Belum bisa nulis lebih banyak, masih kaget sama keajaiban ini :’)
🪼
art blog(derogatory)
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cosmic Funnies

pixel skylines
The Bright Sessions
🩵 avery cochrane 🩵
I'd rather be in outer space 🛸
Keni
Show & Tell

Jimmy Eat World
ojovivo
YOU ARE THE REASON

❣ Chile in a Photography ❣

blake kathryn
Monterey Bay Aquarium
Phantogram Three
Today's Document

Game Changer & Make Some Noise
hello vonnie
seen from Vietnam
seen from Finland

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from Germany
seen from Ecuador

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Bulgaria
seen from Indonesia
seen from Finland
seen from Brazil
@baiqnadia
Belum bisa nulis lebih banyak, masih kaget sama keajaiban ini :’)
I’m still trying to enjoy this phase with all my heart, as advanced-age pregnancy hits everyone differently, but for me, it’s REALLY EXHAUSTING, and I’m still dealing with the fear of having to start the process all over again (even though I’m only halfway through). I just want to get through this time as best I can and enjoy it. Inshaallah, I hope so.
Jurnal Kehamilan Kedua (18 Minggu)
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.
Trimester 2 ini kuisi dengan (mengusahakan) rutin yoga 2 kali seminggu, Sabtu/Minggu dan Selasa. Yoga buat lahiran normal/VBAC, ya? Bisa jadi, insyaallah. Tapi birthplan aku sih lebih ke sesimpel ini: ibu dan bayi selamat, sehat, pulih, dan bisa selancar mungkin beradaptasi ke fase menyusui. Jujur aku pengin banget bisa dikasih kesempatan menyusui lagi dalam keadaan yang bugar, that’s why dari awal tetap ingin kehamilan yang fit. Begitu aman ya, sodara-sodara?
Dokter Dian katanya masih optimis meskipun pasiennya ini 38 tahun, dengan riwayat anak pertama sc, “Bisa, bisa nih, Mba, lahiran normal ini. Kita cek lagi bulan depan, ya.” Dokternya selalu nyapa aku “mba” btw, hahaha.
Adik tuh selain selalu lapar, tapi giliran mama yang kadang ilfeel sama makanan, dan akrobat kalo pas dicek USG. Dung dung dung! Muter-muter. Gapapa Dik, puas-puasin keliling sebelum nanti kantongnya makin sempit karena badan Adik tambah gede ya, sayang.
Ini kalau Mama diem, Adik belum kerasa geraknya, mudah-mudahan makin kuat kamu yaaa. Kita saling terkoneksi dan menjaga satu sama lain.
Kakak ya? Semakin nyadar dia, Adik katanya girl (masih mau dicek dokter lagi bulan depan). Kakak udah nyariin token kalau Adik diajak main lego, ada lego token yang girl gitu pake celana kuning, “Ini Adik kalo dia udah bisa main, Ma. Pake ini, aja.” Oke Kak.
Bapak dan Mama belum tau sih, Sangga mau dipanggil Kakak atau Mas. Bapak kekeuh dipanggil “mas” aja tuh Sangga, jawa banget emang, “Ini tanah Jawa.” Duile bapaaakkk. Kalau Mama sih terserah Sangga sama Adik aja. Mungkin Bapak harus lebih sering ngomong atau ngebujuk Adik biar manggil Mas Sangga sejak dalem perut. Hihihi.
Makanan makin gampang masuk buat Mama, tapi makin cepet lapernya. Jadi akalinnya, makan sedikit-sedikit tapi sering. Nggak sampai 2 jam udah harus makan sesuatu, buah, apapun. Bismillah kenaikannya dalam batas sehat dan gizinya maksimal buat kamu, ya, Babyyyy.
Love love love dari Mama, Bapak, Kakak. Semangat bergerak, Adiiiikkk!
Jurnal Kehamilan Kedua (14 Minggu)
Rasanya semakin berat saat harus bekerja yang mengerahkan energi otak. Minggu ke minggu, tenggat pekerjaan silih berganti. Lelah, kantuk tak tertahan, bercampul mental-state yang naik-turun bikin rasanya ekstra-ekstra berat. Aku tahu mensyukuri fase freelance dengan waktu istirahat yang fleksibel adalah harus, tapi mengakui kalau kehamilan kedua saat usia hampir 38 tahun jauh lebih melelahkan. The load is just over the roof.
Ya, memang nggak kerja kantoran 9-5 lagi. Tapi sudah ada Kakak Sangga Si Anak 6 Tahun yang semakin nempel ke kami berdua, Mama dan Bapaknya. Weleh-weleh, pol both happy and riweuh. Hehehe.
Rezeki Adik insyaallah selalu mengalir, lewat Bapak, lewat Mama, bahkan lewat senyum-peluk-dan-kasih sayang Kakak. Adik is trully blessed. Mama selalu mendoakan kebaikan dan keselamatan dalam pertumbuhanmu, di dalam tubuh Mama ya, Sayang. We think about you every second.
And we know you too ….
Adik yang selalu lapar, dan kalau bisa minta asupan setiap jam. Hehehehe. Keliyengan, Mama, kalau sampai kurang. Semoga dicukupkan selalu, ya, kita. Kakak juga nambah nafsu makannya, makin gede dia. Alhamdulillah. Sehat-sehat juga untuk Bapak yang paling jagain kita semua, we love you soooo much, Pak.
Favorit selama trimester 1 lalu, meskipun awalnya banyak dimuntahin. Lama-lama tercipta list ini:
Soto daging
Malatang/Shechuan noodle
Kimbab
Buah-buahan
Nasi balap puyung
Somtam dengan seafood matang
Sambel kreni/krecek (ini belom kesampaian, sih)
🤤
Rutinitas Harian Ibu Baru (dari Bayi Usia 2 Minggu)
*Aku masih dalam masa nifas, jadi jadwal sholat, puasa, mengaji tidak masuk dalam daftar, ya.
00.00-06.00 menyusui Sangga, dia biasanya butuh makan setiap 1-3 jam sekali.
06.00 makan buah atau susu
07.00 mandiin Sangga
07.30 nyusuin Sangga
08.00 “ngejemur” Sangga 15 menitan. Biasanya Sangga dijemur sama Bapaknya, tapi aku yang bantu nyiapin (nyapu+ngepel) venuenya. Karena matahari langsung jatuhnya di dapur kami, jadi kami mutusin untuk jemur Sangga di sana. Dilanjut gendongin dia sampe tidur.
09.00 sarapan, dilanjut nyuci piring, nyuci baju, jemur, setrika, dan menyisir tugas-tugas domestik lainnya yang belum tuntas. Penutupnya, setelah keringetan, pliket, segala rupa, aku mandi agak lama. Syukurlah, Sangga masih termasuk bayi merah yang tidurnya bisa lelap banget selama dia udah bersih dan kenyang.
10.30-11.30 Sangga biasanya bangun karena lapar dan popok yang udah nggak nyaman
12.00 makan siang, dan biasanya kugunain untuk ngecekin medsos.
13.00-14.00 jam-jam bangun Sangga selanjutnya. Aku belum bisa tidur siang juga karena jam-jam segini paket biasanya dateng (masih minggu ke-2, paket berisi kado-kado Sangga dari teman dan keluarga masih terus berdatangan).
14.00 power nap (kalo bisa)
15.00 mandiin Sangga, dilanjut nyusuin doi
16.00 mata Sangga biasanya liyer-liyer ngantuk, sambil itu biasanya dia kugendong ke teras buat angin-angin sepoy alami (karena setengah hari udah di kamar ber-AC)
17.00 biasanya ada waktu buat rebahan atau makan buah, sambil nungguin jam buka puasa
18.00 makan malam bersama keluarga
18.30 Sangga nyusu lagi. Ganti popok bukan lagi menjadi tugasku setelah Dimaz pulang kantor, tongkat telah diestafetkan
20.00-23.59 Jam 8 malem, biasanya udah mulai matiin lampu kamar buat istirahat, si Bos kecil biasanya akan kebangun dan minta disusuin tiap selang 1-2 jam berikutnya. Mantap-mantap-mantap!
The end. Enakan jadwal pas hamil, ya? Hehehehehe, disyukuri aja. Sekarang udah ada mata indah yang nemenin seharian :3
Yuk Simak Makanan Dan Minuman Yang Cocok Untuk Bumil!
Ceritanya aku melanjutkan tentang fase suami yang menghadapi kehamilan istri anak pertama. Pada pengalamanku kami sama-sama buta dengan seluk beluk kehamilan. Istriku mungkin lebih sering atau mulai banyak bertanya hingga baca buku soal serba-serbi kehamilan. Sebagai suami aku tidak mau kalah, ya paling simpel adalah mencari di internet. Tanya sahabat yang pernah mengalami kehamilan dan sesekali ikut istri kalau ada kelas-kelas pelatihan.
Selama kehamilan Sangga, biasanya aku membelikan/membuatkan:
1.      Kelapa Muda
Kata orangtua, kelapa muda atau degan bikin kulit bayi bersih. Biasanya aku membelikan sepulang kerja atau istriku membelinya sepulang kerja sembari jalan ke kontrakan. Dia paling senang kalau degan yang tipis dan banyak airnya. Karena pulangku selalu malam sekitar jam 8 malam aku biasa membeli di depan Gor UNY atau di daerah Pogung
2.      Buah-buahan; buah naga, mangga, jambu bangkok
Buah-buah di atas merupakan buah yang digemari istriku serta buah yang tahan tanpa dimasukan ke dalam kulkas. Maklum waktu itu kami tinggal di kontrakan yang memiliki kulkas, jadi harus cerdik memilih buah yang tahan tanpa mesin pendingin.
3.      Jagung Rebus
Sepulang kerja biasanya aku membeli jagung manis mentah. Kupotong-potong kecil-kecil seukuran sayur asam. Rebus aja kasih garam dikit kalau mau tak masalah. Sekitar tiga menit jagung bisa dinikmati.
4.      Telur ceplok/dadar
Telur adalah pendamping kala menikmati jagung manis rebus. Kalau telur dadar aku menambahkan daun bawang, bawang merah dan cabe rawit. Kalau kamu suka tambahkan tepung terigu sedikit biar telur menjadi mengembang. Kalau terlur ceplok yang seperti biasanya itu. Pastikan telur matang karena ibu hamil tidak disarankan makan yang setengah matang.
5.      Mie Goreng
Ini adalah penggoda utama terutama bagi istriku. Sesekali boleh lah ia mencicipi atau aku sengaja membuatkannya. Sebulan dua kali bolehlah asal tidak terlalu sering. Mau goreng atau rebus, mau pedas atau sedang, mau Indomie atawa Lemonilo pokoknya tak bikinin.
Kunci ibu hamil adalah tidak stress. Pastikan semua keinginannya terpenuhi dan jangan ajak dia berdebat. Kalau mau debat atau memverifikasi kebenaran asumsimu lakukan di hadapan dokter kandungan ketika kontrol rutin. Semangat, Bapak!
Banguntapan, 6 Mei 2020
Dimaz
Jurnal Kelahiran Sangga (Bagian Ketiga: Menyusui)
Jumat, 24 April 2020. Pagi pertama Sangga bersama aku dan Dimaz, diisi oleh kekaguman kami padanya. Perawakannya yang terlalu lucu untuk anak manusia, gemas bukan main. Bayi ini dilahirkan dengan bobot 3,7 kg dan panjang 51 cm. Cukup besar, kata setiap orang yang mendengar info ini. Kami sempat terlena, belum sadar aja kalo ada tugas tak kalah menantang sedang menunggu.
Dokter anak yang mengantar Sangga, mulai memaparkan keadaan bayi kami yang alhamdulillah sehat-sempurna-lengkap. Selanjutnya, kami sebagai orang tua perlu telaten untuk menyusuinya. Minimal 2 jam sekali, demi melatih Sangga, sekaligus merangsang kelenjar payudaraku untuk melepaskan ASI sesuai kebutuhan bayiku ini.
Ternyata tidak mudah. Apalagi kondisiku masih terbatas mengizinkanku untuk berbaring dan menghadap samping kanan/kiri. Kondisi ini membuatku mulai menyusui Sangga sambil tiduran. Sangga kelihatan masih beradaptasi dengan putingku, meski instingnya membuatnya mau menyusu. Kami masih menyodorinya sesekali, tidak sesering yang dokter sarankan. Mungkin karena Dimaz dan aku sendiri menganggap Sangga masih punya cadangan makanan hingga 3 hari setelah lahir, dan di hari ketiga aku optimis ASI bisa mengalir lancar.
Kami mengasuh Sangga seperti biasa, hingga pada Sabtu pagi, ada kabar yang disampaikan oleh dokter anak kami. Berat Sangga turun hingga 9% dari berat lahirnya. Dokter anak memberi batas bahwa sampai besok berat bayi tidak boleh turun melewati batas 10% karena akan sangat berisiko untuk bayi. Ada semacam “ancaman” yang disampaikan dokter anak, kalau sampai ASI belum mengalir dan bayi masih kekurangan nutrisi dari ibunya, maka akan disarankan menambahkan susu formula (sufor) pada diet bayi kami.
Terenyak. Bukannya aku anti banget sama sufor. Namun, aku dan Dimaz yang sebelumnya getol belajar tentang ASI, dan sangat percaya betapa penting serta praktisnya jika bayi berada dalam supply ASI yang lancar. Kami merasa bersalah karena berat Sangga susut sampai segitu. Aku tahu banget, bayi baru lahir memang kebanyakan susut beratnya tapi setelah mendengar sendiri, rasanya masih kaget.
Nggak lama terlarut sedih, aku dan Dimaz bertekad untuk lebih telaten dan disiplin melatih Sangga menyusu. Senang sekali karena pada malam sebelumnya aku sudah dilatih bangun, duduk, dan berjalan pasca operasi. Mobilitasku jadi lebih lancar, dan aku mulai bisa beraktivitas seperti biasa. Aku menyusui Sangga sambil duduk. Yang ternyata jauh lebih nyaman dan efektif daripada saat aku mencoba sambil tiduran.
Hari ini kami juga kedatangan tenaga spa (pijat dan keramas untuk ibu) yang sangat ceriwis tetapi justru membantu sekali. Dimaz saja mengakui kalau setelah kedatangan Mba Atik, begitu namanya, kami dapat tambahan ilmu dan semangat untuk menyusui. Aku pun jauh lebih rileks. ASI-ku sudah keluar meskipun masih irit-irit. Sangga pun mulai disiplin kami bangunkan untuk minum sesering mungkin setiap 2 jam sekali. Sorenya pun kami kedatangan terapis untuk pijat perawatan payudaya (breast care) yang membuat ASI serta kepercayaan diriku untuk menyusui, bertambah.
Malam minggu berganti ke Minggu dini hari tersebut kami habiskan dengan tak henti menyusui Sangga. Namanya bayi, ingin selalu tidur, nggak ada deh badai yang bisa membangunkannya, kami pikir. Sementara kalau sedang tidur, otomatis dia nggak akan mau ngenyot. Waduh, persoalan pelik orang tua baru.
Dimaz patut kuberi bintang 5 sebagai “Ayah ASI 2020” karena kesigapannya menjadi asistenku setiap menyusui Sangga. Dia lebih ahli membangunkan Sangga untuk mengenyot, mengamati apakah Sangga berhenti atau masih menyusu, dan pastinya selalu ikutan bangun seberapa malamnya pun itu. Aku bersyukur dia bisa sesadar itu dengan kebutuhan anaknya.
Pada pagi harinya, Minggu 26 April 2020, Sangga dibawa untuk dimandikan dan diobservasi. Aku dan Dimaz berpegangan tangan, siap-siap kalau nanti mendengar hasil yang disampaikan dokter anak. Berat tidak perlu lah naik, tapi kami sangat berharap usaha kami menjadikan beratnya tidak semakin turun.
Alhamdulillah, dokter sempat bertanya apa seharian-semalaman kemarin bayiku minum ASI, karena ternyata pagi itu di ruang bayi dia pup. Terbata-bata, kujawab kalau kami terus menyusuinya, dan ASI-ku sudah mulai mengalir untuknya. Setelah itu, Sangga lulus dari RS aka kami diperbolehkan pulang, karena kondisiku pun sudah baik dan aktif.
Nggak pernah kami menyangka, bahwa awal-awal menyusui saja sudah sedeg-degan ini rasanya. Bisa nggak sih kami se-effortless orang tua kami dulu? Keliatannya mereka selalu tanpa masalah dalam menyusui bayi. Atau, ya, kami tidak pernah tahu saja karena mereka biasanya tidak cerita. Mungkin sekali.
Sampai sekarang, kami masih terus melatih skill menyusui Sangga. Masih melatih pengamatan kami akan kebutuhan susu Sangga, terutama pada malam hari. Aku senang, karena dengan menyusui ini, intensitas komunikasiku dengan suami dan apalagi bayiku semakin meningkat. Kami saling berbagi afirmasi. Aku merasa Sangga mulai bisa menangkap pesan-pesan dari kami.
Pada sesi kontrol oleh dokter anak dua hari selepas bebas dari RS, berat badan Sangga tercatat naik 200 gram. Allohuakbar! Terus semangat, yaaa, Sangga, Mama, dan Bapak! Mari kita naikkan 800 gram lagi berat Sangga sampai bulan depan!
Aamiin. Bisaaa! (Inshaallah)
Tentang Fase Kehamilan Kami (Perspektif Suami)
Aku ingat betul pagi buta istriku membangunkanku. Semalam, kami tidur jam 12 malam sepulang acara “bakar-bakaran” iduladha di rumah sahabatku. Sebelum tidur istriku melihat flek di celana dalamnya, dia langsung menatapku sedih, pertanda dia mens katanya. “Sayang, nggak jadi hamil. Nggak papa ya?” Aku serta merta menenangkannya. Aku tidak pernah merasa perlu buru-buru, apalagi anak itu soal rezeki dari Allah. Nadia sudah kembali tenang. Lalu, kami pun tidur seperti biasa.
Kembali ke pagi itu. Sayup kudengar suara Nadia yang baru keluar dari kamar mandi, “Ternyata bukan mens!” katanya.
“Terus?”
“Sayang, tolong beliin testpack ya, aku mau cek,” ujarnya parau, yang hanya bisa kutanggapi setengah sadar.
Aku lalu bergegas berangkat ke apotek tak lupa ambil cincin kawin. Testpack sudah terbeli.
“Ada dua garis tapi satunya agak samar,” kami memandangi hasil yang sudah membuat istriku berbinar-binar haru tersebut.
Akan tetapi, waktu itu aku sendiri masih belum begitu yakin. Kami masih menjalani aktivitas kami seperti biasa. Sampai dalam beberapa hari setelahnya, istriku terus melaporkan bahwa flek terus muncul. Kami mulai khawatir, ini tidak biasa untuknya. Kalau memang ini mens, ya seharusnya darah keluar dengan lancar seperti biasanya. Kalau memang ini kehamilan, kenapa fleknya keluar terus?
Lalu kami ke RS Akademik UGM. “Aku sengaja nahan pipis hingga nanti ketika di USG dan cek urine” tutur istriku. Iya sih aku sempat googling kalau urin pertama sehabis bangun pagi itu merupakan indikator yang sangat akurat untuk mengecek kehamilan.
Setelah antri giliran kami bertemu dengan dokter Widya. Sebelumnya kami mencoba bertemu dengan dokter Esti, dokter yang direkomendasikan teman kerja istriku, tetapi pada waktu yang bersamaan beliau sedang membantu persalinan. Akhirnya, kami tidak masalah untuk bertemu dokter yang lain. Yang penting kondisi istriku bisa dipastikan.
“Ya, kalau dicek testpack dan hasilnya positif ya, berarti positif hamil” jelas dokter Widya mantap.
Akan tetapi, adanya flek terus menerus tampaknya merupakan indikasi yang patut diwaspadai sebagai ancaman keguguran. Untuk itu, oleh dokter Widya, istriku disarankan untuk bed rest selama seminggu. Aku ingat waktu itu kami baru saja pindah ke kontrakan yang jaraknya tidak jauh dari kantor istriku. Maka demi kenyamanan istirahatnya, selama seminggu kami balik ke rumah ibuku di daerah Banguntapan. Jaraknya 30 menit dari kontrakan ke rumah.
Istriku diberi obat-obatan penguat janin. Pada detik itu aku masih belum yakin kalau dia benar-benar hamil. Kami sudah melalukan dua kali tes kehamilan. Lalu pada suatu sore kami berniat membuat janji temu dokter di rumah sakit yang lain. Kali ini RS JIH yang jaraknya juga tidak terlampau jauh dari kontrakan dan rumah ibuku.
Di JIH kami pertama kali mencoba bertemu dokter Marie. Sebenarnya kami ingin coba ke dokter Eny seperti rekomendasi teman-teman istriku dan juga teman-temanku yang penah cek kandungan di sana., tapi saat itu dokter Eny sedang umroh.
Dari dokter Marie, kami mengetahui secara akurat bahwa istriku hamil dengan cara USG transvaginal, memasukan semacam kamera untuk melihat apakah sudah terjadi perkembangan janin atau kantong janin pada fase awal kehamilan. “Pak, ini sudah ada kantongnya,” tutur dokter Marie. Wah, hatiku saat itu bergetar sambil manggut-manggut.
Pada control berikutnya, kami mencoba konsultasi ke dokter Eny. Lalu, sebulan kemudian, akhirnya kami terpantik untuk mencoba konsul ke dokter Nurhadi Rahman. Alasannya, istriku sempat browsing tentang rekam jejak dokter Adi (demikian ternyata beliau disapa) secara online. Selain metode gentle birth dan hypnobirthing yang ia dalami, kami juga merasa jam prakteknya cocok dengan jam luang kami. Aku biasanya memiliki waktu longgar di sore hari atau Senin. Sedangkan istriku bisa di hari Sabtu atau seusai jam lima sore. Maka kami mulai mencari kemungkinan waktu yang seusai dengan kami berdua. Dokter Adi lebih cocok juga secara waktu. Kalau dokter Eny, ia hanya buka praktek dari pagi hingga jam 5 sore.
Bisa dikatakan kami mengalami ketidaksadaran kehamilan. Aku pribadi tidak peka pada hal ini, jadi setelah kami mengetahui bahwa istriku benar-benar hamil maka kami mulai menerapkan beberapa peraturan yang aman bagi kandungan.
Tidak naik turun tangga. Awalnya aku sempat khawatir dengan hal ini. istriku bekerja di lantai dua. Beberapa kali aku sering bertanya berapa kali ia naik turun tangga. “Dua kali ketika datang dan mau pulang,” ujarnya. Kalau ada pesanan gofood atau grabfood biasanya ada rekan kerjanya yang membantu mengambilkan. Wah, terima kasih ya!
Kehamilan istri membawa aku turut pada fase-fase yang dialaminya. Ibaratnya gini, istri hamil, suami juga turut hamil. Aku harus ikut menjaga asupan makanannya. Buah-buahan dan susu hamil juga tidak lupa aku beli. Aku mulai mengurangi makanan yang sekiranya membuat istriku tergiur. Misalnya, bikin indomie tengah malam. Sebenarnya boleh-boleh saja bikin indomie namun tolong dibatasi jumlahnya. Pokoknya jangan terlalu sering. Ya jelas yaa yang instan-instan harus distop dulu.
Lalu yang aku lakukan adalah banyak bertanya ke teman-temanku yang sudah melahirkan. Biasanya aku menanyakan di mana provider mereka? (kata “provider” aku dapatkan dari menonton channel Bidankita di bawah asuhan bidan Yessy di Klaten). Ada yang di Pantirapih dengan dr. Dani, Rachmi, Sadewa, Sakinah Idaman, dan Queen Latifa.
Biasanya mereka akan menceritakan tipikal dokternya, mulai dari yang nyantai, keras; ndak boleh makan ini-itu, atau yang super santuy. Lalu cerita mereka selama kehamilan layak itu didengar, syukur-syukur diingat. Perhatikan simptom-simptom mereka mulai dari trimester pertama hingga menjelang kelahiran. Apakah mengalami mual dan hilang nafsu makan ketika di trimester awal? Merasa lemas dan males beraktivitas. Lalu fase-fase lainya pasca melewati trimester pertama. Jika kamu mencatatnya juga tidak masalah, tulislah di note handphonemu. Siapa tahu ini berguna ketika kamu tengah bingung dengan kondisi kompleks kehidupanmu.
Banguntapan, 4 Mei 2020
Dimaz
Jurnal Kelahiran Sangga (Bagian Kedua: 3 Hari Untuk Selamanya)
Orang yang satu bilang, tak penting prosesnya, yang penting hasilnya sesuai target, atau apapun jalannya, tujuannya tercapai. Lalu, yang seorang lagi bilang, hasil bukan segalanya, yang penting prosesnya.Â
Well, aku percaya pada keduanya, tergantung konteks dan situasi. Dalam keadaanku dan Dimaz, kami telah menempuh segala proses yang mungkin dibutuhkan untuk mampu mewujudkan Birth Plan kami yang utama. Kami berusaha sebaik mungkin untuk melahirkan dengan alami. Meski akhirnya, kami berserah dan menjalani Plan B dengan hati yang lega.
Kami tiba di IGD RS pada penghujung hari HPL kami, 20 April 2020, karena malam itu aku terus-menerus merasakan kontraksi yang cukup teratur. Sesampainya di RS ternyata aku baru memasuki bukaan 1. Kami sempat ingin pulang dan menunggu di rumah. Namun, ternyata dokter menyarankan kami untuk memulai inap saja, karena kemungkinan bukaan saya akan menjadi lengkap keesokan harinya. Kami pun mengiyakan dan langsung mengurus administrasinya. Segalanya terencana dengan baik, kami pun tidak kagok karena sebelumnya kami paham dengan administrasi RS ini. Kami bahkan sudah mendaftarkan diri pada pregnancy club demi mengamankan tipe kamar yang kami mau.
Selasa, 21 April 2020
Malam itu, berganti dini hari, aku dan Dimaz beristirahat dengan lelap dan tenang, penuh optimisme. Paginya, kami beraktivitas seperti seakan berada di rumah, kami memilih berjalan kaki di sekitar bangsal dan naik-turun tangga untuk melancarkan bukaan. Sayangnya saat sore harinya, bukaan hanya bertambah menjadi 2 sempit. Kontraksi yang sudah terjadi rupaya tidak menambah bukaan dengan signifikan.Â
Rabu, 22 April 2020
Di luar harapan, bukaanku masih stuck, hingga siangnya dokter menyarankan untuk melakukan induksi dengan obat oral. Induksi obat dengan dosis 1/8 bagian. Kami lalu mengiyakan, dan betul saja kontraksi terjadi lebih “kuat”, setelah 6 jam observasi, dosis dinaikkan menjadi ¼ bagian. Malam itu, ternyata menjadi malam yang berat bagi kami berdua. Aku terus menerus merasakan gelombang cinta (kontraksi) dari hasil pacuan obat, selama kisaran satu menit setiap 5 menit sekali. Dan rasanya sungguh berkesan, tidak ada yang lebih ngilu dari nyeri tanpa henti selama hampir semalaman. Kesempatan tidur hanya kudapatkan selamat 5 menit istirahat dari datangnya kontraksi. Sleepless night otomatis dialami suamiku yang memantau kontraksiku dengan timer, memijat punggungku, mengganti botol air panas untuk kompres terus-menerus. Kami tidak mengeluh, meski aku memang mengerang tak henti. Bersyukur kami memilih kamar yang private, karena nggak kebayang kami harus berbagi kamar dalam situasi seperti itu. Dengan “tetangga” yang mungkin sedang istirahat, apalagi jika bayi mereka juga ada di kamar.
Kamis, 23 April 2020
Paginya dokter memastikan bahwa bukaanku sudah mencapai bukaan 4 menuju 5. Lendir darah yang ditunggu akhirnya luruh dan menampakkan diri. Aku sampai sujud syukur saking senangnya. Lambat, tetapi ternyata ada kenaikan. Hanya saja, kondisi tidak lagi memungkinkan kami untuk menunggu. Dalam hati, kadang aku terus menyesali: kenapa aku harus mengajak Dimaz ke rumah sakit hari Senin, kenapa nggak menunggu sampai lendir darah keluar dan secara alami kami mencapai bukaan 5 di rumah sih? Kenapa gegabah? Sulit, untuk nggak tergoda menyalahkan diri dan membayangkan skenario lainnya berjalan di kepala. Kenapa saat dokter menyarankan kami untuk mulai inap, kami nggak ngeyel saja, lalu pulang, menunggu, dan pilih melahirkan di bidan dekat rumah?
Oh pikiranku, liar berkubang dalam penyesalan. Namun, itu nggak sempat lagi kurasakan lebih lama. Kami harus menjalani proses selanjutnya, saat dokter menyarankan untuk induksi lanjutan untuk memacu bukaan semakin cepat lengkap.
Dan, kami melakukannya di ruang bersalin. Targetnya, sore aku sudah bisa melahirkan dengan normal. Ya, aku jalani, meski sebelumnya aku pun mengutarakan bahwa aku takut pada sakitnya yang mungkin akan lebih intens dari induksi obat. Suamiku, menenangkan sekaligus menyemangatiku. “Sayang, sebentar lagi kita bisa ketemu Sangga, lho. Kamu pasti bisa.” Dia berulang kali menenangkanku. Sayangnya, saat itu sakitnya sudah mencapai level kiamat. Berulang kali kumemohon pada suami agar aku langsung sc saja, dibius saja. Aku sudah tidak kuat. Aku lalu muntah dan mengeluarkan semua isi perutku. Benar-benar bukan situasi ideal setelah 2 hari yang panjang. Aku ingat ada momen saat aku seperti hilang kesadaran saking sakitnya, aku terbangun hanya untuk menyadari bahwa aku harus mengatur napas. Dimaz selalu ada di sampingku. Sampai akhirnya bukaan demi bukaan terus bertambah. Dokter kemudian memeriksa saat bukaanku sudah mencapai 9. Hingga dokter memutuskan memancing percepatan bukaan lengkapku dengan memecahkan selaput ketubanku. Satu jam lagi akan dicek apakah kami sudah siap untuk mengejan, bersalin.
Sedikit lagi, pikirku. Aku harus menahannya sebentar lagi.
Sampai pada waktunya, bukaanku tidak kunjung bertambah. Aku hanya bisa terus mengatur napas, menerima kontraksi yang hadir tanpa henti. Badanku sudah bersimbah keringat, dengan tenaga yang mungkin hanya datang dari semangatku untuk segera bertemu Sangga.
Allah mulai menunjukkan rencana-Nya pada kami, suster muncul dengan pesan dokter bahwa sc merupakan tindakan terakhir. Kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, bukaanku tidak kunjung lengkap, terlalu berisiko karena janinku sudah tidak punya perlindungan ketubannya lagi.
Kami bersiap memasuki ruang operasi. Segala persiapan terjadi sangat cepat, Dimaz segera mengurus administrasi yang diperlukan. Kalau mau jujur, kala itu aku sudah mulai berserah. Apa saja yang Allah suratkan, aku akan jalankan, asal izinkan aku bertemu anakku, izinkan dia lahir dengan selamat dan sehat. Itu saja.
Proses operasi berlangsung sangat lancar, bayiku menampakkan dirinya pada pukul 19.12. Aku tersenyum, hati ini lega, selega-leganya. Meski malam itu, aku belum bisa melihat bayiku langsung, suamiku sudah melihatnya dan memberi foto dan videonya menangis. Dia sangat indahhh. Sangga Asa Kelana, kamu adalah anugerah, Nak. Aku lebih terenyuh ketika Dimaz akhirnya bilang bahwa dia menangis sesenggukan, pecah, ketika melihat aku masuk ke ruang operasi. Hatinya remuk harus melihat prosesku menahan semua efek induksi, berujung sc. Sama sekali, dia tidak ada maksud untuk membiarkan aku mencoba batas kesakitanku sejauh itu. Aku menenangkannya, tidak ada obat yang lebih baik selain mengetahui bahwa malam itu Sangga sudah terlahir ke dunia, diiringi perasaan bahagia dan lega dari Mamanya ini.
Malam ini hanya ada aku dan Dimaz di kamar. Kami tertidur karena akumulasi kelelahan, Dimaz mendengkur sangat keras–tanda bahwa dia telah menghabiskan 3 harinya sangat keras dengan hampir tak pernah tidur. Aku, dengan romantisme ibu baru, merasa sedih karena aku tidak bisa melihat anakku malam itu karena dia harus diobservasi selama semalam. Tidak lama berselang, kusadari, kusyukuri, bahwa bayi kami tidak masuk ke ruangan malam itu adalah hadiah agar kami bisa beristrahat, agar besok kami siap menyambut dan mengASIhi bayi kami dengan kondisi yang lebih baik.
Pagi keesokan harinya pun tiba, tidak ada kata yang bisa menggambarkan indahnya pertemuan pertama dalam keadaan sepenuhnya sadar. Sangga Asa Kelana, kamu dan kehadiranmu sempurna, Nak :’)
Jurnal Kelahiran Sangga (Bagian Pertama: The Birth Plan)
Sebelum-sebelumnya aku cukup rajin menulis jurnal kehamilan suka-suka-aku, dan aku sendiri merasakan manfaatnya, seneng deh punya catatan tentang salah satu fase terbaik dalam hidupku.
Kali ini, aku pun ingin sesegera mungkin menuliskan kenangan yang masih bisa kuingat dengan runut dan jelas. Tentang kelahiran Sangga, putra kami yang kini sudah berusia 9 hari. Namanya Sangga Asa Kelana.
Plan A, Natural Birth.
Sejak awal kehamilan, aku dan Suami sepakat bahwa kami akan membuat birth plan dan belajar tentang gentle birth secara konsep sebanyak mungkin. Tentang metodenya, kami berdua bertekad untuk melahirkan dengan alami/natural birth/per vaginam. Untuk mencapai mimpi tersebut, kami melakukan berbagai upaya. Sejak awal, aku rajin browsing tentang provider yang mungkin kami pilih. Pilihan kami lalu jatuh pada dr. Nurhadi Rahman SpOG di RS JIH. Alasannya, kami percaya dengan track record dokter Adi sebagai obgyn yang pro-normal atau paling tidak selalu mengusahakan dengan tidak mudah menyarankan kelahiran dengan sectio caesaria, jika tidak mendesak. Adapun RS JIH kami pilih karena aspek kenyamanan, sehingga nanti pada waktunya Sangga lahir, kami nanti bisa merasakan suasana yang mendukung. Pemilihan JIH juga karena di Plan B kami, yaitu jika terjadi sesuatu pada bayi atau saya, maka provider kami bisa langsung menanganinya dengan jalan medis yang lebih kompleks. Kami yakin, provider kami bisa menyediakan hal tersebut.
Plan B. Berserah, kapan pun terjadinya dan apapun metodenya.
Kenapa punya Plan B? Sekuat mungkin tekad dan usaha kami, ada rencana-Nya yang kadang tidak selalu sejalan dengan ingin kami. Jadi, kami coba untuk terbuka pada opsi selain natural birth, dan ya, kami adalah orang-orang yang percaya bahwa gentle birth itu tidak saklek. Secara prinsip, semua ibu bisa merasakan persalinan yang gentle jika diperlakukan dengan respect oleh pendamping, provider, dan terutama yang paling hakiki: oleh diri si ibu sendiri.
Jadi apapun metode dan providernya, semua ibu tetap bisa mendapatkan kelahiran yang ramah jiwa, minim trauma, dan penuh cinta. Selama tidak ada penyesalan yang menyertai selama proses dan setelahnya.
Birth plan tersebut tidak serta merta dibentuk pada trimester pertama, kami membuka diri untuk rencana-rencana dan provider lain seiring berjalannya waktu.
Untuk mendukung terwujudnya Rencana A, saya memulainya dengan menambah asupan bacaan (buku Ibu Alami karya Robin Lim adalah buku pertama yang membuka gerbang menuju referensi-referensi lainnya), menonton video-video Bidan Kita, banyak bertanya pada mereka yang pernah melaluinya (kebetulan aku berkesempatan bekerja sama dengan Mba Andien Aisyah, sebagai editor buku dari bukunya yang berjudul Belahan Jantungku), hypnobirthing (afirmasi positif pada janin), dan kalau kalian sempat membaca Jurnal Kehamilanku di tumblr ini, maka aku sering bercerita tentang yoga dan jalan kaki. Bagaimana yoga dan jalan kaki secara rutin mampu membuatku bugar. Aku benar-benar menikmati masa kehamilanku, rasanya nyaman sekali, tidak pernah ada sakit yang berarti. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Aku bersyukur sekali dengan masa kehamilanku.
Hingga usia kehamilan 40 minggu aku masih rutin melakukan semua hal yang kusebutkan di atas. Meski sampai saat itu, belum juga terjadi kontraksi yang kuat dan rutin sebagai tanda menuju kelahiran.
Jurnal Kelahiran Sangga (Perspektif Suami)
Suara tangis itu datang dari dalam ruangan. Setauku hanya istriku, Baiq Nadia Yunarthi yang sedang menjalani operasi caesar di dalam. Aku yakin kali ini super yakin itu adalah suara Bo (begitu kami memanggilnya selama dalam kandungan). Kelak kami memanggilnya dengan nama lengkap Sangga Asa Kelana.
Operasi berjalan lancar. Sekitar 30 menit sebelumnya, kami berangkat dari ruang bersalin ke ruang operasi tepat setelah suara adzan Isya berkumandang. Suster memberikan dengan tangannya ketika aku akan melangkah keluar. “Nunggu adzan bentar, ya,” pinta suster yang aku lupa namanya.
Kenapa kami berangkat dari ruang bersalin? Mungkin lengkapnya bisa Nadia jelaskan nanti, dari perspektifnya. Aku akan memberi versi ringkasnya. Kami berada di ruang bersalin sejak pukul 2 siang hingga selepas Magrib, dengan bukaan Nadia yang tidak bisa maju lebih dari 9 (Serius, cerita lengkapnya Nadia yang akan menjelaskan). Sebelumnya, kami pindah dari bangsal menuju ruang bersalin setelah suster datang membawa pesan dari dr. Adi (dokter obgyn kami) bahwa Nadia akan dipacu lagi menggunakan obat melalui infus. Ingat betul siang itu, ia sempat ragu dengan tindakan itu. Aku sendiri juga tidak banyak paham tentang seperti apa hasilnya dengan tipikal efek pacu tersebut. Yang pasti kami belum tidur semalaman setelah tindakan pacu sebelumnya lewat obat oral yang diberikan oleh dokter. Sumpah, aku tak kuat melihat Nadia mengerang kesakitan lebih dari 24 jam, bahkan kala itu hampir menjadi 2 hari. Kontraksi itu muncul terus menerus tidak berhenti, selama kurang lebih satu menit, setiap selang 5 menit, gila. “Penderitaan” Nadia tidak sia-sia, bukaan 2 menjadi 5. Oh iya, pacuan yang pertama di berikan dr. Adi berupa tablet dengan dosis paling terkecil 1/8 bagian. Wuih, tapi efeknya mulai terlihat. Kontraksi Nadia mulai lebih sering dan ajeg.
Tanganku terus memijat punggung bagian belakang Nadia. Kondisi dalam pacuan ini mengubah pola kami menunggu persalinan. Hanya ada waktu tidur 5 menit untukku dan Nadia, sisanya kami harus bangun karena dia terus mengerang kesakitan, tidak berhenti. Kalau sebelum dipacu, kami masih lebih santai, malah sempat yoga bersama, Nadia juga yoga sendiri, memainkan gymball, jalan kaki di sekitar bangsal. Namun, bukaan tidak kunjung naik. Intinya, segala upaya pra persalinan sudah diusahakan semua olehnya, oleh kami.
***
Alhamdulillah akhirnya anggota keluarga kecil kami telah datang setelah operasi yang melegakan itu. Sangga Asa Kelana. Soal nama aku sempat bingung milih nama atau nyari ke mana, ya?Â
“Apalah arti sebuah nama”. Idiom itu kadang tidak bisa dipandang gampang. Nama adalah doa seperti kata orang-orang tua yang pernah aku dengar sedari kecil. Tahun ini kami memiliki anggota baru, seorang anak laki-laki. Jauh sebelum ia datang sekitar kehamilan pada 15 minggu kalau tidak salah dokter mengatakan jenis kelaminnya. “Ini ya, Bu, anaknya laki-laki,” kata dokter Adi sambil mengoperasikan mesin USG. Aku yang melongo di samping dokter terheran-heran dengan gambar monokrom pada layer komputer. Ketika menerima berita itu aku hanya melirik istriku. Sebelumnya kami juga tidak memberikan penjelasan pada dokter bahwa tidak perlu memberitahukan jenis kelamin si jabang bayi. Cuma terkadang ketika kami berangkat kontrol dan bertemu dokter kami sering star struck (doctor struck mungkin lebih tepatnya, ya?). Terlebih aku. Iya aku.Â
Kembali ke nama, setelah itu kami pulang. Pada suatu lamunan aku mencari-cari nama apa yang cocok, yang punya cerita di baliknya. Lalu aku teringat teman-temanku yang sudah punya anak. Kebanyakan mereka memberi nama Biru. Iya biru warna yang sama dengan warna kebesaran PSIM, klub kebanggan mereka. Setidaknya ada 3 teman yang menamai anak mereka dengan nama Biru. Aku sempat bilang ke istri, “Aku ndak bakal ngasih nama yang ada unsur bolanya.” Sampai suatu hari Istri memberikan sebuah pilihan nama. “Sangga?”. Aku yang mendengar nama itu pertama kali sedang berbaring. Mataku memandang langit-langit kamar kontrakan 5x3 meter. Bagus juga pikirku. “Coba kamu cari nama selanjutnya yang sekiranya tidak membuat berat atau menjadi beban,” tutur Linda rekan kerjaku.
Akhirnya Istriku mengabarkan nama “Sangga Asa”. Wah, masyuk. Lalu istriku menawarkan kata ketiga. Ia membebaskanku apa saja. Waktu itu kepikiran nama Maulana sama seperti nama terakhirku. Cuma itu kan bukan nama keluarga. Akhirnya aku memilih kata “Kelana.“ Biar kayak bapaknya, sembari mengelus pelan perut istriku. Mantap merangkai Sangga Asa sebagai frasa, lalu aku ditawari memilih nama belakang. Kelana. “Biar kayak Bapaknya yang seneng kemana-mana,” kataku pada Nadia.
 Banguntapan, 1 Mei 2020.
Dimaz
Catatan Nadia: Yayyy! Senang akhirnya suamiku jadi kontributor di sini. Udah lama dia pengin ngasih perspektif tentang perjalanan kami bertiga. Sampai akhirnya tulisan ini tayang, adalah karena dia yang lebih semangat menawariku ikutan 31 Hari Menulis. Hehehe, belum pernah ikut soalnya, jadi dia lebih excited. Aku harap ini bukan yang terakhir untuknya, menulis di blog ini. Aku sangat suka dengan itikadnya. Selain semua dukungan yang tak bisa kubayangkan bisa dicurahkan semuanya padaku, bentuk dukungan seperti tulisan ini, juga tak kalah berharganya buatku.
Beberapa ada yang bertanya tentang arti nama anak kami, Sangga Asa Kelana. Sesungguhnya saya biasanya bilang, "Kata-kata dalam bahasa Indonesia," atau, "Ada di KBBI," atau langsung saya kasih screenshot arti kata per katanya berdasarkan website resmi KBBI seperti di atas.
Akan tetapi, kalau ditanya artinya sebagai sebuah kesatuan. Mungkin kami bisa bilang, bahwa namanya adalah suatu bentuk doa dari kami berdua agar dia bisa menopang harapan-harapan yang berkelana, bukan harapan kami semata, yang terpenting adalah harapannya sendiri akan hidupnya. Dan, agar dia menjadi pribadi yang punya keseimbangan dalam mengejar dunia dan akhirat. Terakhir, agar dia menjadi seseorang yang gemar berpetualang, tapi tetap ingat pulang.
Semoga nama yang kami sematkan bukan menjadi pemberat jalannya, melainkan iringan doa baik yang tak ada putusnya.
Jurnal Kehamilan 11 (Hampir 40 Minggu)
Persalinan ini bukan tentang kami, tetapi tentang kamu, Nak. Apapun caranya, di mana tempatnya, dan kapan, adalah kehendak Allah Swt. dengan kamu sebagai pemimpin prosesnya, ya, Nak. Mama dan Bapak hanya bisa membantu mempersiapkan kedatanganmu ke dunia. Inshaallah Mama dan Bapak siap menyambutmu.
Terima kasih telah memilih kami menjadi orang tuamu. Cintamu sudah kami rasakan sejak kamu masih di dalam kandungan. Kamu selalu Kami pun mencintaimu, jauh sebelum kami bisa melihatmu dari wujud terkecilmu, sebentuk kantong mirip kacang. Doakan Mama dan Bapak terus bisa belajar dan saling terus saling mencintai. Dan kita terus diberi kebersamaan hingga di surga kelak.
Mama ingat sekitar 14 hari setelah Mama dan Bapak menikah, malam itu belum masuk jadwal mens Mama, tapi Mama sudah mengalami flek. Sesuai yang Mama artikan sebagai mens awal, jadwal mensnya maju nih. Mama sempat sedih, “Yah … nggak jadi hamil deh, :(” Karena sesungguhnya Mama memang mengharapkan kedatanganmu segera. Bapak menenangkan Mama, bilang kalau tidak apa-apa, dan masih ada kesempatan selanjutnya.
Subuhnya, Mama terbangun dan mendapati kalau pembalut yang Mama pakai semalam masih dalam keadaan bersih. Aneh, biasanya beberapa jam setelah flek awal mens, pasti darah langsung membanjir. Mama pun membangunkan Bapak, minta Bapak untuk membelikan test pack. Ntah kenapa, Mama merasakan kedatangan kamu sudah dekat, Nak. Begitu test pack sudah dibeli dan akhirnya dicoba, dua garis merah itu muncul. Samar garisnya, tapi ada. Bapak awalnya masih ragu. Mama tidak, meski Mama juga berusaha untuk menjaga ekspektasi. Jadi, hari-hari selanjutnya Mama beraktivitas seperti biasanya. Sampai 2 hari kemudian, Mama minta Bapak untuk membeli test pack lagi. Hasilnya masih sama, meski garisnya masih juga samar. Mama dan Bapak menunda untuk pergi ke dokter, karena merasa sepertinya masih terlalu dini. Tunggu seminggu lagi mungkin.
Sayangnya, kala itu Mama beraktivitas terlalu aktif. Begadang sampai tengah malam, ikut Bapak bekerja di pembukaan pameran. Mama sempat flek lagi, khawatir banget, lho, Nak. Sehingga keesokan harinya, Mama dan Bapak periksa ke rumah sakit. We were shocked, Mama dan Bapak mendengar sendiri dari mulut dokter kandungan waktu itu: kalau flek selama beberapa hari itu dianggap sebagai ancaman keguguran. Dan kalau test pack sudah menunjukkan dua garis merah ya, berarti sudah pasti positif hamil. Dokter tidak bisa mengeceknya lewat USG karena pasti janin masih terlalu kecil. Kami dibekali obat penguat janin dan surat izin untuk Mama, agar bisa istirahat total selama seminggu demi menguatkan kamu, Nak.
Mama dan Bapak pulang setelah menebus obat. Mama berurai air mata, sementara Bapak, yang meskipun juga sedih, tetap berusaha menguatkan Mama. Kalau diingat waktu itu, rasanya berat sekali, Nak. Rasanya Mama jahat sekali ke kamu, teledor begitu.
Seminggu setelah Mama istirahat secara total, kami mencoba periksa di rumah sakit dan dokter yang berbeda. Kali ini, kami akhirnya bisa melihat wujud supermungilmu, kantong kacang yang lucu dengan setitik tanda kehidupan di sana. Sekali lagi, Mama dan Bapak menitikkan air mata. Bahagia, karena kamu kuat. Lega, karena kamu di sana. Sejak saat itu, tekad Mama dan Bapak untuk menjagamu sudah bulat. Kita bersama selalu, ya.
Bismillah.
Semoga saat perjalanan ini sudah mencapai minggu ke-40 dan seterusnya, Allah terus menjagamu ya, memberimu kekuatan untuk mencari jalan lahirmu. Hingga nanti kamu beradaptasi tanpa henti di dunia yang baru ini, dengan tentu didampingi Mama dan Bapaknya, inshaallah.
Mamabo, Bo (dalam perut), dan Bapabo
Jurnal Kehamilan 10 (Masih 39 Minggu)
Rutinitas selama “nesting” atau semenjak memulai cuti kehamilan/melahirkan:Â
04.00-05.00 - kisaran waktuku bangun untuk sholat subuh
05.00 biasanya lanjut tidur lagi atau browsing media sosial
06.00 jalan kali sekitaran gang rumah, biasanya pake mondar-mandir sampai tercapai 3.000-an langkah. Plus, mampir juga ke warung sayur deket rumah untuk beli kebutuhan sayur dan buah.
07.00 mulai bersih-bersih rumah. Cuci piring, masak nasi, nyiram tanaman dari sisa air cucian beras, beresin kamar, sapu-sapu, nyuci + jemur. Di saat yang sama, suami dan ibu mertuaku memasak bersama untuk sarapan dan makan siang.
08.30 sarapan part 1, biasanya buah segar/bubur kacang hijau/cookies-nya ladang lima. Habis itu leren dulu …
09.30 sarapan part 2, makan yang lebih berat. Habis itu duduk-duduk dulu sambil ngecek hape lagi, kadang telepon Adek yang lagi School From Home sambil gangguin, hehehe.
10.30 yoga hamil ringan, stretching, atau latihan pakai birthing ball
11.30 mandi, sholat, santay lagi~
13.00 makan siang, lalu duduk sebentar, sebelum lanjut tidur siang
15.00 bangun tidur, sholat, makan buah, main hape lagi (kadang waktunya nggak seteratur ini sih)
18.00 sholat, ngaji
19.00 makan malam, sholat
20.00 makan buah + yogurt, cuci piring, beberes diri (sikat gigi + cuci muka sebelum tidur)
21.00 udah mapan siap tidur, biasanya rebozo dibantu suami sambil ngobrol-ngobrol tentang hari ini, hahaha.
Ya.
Begini kira-kira setiap harinya, kalopun ada perubahan ya tidak signifikan. Bagiku belum membosankan, karena aku suka rutinitas yang membuatku merasa sehat, rileks, dan berarti. Mandi memang satu kali sehari aja, kecuali kalo abis dari kontrol kandungan - langsung bebersih sekujur badan.
Jurnal Kehamilan 9 (39 Minggu)
Bo, si kecil yang baik hati dan pengertian ini tak hentinya mengajariku hal-hal penting. Kadang, dia mengingatkanku dengan caranya. Kali ini dia mengingatkanku bahwa segala sesuatu sudah ada waktunya. “Kurangi kecemasanmu Mamaaa, aku akan lahir pada waktu yang kupilih dengan seizin Allah,” kira-kira begitu mungkin ya pesan yang dibisikkannya padaku sore ini … saat aku sedang on fire menggosok tumpukan cucian kering. Hehe. Sebelumnya, aku selalu berusaha menanamkan afirmasi padanya untuk segera lahir, lahir hari ini, dan sebagainya. Yang kupikir sebagai afirmasi terbaik, tetapi mungkin bayiku ini butuh disemangati saja. Waktu lahirnya biar dia yang pilih. Pesanku kini cuma satu, semoga kamu selalu sehat ya, Nak.
Mama dan Bapak akan menyambutmu. Doakan kami juga senantiasa dalam keadaan baik. Sampai bertemu di dunia yang penuh dengan pelukan dan sayang dari kami, inshaallah. I love you, Sayangku đź’›
Jurnal Kehamilan 8 (38 Minggu)
Memasuki hari-hari nesting atau “bersarang” menuju waktunya persalinan. Rasanya seperti yang orang-orang bilang, pengin merapikan segala sesuatu/bebersih/mondar-mandir nyuca-nyuci. Woaaa! Excited sekaligus kepikiran banyak hal, “Bisa nggak ya, kami melaluinya?” atau yang sefundamental, “Siapkah kami?”
Bismillah. Aku hanya bisa berserah dalam kondisi seperti sekarang ini. Allah punya jalan terbaik-Nya.