Yakini takdir Allah terbaik bahkan dari cita-cita terbaik kita sekalipun (Gamal Albinsaid)
Monterey Bay Aquarium
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
No title available

Kiana Khansmith

if i look back, i am lost
I'd rather be in outer space šø
TVSTRANGERTHINGS

#extradirty
Aqua Utopiaļ½ęµ·ć®åŗć§čØę¶ćē“”ć
Three Goblin Art
almost home

ē„ę„ / Permanent Vacation
styofa doing anything
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
Alisa U Zemlji Chuda
Misplaced Lens Cap

tannertan36

romaā
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from Israel

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Brazil
seen from Pakistan
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Ecuador
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@azmihanifah
Yakini takdir Allah terbaik bahkan dari cita-cita terbaik kita sekalipun (Gamal Albinsaid)
Ketika Suatu hari itu, adalah hari ini
Dear Love
terimakasih, untuk kamu yang sampai hari ini terus memperhatikan kami, dalam hal apapun.
terimakasih, untuk kalian yang tetap mendoakan kami, tanpa kami minta
terimakasih, untuk semua keluarga besar kami, yang menjadi tempat terbaik untuk pulang, dari lelahnya pencapaian dunia
terimakasih, untuk kamu tak tidak pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja, karena justru itu yang membuatku merasa lebih nyaman menjalaninya
terimakasih, untuk kalian selalu support atas pencapaian-pencapaian kami, dan tidak melihat apa-apa yang tidak bisa kami miliki.
terimakasih, untuk orang-orang di masa lalu, yang dengan sabar membersamai melewati hari-hari yang menurut kami, itu berat
terimakasih, untuk siapa saja, yang pernah kenal, berinteraksi, dekat dengan kami, dan kami belum bisa membalas kebaikan-kebaikan kalian
terimakasih, untuk segalanya, untuk hal-hal yang mungkin kami tak tau bahwa segala kebaikan dan kemudahan itu ternyata dari seseorang, dan itu kalian, yang mungkin kami tak mengenal, dan kalian tetap peduli dengan kami
semua hal yang kami lalui, adalah takdir dariNya, kami sudah berjanji, untuk selalu berbahagia atas takdir kami.Ā
terimakasihĀ
ditulis di Subang, 21 Januari 2021
Badai pertama~
Tahun 1998
Mungkin ini tahun pertama terberat dalam hidup, aku lupa untuk memastikan, usiaku saat itu baru 6 tahun, saat pertama kali masuk sekolah dasar. Diantar bapak. Satu tahun kedepan sampai juli 1999, adalah tahun yang tidak mudah dijalani, saat antusiasku sangat tinggi untuk sekolah,dan ibu mulai jatuh sakit, satu tahun kedepan menjadi tahun yang sangat melelahkan, lelah fisik, lelah hati, begitu mungkin dulu yang terasa.
Ibu, mulai sering keluar masuk rumah sakit. Aku tidak paham apa sebenarnya yang ibu rasakan, penyakit apa yang sebenarnya ibu derita. Aku hanya anak usia enam tahun yang masih egois dan suka berantem dengan adeknya. Bulan demi bulan, aku sering tidak masuk sekolah karena bapak sibuk mengurus ibu. Aku dan adekku pun dititipkan ke saudara-saudara, ke tetangga. Tidak mudah bagiku melewati hari-hari tanpa orang tua. Aku sering nakal ke adek, itu yang membuat saudara yang mengasuh sering memarahiku. Aku tak peduli. Aku hanya anak kemarin sore yang masih butuh diperhatikan. Bukan untuk memahami kondisi apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-sampai aku tak bertemu dengan ibu cukup lama.
Aku tak tahu pasti berapa kali dalam setahun itu ibu keluar masuk rumah sakit. Aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Ibu sakit apa? Bahkan beberapa saudara dekat memberikan penjelasan yang berbeda-beda. lau Aku enggan lagi mengungkit-ungkit masa lalu.
Jraganan, 1997
harus ku mulai dari mana untuk menuliskan kisah ini.
cerita tentang kami, aku dan ibu, dan beberapa orang yang membersamai kami saat itu.
sejauh yang bisa saya ingat, saat usiaku masih empat tahun, sepertinya ibu sudah mulai sakit-sakitan. tepatnya kapan belum ada yang menjelaskan detailnya.
sejauh yang bisa saya ingat di masa lalu, enam tahun terbaik hidupku adalah saat masih ada ibu. saat belajar banyak hal dengan beliau.
saat kehidupan masih belum segemerlap ini. saat damaianya hidup di desa begitu nyamannya. saat hanya melihat keberadaanya saja sudah membuat hati merasa lega.
Ibu, seseorang yang lembutnya masya Allah, sabarnya begitu membekas di hati. kalau kata tetangga yang pernah membersamai beliau dulu, ibu katanya sangat "nerimoā sekali dengan keadaan. menerima apapun yang dimiliki, yang didapat, entah itu dalam hal rezeki berupa harta, keluarga maupun kesehatannya.
saya lupa saat itu tahun berapa, saat bapak masih memiliki motor merah dan saya lupa apa merk motornya, saat adik sudah ada, berarti kira-kira 1997, saat saya masih suka sekali ikut bulik untuk ngajar di TK pertiwi.Ā
Dulu ibu suka buat agar-agar untuk dititipkan di warung-warung, lalu, siangnya saya dapat tugas nyuci tempat agar-agarnya. karena jaman dulu cup agar-agar tidak sekali pakai, jadi kalua udah laku tempatnya dikembalikan.
saat itu 1997 sepertinya tahun pertama kami pindah ke rumah sendiri. beeegitu excitednya punya rumah sendiri. namun selang beberpa lama ibu mulai sakit-sakitan. sering di rawat di rumah sakit.
Ladang Pahala
Bagaimana jika semua orang mampu berpikir bahwa ketika dia dihadapkan pada seuatu permasalahan atau kondisi yang tidak sesuai dengan keiginnanya, adalah sebuah ladang pahala yang diberikan Allah kepadanya?
Bahwa sang Maha Pemberi itu sangat percaya kepada kita, untuk mengelola rasa apapun itu dalam sebuah ladang yang kosong, untuk bisa menghaasilkan apapun itu yang berbuah pahala.Ā
tapi tak semua orang bisa memandang demikian.
tidak semua orang mampu berpikir demikian.
tidak semua orang percaya akan kemampuan dirinya.
4 Ramadhan 1441 H
Pagi ini dipenuhi dengan semangat, memang benar. ketika hari diawali dengan hal hal produktif, sepanjang hari energi postif muncul dengan sangat menyenangkan.
hari ini, menyusun ulang tentang finansial, memilah milah kegiatan wfh selama ramadhan, evaluasi kebutuhan keinginan, dan ternyata secetek ini ilmuku.
upgrade dengan dengerin kajian podcast, yutub, dan belum kesampaian baca baca buku ttg finansial dan bisnis.
ada banyak sekali harapan di ramadhan ini. sampai sampai urusan mudik yang entah bagaimana nanti menjadi sedikit teralihkan.
aku tak ingin semua kacau hanya karena memikirkan sesuatu yang sungguh sungguh belum pasti. salah satu caranya hanya dengan menjalani, sampai pada hari tersebut nanti.
seperti apa hasilnya, Allah yang berhak memutuskan. aku hanya bisa ihtiar, berdoa, dan menyibukkan diri seproduktif mungkin.
terima kasih diri, untuk hari ini.
untuk tetap komitmen dengan dhuha 6 rakaat dan tilawah 2 juz perhari.
besok dipertimbangkan untuk apresiasi.
semoga esok, ada cerita yang lebih menginspirasi.
#ceritaramadhan
#menulistiaphari
3 Ramadhan 1441H
kemarin VC sm adek2. beberapa hari ini kehilangan semangat.semangat menjalani ketidakpastian tentang mudik, pulang kampung, atau apalah sebutannya.
sementara ketidakpastian ini harus dijalani beberengan dengan Ramadhan yang penuh berkah ini.
yang harus full semangatnya dalam menjalani.
jujur, saya maupun orang tua belum siap jika lebaran tidak bisa berkumpul di rumah. kami tidak disiapkan untuk itu. wabah yang mendunia ini benar-benar tidak hanya menguji satu bagian saja, hampir semua aspek kehidupan turut diuji. sejauh mana yakin dengan ketetapanNya.
oiya lupa, mau cerita tentang si bontot yang sudah remaja. meski aku menganggapnya masih anak kemarin sore yang manja. tapi emang nyatanya gitu sih kalau lagi sama mbak-mbaknya.
kemarin doi cerita, kalau mulai ada perasaan aneh ketika bertemu dengan perempuan seusianya.
kalau ngobrol dan deket sama kakak2nya mah biasa-biasa saja.
doi minta saran, harus bagaimana.
saat itulah, aku mulai sadar, ada remaja cowok yang perlu perhatian. yang aku belum sampai cukup ilmunya untuk kesana. yang aku merasa tidak bisa ngomong apa-apa. selain, "mbak han belajar dulu ya ttg itu, nanti dikabari lagi".
dan sejauh ini, aku masih berada di tempat yang sama, belum ada perkembangan yang luar biasa. masih sibuk mengurus diri yang tak pernah selesai. masih sibuk dengan rutinitas yang tak kunjung ada hilal kapan berhentinya.
jadi, aku ditampar lagi. sebenarnya akan seperti apa tujuan hidupku ke depan?
mari berfikir ulang, ditengah pandemi yang membuat kewarasan seseorang mulai menghilang.
semangat yang terus membumi, dengan doa-doa yang tetap melangit.
#ceritaramadhan
#menulislagi
5 Ramadhan 1441 H
hari ini, saya dan beberapa orang teman datang ke bagian HRD untuk mengajukan izin mudik lebaran.
ada banyak sekali konsekuensi yang harus dijalani ketika memaksakan diri untuk pulang. yaa... pulang ke kampung halaman.
tapi, kami secara sadar menerima semua konsekuensi tersebut. tanpa mengeluh. terus mencari cara agar bisa memenuhi semua konsekuensi yang tertuliskan. semacam pulang harus memakai kendaraan pribadi.
alhamdulillah, keluarga sangat support untuk kepulangan kami. yaa.. bapak akan datang menjemput. meski jarak subang-pemalang tidaklah dekat.
lagi-lagi bahasan seputar ramadhan tahun ini masih terkait dengan pandemi dunia.
hampir-hampir semua aspek kehidupan terkena.
tapi, kami berusaha menjalani dan menikmati kebiasaan baru disemua aktivitas keseharian kami.
mudik, masih jadi polemik.
besok, akan ku lanjutkan cerita khusus mudik.
hari ini sampai ini aja, sebenarnya ada banyak cerita, namun beberapa diskip untuk dijadikan kenangan di hati saja.
semacam, ambyarnya hari-hari mendekati wfh ini.
yaa.. yayasan memutuskan untuk pegawai pendidikan wfh mulai 1 mei. itu artinya dua hari lagi.
~bersambung
#ceritaramadhan
#ramadhan1445H
#day5
#menulistiaphari
2 Ramadhan 1441H
hari kedua ramadhan, semangatnya masih full. alhamdulillah, ga tau nanti hari-hari berikutnya.
hari ini masih masuk kerja. tapi beberapa kerjaan sudah selesai. kegabutan menjadikan diri tak terkendali.
kalau sudah seperti ini, mensyukuri saat-saat sibuk dan produktif adalah sebuah keharusan.
begitulah kami, para manusia yang kebanyakan meminta tanpa mensyukuri yang ada.
sudah sebulan lebih semenjak wabah corona mendunia. anak-anak study from home sampai batas waktu yang tdk bs ditentuka.
padahal sebentar lagi tahun ajaran baru. yang artinya murid-murid baru bersiap masuk sekolah lanjutan.
kami pun menyiapkan banyak hal. dengan beberapa plan a b dst untuk berbagai kondisi yang tdk bs diprediksi kedepannya seperti apa.
hanya merencanakan banyak hal.
kegiatan seperti ini menumbuhkan semangat lagi, karena ada harapan kedepannya pasti akan membaik. meski entah kapan.
beberapa hari ini untuk pegawai pendidikan akan work from home. entah apa nanti yang akan dilakukan.
ternyata mengatur diri sendiri susah minta ampun.
seperti, tetap produktif tanpa bantuan orang lain. kita sendiri yang menentukan mau ngapain aja.
1 Ramadhan 1441H
bismillah, hari pertama puasa, mencoba untuk merutinkan kembali kebiasaan menuliskan apapun yang dirasa, yang terjadi, dan yang terfikirkan.
mencoba menuliskan sejarah diri, sebagai salah satu bentuk menyimpan kenangan yang abadi. dimana suatu saat nanti aku bisa mengulang untuk membacanya kembali, syukur-syukur ada orang lain juga yang mau ikut membaca tulisan ini.
tulisan yang benar-benar lahir dari hati.
hari ini, Jumat 24 April 2020
dalam sejarah 28 tahun kehidupanku, terjadi wabah virus yang mendunia. alhamdulillah saya dan keluarga masih diberi kesehatan untuk menghadapinya. wabah yang menjadikan semua sekolah di rumahkan, beberapa aktivitas pekerjaan dilakukan di rumah juga.Ā
sudah sebulan lebih sejak semua terjadi di indonesia ini, pelan-pelan perkekonomian nasional juga mulai terganggu, apapun itu hampir semua aspek kehidupan terkena dampak dari wabah ini.
lha, kenapa ceritanya gini, ga ada korelasi dengan ramadhan,
kalemmm, ini baru prolognya, jadi ramadhan tahun ini pun berbeda, sangat berbeda.
saya masih di perantauan. di sini di pesantren terbaik yang pernah ku kenal.Ā
dimana aktivitas di dalam masih normal, namun sangat lenggang karena orang-orang yang menghidupkan suasana sedang di rumah orang tuanya masing-masing.
benar, tanpa anak-anak semuanya hampa.
sholat tarawih di masjid yang biasanya ramai oleh celotehan mereka, kini terasa sangat bisa khusyuk sekali dalam menjalani tarawih kemarin malam.
tapi bukan itu yang ingin disampaikan sebenarnya, pointnya adalah, kita sudah terbiasa dengan rutinitas yang masya allah kalau dijalani katanya melelahkan, tapi ternyata kalau di kenang merindukan juga.
jadi, menikmati, mensyukuri apapun yang sedang terjadi sekarang adalah keharusan, kita baru bisa mengambil hikmahnya setelah semua berlalu, selalu begitu.
barangkali hanya itu yang bisa disampaikan poitnnya, dan sekarang hari Jumat, sejak sahur semalam hujan deras mengguyur bumi assyifa.
semoga Allah memberkahi ramadhan kali ini dengan sebenar-benar ridhoNya.
Rabbi, aku masih malu meminta ini itu, maka aku pasrahkan semua kebaikan hidupku melalui takdirMu, mohon ampun ya Rabb, semoga Engkau ridho dengan apa yang sudah hamba usahakan dan lakukan.
sekian
lanjut besok di Ramadhan hari ke 2
#30harimenulis
#Ramadhan1441H
Menepi
aku menepi sejenak, melihat-lihat bagaimana arus ombak itu menghantam pantai satu-persatu
aku menepi sejenak, melepaskan semua lelah setelah bertahun-tahun berenang dalam lautan hidup yang keras itu
aku menepi sejenak, mengamati bagaimana orang-orang bisa bertahan dalam lautan hidup yang dalam itu.
aku menepi sejenak, barangkali jawaban itu ada di daratan, bukan lautan.
aku menepi sejenak, untuk kemudian semangat lagi menghadapi ombak, badai atau apapun yang nanti akan ku temui ketika di lautan.
aku menepi sejanak, untuk mempersiapkan kapal ku melaju lagi di samudra kehidupan nan jauh itu, yang aku tak pernah tau sampai kapan perjuangan ini akan terhenti
Subang, 07.10.2019 , 11.26
Malu
Suatu hari di waktu yang canggung karena lama tak berkomunikasi
āaku ga tau aku lagi kenapa, semua berasa stagnan, aku tau aku yang lagi ga bener, tapi aku emang ga mauāĀ
āwhat can i do for you?ā
āentahlahā.
ājust enjoyā!
āi will, its not easy to meā.
ādan ga ada pilihan selain dijalaniā
āi seeā.
āterus gimana?ā
ālet it flow, i will do the bestā.
aku malu, ketika berbicara denganmu hanya ketika ada masalah saja....
Juli 1999
Kenapa tidak 1998?
Karena tiap orang punya tahun kenangannya sendiri.
Beruntung saat itu tidak bebarengan dengan tragedi 1998.
Ada apa dengan juli 1999?
Entahlah apa saja yang telah terjadi.
Sejauh yang masih bisa diingat.
Juli 1999 adalah tahun terberat pertama yang dirasakan.
Saat merasakan kehilangan untuk yang pertama kali. Saat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat belum paham betul bahwa kehilangan seseorang itu rasanya begitu menyakitkan. Saat tahu tahun-tahun mendatang akan lebih keras lagi untuk bertahan. Untuk melanjutkan hidup tanpa'nya.
Yaaa... dan tepat 20tahun yang lalu. Terima kasih Allah, sudah membuatku mampu bertahan sampai 20tahun ini. Tanpa'nya. Takkan pernah tergantikan.
Ikhlas
untuk menerima semua ketetapan-Nya
untuk di atur
untuk dibolak balikkan hatinya
untuk diberi surprise
Ujian Hidup
tahun ujian di diri sendiri, sudah bukan masanya lagi diuji di keluarga. terima kasih Allah, mengujiku ketika aku masih kuat, tegar, dan berdiri sendiri, tidak melibatkan suami dan anak-anakku nanti. semoga, ketika nanti sudah berkeluarga sendiri, sudah bersiap diuji dengan yang lebih baik lagi, lebih kuat lagi dengan orang-orang yang semoga Engkau mempersiapkannya menjadi orang-orang terbaik di masanya nanti.
Sendiri
yaps, nyaman banget segala sesuatu dikerjakan sendiri. cepat selesai. Tapi mudah jenuh juga. kalau lagi bad mood, kelar sudah. tidak ada support sistem.Ā
ehm, mencari atau memulai membangun circle sendiri juga nggak mudah. entahlah masih bingung mau mulai dari mana. intinya, Sendiri cukup seperlunya, selebihnya kita adalah makhluk sosial yang memang tak bisa sendirian.
11/08/2020 08.39 p.m
"dek, main hp terus sih, kamu seharian belum tilawah tau."bentak kakaknyaa
adeknya masih santai, lalu menjawab.
"tenang kak, aku tau batasan kok". pungkasnya
kakaknya hanya berlalu, sebal
sehari, dua hari, sampai berhari-hari.
kakaknya membiarkan adeknya menikmati masa-masa berdua dengan hapenya. masa yang tak bisa adeknya dapatnya ketika ia berada di pesantren. yaa..ini musim libur.
"kamu tuh ya, diingetin tiap hari jawabnya udah paham, udah tau kapan main hape kapan ibadah. tapi udah seminggu tilawah baru beberapa lembar. hapenya kakak sita" kata kakaknya tanpa basa basi
ia merebut begitu saja hape adeknya, lalu terjadilah pertengkaran dalam hati.
setelah 24jam saling diam.
tetiba adeknya mendekat, lalu berbicaralah ia dengan kakaknya.
"kak, maaf"ucapnya
kakaknya hanya diam.
"kak, maaf, aku terlena. kasih aku kesempatan lagi kak". pintanya
adiknya meminta dengan sesenggukan, tangis yang begitu menyayat hati kakaknya.
karena adiknya laki-laki, dan hatinya lembut seperti perempuan. mudah tersentuh,
"kenapa kamu begitu cepat sekali dewasa dek, ucap kakaknya dalam hati".
dia pikir, adeknya masih bocah kemarin sore yang masih hobi ngambek, jika sesuatu dilarang, atau tidak sesuai keinginan.
tapi lihatlah, adek kecilnya sudah tumbuh menjadi laki-laki yang mudah, meminta maaf.
"baik, kakak kasih kesempatan lagi. silakan buktikan dengan tanggung jawab" ucap kakaknya dengan intonasi mantap.
benar, mendidik berarti kita siap kecewa, jika anak berbuat salah dan tak sesuai ekspetasi kita.
mendidik butuh kepercayan tingkat tinggi. untuk tetap memberi kepercayan, meski salah diulang berkali-kali.
mendidik butuh sabar tak terbatas, karena yang kita hadapi adalah makhluk yang sedang bertumbuh.