Sholat Sambil Ngeteh, Yuk
Bentar-bentar. Tahan bacaannya sebentar.
Kalau anda membaca ini di saat puasa, bacanya pas sedang santai nggih. Pas tenang. Misal pas ishoma, ba'da dhuhur atau ashar begitu, bacanya sambil nyender saja. Pun, misal membacanya pas setelah berbuka atau di luar saat berpuasa, baca sambil minum kopi atau teh akan lebih ciamik.
Sing tenang, sing relaks, biar vibe ibadah santai ini bisa kerasa gambarannya gimana.
Jadi saya teringat ketika saya masih SMP pas Ramadan, bunda bikin teh hangat dalam teko, lalu ditaruh di dekat sajadah pas tarawih bersama sekeluarga di rumah. Setiap habis sholat 2 rakaat, bunda pasti ngajak, "yuk minum teh bentar, diseruput, terus lanjut sholat lagi, yuk,". Nikmat banget. Sholatnya enggak terasa terburu-buru, terasa lebih bisa meresap. Kebiasaan ini tidak terus-terusan memang, tapi setiap tarawih, bunda pasti mengedepankan unsur santai dalam sholat ini.
Nah, lanjut, jadi kali ini mau bahas ibadah yang santai pas bulan Ramadan. Santainya, benar-benar santai. Sing ojo kesusu. Yang tidak terburu-buru. Relaks. Sambil nyeruput teh, mantab tuh. Tulisan ini berdasar dari ceramah Gurunda Ust. Adi Hidayat, mengenai ibadah Ramadan.
Ibadah yang santai apaan?
Penamaan tarawih, dinamakan tidak spesifik pada sholatnya, tapi pada sifat sholatnya. Sifat sing tenang, santai, ada getaran rasa dalam ibadahnya, terasa hingga ruh. Wah syahdu benar.
Tarawih itu dilekatkan dengan sholat qiyaam, disandingkan dengan bulan Ramadan, dan di sela-selanya ada doa yang langsung dicontohkan oleh Rasulullah.
Kalau tarawih itu aspek santai dan tenang yang berpengaruh ke ruh, kata qiyaam ini adalah aspek sempurna atau serius dalam pelaksanaannya. Allah memberi isyarat bahwa dalam menunaikannya jangan sembarangan, kudu sempurna, kudu sungguh-sungguh dan serius. Bukan asal selesai, bukan terburu-buru.
Dalam hadits riwayat Al Bukhari no 37 dalam Kitabus Shiyam, Rasulullah mengatakan,
“Man qama Ramadhana iimanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min zanbih",
"Barangsiapa yang menghidupkan bulan suci Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ampunan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya di masa lalu"
Sekarang perhatikan, Rasulullah mengatakan qama, mengartikannya penting, meski sifatnya sunnah. Kalau benar-benar dilaksanakan, tercapailah hasilnya di bulan Ramadan yang ada di ujung hadits tersebut: terampuni segala dosa mulai dari bayi hingga saat itu juga. Hangus semua. Hangus, hingga ketika hisab nanti kita tidak malu karena catatan-catatan amal yang buruk itu terhapus. Ini semua tercapai, kalau kata qama ini benar-benar dilaksanakan.
Sekarang, bagian ini yang paling penting.
Dalam sela-sela pelaksanaan sholat tarawih, Rasulullah mencontohkan langsung sebuah doa yang sangat penting. Terserah, sholatnya berapa rakaat, sing penting dalam pelaksanaannya tidak terburu. Santai, tenang, diresapi. Sediakan teh atau kopi di samping sajadah, itu akan sangat membantu. Di sela-selanya bisa dibarengi baca Al Qur'an. Baca doanya yang pelan, yang diresapi. Ojo kesusu.
Doa yang Rasulullah ajarkan adalah,
“Allahumma innaka 'afuwwun tukhibbul 'afwa fa'fuanni”
“Yaa Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, karenanya, maafkanlah aku.”
Yuk diresapin. Jangan-jangan kita sering berdoa, tapi masih sebatas di tenggorokan saja, belum sampai getaran di hati.
“Yaa Allah, sungguh hanya Engkau Yang Maha Pemaaf. Dan Engkau yang sangat mencintai orang yang meminta maaf. Dengan sifatMu Yang Maha Pemaaf, dan kecintaanMu terhadap yang meminta maaf, maka dengan itu Yaa Allah, maafkan dosa-dosa hamba,”
Doa ini indah, ya. Harapan untuk kita. Pendosa.
Dalam peresapannya supaya tercapai rasanya, dalam doa itu, ingat-ingat kesalahan-kesalahan apa yang kita perbuat. Jauhnya dari sholat tepat waktu? Anggota badan banyak dipakai maksiat selalu? Salah karena kurang berinteraksi dengan Al Qur'an? Jauh dari Allah? Kita bayangkan kesalahan-kesalahan itu, lalu ucapkan, “fa'fuannii”, ampuni Yaa Rabb.
Pun, misal. Setelah 2 rakaat pertama membaca doa dan belum tercapai khusyuknya, belum ada tetes tangis, maka lanjutkan kembali di rakaat selanjutnya. Belum menangis juga, lanjutkan di rakaat selanjutnya. Belum juga menangis, maka tangisi diri kita yang susah menangisi dosa-dosa ini, karena noktah-noktah dosa tersebut sangat pekat, menghalangi tangis untuk keluar.
Photo by Rachid Oucharia
Ramadan ini memang momen untuk reset diri kita, yang bahkan dimintaNya persis, ibadahnya dengan santai dan serius. Manusia memang makhluk yang terburu-buru. Yuklah, katanya, ingin benar-benar kembali dari nol lagi, kan? Yuk semakin perbaiki ibadah-ibadah kita.
Semoga selepas Ramadan ini, tercapai yang dicita-citakan seluruh umat. Aamiin.