Chess
First time beating the bot. After a week learning about chess. Proud of myself yihaaaa
Meskipun kemampuan berpikir cepat dan teliti masih sangat perlu diasah lagi, tapi seru!
Stranger Things

JVL

祝日 / Permanent Vacation

Love Begins
he wasn't even looking at me and he found me
i don't do bad sauce passes

@theartofmadeline
h
ojovivo
No title available
YOU ARE THE REASON

Origami Around
Claire Keane

ellievsbear

roma★
sheepfilms
Alisa U Zemlji Chuda
Peter Solarz

blake kathryn
trying on a metaphor
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
@auperar
Chess
First time beating the bot. After a week learning about chess. Proud of myself yihaaaa
Meskipun kemampuan berpikir cepat dan teliti masih sangat perlu diasah lagi, tapi seru!
30th
Diiringi lagu-lagu menyenangkan, aku menikmati waktu dengan membalas pesan yang masuk hari ini. Melihat nama-nama yang muncul sudah jelas memberikan senyum di hati.
Tidak meriah, bahkan dirayakan saat berjauhan dengan suami dan dihadiahi anak demam tinggi setelah vaksin. Namun, kali ini sebisa mungkin tidak banyak bersedih seperti saat Bulan Desember lalu.
Mudah
Rasanya ingin sekali memilih untuk banyak mengumpat dan menghabiskan tenaga untuk 'berbagi cerita' yang rasanya semakin tua sudah semakin tidak ideal.
Beragam masalah tidak menjadi lebih mudah ketika dibagi ke orang lain. Bahkan, kadang ke orang terdekat saja cukup dengan memberi kabar bahwa 'ini berat' 'ini melelahkan' atau 'aku butuh istirahat' tanpa perlu menjelaskan panjang lebar duduk perkaranya.
Masalah memang bisa jadi lebih ringan kalau dibagikan ke orang lain. Begitu, katanya. Tetapi, bisa jadi tidak 'kan?
Bayiku
Baru saja melihat galeri foto yang isinya (tidak lain dan tidak bukan) adalah foto-foto bayiku.
Bayiku yang dulu pernah sangat gempal dan sekarang melangsing.
Aih sedih nian.
Bukan Main
Beberapa hari ini lelahnya bukan main.
Tidak bekerja, tetapi rasanya seperti manusia yang tidak punya waktu untuk diri sendiri.
LDM sudah jelas porsi pusing dan lelah hatinya besar. Eh, masih ditambah sakit berjamaah batuk pilek yang semuanya parah dan tepar.
Sholat saja tidak sempat berjamaah, ini sakitnya sudah seminggu tidak juga usai.
Tumbang. Takut tidak sanggup. Menangis saja tidak sempat, karena pilek sudah mengalir ingus dan air mata bersamaan.
Lalu, diingatkan lagi.
Syukurnya berhenti?
Semua nikmat itu tertutupi?
Bulan yang penuh berkah ini, bukankah itu ladang pahala dan rezeki?
Luka perih di hidungmu karena terlalu banyak terkena tissue saja diperhatikan dan diperhitungkan.
Nikmatnya jangan sampai tertutupi.
Hamdalah..
Tong Sampah.
Manis sekali cerita ini.
Kemarin Arfz demam dan pilek bersamaan. Akunya? Sudah jelas kewalahan. Tidak mandi sejak pagi, tidak bisa makan, tidak biaa lepas dari gendongan, tidak berhenti menyusui. Lemas betul rasanya.
Anak sakit itu hatinya terpotek-potek. Mau tolong tapi tidak bisa paham betul apa yang dirasa.
Lalu seharian dia bertingkah, mungkin karena badannya tidak nyaman.
Dia menumpahkan satu porsi fish n chips ke lantai.. dua kali.
Aku, karena paham betul dia sedang tidak enak badan, tidak sedikitpun mengomentari gerak tangannya tadi.
Aku bersihkan lantainya, kupunguti ceceran ikan dan kentang satu per satu. Lalu, dia malah mendekati tong sampah dan mengangkat plastiknya.
Akhir-akhir ini dia memang agak obsesi dengan tong sampah itu, sampai kadang sampah yang sudah dibuang diambil kembali.
Lalu kubilang “Dek, ngapain itu?”
Dia tidak peduli dan tetap berusaha mengangkat plastik sampah keluar dari tong nya. Aku memperhatikan saja sambil takut dia mengambil sesuatu dan memakannya.
Berhasil.
Lalu, apa?
Ternyata dia membawa tong sampah kosong itu mendekatiku dan meletakkannya di sebelahku sambil bilang “Taaa!”
Dia pikir.. ‘Buang sampahnya jadi lebih dekat. Mungkin aku bisa mempermudah mommy untuk membuang ikan-ikan yang berceceran itu.’
Ekspresi bangganya sungguh 🥹🥹🥹
Untung kubiarkan. Untung tidak kumarahi. Untung tidak kularang.
Anak kecil itu, rupa-rupa akalnya.
Campur Aduk.
Isinya sedang tumpah ruah.
Apa yang dirasa, apa yang dimaksud, apa yang diingin, apa yang ditakutkan?
Diaduk dan larut dalam sekejap.
Pikirku ini, harapku ini, takutku ini.
Campur.
Terbayang ini, teringat ini, terisak lagi, tersenyum lagi, terenyuh berulang kali.
Selalu kurang adil, kupikir.
Dulu bukankah sudah akhir?
Mengapa sekarang masih berniat mampir?
Kukira akan ada temu. Di sini? Di sana? Di tempat paling acak.
Lalu, salam senyum sapa. Tatap mata satu atau dua detik saja.
Entah semuanya akan hilang atau malah kembali semakin nyata.
Jakarta
Kembali ke Jakarta kali ini disyukuri dengan penuh, sekaligus menyiapkan hati untuk perubahan yang tidak sedikit.
Berdoa untuk segala hal yang baik. Semoga yang diusahakan sudah cukup untuk memantaskan diri menerima dan membuka jalan untuk kebaikan-kebaikan lain.
Trying.
Just a random activity today. Make a worksheet on canva for... anyone. For any kids. It's kinda exciting. Couldn't wait until Arfz is able to work on this worksheet hihi.
It is.
It is kinda hard thing.
LDM is definitely not my thing.
But, the hard thing is not the LDM itself.. it’s the sad feeling when I see him struggling with all the endless task and toxic environment like that.
It is hard. It is.
I don’t need any advice to become more patient or grateful.
Because I really am being grateful for what I have.
Maybe it’s not that hard for you, or for them.
Or maybe it’s not as hard as other people’s life.
But for me.. it is hard. Trust me, it is.
Yet I’m still believe that the hard thing is not gonna last forever. And the easy one as well. So I will cherish this moment as much as I can.
Menemukan sebuah tulisan yang terendap di canva. Tidak terlalu ingat ini momen apa dan untuk siapa (bahkan sepertinya ini adegan rekayasa kepala saya), tetapi agaknya ada luka yang masih terasa perihnya tanpa pernah tahu ada di bagian mana dan bagaimana cara mengobatinya.
Memulai.
Sudah bukan tanggal 1 Januari, tetapi aku masih memberikan kesempatan untuk diriku memulai. Hasilnya bisa jadi tidak langsung tampak, tetapi aku berusaha rutin meninggalkan jejak. Berada di dunia yang saat ini semakin terasa fana, sebab ini itu tidak ada yang jelas arah muaranya, aku berusaha memberikan diriku sendiri makna.
Privilese 'menjadi ibu' yang kumiliki perlahan memudar seiring anakku yang bertumbuh besar dan tidak lagi bergantung penuh kepadaku. Perlahan juga aku mulai harus membangun kembali nilai diriku yang sudah beberapa tahun ini hilang. Entah keharusan dari mana, juga entah hilang apa yang dimaksud. Aku yakin kamu mengerti.
I do really miss my spark. I don't want to get it back. I want the new one. The new spark, which created by and for me.
Pulang
Sampai saat ini masih cukup bingung ketika ditanya 'nggak pulang?' atau 'kapan pulang?'
Rasanya aneh ketika aku sudah tidak lagi merasa bahwa Salatiga adalah rumah, karena memang sudah bukan, meski secara tertulis KTP ku masih di sini. Aneh juga ketika menyebut ke Jakarta adalah pulang, tetapi belum ada rumah.
Bagiku, sekarang pulang adalah ke tempat dimana suami dan anakku berada di tempat yang sama dan aku ikut bersama mereka. Jakarta terasa lebih 'pulang' jika dibandingkan dengan Salatiga. Nafas dan kebebasanku lebih banyak dipakai di tempat itu. Hangat dan cinta keluarga kecilku jauh lebih banyak dituangkan di tempat itu. Meski hanya indekos dengan area yang tidak terlalu luas, namun terasa cukup.
Ada kalanya aku menikmati ada di Salatiga, melihat anakku lebih bebas bermain di tempat yang luas. Namun, rasanya semuanya terlalu berbatas. Bukan teritoriku lagi. Lebih banyak kenangan buruk yang sering tiba-tiba saja hadir.
Madiun. Satu tempat tambahan yang perlu disebut rumah. Namun, sejauh ini juga masih cukup jauh dari rasa nyaman atau bebas yang utuh. Sejauh ini masih menjadi tempat singgah yang cukup nyaman, tetapi belum menjadi rumah, hanya tempat lahir suami dan tempat tinggal mertua sekarang. Toh, suamiku juga sebenarnya tidak pernah tinggal terlalu lama di sana.
Jadi, untuk sementara, rumahku adalah aku. Juga suami dan anakku.
Bara
Hatiku tidak membara melihatnya.
Sebab, bara di matanya sudah tiada.
Terus
aku ingin mencintaimu terus-terusan
tanpa ada sekelebat rasa takut akan keterbatasan
aku ingin mencintaimu terus-terusan
tanpa ada sekelebat rasa kesal akan kelakuan menyebalkan
aku diam-diam sedang takut dengan keterbatasan..
uang? ruang?
bukan.
waktu.
semakin aku sadar kalau semua-mua yang ada di dunia ini hanya sekadar mampir, semakin aku ingin memelukmu erat-erat setiap saat
Everytime I don’t, I almost do.
Syalun. Syalun betul jika ternyata lagu-lagu itu masih membuat tersayat meski tidak ada objek atau subjek yang mengiris.
Bahwa tadinya rasa-rasa itu muncul karena ada cerita, ternyata sakit dan sesak di dada masih terasa sama saja.
Sudah berlalu, sudah diulang di banyak momen berbeda. Subjek dan objeknya bermacam-macam dan berupa-rupa bentuknya, galaunya tetap sama.
Kuat sekali lagu. Kuat sekali lirik. Kuat sekali kata-kata.
Lalu, aku ingat satu buku tebal yang terpaksa kupotong menjadi dua bagian dan kubuang. Ah, mengapa? Karena isinya kata-kata.
Seperti yang pernah kubilang.. Setelah kubuka dan kubaca kembali, rasanya masih sama.
Satu per Dua
Menjadi sebuah perayaan. Bayi itu naik kelas menjadi calon anak-anak. Kali pertama memakan beras yang diubah wujudnya menjadi bubur.
Aroma tubuhnya berubah. Caranya menatap orang lain, benda lain, bahkan dirinya sendiri di cermin sudah berubah. Rasanya ia sudah memahami banyak hal di dunia ini. Dia seperti tidak bayi lagi.
Aku menangis pagi-pagi karena tubuh ini terlalu lelah untuk menunjukkan emosi yang baik-baik saja saat ia tidak makan dengan lahap. Ah, ternyata tidak tidur semalaman membuatku tidak cukup energi untuk tetap tersenyum menghadapi adegan makan pertama kali ini.
Bayiku yang sudah tidak terlalu bayi ini sedang melatih hatiku untuk tetap tenang meski kelelahan. Bayiku ini sedang sering memintaku untuk hadir, langsung berteriak meski sedetik saja aku tak nampak.
Seiring meningkatnya volume tangisan, semakin meningkat juga tawa dan celotehan menyenangkan muncul darinya. Renyah sekali. Seperti melahirkan seorang anak dengan tawa paling renyah di dunia ini. Berguling kesana-kemari membuatku merasa semua tempat ini menjadi lebih sempit dari biasanya.
Bayiku ini sudah tidak bayi lagi, dan aku ingin terus merayakannya berulang kali.
Belum apa-apa aku sudah rindu aroma bayinya lagi.