Perempuan Asing dan Siang yang Dingin
Satu kala siang yang panas, kita bertemu.
Kau terlihat rapi, kelihatannya ingin pergi.
Tapi, terlalu panas rasanya untuk menggunakan syal tebal dan sweater wool.
“Kau mau kemana?” aku membuka pembicaraan.
“Aku? Entahlah,”
“Bukan orang sini?”
“Aku bukan orang manapun,”
“lalu?”
Kau diam. Tersenyum.
“Yah, aku bukan siapa atau apa, aku tidak punya identitas.”
“Ah, masa? Tidak mungkin tidak punya. Toh, pemerintah selalu melakukan rekam data warganya,” aku berseloroh.
Kau tertawa. Tapi tidak matamu.
“Ah... Bukan itu, orang asing. Bukan. Identitasku sudah lama hilang, direnggut sesama,” ucapmu. Wajahmu sesaat mengeras. Perubahan mimik yang cukup cepat.
“Aku sudah tidak punya identitas, tidak ada hal yang menurutku jati diriku sebenarnya,” lanjutmu, “semua hilang bersama usiaku. Semua terenggut seiring aku mengetahui nyatanya dunia. Sedingin itu hidup, merasuk tulang, sampai aku tak bisa tidak pakai baju tebal ini.”
Giliranku yang diam.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku kembali.
“Mmm, mencari kehangatan.”
“Dimana?”
“Entahlah, dia bisa dimana saja.”
“Kalau sudah kau temukan, akankah kau menggunakan baju tipis kembali di terik panas ini?”
“Aku sudah akan menjadi debu ketika menemukan kehangatan itu, orang asing.... Ah, bisku sudah datang. Senang bisa berbincang denganmu.” Ucapmu memutuskan pembicaraan sepihak. Kau berjalan dengan mantap dan tenang ke tangga bis sebelum berbalik padaku.
“Kau tahu? Kalanya tempat terbaik untuk menjadi sejujurnya dirimu adalah ketika bertemu orang asing. Terima kasih,”
Dan aku kau tinggalkan kebingungan oleh senyum setengah seringaimu.












