mewujudkan keluarga yang diinginkanya. Juga bagaimana ia mampu meyakinkan pasangannya untuk menapaki visi yang telah di buat bersama, dan yang paling penting adalah istiqomah. Yang terakhir ini barangkali tidak mudah.
Pun demikian kelak jika sudah memiliki anak. Dalam buku Bukan Sekedar Ayah Biasa, tulisan Ustadz Misbahul Huda, yang pernah saya baca beberapa tahun silam, bahwa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Misal, anak dipaksa masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia sangat passion di bidang kesenian. Seolah orang tua lupa bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing.
Maka bertumbuh bersama, barangkali perlu dimaknai lagi jauh lebih luas. Bahwa jalan menuju surga tidak hanya satu, namun Allah hamparkan begitu banyak, pun demikian jalan untuk bertumbuh bersama-sama tidak semata-mata sekeluarga harus menjadi ini itu. Namun tetap, bahwasanya dari keluarga di atas kita bisa belajar bahwa Al-Quran tetap menjadi landasan utama dalam menapak perjuangan.
Dan barangkali, surga, adalah tujuan tertinggi dari bertumbuh bersama. Seperti perkataan Ustadz Salim A. Fillah yang fenomenal, bahwa Bersamamu, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Namun membangun cinta, tinggi hingga menggapai surgaNya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa adanya.
Sebab surgaNya terlalu luas, jika hanya ditempati sendirian. Dan menempatinya bersama keluarga besarmu kelak, barangkali adalah puncak dari bertumbuh bersama.
Malang, 24 Ramadhan 1441 H 14.25
Bertumbuh Bersama
“Karena barangkali, tantangannya kelak bukan lagi menumbuhkan mimpi sendiri, namun menumbuhkan mimpi bersama, dan sudah pasti memastikan bahwa orang-orang terdekatmu kelak sama-sama bertumbuh” - Mushonnifun Faiz S
Beberapa minggu yang lalu mendapat kabar bahwa seorang ayah dari teman selama di asrama dulu, sekaligus teman semasa kuliah di Eropa meninggal dunia. Sosok ayah yang bagi saya mampu dijadikan role model untuk membangun sebuah keluarga. Bagaimana tidak, ke-10 anaknya menjadi penghafal Al-Quran, walau beliau dan istrinya sendiri tidak menghafal keseluruhan Al-Quran. Padahal beliau dan istri sama-sama sibuk di ranah legislatif pemerintahan, juga segala aktivitas layaknya para aktivis dakwah. Namun di tengah kesibukan tersebut, beliau mampu menghasilkan generasi pecinta Al-Quran. Betapa haru saya membayangkan, mungkin beliau sekarang sedang tersenyum sembari bersiap menerima sepuluh mahkota dari anak-anaknya kelak di yaumul hisab. Bukan satu, bayangkan Sepuluh!
Pun juga banyak role model keluarga lainnya yang ada di Indonesia, juga dunia yang seperti ini. Dari yang sukses di aspek dunia. Ada yang sekeluarga menjadi dokter, memiliki bisnis bersama, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Namun tak sedikit pula keluarga yang kesuksesannya bisa timpang satu sama lain. Ada yang benar-benar sukses, namun ada pula yang justru jauh dari kata sukses, bahkan masih bergantung ke orang tua dan kakak-kakaknya.
Fenomena ini selalu membuat saya kembali bermuhasabah dan merenung bahwa kelak ketika kita sudah berkeluarga, bukanlagi membicarakan tentang kesuksesan individu. Apalah arti dari sebuah sukses, jika ternyata anak dan cucu masih terlunta-lunta. Apalah arti dari sebuah kepandaian, jika ternyata anak sendiri ternyata tidak lulus sekolah. Apalah arti dari sebuah bisnis yang besar, jika ternyata kelak anak-anaknya tidak ada yang mampu meneruskan, dan justru anak-anaknya menjadi bergantung akan kehadiran sosok ayah dan ibunya saat semisal diberi kepercayaan memegang bisnisnya.
Apakah mudah? Tentu saja barangkali tidak, namun semua sudah tentu bisa diperjuangkan. Dari awal kelak ketika berumah tangga, tantangannya sudah tentu dari iktikad kuat dari diri sendiri, dalam hal ini terutama seorang kepala keluarga, bagaimana ia harus memiliki visi yang kuat untuk mewujudkan keluarga yang diinginkanya. Juga bagaimana ia mampu meyakinkan pasangannya untuk menapaki visi yang telah di buat bersama, dan yang paling penting adalah istiqomah. Yang terakhir ini barangkali tidak mudah.
Pun demikian kelak jika sudah memiliki anak. Dalam buku Bukan Sekedar Ayah Biasa, tulisan Ustadz Misbahul Huda, yang pernah saya baca beberapa tahun silam, bahwa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Misal, anak dipaksa masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia sangat passion di bidang kesenian. Seolah orang tua lupa bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi kecerdasan masing-masing.
Maka bertumbuh bersama, barangkali perlu dimaknai lagi jauh lebih luas. Bahwa jalan menuju surga tidak hanya satu, namun Allah hamparkan begitu banyak, pun demikian jalan untuk bertumbuh bersama-sama tidak semata-mata sekeluarga harus menjadi ini itu. Namun tetap, bahwasanya dari keluarga di atas kita bisa belajar bahwa Al-Quran tetap menjadi landasan utama dalam menapak perjuangan.
Dan barangkali, surga, adalah tujuan tertinggi dari bertumbuh bersama. Seperti perkataan Ustadz Salim A. Fillah yang fenomenal, bahwa Bersamamu, aku tidak mau lagi jatuh cinta. Namun membangun cinta, tinggi hingga menggapai surgaNya. Kalau dipikir-pikir memang benar apa adanya.
Sebab surgaNya terlalu luas, jika hanya ditempati sendirian. Dan menempatinya bersama keluarga besarmu kelak, barangkali adalah puncak dari bertumbuh bersama.
Malang, 24 Ramadhan 1441 H 14.25
Ooh Gitu Toh...
Setelah menikah, gw menyadari bahwa segala drama percintaan yang gw lalui sebelum menikah itu lucu, kurang penting. Tapi ketika gw nulis ini, ternyata penting juga sih, penting untuk belajar, bahwa drama kayak gitu emang gak terlalu penting. Wkwk. Gak lah, segala sesuatu harus ada hikmahnya, termasuk kebodohan kita bermain drama percintaan.
Pada banyak kasus, di masa depan kita akan menjadi bersyukur kenapa dulu gak dijodohin sama si ini atau si itu. Alhamdulillah ya taarufnya ditolak, ternyata emang kurang cocok prinsip hidupnya. Alhamdulillah ya ditinggal nikah sama si itu, ternyata emang yang sekarang lebih bisa ngertiin sifat-sifat aku yang kayak mak lampir. Alhamdulillah yaaaa ini itu, semoga ada yang alhamdulillahnya pasangannya kaya raya mati masuk surga.
Gak akan ada pasangan yang sempurna lah, yang ada adalah pasangan yang cukup buat kita dan hati kita yang cukup lapang untuk bersyukur.
Termasuk ketika orang dari masa lalu gak punya jeleknya yang bisa kita lihat, demi Allah, tetap alhamdulillah. Alhamdulillah kita dicenderungkannya pada orang baik, yang meskipun gak jodoh sama kita, tapi mungkin itu salah satu tanda kalau kita punya sedikit kebaikan makanya cenderungnya ke orang yang baik.
Kapan alhamdulillah itu muncul? Umumnya manusia sih termasuk gw, baru berasa alhamdulillahnya kalo udah ketemu hikmahnya. Kalo belum? Ya banyak ngeluh. Wkwk. Makanya itu mah ujian husnudzon sama Allah, bahwa pasti ada hikmahnya dari segala hal yang didekatkan atau dijauhkan dari kita.
Gw sendiri pernah dapat momen alhamdulillah itu, terutama ketika ingat sifat-sifat gw yang naujubillah dan itu bisa ditangani sama suami. Kalo gw nikah sama yang lain, mungkin gw udah digelitikin sampe mati. Momen bersyukur itu sungguh romantis ya, gw sering bilang gini di tengah doa,
“Ya Rabb, alhamdulillah dikasih suami kayak gitu, aku mah bersyukur banget. Tapi setelah kupikir - pikir, dia pasti lebih bersyukur dong ya Allah punya istri kayak aku, udah mah pinter, baik lagi. Iya kan ya? Iya pasti ya harusnya. Aamiin.”
*perempuan gatau diri*
BELAJAR DARI FILM BUNDA CINTA DUA KODI, TERNYATA KUNCI LANGGENGNYA RUMAH TANGGA ITU BUKAN KOMUNIKASI
Mark Manson, penulis dan blogger internasional menulis sebuah postingan yang sempat viral di akhir tahun kemarin, dan sampai ia diwawancarai Business Insider. Berawal dari Mark yang ingin melangsungkan pernikahan, sebagai persiapan mental ia mencoba meminta nasehat pernikahan kepada ribuan followernya. Ie menanyakan Bagaimana menjalin hubungan pernikahan yang langgeng dan penuh kebahagiaan.
Ada 1500 orang yang merespon pertanyaan Mark. Dan ini adalah contoh betapa kerennya dunia online jika dimanfaatkan secara positif. Ia bisa mengumpulkan kebijaksanaan dari ribuan orang dan mengolahnya menjadi sebuah nasehat yang sangat bermanfaat. Istilah di kampung tetangga Saya namanya “Human Wisdom Crowdsourcing” atau bagaimana menghimpun kebijaksanaan dari khalayak.
Yang menarik dari data yang dikumpulkan oleh Mark adalah dari 1500 orang yang merespond emailnya dan memberikan nasehat, ternyata tidak 100% sukses dalam membina rumah tangganya. Sepertiga dari respon email itu adalah dari mereka yang rumah tangganya kandas dan berakhir dengan perceraian.
Lhah terus kenapa yang gagal ikut-ikutan kasih nasehat? Bukannya nanti malah bikin rumah tangga si Mark tambah runyam.
Bukan nasehat tirulah apa yang kami lakukan, tapi jangan sampe seperti kami, rumah tangga kami berakhir dengan perceraian. Ia ingin sharing Lesson Learned atau pelajaran berharga yang mereka dapat selama membina rumah tangga. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan seperti kami Mark. Istilahnya mereka sharing tentang DON’T nya.
Baik ya orang-orang ini. Katakanlah meskipun mereka ini termasuk orang-orang gagal tapi mereka masih mau sharing sesuatu yang baik, biar yang seterusnya gak ikutan gagal kaya mereka.
Kadang kalo dikalangan kita sendiri kan agak aneh. Jika kita gagal kita diem aja, pas ngeliat ada orang yang terindikasi mau salah ky kita, kita juga diem. Sampai akhirnya orang lain nyebur juga ke lubang yg sama ky kita mereka bilang dengan menyeringai ky di sinetron-sinetron.. He he he..akhirnya ada temennya, lu pikir gampang bina rumah tangga. Asli juaahattt banget orang-orang ky gini. Jauh lebih jahat dari Rangga yang ninggalin Cinta dalam ratusan purnama.
Sedikit nyimpang dari sini. Ini juga berlaku loh buat para entreprenuers. Ketika kita gagal bukan berarti kita tidak punya sesuatu yang berharga untuk dibagi. Kita bisa membantu cegah orang lain untuk terjebak dan terjatuh di lubang kegagalan yang sama. Hanya dengan sharing cerita, itu juga menjadi jariyah juga buat kita. Jadi ingat buku 7 Kesalahan Fatal Pengusahan Pemulanya Kang Dewa Eka Prayoga.
Kembali ke data orang yang gagal tadi.
Mark menggaris bawahi bahwa mereka yang bercerai ini menganggap bahwa mereka bermasalah dalam KOMUNIKASI. Dan mereka ingin memperbaikinya. Dia berpesan kepada Mark, “komunikasi adalah KOENTJI”. Jika kamu gagal menjalin komunikasi maka dipastikan rumah tanggamu tidak akan langgeng.
Terus bagaimana dengan 1000 pasangan sisanya yang masih mampu mempertahankan biduk rumah tangganya sampai puluhan tahun dan tetap bahagia.
Yang sangat menarik adalah dari kelompok yang BERHASIL dan awet sampe saat ini, menuliskan bahwa resep kelanggengan rumah tangga mereka BUKANLAH KOMUNIKASI. Kami juga sering bermasalah dengan komunikasi katanya. Kami juga sering miskomunikasi, misunderstanding atau salah paham, melakukan banyak asumsi yang salah tentang pasangan, dan bahkan sering berselisih. Diem-dieman lama alias puasa bicara juga pernah.
Tapi kami tetap awet.
Si Mark kaget dan mencelos hatinya..yaelah lebai. Ini kenapa bertolak belakang sama pelajaran yang dikasih sama mereka yang cerai tadi. Kenapa? oh kenapa?..sambil teriak garuk-garuk tembok..(sinetron banget)
Mark memperdalam pertanyaannya, jika bukan komunikasi, terus apa yang membuat kalian tetap bertahan dan mencintai pasangan Anda sampai sekarang.
RESPECT adalah KOENTJI. Saling menghormati adalah kuncinya kata mereka.
RESPECT is beyond communication. Respek itu ada diatas komunikasi.
Kami juga sering berselisih, berbeda pendapat, salah paham, berbeda keinginan. Namun kami saling menghormati satu sama lain. Karena respek kepada pasangan, kami jadi lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Menjaga jangan sampe saling menyakiti. Sesekali kita juga kelepasan dan berantem, tapi kami respek kepada komitmen kami, dan akhirnya kami memilih saling meminta maaf. Gak sampe lempar-lemparan rudal apalagi saling lempar kopi bersianida.
Karena RESPEK kami sepakat untuk mendelete kata CERAI dari kamus kami, biar tidak sampai terlontarkan.
Nah ada pelajaran lagi nih.. jangan langsung menelan mentah-mentah nasehat dari orang yang gagal. Karena bisa jadi mereka sendiri belum bisa menjelaskan kenapa mereka gagal. Mereka ternyata masih sampai level KOMUNIKASI, padahal ada satu tangga lagi diatasnya komunikasi. Yakni RESPECT.
Gara-gara baca tulisan yang diulas Mark Manson di Business Insider ini, Sy jadi langsung keinget sama film nya Kang Rendy Saputra yang kita tonton berdua minggu kemarin, BUNDA Kisah Cinta 2 Kodi.
Film debutnya Inspira Pictures yang memang konsen dan serius untuk menebar manfaat.
Film yang kurang ajar banget karena banyak scene yang menguras air mata dan bikin mata sembab.
Terakhir kali Sy nangis di bioskop itu pas nonton film Cek Toko Sebelah (CTS)-nya si Ernest Prakasa. Mata berkaca-kaca dan air mata sempat tumpah dan deleweran kemana-mana. Film ini juga sama-sama bercerita tentang berharganya sebuah keluarga.
Tapi film Bunda ini lebih parah ketimbang ketimbang si CTS. Kalo di CTS, scene-scene mellow yang menguras air mata masih bisa dideteksi dan diantisipasi. Jadi pas ada tanda-tanda adegan sedih mau datang kita, bisa ngalihkan buka Facebook, baca WA atau ngelap-ngelap kursi untuk meminimalkan efek mellow nya.
Film Bunda ini agak ‘gak sopan’ menurut saya. Scene-scene mellow nya gak bisa terdeteksi dan berceceran dibanyak adegan. Ibarat film horor, ini hantu sama sekali gak bisa ditebak kapan munculnya. Baru siap-siap mau merem, hantunya udah muncul duluan. Belum ilang kaget dari scene sebelumya eh udah nongol lagi setannya. Meskipun sudah dibacain ayat kursi itu hantu juga susah ditertibkan. ya iya laah Mas itu kan film, bukan jin beneran.
Film Bunda ini mirip-mirip. Seringkali gak kedeteksi kalo itu scene sedih atau bukan. Kayanya datar-datar aja dialognya, eh tau-tau pipi sudah basah aja. Bahkan ada yang sampe kejilat masuk bareng caramelnya pop corn. Jadi manis-manis asin gimana gitu. he he
Apesnya pas nobar kemarin gak sempat beli tissue. Habis itu nobar di Malang jam 9.30 sudah diminta datang ke bioskop. Jam 9 masih mandiin bayi, belum sarapan dan perjalanan ke bioskop. Untungnya masih kekejar dan ketinggalan sedetikpun. Dapet deh semua scene meweknya mulai depan sampe akhir.
Untungnya dapat bangku paling atas, jadi gak ketauan kalo mata merah dan sembab karena keluarnya kita belakangan.
Di film ini, kita paham benar bagaimana RESPEK itu lebih dikedepankan ketimbang sekedar komunikasi.
Momen ketika Ayah Farid dengan teganya melontarkan kata 'Gugurkan..’ ini adalah contoh ketika RESPEK itu belum hadir.
Begitu juga Bunda Tika yang langsung merespon dengan mengusir Ayah Farid.
Pas Bunda Tika memarahi Ayah Farid didepan umum itu juga contoh belum lahirnya RESPEK.
Begitu juga ketika Bunda Tika berani menjudge Ayah Farid seolah-olah ia tidak berdaya dan tidak berkontribusi juga contoh belum adanya RESPEK.
Ketika Bunda memaksakan cara belajarnya kepada kakak Alda dan memarahi Kak Alda didepan teman-teman dan wali murid yang lain juga adalah momen ketika RESPEK itu hilang.
Respek adalah menghormati
Respek adalah mengesampingkan ego
Respek adalah mau mendengarkan dan menahan ketika berbicara
Respek adalah menenangkan dan mendinginkan
Respek adalah menghormati hubungan
Respek adalah saling menutup aib pasangan
Respek adalah saling membantu dan menguatkan
Respek adalah wujud cinta dan sayang kita
RESPEK itu muncul ketika mereka memutuskan mengesampingkan ego dan mau mendengarkan. Mau belajar dari pengalaman, dan percaya kalo masing-masing memiliki keinginan kuat untuk bersatu.
Ketika RESPEK hadir, itulah momen ketika serpihan-serpihan rumah tangga itu terajut kembali.
Perlahan tapi pasti kebahagiaan di keluarga kecil itu hadir kembali.
Film Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi dengan tanpa menggurui mengajarkan ke kita, bahwa RESPECT adalah KOENTJI untuk mempertahankan rumah tangga kita.
Esensi dalam film Bunda ini bukan hanya resep untuk langgengnya rumah tangga.
RESPEK dibutuhkan juga dalam berbisnis.
Leader respek terhadap bawahannya dan begitu juga sebaliknya.
Masing-masing perlu belajar untuk menjaga RESPECT agar tidak saling mencederai dan bisa saling menguatkan. Ketika terjadi cedera pun masing-masing bisa saling berusaha menyembuhkan. Bukan malah membubuhkan garam yang semakin menambah perih dan parahnya luka.
Semoga makin banyak lagi film-film berkualitas yang menginspirasi seperti Bunda Kisah Cinta Dua Kodi.
Jujur saja, untuk sebuah film debut, pencapaian Kang Rendy Saputra dengan Inspira Pictures sudah sangat luar biasa. Dengan pelajaran dari film pertama ini, ditambah persiapan yang jauh lebih matang di film-film berikutnya, Insya Allah akan lahir film-film yang bukan hanya berkualitas dan mendidik, namun juga mampu memecahkan rekor film box office nya Indonesia dan mencapai milestone 10 juta penonton.
Film yang bisa menjadi aset dan kebanggaan bangsa. Bukan hanya mendidik dan mencerdaskan, tapi juga menguntungkan dari sisi binis.
Semoga juga film ini bisa jadi film lebaran seperti film warkop DKI atau Home Alone nya Macaulay Culkin yang tetep diputar disaat natal sampe sekarang.
Thanks Kang Rendy dan Inspira yang sudah menginspirasi Indonesia.
Salam Sukses Mulia,
Saiful Islam
Jurus Jitu Mendidik Anak
Oleh: Ust. Abdullah Zaen, Lc. MA حفظه الله تعالى
👉JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU
Tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.
Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.
Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.
Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.
Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.
Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!
👉Ilmu apa saja yang dibutuhkan?
»Ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,
“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.
»»Ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk para orangtua,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.
Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?
»ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.
Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,
“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.
»Ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.
👍Ayo belajar!
Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!
Urgensi kesalihan orangtua dalam mendidik anak
Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!
✔Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak.
Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!
👉Beberapa contoh aplikasi nyatanya
Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.
Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!
👉JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANGTUA
Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa ‘alaihimassalam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orangtua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.
Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.
Subhânallâh, begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.
Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!
Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.
Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.
Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!
. Sebuah renungan
Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orangtua dan anak.
Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dg sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama,
👉JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN
✔👍Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yg tak bernyawa.
Termasuk jenis amalan yg harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?
Maksudnya: Rawat & didik anak dg penuh ketulusan & niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.
Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yg kita ucapkan dg keikhlasan..
Bahkan dalam setiap perbuatan yg kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.
Apa sih kekuatan keikhlasan?
Ikhlas memiliki dampak kekuatan yg begitu dahsyat. Di antaranya:
dg ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan. Proses membuat & mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yg tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yg cukup panjang tersebut, terka&g muncul dalam hati rasa jenuh & kesal karena ulah anak yg kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yg menumpuk, berbagai sudut rumah yg sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini & tidak ketinggalan mainan yg selalu berserakan & berantakan di mana-mana.Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan? Jalanilah dg penuh ketulusan & keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dg ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dg keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung & menyebalkan.
Dg keikhlasan, ucapan kita akan berbobot. Sering kita mencermati & merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yg sangat membekas di dada anak-anak yg masih belia… hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yg bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yg segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yg membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yg menggerakkan kata2 kita. Jika Engkau ucapkan kata2 itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat & sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dg sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah utk anak2 yg Engkau lahirkan dg susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yg berbobot.Sebab bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan krn kuatnya penggerak dari dalam dada; iman kita & keikhlasan kita…
dg keikhlasan anak kita akan mudah diatur. Jgn pernah meremehkan perhatian & pengamatan anak kita. Anak yg masih putih & bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita.Dia bs membedakan antara tatapan kasih sayang dg tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dg pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dg cubitan kesal. Bahkan ia pun bisa menangkap suasana hati orgtuanya, se&g tenang & damaikah, atau se&g gundah gulana?Manakala si anak merasakan ketulusan hati orgtuanya dalam setiap yg dikerjakan, ia akan menerima arahan & nasehat yg disampaikan ayah & bun&ya, krn ia menangkap bahwa segala yg disampaikan pa&ya adalah semata demi kebaikan dirinya.
dg keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala. Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yg amat manis di alam sana. yg itu berujung kpd berkumpulnya orgtua dg anak2nya di negeri keabadian; surga Allah yg penuh dg keindahan & kenikmatan.
Artinya: “org-org yg beriman, beserta anak cucu mereka yg mengikuti mereka dlm keimanan, Kami akan pertemukan mereka dg anak cucu mereka”. QS.Ath-Thur: 21
Dipertemukan dimana? Di surga Allah jalla wa‘ala!
Mulailah dari sekarang
🍃🌺🌺 ❀ ❀ ❀ ❀ ❀