Ketika masih di Fes, shalat di masjid bersejarah seperti Qarawiyyin sekali saja saat ramadhan begitu semangat saya menceritakannya. Tapi entah mengapa meski lebih dari sekali, di Marrakech kali ini, masjid se-terkenal Koutoubia tak memberi kesan banyak.
Mungkin karena untuk mencapai ke Qarawiyyin membutuhkan langkah yang lebih banyak, sebab tempatnya berada di tengah-tengah Medina Qadima. Sedangkan masjid Koutoubia berada di tempat terbuka. Mirip seperti masjid-masjid raya atau agung kebanyakan di Indo. Dan jika ingin membaca sejarah Koutoubia, silakan cari sendiri, :Yb
Mencapai Koutoubia untuk tarawih cukup mudah. Dari rumah tinggal naik taksi kabir atau grand taksi 5 dirham untuk sampai di dekat masjid, karena area jalanan yang melintasi masjid ditutup untuk kenyamanan shalat. Jadi masih harus jalan beberapa meter untuk sampai halamannya. Meski begitu, dari jauh pun menaranya sudah terlihat begitu dekat.
Sambil menunggu jamaah datang, sebelum dan sesudah adzan isya ada pemberian ceramah, berisi kebanyakan tentang nasihat-nasihat. Lalu tak samapai setengah jam setelah adzan, iqamat terdengar. Jamaah tidak perlu khawatir akan ketinggalan isya berjamaah sebab bacaan imamnya lambat dan panjang. Saya biasanya memilih shalat di luar karena sejuk. Maklum, musim panas di Marrakech rasanya dahsyat :D
Menurut pengamatan, bacaan surat di Koutoubia termasuk lancar dan stabil. Dalam arti jika di masjid-masjid lain pada malam ke-7 masih sampai juz 6 misalkan, maka di Koutoubia sudah sampai juz 7, begitu seterusnya.
Dua kali pertama ke sana, saya hanya ingin memuaskan rasa penasaran saja. Karena sebelum sampai maroko, saya sempat menonton sebuah acara di TV yang menayangkan suasana ramadhan di kota-kota di Maroko, salah satunya Marrakesh. Terutama saat tarawih di masjid besarnya, lalu di lanjutkan jalan-jalan malam di Jema el-Fna.
Ya, yang saya lihat waktu itu Koutoubia sangat ramai saat shalat tarawih dilaksanakan, apalagi melihat shalat di halaman masjidnya yang terlihat nyaman. Lalu diceritakan jamaah tarawih selepas shalat mereka berbondong-bondong berjalan menuju Jemaa el-Fna, sebuah alun-alun atau pusat keramaian kota Marakesh. Dari mereka ada yang memang melewatinya untuk sampai di rumah, atau memang ingin melihat-lihat sekaligus berbelanja.
Maka itulah yang saya lakukan setiap pergi ke Koutoubia. Seperti mengikuti arus jamaah dari masjid ke pasar :v. Di Jemaa el-Fna sendiri meski saat shalat tarawih di laksanakan pun tetap ramai. Itu dikarenakan pengunjung sana bukan hanya orang lokal saja, tapi turis-turis yang menikmati liburan mereka dari berbagai negara juga banyak. Untungnya jarak antara kedua tempat ini cukup untuk menghindari kebisingan pasar ke masjid. Meski tidak sebaliknya :v
Hingga kesempatan selanjutnya, ada hal menarik terjadi. Di sela-sela tarawih, ada kabar gembira yang diumumkan. Seseorang berkewarganegaraan swiss menyatakan diri memeluk islam dengan dibimbing megucapkan syahadat, sepertinya oleh imam atau entahlah. Takbir bergemuruh saat itu. Hati tersentuh. Dari sekian banyak turis-turis yang datang ke Maroko dan lalu-lalang antara Jemaa el-Fna dan Koutoubia di Marrakesh, hidayah Allah datang ke hati salah satu diantaranya.
Setelah hal menggembirakan itu, terjadi kejadian menarik lainnya di sisa-sisa Ramadhan tahun ini. Seperti imam yang menyambung 4 rakaat tarawih jadi satu. Tapi ternyata beliau sujud sahwi setelahnya, yang berarti belau lupa untuk tahiyyat di rakaat ke dua. Dan makmum menganggap itu sebagai rencana imam yang menjadikan tarawih 4 rakaat satu salam, padahal imamnya yang lupa :). Lalu yang menariknya, dua rakaat tadi bukan dianggap sebagai rakaat tambahan karena lupa, tapi dihitung rakaat selanjutnya. Itu menjadikan tarawih malam itu terasa lebih cepat karena tidak banyak duduk dan salam. :v
Dan setelah menulis ini jika diingat-ingat, tarawih di qarawiyyin itu dua tahun yang lalu. Sementara tarawih di Masjid Hassan II tahun kemarin tidak sempat saya tulis, atau saya yang lupa? Ah, lain kali saja lah buka-buka page belakang.