Terlalu panjang untuk diceritakan, tapi benar-benar berkesan. Bisa dibilang, kepergianku ke Turki saat itu seperti sebuah manuver tak terduga. Karena seharusnya aku berada di negeri SAMBA, AZEKK, GOYANG MAANG!! Ups, maaf, seharusnya tidak berlebihan seperti itu, namun itulah yang terjadi, dan jika kalian ingin tahu mengapa, ya bolehlah suatu hari nanti aku ceritakan.
10 November 2010, 5.25 AM waktu setempat
Hari pertama di negeri orang. Semua terlihat asing di sini. Terjemahan bahasa Inggris cuma terlihat kecil di bawah tulisan sebenarnya. Dan tulisannya penuh dengan ekor. Orang-orang yang terlihat berbeda, di sekitar yang melihat kami dengan wajah heran, karena tingkah laku kami seperti anak yang datang dari suku pedalaman. Guru yang mengantarkan kami kesini hanya terlihat senyum-senyum, mungkin dia juga senang bisa kembali ke tanah airnya. Selamat datang di negara yang warna benderanya merah dengan ornamen bulan dan bintang, Turki atau bahasa Turkinya, Türkiye.
Sebenarnya aku tidak begitu tertarik untuk datang kesini. Seperti melihat Mesjid Biru dan Aya Sofia, itu seperti biasa saja. Ketika itu aku hanya tertarik dengan sejarah-sejarah seperti sejarah perang Indonesia dan perang dunia 2 (walaupun nilainya selalu jelek). Namun ketika aku datang kesini, ada yang menarik mataku setelah keluar dari bandara. Apakah itu?
Mobil dan bisnya beda-beda pak..
Ya, tidak lain adalah Mobil-mobil yang lewat di jalan. AKHIRNYA KITA TIDAK MELIHAT AVANZA DAN KAWAN-KAWANNYA SAUDARA! Seneng banget bisa ngeliat mobil yang benar-benar Eropah. Sayangnya, kita tetap menemukan hal yang sangat lumrah di Jakarta, Macet. Jangan salah, karena walaupun sistem transportasi masal disini termasuk baik, namun kota Istanbul tetap memasuki peringkat 10 dalam urusan kemacetan (Jakarta nomer 7). Semua foto itu aku ambil ketika kita perjalanan menuju tempat kita menginap sementara. Dan disanalah kejadian tidak menyenangkan terjadi.
Semua dimulai ketika kita lapar. Kita menunggu sedikit lama, karena ya sekalian menyesuaikan kondisi tubuh kita yang kala itu masih jetlag. Ada yang tepar, ada yang berusaha menelpon orang tuanya mengabarkan kondisi masing-masing, ada juga yang sekedar mengobrol. Dan ketika sarapan disiapkan ternyata gak ada nasi. Ya, makanan pokok di sini adalah ROTI, atau biasa disebut EKMEK! Disediakan juga sejenis roti bernama pogaca (bacanya po-a-ca). Dengan lauk telor rebus, potongan tomat mentah yang ditaburi sedikit garam, keju yang terdiri dari dua macam, kuning dan putih, dan juga beberapa selai dan butter yang dikemas di kotak kecil seperti yang kita jumpai di pesawat, tak lupa di sediakan minuman favorit orang setempat, teh. Nah, ada satu lagi entah apa itu, bentuknya seperti anggur yang kecil, diletakkan spesial di tempat yang berbeda, berwarna hijau.
“Oke teman-teman, itu coba dimakan juga namanya buah zaitun. Sehat dan baik untuk badan.” Kata guruku. “Ya pak” kata beberapa temanku.
Buah Zaitun. Memang buah ini termasuk salah satu yang wajib dimakan di dunia ini. Kenapa? Karena tertera di dalam Al-Qur’an. Cuma aku agak gimana gitu ngeliatnya. Aneh aja. Dan ada perasaan gak enak.
Dan temanku mulai mencoba. Satu buah langsung hap. Guruku yang melihat langsung ketawa-ketiwi sendiri. Kemudian temanku gugur dan lari keluar mencari pertolongan (toilet).
Temanku yang lain penasaran, mengambil satu buah zaitun, dan menggigitnya perlahan. Sayang dia gugur juga, dan ikutan keluar.
Temanku yang lain sama. Entah apa yang ada dipikirannya melihat teman-temannya yang sudah keluar terbirit-birit mencari pertolongan, dia juga ikut-ikutan. Dan hasilnya pun sama. Sama-sama lari terbirit-birit mencari pertolongan.
Hingga akhirnya aku ikutan kepo, seperti apa sih sebenarnya rasa dari buah zaitun itu. Aku pun menggigit sedikit, dan benar. Hanya dengan respons 5 detik, aku langsung mencari pertolongan.
Guruku tertawa sampe guling-guling, sedangkan kami berempat malah kumpul di toilet.
Well, rasanya buah zaitun itu kayak pahit, campur asem, terus ada pedesnya, cuma pahitnya yang paling kerasa. Gitu deh pokoknya, kalian harus nyoba kalo dateng kesini. Sekarang lanjut ke jalan-jalan.
Destinasi pertama kita adalah naik kapal! Ya, karena kita akan mengelilingi selat Bosphorus. Selat terkenal yang memisahkan antara dua benua, Asia dan Eropa. Dan kapalnya yang naik cuma kita, karena kita sewa khusus. Jadi bebas mau ngapain aja. Untung ketika itu kita datang, cuacanya masih terhitung panas. Jadi pakaian kita tak terlalu tebal. Namun beda saat naik kapal, karena anginnya memang lumayan kencang. Disepanjang perjalanan kita bisa melihat Galata Tower, ada juga masjid-masjid berjejer yang terkenal seperti Aya Sofia, Masjid Biru, dan Masjid Baru, hehe, aneh ya nama masjidnya? Nanti dijelasin. Tapi ada sesuatu yang menarik, yaitu ketika aku melihat bendera Turki yang dikibarkan setengah tiang. Apa artinya coba? Apa sama seperti di Indonesia yang kebetulan di hari itu juga hari pahlawan?
Ternyata eh ternyata, tepatnya tanggal 10 November 1938, Bapak pendiri Turki yang bernama Mustafa Kemal Ataturk meninggal. Oleh karena itu setiap tanggal 10 November, sama seperti di Indonesia, orang-orang di sini juga mengibarkan bendera setengah tiang untuk memperingati tersebut.
Lanjut ke daratan. Setelah berputar-putar melihat-lihat Istanbul dari selat Bosphorus, kita balik lagi ke darat, sebelumnya sempet juga sih makan balik ekmek (bacanya i-nya kayak baca e di “ke”). Simpel sih, cuma roti, rotinya sejenis roti perancis yang biasanya kita nyebutnya roti pentung, dikasih sayuran seperti selada, tomat, bawang bombay, dan ikan goreng yang di taburin garam dan perasan lemon. Aneh kan? Gak ada saus tomat, sambal ataupun mayones. Tapi lumayan buat mengganjal perut yang biasanya sarapan nasi goreng, tapi malah makan zaitun.
Tujuan pertama kita, karena kebetulan sudah memasuki dzuhur, kita ke masjid. Dan inilah dia masjid yang pertama tadi aku sempet cerita, bernama Masjid Baru. Ya anggep saja itu terjemahan asal-asalan dari kata Yeni Cami. Eh tapi emang bener itu artinya. Jadi sejarahnya singkatnya gini. Nama asli dari Masjid tersebut adalah Valide Sultan Cami atau Masjid Valide Sultan.
Dikisahkan ada seorang bernama Sultana Safiye, istri dari Sultan Murad III, ingin membangun Masjid di Eminonu (nama lokasi di Istanbul). Dua tahun setelah anaknya, Sultan Mehmed III jadi raja Ottoman, Sultana Safiye yang memiliki predikat Valide Sultan (atau bisa diartikan sebagai Ibu Ratu) memerintah untuk pembangunan masjid saat itu juga. Akhirnya kontruksi dimulai pada tahun 1597 dengan arsitektur bernama Davut Aga, yang notabene merupakan murid dari seorang arsitektur bernama Mimar Sinan. Sayang Davut Aga meninggal pada tahun 1599 dan diganti oleh Dalgic Ahmed Cavus. Masalah pembangunan masjid ternyata terus berlanjut. Ada banyak masalah seperti politik, keuangan, internal, dan lain sebagainya. Akhirnya proyek resmi dihentikan tahun 1603 ketika Sultan Mehmed III meninggal. Dan sayangnya, Sultan pengganti yaitu Sultan Ahmed I, tidak memiliki ketertarikan untuk melanjutkan proyek tersebut karena Sultana Safiye sudah turun kasta.
Setelah tahun 1603, bangunan jadi terbengkalai, bahkan rusak berat ketika kebakaran hebat istanbul melanda tahun 1660. Akhirnya di tahun yang sama, Arsitek Mustafa Aga menyarankan Sultana Turhan Hatice, ibunya Sultan Mehmed IV buat nglanjutin mesjidnya sebagai “pekerjaan iman”. Akhirnya di akhir tahun 1660, pembangunan masjid dilanjutkan kembali dan selesai pada 1663. Lalu, 2 tahun kemudian baru diresmikan dengan nama “Yeni Valide Sultan Cami” atau yang bisa kita artikan sebagai “Masjid Baru Valide Sultan” karena pembangunannya selesai di tangan Valide Sultan yang baru. Eh, karena kepanjangan, akhirnya orang-orang menyingkatnya jadi Yeni Cami.
Terakhir, kita menikmati macetnya jalanan kota Istanbul dikala Sunset, menyeberangi Jembatan Bosphorus, melewati batas benua Asia dan Eropa!
Sekian dari cerita hari pertama saya di Turkiye, semoga gak bosen ya bacanya? Hehe..
The Story of Wanderer pt 1 Terlalu panjang untuk diceritakan, tapi benar-benar berkesan. Bisa dibilang, kepergianku ke Turki saat itu seperti sebuah manuver tak terduga.