Mungkin definisi cintaku terdengar keras. Memang. Sebab cintaku tidak sedang melamar; ia menagih. Ia menuntut ulang kontrak sosial yang disusun tanpa tanda tanganku.
Iya. Aku cinta betul Indonesia.
Tapi sebagai Tionghoa-Indonesia, cintaku ini selalu ditodong pembuktian.
Di sekolah, nilai bahasa Indonesiaku selalu tinggi. Dari SD aku menang lomba puisi. Tiap hari aku baca KBBI untuk tahu kosakata baru setiap harinya.
Sejak kecil aku hidup dengan ketakutan konyol:
disergap di jalan, ditanya sepuluh nama penyanyi campursari, lima pahlawan Minang.
Seperti poser yang pakai kaos band lalu ditodong: sebut lima lagu.
Rasa-rasanya seperti gagal menjawab bisa berarti kehilangan hak untuk dianggap bagian.
Aku mencintai, tapi cintaku tak pernah dianggap murni. Selalu ada retak, selalu ada syarat. Sebuah cinta yang selalu tertunda, tak pernah final.
Tapi mungkin betul, cinta itu harus terus disiram. Ia tidak pernah final, karena ia terus dinegosiasikan lewat konflik, protes, dan keberanian mengingat.
Cinta negeri ini perlu dipahami sebagai praktik melawan: cinta yang kritis, cinta yang menolak dibutakan oleh mitos kesatuan palsu.
Karena cinta adalah negosiasi, dialog, "Babe, kamu nyamannya gimana?" Apa yang harus aku perbaiki?" Itu, bang. Relationship goals.
Negara berusaha memonopoli definisi cinta tanah air; diikat lewat upacara bendera, simbol-simbol nasional, bahkan lewat kurikulum sekolah yang menanamkan versi sejarah tertentu. Di sini, cinta negeri dipersempit menjadi kepatuhan—tapi cintaku lebih dalam dari itu. Amboi, aku ini rajanya mencintai secara brutal.
Cinta negeri ini kerja melawan lupa. Karena negeri ini tubuh, bukan monumen mati. Luka perlu diobati, kalau perlu disiram obat merah Cina itu-- Diedayaojing. Cinta itu mengingat bahwa kami selalu dituduh, ditindas, dan dikecewakan. Tetapi juga melawan lupa bahwa, meski begitu, kami tidak berhenti berharap negeri ini bisa benar-benar memberikan kami rumah yang aman, imut, juga jujur dan hangat.















