Masih ada yang terselip di dada tapi betul - betul tak bisa diceritakan meskipun kepada Allah
Color Me Curious
untitled
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

pixel skylines
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her
EXPECTATIONS
cherry valley forever
Noah Kahan

tannertan36
Fieri Frames
occasionally subtle
Not today Justin

Jimmy Eat World

No title available
Claire Keane
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Cosmic Funnies

#extradirty
YOU ARE THE REASON

seen from United States
seen from Philippines
seen from Switzerland

seen from Türkiye
seen from Ecuador

seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Russia

seen from Bangladesh
seen from France
@baikuntukbersama
Masih ada yang terselip di dada tapi betul - betul tak bisa diceritakan meskipun kepada Allah
Terbangun di sepertiga malam karena terlintas wajahnya seperti mimpi yang sangat buruk padahal dulu merupakan mimpi yang sangat indah
Terbangun di sepertiga malam karena mual muntah yang saya rasa adalah udara AC yang terlalu dingin tapi ternyata tidak, memang karena sedang syndrom saja
Terbangun di sepertiga malam karena sadar bahwa waktu ini adalah tempat bercerita & mengadu kepada Allah yang paling tenang & paling jujur
Aku telah menceritakan semua kepada Allah dan menyerahkan kepada Allah akan semua masalah yang terjadi di hidupku agar Allah yang mengatur semuanya
Ternyata do’a agar dijadikan hamba Allah yg taat yang shalih/shaliha memang perlu diulang terus menerus, bukan hanya sekali dua kali
Teringat suatu momen saat di airport dan di pesawat, aku nangis bukan karena meninggalkan kota itu tapi aku nangis karena “aku bisa ketemu lagi sama dia gak ya?”
Saat itu thawaf putaran pertama, aku berusaha mengikuti do’a yang sebelumnya belum pernah aku dengar sambil membaca buku panduan. Namun aku fokus berdo’a pada sesuatu yang sangat diinginkan.
Pagi itu aku melihatnya berjalan dari arah belakang ke depanku dan menyingkap kain ihramnya pada bahu sebelah kanan
Momen itu masih terekam jelas di ingatanku. Memang ada vibes yang berbeda. Dan lagi - lagi aku tetap menghiraukannya
Hari itu pertamakali aku melihat kedua matanya meskipun sedikit tidak jelas dan sambil mengantuk
“dia seperti seorang anak yang baik-baik dan orangtuanya pasti mendidik & menjaganya dengan sangat baik”
Momen itu adalah momen pertama aku melihatnya dan langsung memperhatikannya, entah mengapa seperti ada vibrasi yang berbeda namun aku hiraukan
Ada hal yang membuatku terasa lemah beberapa waktu belakangan ini. Jawaban simpelnya adalah luka. Tapi yang masih menjadi pertanyaan besar adalah
luka yang mana?
Mencoba flashback dan berbicara menceritakan ulang kepada Allah tentang semua ini. Ternyata sebegitu banyak yang belum benar - benar selesai. Akupun tidak tahu harus bagaimana menyelesaikannya
Psikiater ku sempat bilang “kamu punya 2 pilihan yaitu memilih pergi atau tinggal dengan berdamai dengan semua yang ada”
Sedikit akan aku ceritakan bagaimana struggle nya aku dalam ikhtiar berobat ke dokter spesialis. Awalnya aku sering vertigo akhirnya aku pergi ke dokter spesialis syaraf dan tidak ada kelainan di organ dalamku. Vertigo tersebut memang membuat sekedar menggerakan tangan langsung pusing & muntah hingga aku menyatakan “sakit yg paling gak enak adalah vertigo, gerakin anggota tubuh dikit aja gak mampu” dan drama vertigo yg aku alami alhamdulillah berakhir di tahun 2024 puncak vertigo parah ketika langsung ke ugd yg berada di sebelah gedung kuliah
Suatu waktu aku merasakan kesulitan tidur yang bikin stress banget. Aku mencoba konsultasi ke psikolog hingga psikiater online dan aku didiagnosa depresi meskipun aku merasa secara emosi aku baik - baik saja. Sekedar ingin memperbaiki kualitas dan jam tidur akhirnya aku datang ke psikiater offline dengan diagnosis yang sama
Apakah setelah konsultasi dengan psikiater offline aku lebih baik? Jawabannya iya karena ngantuk lebih terasa dan keinginan bergerak untuk beraktivitas menjadi ada meskipun dengan effort yang menurutku besar. Alhamdulillah berangsur vertigo yang aku alami tidak kambuh lagi, kalaupun kambuh hanya sekedar pusing biasa, minum obat vertigo dan tidur sehingga drama muntah-muntah sangat minim.
Vertigo selesai dan terkendali, tapi masalah lain timbul yaitu masalah pencernaan, dokter spesialis penyakit dalam mendiagnosis bahwa aku gerd dan itu tidak sembuh selama 3 bulan. Berliaupun selalu berpesan untuk menjaga kesehatan mental, tidak stress dan fokus terhadap pengobatan psikiater. Hampir menyerah tapi hal itu yang akhirnya aku ceritakan ke psikiater.
Dalam satu tahun ada beberapa kali pergantian jenis obat psikiatri yang dikonsumsi. Seperti trial & error. Ada yang efeknya gak nyaman di lambung dan usus, ada juga yang efeknya bikin gabisa bangun walaupun sudah pasang alarm dan sudah dibangunkan orang rumah. Memang berat menjalaninya dan faktanya tidak ada yang mampu memahami hal tersebut kecuali profesional medis seperti berbagai dokter spesialis yang aku temui dan psikolog tempatku konseling untuk membantuku menghadapi disfungsi sosial yg aku rasakan.
Hampir setahun juga aku menyadari bahwa siklus haidku berantakan dimana kecenderungannya adalah tidak haid selama berbulan-bulan mungkin sekitar 3 bulan lebih dan baru bisa haid setelah dipancing obat yg mengandung progesteron, meskipun setelah mengkonsumsinya merasakan mental breakdown yang parah banget lebih-lebih dari sekedar badmood menjelang haid. Akhirnya aku menjalani treatment selama 3 bulan dan tepat bulan ketiga dokter spesialis obgyn berpesan “gapapa kalo gak haid selama 3 bulan atau lebih, selama tidak menikah/promil dalam waktu dekat, menurut saya lebih baik fokus pada pengobatan psikiater saja”
Aku berusaha bersikap tenang, berdamai dengan keadaan yang terjadi di tubuhku, karena advice dari beberapa dokter spesialis dari cabang yang berbeda adalah sama yaitu fokus pada pengobatan psikiatri. Tentu ini cukup mengurai pikiranku agar kepalaku tidak penuh.
Tepat di awal 2026 aku mengalami keluhan nyeri perut bagian bawah, dokter spesialis penyakit dalam bilang bahwa ini infeksi saluran kemih, injeksi antibiotik dalam cairan infus dan obat jamur alhamdulillah membantu mengurangi frekuensi terjadinya sakit, tidak lagi memunculkan demam dan mual meskipun kadang sakitnya masih berasa dan berliau berkata “ini udh dikasih antibiotik dan obat jamur, gak mungkin dikasih obat lain yg paten, lebih baik berdamai dengan sakitnya dan minum pereda nyeri”
Sejak saat itu aku berusaha berdamai bahwa nyeri ini bagian dari hidupku yang harus aku terima dan cintai meskipun kalau kambuh bener - bener bikin nangis karena aku gak paham sumbernya dimana berhubung USG obgyn menyatakan bahwa rahimku sangat normal
Dari sini aku sadar bahwa ada luka di hati yang belum selesai entah bentuknya seperti apa aku gak tau, tapi saat ini aku berusaha untuk mengurainya dan menyerahkan kepada Allah karena hanya itu yang aku bisa saat ini
Barangkali suatu hari nanti akan ada yang melihat postingan ini.
Aku terinspirasi dengan salah satu postingan di reels dimana kita perlu membuat dokumen “the day after my last day” yang berisi semua informasi tentang wasiat serta akses apapun yang kita miliki seperti harta dan catatan hutang.
Postingan tersebut tentu sangat menarik hati terlebih beberapa bulan belakangan ini rasanya seperti sangat berat menjalani hidup & tanggungjawab sebagai manusia. Mungkin banyak orang yang ingin tinggal sangat lama di dunia tapi ternyata hal ini tidak berlaku untukku saat ini. Memang berat, namun bukan berarti berniat untuk menyakiti diri sendiri apalagi dengan cara yang tidak semestinya.
Tapi setidaknya memulai mempersiapkan hal tersebut adalah bagian hidup yang sangat penting, terlebih saat ini merasa sebentar lagi akan selesai dan mungkin ada satu - satunya jalan cita-cita yang perlu dilepaskan.
Aku telah berencana untuk mengejar target bulan lalu dan sudah punya list banyak yg akan berpotensi selesai. Dengan penuh keyakinan
“target tahun ini insyaa allah tercapai, bahkan mungkin bisa lebih”
Namun ternyata seiring dengan berjalannya waktu banyak drama yang terjadi dan tidak perlu dijelaskan satu - satu. Ada yg tidak prospek tapi malah selesai. Ada juga yg “pasti selesai bulan ini” tapi ternyata mandek karna faktor eksternal.
Disana aku tersadar bahwa apapun pekerjaan kita, tujuannya memang buat Allah, yakin itu harus tapi jumawa yang gaboleh. Tepat 31 desember 2025 aku bilang “pencapaian kita kurang 1 lagi dari target” lalu pergi ke acara tahun baru dan besok masuk lagi bikin laporan.
Amaze nya pas lagi bikin laporan, setelah disisi2 ulanh ternyata ada 1 yg keselip dan gak sadar kalau bisa diclaim meskipun dengan disclaimer. Rasanya kaya mengulang momen
“Pertolongan Allah datang di saat detik - detik terakhir, di saat memang sudah mentok karena sudah di tanggal 2, di saat kita sudah pasrah, sudah menerima dan sudah menyerahkan semuanya kepada Allah tanpa harus overthinking sedikitpun”
Benar, menghadapi seseorang yang NPD selama itu bukan keluarga terdekat, memang lebih baik langsung cut off, gak peduli dan silent treatment
Setelah dewasa di pendidikan jenjang ini baru sadar bahwa manajemen diri, manajemen waktu, manajemen pekerjaan bukan hanya tentang rajin dan tertib tapi juga ada faktor menyeimbangkan emosi dan fisik yang ternyata sangat penting untuk menunjang semua hal tersebut.
Dulu waktu di pendidikan sarjana, meskipun banyak organisasi yg dilakukan, tugas besarpun ada, tapi waktu terasa lebih longgar sehingga banyak space untuk mengistirahatkan fisik dan mental.
Namun di jenjang pendidikan magister ini, fokus hanya bekerja dan menuntaskan kuliah. Awalnya bisa begadang tapi semenjak akhir semester 3 rasanya tubuh tidak bisa berlari sekencang itu dan tentu akhirnya juga berdampak ke mental karena ada perasaan bersalah karena tidak mampu memaksimalkan yang sudah ada.
Kepemimpinan atau leadership bukan hanya tentang berapa lama kita memimpin, bukan juga seberapa tinggi pendidikan kita, bukan juga seberapa besar gaji kita atau title jabatan kita
Kepemimpinan adalah sebuah seni bagaimana mengatur strategi agar orang lain ikut serta mampu mencapai target bersama dengan hati yang lapang tanpa tekanan
Aku bercerita tentang penelitianku kepada seorang teman tentang peran ayahku di sana. Temanku bilang “raan…. Ayah kamu baik banget”
Aku gak menyangka aku akan dibantu sejauh ini, sebisa apapun yang ia punya. Terkadang akupun juga berpikir “apa ada laki - laki di luar sana yang se-effort ayahku dalam menunjukkan cintanya kepada anak perempuannya yang lemah ini”
Sampai sekarang, aku belum menemukan sosok seperti itu. Seseorang yang mau hadir membantu saat aku kehabisan uang, yang menerima bahwa anak perempuannya ini sedang sakit dan perlu berobat rutin.
Bahkan untuk urusan pencarian data, berliau sampai kontak temannya padahal gak deket. Di saat umurnya sudah lebih dari 60 tahun.
Mungkin kalau Allah memanggilnya terlebih dahulu, aku adalah salah satu orang yang paling kehilangan dirinya, semacam tidak ada lagi tempat pula, tempat mengadu, tempat berlindung dan tempat yang me support aku dalam kehidupan dunia yang semakin keras dan semakin sulit untuk dijalani.
Dulu, aku mengikhlaskan nenekku yang sudah meninggal. Tapi kenangannya melekat. Tidak ada lagi seseorang yang mampu memahami aku selain dia di dunia ini, yang mengetahui “aku kenapa” tanpa aku harus mengulang cerita yang menyakitkan. Mungkin sudah beberapa tahun berliau meninggal, tapi kalau teringat entah mengapa rasanya masih ada terasa sesak di dada.
Aku tak akan meninta siapapun yang akan jadi suamiku harus seperti itu. Tapi aku akan mencarinya & menemukannya sendiri, setidaknya seorang yang mampu melindungiku dan memperjuangkanku.
Turun langsung ke lokasi penelitian yang dimana keadaan sosial tidak akan bisa ditebak dan cukup variatif. Alhamdulillah sangat bersyukur karena pekerjaan beberapa bulan belakangan ini berada di front liner dan langsung berkomunikasi bahkan canvassing ke target pelanggan. Sehingga untuk mengumpulkan responden door to door tetap sulit tapi karna sudah terbiasa jadinya rasa sulitnya berkurang.
Dalam sehari ternyata mampu menyebar 20 kuesioner dan mengunjungi, berkenalan dan berbicara ke warga setempat.
Saat itu hujan lebat, kami berteduh di sebuah minimarket hingga hujan reda dan berhubung adzan ashar sudah berkumandang, kami melanjutkan perjalanan dengan mencari masjid di sebuah komplek untuk beristirahat sejenak.
Hari itu ada salah seorang warga komplek meninggal dunia dan disholatkan di masjid tersebut. Saya teringat ketika di masjidil haram & masjid nabawi selalu melakukan sholat jenazah setiap setelah sholat fardhu. Akhirnya kamipun ikut sholat jenazah tersebut, meskipun kami samasekali tidak mengenalnya tapi kami yakin bahwa sesama muslim perlu untuk saling membantu setidaknya dalam hal beragama. Barangkali kami adalah perpanjangan tangan Allah dari kebaikan jenazah tsb selama di dunia meskipun tidak kenal samasekali tapi langkah kaki ini terbawa untuk sholat di masjid tersebut dan hati kamu tergerak untuk ikut mensholatkannya yang namanya saja kami tidak tahu. Meskipun pada hari itu ketika pulang, kami jadi banyak mendengar berita orang - orang meninggal di hari yang sama.
Setelah itu mengobrol dengan warga setempat yang ternyata warga di komplek sebelah dan membahas keperluan data kuesioner kami. Karna satu dan lain hal akhirnya kami sholat maghrib juga di masjid tersebut, namun suasanya berbeda.
Di tengah lintasan keluhan batin di kepala “Ya Allah kenapa hidup berat banget ya”. Ada keluarga berteduh di masjid tersebut membawa banyak barang hingga televisi pun dibawa & charge handphone seperti merasa sangat aman. “Kenapa harus bawa TV ya? Mereka pindahan? Tapi kenapa harus mampir masjid dulu?”
Kepala keluarganya ternyata pengurus masjid tersebut, ketika aku bertanya alamat, aku melihat matanya yang sangat sayu dan begitu jelas lingkaran hitamnya. Dari situ aku berpikir “Terlihat jelas sebuah keluarga yang kehidupannya lebih sulit dibanding sekedar mencari data penelitian yang mungkin sudah cukup menguras batin, mental, energi, biaya dan dengan Allah memberi kenyamanan hidup selama ini adalah hal yg membuat saya sadar bahwa kenyamanan hidup ini adalah pemberian Allah yang tidak semuanya merasakan
Akhir - akhir ini merasa jadi seseorang yang lebih pasrah kepada Allah meskipun karena sudah terlalu lelah untuk terus berpikir “bagaimana” untuk berbagai hal dan masalah yang menghampiri.
Seharusnya beberapa hari kemudian akan membeli emas tapi qodarullah di masa sekarang sold dengan uang yang sudah cair. Tapi hal tersebut adalah jalan yang terbaik dari Allah karena laptop saat ini ada kerusakan di hardware sehingga perlu untuk membeli laptop baru untuk mengerjakan tesis. Saat ini aku hanya mengikuti apapun petunjuk dari Allah.
Aku paham bahwa ini adalah bagian petunjuk dari do’a - do’a yang pernah aku panjatkan bahwa keinginan terbesar saat ini adalah menyelesaikan apa yang telah dimulai yaitu lulus pendidikan S2 tentunya karna tekanan finansial, meskipun sampai sekarang belum tahu apa yang akan dilakukan dengan ijazah tersebut tapi aku yakin ilmu dan pendidikan yang selama ini telah dimiliki dan masih perlu untuk diupgrade dan diupdate adalah hal yang akan selalu melekat selama nafas masih berhembus ataupun dapat ditularkan sebagai amal jariyah yang pasti akan bermanfaat entah bagaimana bentuk realisasinya nanti
Tidak sekedar mencari penghidupan yang layak dalam sudut pandang finansial tapi bagaimana agar dapat menerapkan berbagai macam ibadah yang sudah diterapkan dan menjadikannya sarana untuk menguatkan aqidah dan tauhid
Tidak sekedar mencari penghidupan yang layak dalam sudut pandang finansial tapi bagaimana agar kemaslahatan dan kemakmuran itu tidak hanya sekedar teori ataupun visi misi melainkan untuk direalisasikan dalam wujud yang nyata.
Tidak sekedar mencari penghidupan yang layak dalam sudut pandang finansial tapi bagaimana agar dikenang sebagai sosok yang baik ketika usia sudah tidak lagi bertambah, entah sebagai inspirasi untuk melakukan kebaikan dalam versi yang sama ataupun berbeda serta menambah penolong di hari dan tempat pengadilan yang sudah pasti berlaku adil.
Tidak sekedar mencari penghidupan yang layak dalam sudut pandang finansial tapi bagaimana agar hasil karya yang telah dibuat memiliki dampak positif yang besar ketika diri sudah tidak ada lagi.
Selamat datang di gerbang arena penerapan QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Untuk Semua Ketidakadilan di Dunia Ini, Kita Jadi Sadar Kenapa Ada Akhirat
@edgarhamas
Untuk semua janji-janji yang dikhianati, ada harinya nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk semua kezaliman yang membuat seseorang merasa tinggi dan tak tersentuh mahkamah manusia, akan ada masanya mahkamah Allah yang Mahaadil itu bertindak tegas, lugas dan memutuskan dengan kebijakan paling paripurna.
Semua yang terjadi dewasa ini membuat kita sadar; apa yang tak selesai di dunia, dijawab di akhirat sana.
Kisah tentang Fir'aun, Namrudz dan Abrahah; mereka melakukan kezaliman bertahun-tahun. Yang mereka rasakan menjelang kematiannya sungguh belum setara dengan apa yang telah mereka lakukan pada umat manusia.
Di situlah orang-orang beriman yang merasakan kejahatan mereka mengatakan pada para tiran:
"...Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini...", sebagaimana penyihir Fir'aun yang bertaubat itu berikrar sungguh-sungguh.
Ayat surat Ghafir ke-17 itu membuat kepalaku dingin, "Pada hari ini (akhirat) setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
Kisah Ghazzah belum selesai, keadaan negeri tak baik-baik saja; sementara kita tak tahu banyak mesti berbuat apa. Kegundahan mencekam, kekhawatiran membuat hati makin meradang.
"Kapan ini semua akan berakhir?", akal sehatmu mulai bertanya-tanya.
Tapi Allah sejak awal memastikan, lewat lisan Musa dalam ayat Thaha ke-52, "...Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa."
"Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Mari menjalani kehidupan dan berbuat sesuai dengan kapasitas kita.
Tetap berjalan dan jangan biarkan pikiran berlebih membuat kita tumbang.
Ada harapan di balik masa sulit.
Ada bertumbuh di balik penempaan.
Ada pelangi indah setelah badai.
Itu, sudah jadi garis sunnatullah yang tak pernah terganti. Mari layakkan diri untuk dibersamai-Nya, yang tak pernah sekalipun ingkar janji. "...Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?" (QS Ar Taubah 111)