“kemaren, dia datang ke rumahku, ngobrol sama ayahku”
“lalu bagaimana?”
“aku tolak saja dulu, aku ingin liat, apakah setelah ditolak, dia akan kembali memperjuangkan aku atau tidak.”
Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan cerita tersebut. Cerita tentang seorang wanita yang mencoba melihat kegigihan pria dengan cara menolaknya terlebih dahulu. Lantas, muncul pertanyaan saya,
“Bagaimana jika ternyata sang laki-laki tak kembali, padahal ia sudah memberanikan diri?”
Tentu, seorang wanita perlu melihat perjuangan seorang pria dalam memerjuangkan pernikahannya. Bukankah begitu bahagianya ketika kita tahu, bahwa ada seseorang yang memerjuangkan kita?
Namun terkadang, kita harus berhati-hati, berpura-pura menolak seorang pria yang datang, bisa juga menjadi sebuah hal yang kurang tepat untuk menguji kegigihannya.
Bagaimana jika akhirnya, karena pria ini ditolak, dia malah berpikir
“apa mungkin karena ibadahku masih kurang?”
Akhirnya dia berjuang habis-habisan untuk menikah dengan sang wanita. Memperbaiki salatnya demi wanita, memperbaiki dzikirnya demi wanita, memperbanyak sedekah demi wanita, memperbaiki ibadahnya demi mendapatkan cinta wanita.
Kelak, pria seperti ini, akan jauh dari ibadahnya setelah mendapatkan cinta sang wanita. Karena, tujuan menikahnya, adalah untuk seseorang. Dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan, lantas kenapa masih harus beribadah?
Sedang, bagi sebagian laki-laki, ketika dia ditolak, dia berfikir
“Mungkin tuhan ingin aku belajar menjadi lebih baik lagi”.
Karena, mereka telah berdoa di malam mereka.
Ya tuhan, jika ini baik untukku, maka permudah. Jika tak baik untukku, maka persulit.
Dan ketika sang wanita mempersulit dengan cara berpura-pura menolak, sang pria tau, bahwa pilihan ini buruk menurut Sang Pencipta.
Maka dia pergi, meninggalkan sang wanita, tanpa pernah kembali.
Bagi sang wanita, jelas bahwa si pria ini salah, karena dia tidak gigih. Tapi bagi sang pria, dia merasa benar, karena dia percaya bahwa dirinya telah mengikuti takdir tuhannya.
Sungguh, siapa yang telah melewatkan siapa? Siapa yang telah kehilangan siapa?
Tentang kegigihan, jangan dipermainkan. Cukup dilihat saja, bagaimana cara dia menjaga iman. Jika dia gigih untuk Tuhannya, apalagi untuk wanita yang hanya ciptaannya.
JANGAN DIPERMAINKAN
Bandung, 4 Januari 2017