Selamat pagi, Malang, Jogja (aku merindumu).
Sejak dua hari lalu sulit tidur di waktu normal (22.00 WIB), akhirnya begadang karena memikirkan beberapa hal (terutama kondisi abah). Hingga selepas subuh, lalu tertidur di hammock yang sengaja kupasang di depan pintu rumah. Matahari tak mau kompromi, hangat sinarnya di pagi hari membangunkanku yang baru tertidur sekiranya dua jam.
Bersamaan dengan itu, dua orang asing masuk rumah (bersama saudara), yang berambut panjang ikal namanya mas Hanif dan yang berambut sedikit kribo (seperti Fellaini) namanya mas Ayyas. Keduanya datang dari Taman Nasional Baluran bagian Savana Bekol. Di masing -masing punggungnya melekat kuat keril berkapasitas 80 Liter. Dengan cepat kusalami dan ngobrol alakadarnya untuk menyambut mereka karena pagi itu memang belum ada apa-apa, bahkan aku belum sempat bikin kopi atau coklat panas (rutinitas pagi, hammockan sambil ngopi).
Dari mereka, kudapat info mereka adalah mahasiswa UGM yang sedang melaksanakan kegiatan kampus di TN Baluran, fokus di konservasi hewan liar. Sembari menanak nasi, omelet, dan coklat untuk sarapan pagi kami ngobrol ngalor-ngidul dan saling bertukar informasi.
Hari semakin siang, langit yang sedari pagi bersih, tertutup awan hitam tebal pertanda mau hujan. Segera aku ke kampus menyelesaikan beberapa urusan, kecewa karena gagal bertemu dengan WD 2. Langsung mancal lagi ke arah Jupri (toko sepeda) untuk ganti pedal-clip dan langsung di tes sepanjang jalan pulang. Puas, pengereman semakin mudah, karena sepeda fixedgear yang setiap hari kupakai memang sulit untuk pengereman mendadak.
Sampai rumah, ternyata kedua sahabat baru ini sudah dijemput kawan mereka, jalan-jalan katanya, tapi ternyata ada sesuatu di relung hati mas Hanif pada gadis manis (penjemput) yang tak sengaja kulewati di jalanan turun dekat pabrik, baru kutahu itu setelah mereka berdua pulang kerumah dan ada binar yang berbeda di mata mas Hanif. Selama mereka keluar, kutunaikan ritual nightride membelasuk di sela-sela kemacetan Malang yang menggila selepas hujan.
Sedang seru-serunya ngopi dan ngobrolin kopi dengan mas Windy (owner Royale Coffee Shop), Xperia E berdering halus pertanda notif masuk mengisyaratkan harus pulang. Gowes lagi, sampai rumah dengan sedikit terengah, hammock yang sempat kulepas pagi tadi sudah terpasang kembali dengan beberapa kursi kosong dan meja penuh makanan, kopi, coklat, buku, dan kertas-kertas, serta lantunan lirih lelaguan indie kesukaanku. Syukuran kecil, sekaligus makan malam, lanjut ngopi dan ngobrol mengenai kopi, buku, kultur Jogja yang semakin hari semakin tergerus modernisasi, kedai nya mas Ju (Djelajah), perjalanan, dan masih banyak lagi.
Pukul 23.56 WIB, satu-persatu beranjak dari kursi dan tidur, menyisakan mas Hanif yang masih sibuk dengan buku diary nya dan aku yang masih membalas beberapa pesan dari LBB dan Vera (cantik, namun hatinya sedikit goyah) sambil berayun di hammock. Iseng kubaca beberapa sajak Chairil Anwar di buku mas Hanif yang baru dibelinya sore tadi di pesta buku, dalam sekali pikirku bacaan orang ini. Seru-serunya baca, teringat skripsi manis yang butuh beberapa progress, langsung saja kuhidupkan netbook yang sedari pulang tadi belum kusentuh. Target beberapa perbaikan selesai, kulihat jam sudah pukul 02.16, kusesap coklat dingin di meja, mas Hanif tertidur di kursi, buku dipangkunya, bolpoin jatuh ke lantai, dan asap rokok tipis tertiup angin di asbak handmade yang selalu dibawanya kemanapun berperjalanan.
Kusuruh dia pindah ke hammock dan aku gantian ke kursi, melanjutkan niatan menulis kembali di blog. Mulai aktif lagi membahas apa yang kucari selama ini (kopi-buku-sepeda). Blog baru, semangat baru, tulisan baru. Gaya narasi, itu yang kujadikan model penulisan, bebas, tapi santun. Tanpa sadar, tak sengaja diingatkan alarm menunaikan ibadah yang menurutku sudah menjadi kewajiban di sepertiga pagi. Selepas subuh, kulanjutkan konsep sederhana hingga muncul matahari pagi.
Kantuk datang, target selesai, Alhamdulillah. Merapikan meja dan isinya, kemudian bergeser ke kamar untuk tidur sebentar. Bangun-bangun sudah ada pecel di dapur, mas Ayyas menyilakan "Sarapan mas, sampean banyak pikiran yo.". Tanpa pikir panjang, sikat bosku.
Setelah sarapan, mandi, kutinggalkan lagi mereka karena ada urusan di kampus, dan hujan lagi. Malang sedang lucu, hujan bersamaan dengan terik matahari terjadi setiap hari. Selesai dari kampus, perjalanan pulang melewati rumah salah satu roaster kopi jagoan di Malang, Cak John, begitu orang-orang menyebutnya. Harum kopi yang sedang disangrai berhasil membuatku putar balik, mampir dulu, harus belajar kopi. Di kediaman cak John, ada mas Meru (owner Wonten Coffee), mas Rofik (Museum Kopi), dan beberapa kenalan lain. dan ngobrol lagi, ngalor-ngidul ngomongin kopi mulai dari pasca panen sampe proses sangrai yang benar, perbedaan metode sangrai robusta-arabika. Sedang seru belajar roasting. melintas mas Hanif pakai sepedaku, langsung pamit ke cak John dan beberapa kenalan. Balik rumah, ternyata benar mas Hanif baru dari alun-alun kota memakai sepeda yang katanya aneh, uncontrolled, dan bahaya. Iya jelas lawong remnya pakai kaki haha.
Selepas magrib keduanya packing, harus balik Jogja, harus sudah di stasiun Kota Baru sebelum 20.15 WIB. Hujan masih awet mengguyur Malang. Bakal lama pikirku, tapi harus nekad. Nunggu hujan, sempatkan ngopi bareng sebelum mereka balik, segelas bareng-bareng (banca'an). Arabika Gn. Arjuna jadi pilihan, nikmat.
Hujan masih belum menunjukkan niat berhenti, setelah isya kuantar mereka ke stasiun, dua motor (satunya pinjem, satunya disetir saudara). Nekad, hujan-hujanan, kangen sekali sudah lama gak main air. Semesta berkonspirasi, sesampainya Kota Baru, hujan menyisakan rintik kecil, pikirku "pas, Allah tau bocah-Nya kehujanan.". Mereka berpamitan, kutitipkan salam untuk rekan-rekan di Djelajah, untuk Mas Ju terutama (penulis novel indie pejalan anarki). Kuputar gas pelan-pelan sesaat setelah mereka masuk peron stasiun, sembari perjalanan pulang, kuingat ada cangkir kecil kenang-kenangan dari mas Ayyas, penanda pernah singgah di Malang.
Hati-hati di jalan bosku, sampai bertemu lagi, di Jogja.