Kita mengikat janji bukan karena sudah selesai dengan diri sendiri. Melainkan karena kita sangat mengerti bahwa tak mudah mengarungi lautan ini sendirian.
— Taufik Aulia

Kiana Khansmith

No title available

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
Stranger Things
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Monterey Bay Aquarium
Three Goblin Art
d e v o n

shark vs the universe
Today's Document

roma★

#extradirty
sheepfilms
Not today Justin
will byers stan first human second
tumblr dot com
Cosmic Funnies

Janaina Medeiros
$LAYYYTER

seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Iraq

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Australia
seen from Germany

seen from United States
seen from Netherlands
@auroramalia
Kita mengikat janji bukan karena sudah selesai dengan diri sendiri. Melainkan karena kita sangat mengerti bahwa tak mudah mengarungi lautan ini sendirian.
— Taufik Aulia
Tulisan 36 : Duka Mendalam
Beberapa bulan lalu, duka menyelimuti keluarga besar kami. Bulik saya, yang tidak lain adalah adik kandung Ibu, meninggal dunia. Kematian yang begitu mendadak akibat kecelakaan itu tentu saja membuat kami antara percaya tak percaya. Sehingga seringkali kami merasa, bahwa bulik saya saat ini hanya sedang beraktivitas seperti biasa di rumahnya dan bercengkerama dengan anak-anaknya yang seluruhnya sedang study from home.
Benar, sedalam itu rasa kehilangan kami. Sampai pada suatu hari Bapak bilang, "Kita mungkin bersedih atas kematian seseorang, tapi ada yang jauh lebih sedih dalam peristiwa ini. Yaitu, orang yang meninggal itu sendiri."
Jleb. Ah, iya Bapak benar. Bulik saya pasti jauh lebih sedih dari kami. Tentu, saya tidak berani memastikan bahwa ini adalah soal amal ibadah, karena saya tidak tahu apapun soal itu. Pun, itu adalah urusan seseorang langsung dengan Allah. Meski, saya tahu sekali bahwa Bulik saya adalah orang yang sangat baik dan banyak dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi, yang pasti, Bulik saya mungkin akan bersedih karena tidak bisa lagi membersamai anak-anaknya untuk menggapai impian-impian mereka. Setidaknya, itu yang saya tahu.
Tapi lagi-lagi, soal kematian siapa yang tahu. Ia bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tanpa mengenal usia, tanpa mengenal kesehatan, tanpa mengenal harta, jabatan, dan seberapa banyak impian yang belum tercapai. Siap atau tidak siap. Bisa jadi saat ini sehat, namun di menit selanjutnya Allah menghendaki sakit atau bahkan meninggal dunia. Semuanya bisa terjadi. Karena kematian memang teramat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Maka, mempersiapkan kematian dengan bekal yang sebaik-baiknya adalah satu-satunya pilihan.
Nulis kayak gini rasanya bikin deg-degan sendiri, karena merasa masih banyak dosa dan belum punya bekal amal yang cukup. Tapi, semoga nantinya, Allah mengakhirkan kehidupan kita dalam kondisi keimanan yang terbaik dan khusnul khatimah. Semoga. Aamiin.
_____
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya."
(QS. Al-A'raf : 34)
Tulisan 35 : Yang Baik Bagi Kita
Kita barangkali pernah kecewa. Kita pernah jatuh sejatuh-jatuhnya, mengalami penolakan dan kegagalan yang bertubi-tubi dalam satu waktu, hingga tak ada yang kita inginkan lagi kecuali pelukan-Nya. Bukan apa-apa, hanya saja memang tidak ada kenyamanan yang bisa menggantikan pelukan-Nya.
Hingga saat ini, kita barangkali masih mengingat betapa rapuhnya hati kita kala itu. Hingga nasihat sesedikit apapun rasanya tak sekedar mengguncangkan hati, tapi juga membuat pertahanan air mata kita runtuh seketika. Apalagi saat mendengar nasihat yang berkaitan dengan kasih sayang-Nya.
Berkali-kali kita bertanya pada-Nya: Apa maksud ini semua? Mengapa harus aku? Apakah aku sekuat itu? Tapi, rupa-rupanya tak semua pertanyaan bisa menemukan jawabannya saat itu juga. Hingga tak ada pilihan lain, kecuali terus berjalan, mengusahakan yang terbaik sembari terus memohon petunjuk dan pertolongan-Nya.
Kemudian seiring berjalannya waktu, Allah mulai membuka tabir-Nya satu per satu. Allah tampakkan alasan-alasan mengapa kita harus mengalami kegagalan yang bertubi-tubi waktu itu. Allah tampakkan alasan-alasan mengapa kita harus jatuh sejatuh-jatuhnya waktu itu. Allah perlihatkan alasan-alasan mengapa Allah menunda terkabulnya doa-doa kita, menjauhkan kita dari hal-hal yang pernah kita harapkan.
Hingga pada akhirnya yang tersisa hanya rasa haru yang luar biasa. Sebab ternyata, itu semua karena Allah tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Sebab ternyata, itu semua karena Allah tahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih pantas untuk kita. Sebab ternyata, itu semua karena Allah tahu bahwa pada hal yang pernah kita semogakan itu terdapat sesuatu yang bertentangan dengan prinsip hidup kita, sesuatu yang barangkali bisa menjauhkan kita dari-Nya. Dan ternyata, itu semua karena Allah sayang :')
"Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush-shalihat."
______
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 216)
Tulisan 34 : Pahala yang Tanpa Batas
"Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."
(QS. Az-Zumar : 10)
___
Ini adalah salah satu ayat favorit saya yang ada di dalam Al-Qur'an. Tiap kali baca ayat ini —apalagi pas masa-masa berat—, rasanya di saat itu juga jadi ngerasa kalau Allah tuh sayaaaang banget sama hamba-hamba-Nya. Bahkan di balik setiap ujian yang diberikan, Allah sudah menyiapkan pahala yang tanpa batas sebagai hadiah atas kesabaran yang dijalani oleh hamba-hamba-Nya. Suatu balasan yang totalitas, bahkan jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan.
Al-Auza'iy dalam Tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa pahala mereka tidak ditukar ataupun ditimbang melainkan diberikan secara borongan tanpa perhitungan.
Bayangin, borongan dan tanpa perhitungan, loh!
Meminjam kata-kata dari seorang ustadz, setelah tahu ayat ini, misalkan nih kita lagi kehilangan sandal saat pergi ke suatu tempat, harusnya kita sedih atau bahagia?
Benar, bahagia.
Kenapa?
Karena di saat itu juga, Allah sedang memberikan kesempatan yang begitu berharga bagi kita untuk bisa mengaplikasikan kesabaran, sebuah sikap yang begitu Allah cintai, sebuah kesempatan yang barangkali tidak datang dua kali. Sebuah sikap yang jika kita bisa berhasil melewatinya, balasannya akan jauh lebih baik dari harga sepasang sandal yang hilang itu.
Maka, mari kita mengambil hikmah kesabaran atas masa-masa pandemi ini. Atas setiap kesabaran untuk meminimalisir aktivitas di luar rumah, atas setiap kesabaran untuk tidak pulang ke kampung halaman dulu sementara waktu, dan atas setiap pengorbanan untuk tetap bekerja menyelamatkan banyak jiwa di luar sana.
Berat, pasti. Sebab salah satunya, suasana ramadhan dan lebaran kali ini mungkin akan jadi sedikit berbeda dari biasanya. Tapi, bismillah.. untuk kebaikan kita bersama dan untuk kebaikan orang-orang yang kita sayangi.
Saling jaga, saling menguatkan, dan saling mendoakan ya ❤ Semoga kita semua bisa sama-sama melewati fase ini dengan kesabaran yang totalitas.
Tulisan 33 : Tiga Ikhtiar
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
(Q.S. Ali Imron : 133 - 134)
Hari ini diingatkan kembali tentang ayat ini. Masih tentang ciri-ciri orang yang bertakwa. Apa aja tuh ciri-cirinya?
1. Berinfak baik di waktu lapang maupun sempit
Ngobrolin soal berinfak, saya langsung teringat pada bagaimana perlombaan para sahabat Nabi buat banyak-banyakan berinfak. Diawali oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang rela menginfakkan separuh hartanya untuk Islam, lalu langsung diikuti oleh Sayyidina Abu Bakar yang rela menginfakkan seluruh harta yang dimilikinya untuk Islam.
Masya Allah ya, sampai sekarang saya juga masih terheran-heran. Kok bisa ya, semudah itu untuk berinfak dalam jumlah yang sebanyak itu. Sampai seluruh harta loh. Kalau pakai logika manusia biasa, kepikiran nggak sih, berarti apa yang akan disisakan untuk keluarganya? Nggak ada. Tapi, kalau kata Sayyidina Abu Bakar, "Kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk keluargaku." 😢
Itu kalau keluarganya —khususnya istrinya—, nggak satu visi buat sama-sama membangun keluarga yang gemar berinfak, pasti akan sangat susah. Tapi, nyatanya kejadian juga dalam sejarah. Masya Allah, istrinya juga sekeren itu ya berarti.
Semoga kita bisa meneladani kemudahan hati beliau-beliau ini untuk menginfakkan harta di waktu lapang maupun sempit. Sekecil apapun itu. Sebab harta kita yang sesungguhnya ialah harta yang kita infakkan.
2. Mampu menahan amarahnya
"La taghdhob, wa lakal jannah."
—Jangan marah, maka bagimu surga
Kebayang nggak sih, misal nih kita lagi marah-marahnya atau lagi bete-betenya sama seseorang tapi kita malah disuruh buat menahan amarah dan senyum sama orang itu? Ya kira kira segitulah beratnya. wkwk Tapi jauh lebih berpahala di hadapan Allah? Ofkors!
3. Mudah memaafkan kesalahan orang lain
Nah ini. Seperti kisah seorang sahabat Nabi yang oleh Rasulullah disebutkan akan menjadi ahli surga. Padahal, amalan dhohirnya biasa-biasa saja. Tapi, rupa-rupanya amalan hatinya tidak biasa. Tidak ada sedikitpun rasa dendam dan iri dengki kepada orang lain di dalam hatinya. Yang artinya, beliau sangat mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain. Hingga secara luar biasa pula, Allah jaminkan ia menjadi salah satu penghuni surga nantinya.
_______
Wah, masya Allah, ternyata sebegitu kerennya ya ciri-ciri orang yang bertakwa. Meski mungkin tidak mudah untuk dilakukan, semoga Allah izinkan kita untuk bisa sedikit demi sedikit belajar membiasakannya. Bismillah ya, saling mengingatkan untuk terus #MenujuBaik bareng-bareng ❤
Kalau kita selalu saja memikirkan diri sendiri. Gak heran kalau kita merasa paling hebat, paling sibuk, paling menderita, paling berjuang.
Tapi kalau kita selalu memikirkan orang lain lupa memikirkan diri sendiri. Kita akan sangat sibuk, selalu berjuang, lupa merawat diri sendiri. Lalu gak heran bila sering hadir dalam kondisi keletihan, dan bukan tidak mungkin pada akhirnya merasa bosan. Belum lagi kalo orang orang yang dipikirin egois. Huffth.
Tapi kalau kita selalu memikirkan kesenanganNya Allah, ridhoNya Allah, maunya Allah. Kita akan berjuang menyeimbangkan memikirkan diri kita, dan memikirkan orang lain. Bukan hanya itu, Allah juga berikan kekuatan yang sumbernya seolah tak pernah habis dan tak pernah kering.
Jadi ingat.. orang lain itu amanah,
diri kita juga amanah. :)
Alizeti, Depok
Tawazun :)
Tulisan 32 : Mengingat Allah
Hai, selamat datang di Bulan Ramadhan!
Beberapa hari ini, kita pasti jadi lebih sering denger kajian tentang ayat-ayat yang membahas puasa ya. Seperti ayat famous yang satu ini. Yaps, apalagi kalau bukan Q.S. Al-Baqarah ayat 183.
Bahwa, menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan adalah suatu kewajiban. Biar apa sih? Biar kita bisa naik level menjadi orang-orang yang bertakwa. Ialah, orang-orang yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kedengerannya gampang ya? Iya, tapi rupa-rupanya nggak segampang itu buat meraihnya 😭 belum lagi jika ia dikombinasikan dengan kondisi iman yang naik turun. Beuh, perlu usaha yang beneran serius bin sungguh-sungguh.
Nah, tapi bagaimana sih ciri-cirinya orang yang bertakwa itu?
Ini nih salah satunya.
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (Q.S. Al-A'raf : 201)
Benar. Orang yang bertakwa akan bersegera mengingat Allah saat dibayang-bayangi perbuatan dosa. Bersegera ya, bersegera. Bukan nanti-nanti, apalagi esok hari.
Saat mengikuti kajian tafsir Al-Qur'an tentang surat Al-Fatihah ayat 1, ustadz saya pernah bilang kalau menjadi orang-orang yang mengingat Allah adalah hal yang sangat menakjubkan. Bagaimana tidak, di dalam lafadz بسم الله الرحمن الرحيم Allah menjanjikan rahmat dunia dan akhirat yang tidak akan ditunda-tunda bagi orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya. Langsung dan nggak pake lama deh Allah kirimkan rahmat-Nya untuk orang-orang pilihan itu.
Ialah orang-orang yang selalu mengingat Allah di saat suka maupun duka, di saat lapang maupun sempit, dan di saat ramai maupun sendirian.
Mau makan, diniatkan untuk mengisi energi supaya bisa lancar dalam beribadah kepada Allah. Mau minum juga sambil inget Allah, supaya sel-sel tubuh kita nggak gampang ngantuk buat beribadah sama Allah. Mau ngerjain skripsi diniatkan untuk meraih ridho Allah yang dijanjikan bagi orang-orang yang mencari ilmu. Mau bekerja juga diniatkan untuk berjihad di jalan Allah, supaya keluarga kita terhindar dari barang-barang haram. Masya Allah ya, adem banget kalo liat orang yang kayak gini.
Mau ngelakuin apapun, yang diinget paling awal langsung satu, Allah. Mau ngelakuin apapun, yang kepikiran langsung gini, "Allah suka nggak ya kalo aku ngelakuin ini? Atau Allah malah nggak suka?" Kalo Allah suka, ya lanjutin. Kalo Allah nggak suka ya jangan lanjut. Pokoknya mah, Allah dulu, Allah lagi, Allah teruus.
Duh, berasa lagi nampar diri sendiri yang masih jauh dari kata baik euy :"
Tapi bismillah ya, kita sama-sama berusaha dan berproses untuk #MenjadiBaik bareng-bareng. Semoga Bulan Ramadhan kali ini bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih sering mengingat Allah kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Selamat berlomba-lomba meraih gelar taqwa di hadapan Allah ✨
Tulisan 31 : Meneladani Ibu Kartini
Meneladani Ibu Kartini berarti tidak berputus asa dalam belajar dan berjuang.
Meneladani Ibu Kartini berarti peka dan bersemangat melahirkan karya maupun kontribusi sekecil apapun untuk sekitar.
Meneladani Ibu Kartini juga berarti bersemangat mengaji. Ingat, istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang" hadir atas kekaguman beliau terhadap QS. Al-Baqarah ayat 257 setelah mengaji dengan seorang Kyai.
Dan meneladani Ibu Kartini bukan berarti menyaingi laki-laki, apalagi sampai membencinya. Tapi, duduk setara tanpa melupakan kodrat kita sebagai seorang wanita.
Rizqi Khilda Amalia | 21 April 2020
Tulisan 30 : Intermezzo (1)
Seringkali aku berpikir bahwa nanti ketika hari penghitungan tiba, semua urusan penghitungan akan menjadi sangat kompleks.
Mulai dari persoalan 'sholat' miliaran manusia dari jaman baheula sampai jaman paling akhir, hutang, ikhlas atau enggaknya seseorang, bagaimana ia memperlakukan manusia di sekitarnya hingga urusan tak kasat mata seperti perkara hati. Entah yang tiba-tiba nyeletuk, "Ah, dia mah bisanya cuma gitu doang. Aku juga bisa, kok. Lebih bagus malah," atau yang gini, "Yaiyalah, pasti dia keterima. Orang dia deket sama pejabat."
And many others.
Kalau inget-inget soal akhirat dan segala sesuatu yang membuatnya semakin kompleks, rasanya tuh jadi suka ngeri sendiri. Kayak semacam, ya Allah, udah bawa bekal apa ya aku? Kayaknya mah setetes aja nggak ada :(
Tulisan 29 : Sumayyah binti Khayyat
Liat series Omar yang ada bagian Sumayyah binti Khayyat-nya bikin merinding sendiri.
Baru awal-awal episode, tapi tiba-tiba langsung berkelebat aja bayangan kalo beliau inilah nantinya yang akan menjadi orang Islam pertama yang menemui kesyahidan dalam mempertahankan agama. Seseorang yang keyakinannya tetap menghujam meski dihadapkan dengan sebilah tombak tajam yang siap menusuknya kapan saja dengan cara paling sadis.
Benar, siapa sangka jika kesyahidan pertama dalam Islam justru diraih oleh seorang wanita. Seseorang yang pada akhirnya menjadi pioneer bagi kebangkitan Islam di masa-masa setelahnya.
Melalui masa masa itu, seolah-olah Allah ingin memberitahu pada kita, bahwa dalam setiap perjuangan, seorang wanita juga sangat bisa memiliki peran penting sebagai penggagas sekaligus garda terdepan yang tiada gentar. Bahwa, baik laki-laki maupun perempuan adalah setara. Yang membedakan kedudukan keduanya adalah ketaqwaannya.
Mengagumi itu beda dengan mencintai. Tidak semua orang yang mengagumimu bisa mencintaimu dengan baik. Ketika ia tahu cela yang ada padamu, ia akan pergi mencari yang lebih sempurna. Ya, begitulah manusia, selalu silau dengan apa yang dilihatnya. Hingga ia sadar, bahwa kesempurnaan hanyalah fatamorgana.
Ia tak menyadari, bahwa yang sungguh mencintai akan tetap tinggal, yang serius akan bersedia menerima segala kekurangan. Sebaik-baik cinta ialah atas dasar ibadah kepada Tuhannya. Dan sebenar-benar cinta ialah yang dibuktikan dengan ikatan nyata, bukan dengan bualan cinta yang memekakkan telinga.
Pena Imaji
Tulisan 28: Yang Sederhana namun Mengena
Hal-hal yang mengesankan memang tidak harus selalu mewah. Sebab seringkali yang mengesankan justru datang dari sesuatu yang sederhana.
Seperti saat teman saya tiba-tiba bertanya tentang berapa banyak hafalan Qur'an saya sekarang. Dengan segala hal-hal berat terkait hafalan yang sedang saya lalui saat itu, saya jawab, "Hehe baru satu juz."
Dan tanggapannya adalah,
"Alhamdulillah, udah satu juz."
Sederhana, ya. Tapi, sangat mengena buat saya yang lagi galau dan hampir patah semangat dengan hafalan saya waktu itu. Kayak yang semacam, "oh iya ya, harusnya tuh bersyukur sama apa yang udah dicapai dan jangan nyerah dulu sesulit apapun prosesnya."
Dan jujur si, sampai sekarang saya masih inget kata-kata itu tiap kali ngerasa sulit dalam menghafal. O ya, btw saya emang agak gengsi buat bilang makasih secara langsung waktu itu, hehe tapi kalo kamu baca ini, makasih banyak ya! 😁
Tulisan 27 : Kelas Online Hari Pertama
Karena anak-anak dipulangkan, pembelajaran di sekolah pun turut diganti secara online. Dan hari ini adalah hari pertama pembelajaran online di sekolah kami. Rasanya nano-nano.
Karena sekolah kami berbasis pesantren, maka sudah barang tentu bahwa kami harus mengawasi anak-anak sejak bangun shubuh sampai malam sebelum tidur. Tidak banyak, sih. Tapi cukup membuat saya belajar banyak hal.
Sebagai seorang wali kelas, pagi-pagi pukul 05.30 saya harus memastikan anak-anak sudah siap mengaji dan mengulang hafalan Qur'annya dengan pakaian yang rapi, sopan, dan ala santri. Hingga puncaknya adalah pukul 08.00 pagi, dimana anak-anak harus sudah selesai setoran dengan pengampu tahfidznya lewat video call.
Jeda sebentar, saya harus kontak dengan guru yang akan mengajar KBM di hari itu. Memastikan bahwa seluruh materi dan tugas yang akan disampaikan sudah siap semua. Pembelajaran akan berlangsung hingga 12.30. Lanjut memastikan bahwa setiap anak sudah mengumpulkan tugas.
Pukul 16.00-17.00 anak-anak diwajibkan untuk membantu orangtua di rumah yang dilanjutkan dengan persiapan untuk tadarus Al-Qur'an 1 juz dan surat Al-Mulk, juga surat Yasin ba'da maghrib. Karena jarak yang jauh, seringkali ada anak yang lupa lapor dan saya harus memastikan hingga seluruh tugas, tadarus, dan setoran anak-anak yang jumlahnya 29 orang itu betul-betul selesai tanpa hambatan.
Dan hari ini, pukul 22.28 saya baru saja selesai mengurus dan memastikan semuanya. Fiuhh, capek juga ya ternyata 😂 tapi tetep menyenangkan ❤ ternyata begini ya rasanya mengurus 29 anak wkwkwkwk
Kita seringkali terlalu sibuk mencari keberkahan di luar rumah, hingga terlupa bahwa keberkahan yang begitu besar itu justru bisa kita temukan di dalam rumah kita sendiri. Ialah, orangtua.
Jaga baik-baik ya. Sempatkan berbincang atau sekadar menanyakan kabarnya hari ini. Sesibuk apapun urusan kita.
Tulisan 26 : Pulang
Tahun ini, sedang berazzam pada diri sendiri untuk lebih sering pulang ke rumah. Memanfaatkan jatah pulang dari pondok semaksimal mungkin dan menyempatkan sedikit apapun libur yang ada untuk kembali ke kampung halaman.
Bukan karena apa-apa. Hanya saja sedang merasa perlu membaktikan diri dengan lebih maksimal pada kedua orangtua. Dengan lebih sering membersamai, dengan lebih sering menghadirkan jiwa dan raga, meski mungkin memang tidak bisa setiap hari.
Saya paham, mungkin semua ini tetap tidak akan bisa membalas sedikit saja pengorbanan kedua orang tua saya. Karena sepertinya, saya memang tidak akan pernah bisa membalasnya sampai kapanpun. Tapi, setidaknya saya tetap ingin mengusahakannya. Tahun ini dan seterusnya. Semoga...
Tulisan 25 : Perempuan Berprinsip
Bagi saya, tumbuh menjadi seorang perempuan yang berprinsip adalah sebuah keharusan. Supaya hidup menjadi lebih jelas dan terarah. Sebab kita jadi tahu apa mau kita, dan apa yang akan kita tuju.
Tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk memiliki prinsip yang sama dengan orang-orang sekitar. Apalagi sampai berusaha meleburkan prinsip yang kita miliki supaya bisa diterima keberadaannya oleh orang lain. Big no. Bisa bisa, nanti kerjaan kita cuma ikut arus air.
Dear, kita unik dan otentik dengan prinsip kita masing-masing. Yang penting saling menghargai dan menghormati. Kalo tiba-tiba dipertemukan dengan orang-orang yang nggak bisa menghargai atau menghormati prinsip-prinsip yang kita miliki, yaudah biarin aja. Let him/her go. Karena logikanya selalu sederhana, "Mungkin kita emang nggak cocok."
Hehe.
Rizqi Khilda Amalia | 22 Februari 2020
Diperjuangkan
Beberapa waktu yang lalu, ketika berbincang dengan seorang teman tentang sebagian perempuan yang ingin diperjuangkan oleh laki-laki dalam mendapatkannya, dia berkata,
“aku ga tahu Din rasanya diperjuangkan lelaki segitunya untuk mendapatkanku, semua biasa aja, bahkan oleh suamiku sebelum kami menikah.
Tapi setelah menikah, aku tahu rasanya diperjuangkan dengan segitunya oleh lelaki selain ayahku : diperjuangkan supaya aku bisa hidup layak dan tidak kekurangan, supaya aku tetap sehat, supaya aku hidup nyaman di bawah naungannya, supaya aku aman, supaya aku merasa dicintai, supaya aku menjadi perempuan yang lebih baik, supaya aku selamat. Tidak hanya agar selamat dan bahagia di dunia, tapi juga di akhirat dan setelahnya. ”
Setelah mendengarnya, rasanya perempuan seperti kita, terutama yang belum menikah, perlu mengevaluasi lagi keinginan diperjuangkan laki-laki. Perjuangan seperti apa yang diharapkan? Sekedar perjuangan mendapatkan hati kita? Dengan kasih ini itu, ngajak kesana kemari, nggombal ini itu? Atau perjuangan yang seperti apa?
Kalau kita belum apa-apanya, rasanya kok ya malu minta diperjuangkan. Walaupun tahu logikanya demikian, pasti ada sisi perempuan yang memang ingin diperjuangkan untuk didapatkan, ya gak sih? Haha.
Katanya, laki-laki itu pejuang dan pemburu. Hanya saja, ilmu serta pengalaman yang mengarahkan pada apa dan bagaimana mereka berjuang dan berburu. Apa perjuangan memang dilakukan untuk mendapatkan kebaikan, atau sekedar kesenangan?
Kalau lihat suami sendiri dan suami-suami lain yang berjuang, rasanya gimana gitu. Ada yang pontang panting kuda bunting berupaya memenuhi nafkah untuk keluarga, ada yang berupaya mendekatkan istri sama keluarganya (ini juga bentuk perjuangan loh), ada yang berupaya mendidik istrinya yang naujubillah bandelnya, ada yang berupaya menjadi bapak luar biasa untuk anaknya yang berkebutuhan khusus, dan ada pula suami yang berupaya menyehatkan diri supaya lekas punya momongan. Masyaa Allaah gitu rasanya. suka terharu, nulis ini aja sambil berkaca-kaca.
Perjuangan dan beratnya rindu Dilan bukanlah apa - apa, meski penggemarnya pastilah banyakan Dilan.
Berdoanya semoga kita jadi istri yang bersyukur, meski syukurnya tidak bisa mengimbangi kenikmatan yang diberikan Allah berupa suami - suami yang berjuang. Iya loh itu kenikmatan, sebab ada juga suami yang enggan berjuang bahkan dalam hal paling mendasar sekalipun.
Yang belum punya suami, kalau nanti ada rejekinya semoga nanti dikasih suami yang memperjuangkanmu dalam kebaikan, menjagamu sebagai titipan berharga. Kalau takdirnya jomblo selamanya, semoga selalu dalam kesabaran dan diganti pahala tak terhingga. Peluk cium untuk jomblowati-jomblowati di jagad Tumblr.