Education is the kindling of flame not the filling a vessel :) – View on Path.
Stranger Things

JVL

oozey mess
No title available
hello vonnie

Kiana Khansmith

No title available

Love Begins

No title available

JBB: An Artblog!
taylor price

Discoholic 🪩

roma★
RMH

⁂
I'd rather be in outer space 🛸

❣ Chile in a Photography ❣
Cosimo Galluzzi
sheepfilms
dirt enthusiast
seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Ecuador
@belumadajudul
Education is the kindling of flame not the filling a vessel :) – View on Path.
Perempuan
“Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata.
Raden Ajeng Kartini, dalam suratnya kepada Rosa Manuela Mandris Abendanon
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Surat Raden Ajeng Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902
Bapak Presiden Joko Widodo, Saya Tidak Membenci Anda.
Oleh: Mafira
Giliran Tiongkok yang Menghantui Ekonomi Indonesia
JAKARTA, KOMPAS.com – Ekonomi Indonesia kembali mendapat cobaan. Kali ini, datangnya dari Tionglok. Adalah, pasar saham China yang mengalami koreksi tajam belakangan ini. Setelah menggelembung atau bubble, pasar saham China mulai memecah dengan terjadinya koreksi yang cukup dalam. Kondisi ini diperburuk adanya eksposure pemerintah China pada surat utang Yunani yang gagal bayar (default).
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, ekonomi China sangat dekat dengan Indonesia. Risiko yang menimpa China lebih tinggi dampaknya dibanding krisis finansial di negeri para dewa, Yunani. Saat ini, kondisi yang terjadi di China efeknya bukan hanya akan menimpa pasar keuangan, namun juga perdagangan Indonesia.
Agus bilang, saat ini pasar saham China sedang terkoreksi. Dalam satu bulan terakhir, pasar saham Tiongkok terkoreksi hingga 30 persen. “Kita harus antisipasi karena China menjadi pusat bagi pertumbuhan regional dan dunia,” ujarnya, Rabu (8/7/2015).
Jika koreksi pasar modal China terus terjadi dan cukup tajam, lanjut Agus, dampaknya berantai. Dampak yang langsung terasa adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sebab itu, Agus mengingatkan, dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus menjaga fundamental ekonomi. Inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan lebih sehat ke arah 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) harus terus dipantau. “Daya tahan ekonomi Indonesia harus dijaga,” kata Agus.
Ekspor bisa makin drop
Kekhawatiran Agus tak berlebihan. China adalah negara tujuan ekspor keempat Indonesia setelah AS, India, dan Jepang. Sebab itu, BI telah merevisi proyeksi penurunan pertumbuhan ekspor Indonesia tahun ini lebih dalam dari 11 persen menjadi 14 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS), ekspor pada 2014 tercatat sebesar 176,29 miliar dollar AS atau menurun 3,43 persen dibanding periode yang sama 2013. Jadi, jika BI memperkirakan ekspor drop hingga 14 persen, berarti tahun ini kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2015 hanya 151,61 miliar dollar AS.
Salah satu penyebab kinerja ekspor yang lebih buruk ini diakibatkan perekonomian China melemah. BI memperkirakan ekonomi China hanya tumbuh 7,1 persen di 2015.
Sasmito Hadi Wibowo, Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS mengakui, tren pelambatan ekonomi China telah berdampak terhadap ekspor Indonesia di tahun ini. Sasmito bilang, dengan gejolak ekonomi di China saat ini, ekspor Indonesia bisa semakin turun lebih dalam.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bapak Presiden Joko Widodo, Saya pun tidak membenci Anda. Tetapi, kami, dan ribuan muslim Indonesia lainnya, baik yang bergabung dengan NU, Muhammadiyah, Persis, Hizbut Tahrir, Tarbiyah PKS, Salafy LDII, Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya ini, hanya mengajak Anda untuk menyelamatkan Indonesia dengan Syariah. Karena kalau bukan dengan sistem Islam, yang datang dari yang Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui, dengan sistem yang mana lagi Bapak akan menyelamatkan Indonesia?
Kami sungguh mengapresiasi keberhasilan Anda meningkatkan produksi beras. Tetapi Bapak dan para pendukung bapak terutama yang muslim, juga harus tahu, bahwa Indonesa bersiap dihajar krisis berikutnya. Bukan efek dari Yunani tetapi dari Tiongkok. Setelah terbukti IMF, Masyarakat Uni Eropa, dan Jerman, gagal dalam menyelesaikan persoalan Yunani. Bapak pasti paham krisis perbankan Spanyol, Italia, dan Amerika Latin tinggal menunggu waktu untuk meledak. Bubble-bubble itu, suatu saat pasti akan meletus juga. Indonesia tanpa Islam, sangat mungkin lebih parah di masa mendatang.
Indonesia terhindar dari krisis ekonomi. Yakni
1) Menghapuskan riba
2) Menggunakan mata uang berbasis emas dan perak
3) Menerapkan sistem ekonomi Islam secara sempurna dalam negara khilafah islamiyah
Mari, Pak, kita terapkan Islam. Agar Indonesia terhindar dari efek domino krisis ekonomi global. Agar Indonesia benar-benar menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur. negeri subur makmur, adil dan aman. Agar Anda dirahmati Allah dan dicintai umat. Agar kita semua hidup dalam keberkahan-Nya.
Kota
oleh Goenawan Mohammad dalam Catatan Pinggir 23 Juni 1984
Saya punya teman yang seperti teman Anda: ia hidup di kota ini, mencari nafkah di kota ini, dan ia memaki kota ini. Dengan bersemangat.
Pada suatu malam saya bertemu dengannya di luar sebuah restoran di Pecenongan. Ia tampak kenyang, tapi bersungut-sungut. “Jakarta,” semburnya, “ini rantau tanpa induk semang.” Lalu dengan kalem ia pergi ke pojok yang agak gelap sebentar merapat ke sebuah tembok jalan, membuka resliting celananya, kencing.
Ketika ia kembali, dipegangnya pundak saya. “Ingat,” katanya, seraya mendekatkan kumisnya yang berkilat ke muka saya, “kita orang asing di sini. Kita pesinggah. Kita perdagangkan ke kota ini segalanya; barang, badan, juga budi pekerti, lalu kita kepingin pulang.”
Ia pun pulang – ke rumahnya di Matraman.
Bagi orang seperti dia (dan mungkin juga saya), “pulang” memang mengandung dua arti. Orang itu balik ke rumah yang ia diami di Jakarta, atau ia naik sepur dan kembali ke udik, seperti yang dilakukan ratusan ribu manusia di sekitar Lebaran.
Bagaimana ia bisa merasa diri sebagai “orang Jakarta”? Bagaimana ia bisa merasa sayang akan taman-taman kota ini, pepohonannya, kaki limanya, bangunan-bangunan, bahkan pengkolan-pengkolannya? Saya tidak tahu.
Baginya Jakarta seperti kehilangan suatu simpul, juga lambang, bersama hidup – simpul bagi orang yang di Menteng ataupun di Mester, di Kota ataupun di Kampung Melayu. Jakarta menyajikan banyak hal, tapi adakah sesuatu yang membikin dia unik, berharga untuk dipertahankan, diteruskan?
Teman saya itu (yang mungkin seperti teman Anda juga) menggeleng, “Tidak ada.” Tapi tiap pagi ia terus saja menggali, mencari sejumlah suap nasi di kota ini.
Ia memang jenis orang yang – seperti kita juga – menyimpan kepusingan seorang yang belum berlabuh: seseorang yang tak cukup mencintai tempat asal, tapi juga gagal menambatkan hati ke tempatnya yang baru. Jakarta toh hanya menadahi kita, tak membentuk. Sebaliknya, kita cuma mengakomodasikan tuntutan-tuntutannya, tapi tak mengasimilasikan diri.
Ada seorang ahli yang mengatakan, di kota seperti ini kita tak hanya menyaksikan proses urbanisasi. Kita juga menghadapi proses “ruralisasi”: suatu arus manusia dan cara hidup yang masuk ke dalam kota, tapi malah membikin kota itu seperti udik – dengan jumlah kelahiran dan kematian bayinya, dengan takhayul dan ketidakbebasannya.
Tapi apa daya sebuah kota di Dunia Ketiga pada abad ke-20? Benteng gaya Amsterdam yang didirikan Jan Pieterzoon Coen telah kalah. Dan ia bukan dikalahkan oleh pasukan Mataram.
Ia kalah oleh sesuatu yang lain, yang lebih kuat: ia terdesak oleh kenyataan, bahwa sebuah kota di Indonesia tak bisa mandiri. Ia dikelilingi, dan akhirnya dikelola, oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik di sekitarnya. Ia tak bisa jadi arena yang punya ciri dan semangat yang khas – suatu watak yang dalam sejarah, khususnya di Eropa, telah menyebabkan kota jadi sumber kebebasan, penggerak kemajuan.
Tapi Eropa memang lain. Di sana kota-kota hadir dan kukuh sebelum negara teritorial tumbuh dan jadi. Di dalam lingkungan yang kurang lebih eksklusif itu, orang-orang kota mengatur hidup mereka sendiri. Di situ mereka bebas dari jangkauan penguasa feodal, yang hidup di kastil-kastil nun jauh di pedalaman. Bahkan para petani, yang sempat lari dari kehidupan setengah budak di ladang-ladang, bisa jadi orang merdeka begitu ia melintasi gerbang kota dan tercatat jadi warga.
Kisah kota memang bisa bercerita banyak hal. “Kota-kota, seperti halnya mimpi, terjadi karena hasrat dan ketakutan,” kata Marco Polo kepada Kublai Khan dalam salah satu kisah ajaib Italo Calvino. Saya lalu ingat teman saya kembali: hasratnya mungkin hasrat yang lain, ketakutannya mungkin ketakutan lain, sehingga ia tak merasa ikut menjadikan Jakarta.
Perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Trasgender)
Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Trasgender) di Indonesia ini bagaikan gunung es, yang terlihat baru puncaknya saja, tetapi yang belum terungkap justru lebih besar dan mengerikan.
Sebelum media sosial dan jejaring sosial ada, perilaku LGBT anak-anak muda ini mungkin sudah lama ada, tapi saya yakin tidak sebanyak sekarang. Sekarang saja menjadi lebih ramai karena peran media tersebut. Namun, media sosial pula yang ikut menyebarkan wabah LGBT ini. Mereka eksis di media sosial karena di dunia nyata mereka merasa dikekang, tidak leluasa berpacaran, tidak dapat berkomitmen secara formal, dan posesif terhadap pasangan.
Analisis saya, mungkin perilaku gay/lesbian itu subur karena kalau melakukan hubungan intim dengan sesama jenis tidak beresiko hamil. Beda kalau pacaran lain jenis sampai hubungan intim, bisa berabe. Anak-anak muda itu lagi tinggi-tingginya dorongan syahwatnya, maka penyalurannya adalah sesama jenis supaya tidak hamil.
Harus sejak dini pendidikan agama ditanamkan kepada anak. Tidak cukup itu saja, orangtua harus selalu mengawasi dan memantau pergaulan anaknya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumber: Celotehan Ummi Yana
Sebenarnya, aku udh azzam pada diri sendiri ga mau ngomongin soal LGBT dulu selama ramadhan..
Fokus ibadah.. Dan aksi #RombongSedekah
Tapi keisenganku bberapa waktu lalu untuk masuk ke ‘Grup Gay Jombang’ Facebook, berbuah mual, muntah, dan keringat dingin..
Dan aku harus membaginya..
Seenggaknya, biar anda-anda para ibu, ayah, orangtua, yg merasa, perkembangan LGBT ini bukan sesuatu yg patut ditakutkan, sedikit bs lebih melek! ..
Buuuu.. Pakkkk..
Peluk erat anak-anak kita.. Dekati.. Fahami.. Doakan..
**
Grup ini, hanya 1 dari puluhan Grup para gay yg eksis di FB. Itu baru yg keyword “gay jombang” , blum lg grup LGBT dengan nama-nama sandi, seperti Pelangi, Rainbow, Warna-warni, dll.. Dan.. Itu baru di Jombang.. Baru di Jombang.. Sebuah kabupaten kecil !
*
Jangan dikira lolos ke grup tertutup ini mudah.. Butuh bbrpa hari.. Aku harus membuat account dgn nama alay, dan foto cowok alay yg lg selfie.. Agar meyakinkan sbg seorang Gay.. #ingat ya, cowok klo suka selfie dgn pose alay itu termasuk kategori terlalu gay tongue emotikon
Aku jg melampirkan nomer telpon yg aktif, agar dipercaya..
**
Butuh sepekan lebih baru aku diijinkan masuk. Dan setelah masuk.. Aku seperti berada di neraka.. frown emotikon
Foto-foto kelamin pria beredar dimana-mana.. Sebagian mereka masih remaja.. Bahkan ada yg masih SMP. Cari pasangan untuk seks bebas dan bersenang-senang, Jauh lebih mudah dari menjual makanan di Grup Kuliner Jombang.
Tinggal tulis usia, peran, dan ketertarikan seksual (cari yg tua, muda, putih, sawo matang, dll), dan tinggalkan nomor telpon, WA, BBM..
Semua tawaran dan ajakan maksiat akan muncul di komentar.. Gayung bersambut..
**
” Tantangan untuk menyembuhkan anak-anak kita yg punya kecenderungan LGBT akan semakin berat jika mereka sudah memasuki fase telah berhubungan badan.. Mereka akan terjebak kenikmatan yg mengandung candu ”
Kurang lebih begitu kak Egi, penulis buku @anakku bertanya tentag LGBT menyebut bahayanya fase ini. Dan para member di grup ini, sudah jelas masuk dlm fase ini.
*
Tak segan2 jika ada yg dikecewakan, member meng-upload sebuah foto cowok, sambil berkomentar : ” Ada yg pernah ML dgn ini gag? “. Dan puluhan komen muncul.
Bukti, bahwa Tak hanya seks bebas, prostitusi gay, tukar pasangan
Jd hal yg umum banget di grup ini..
*
Ahhh, sudahlah.. Tulisan ini cuma pengen buat ente2 yg suka ngenyek aku, bangun! Aku ga lebay.. Ini beneran terjadi.. Dekatttt dengan kita.. Ga usah ikut2an iseng kaya aku, bikin account palsu.. Nanti muntah..
**
Tulisan selanjutnya baru kita bahas lagi “harus apa” dan “gimana” yaaa
Salam, Yana Nurliana
Menulis bukan nakut-nakutin, Tapi membuka mata biar melek
Khilafah
Karya Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 27 Oktober 1984
Ini adalah kisah Abu Bakar, sahabat Nabi. Ia baru kemarin dulu diangkat sebagai khalifah, tapi di hari itu ia berangkat ke pasar. Di pundaknya ia bawa bahan-bahan pakaian dagangan, untuk dijual. Dengan kata lain, ia kembali hidup sebagaimana biasa.
Tapi di tengah jalan ia terlihat oleh Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang lain. “Hendak ke mana?” tanya Umar. “Ke pasar,” jawab sang khalifah. Umar bertanya lagi, “Apa yang hendak Anda lakukan, sedangkan Anda telah menduduki jabatan sebagai pemimpin kaum Muslimin?” Jawab Abu Bakar, “Lalu dari mana aku akan memberi makan keluargaku?”
Agaknya, sadar bahwa bagaimanapun juga seorang khalifah harus bebas dari urusan mencari nafkah – agar tugas utamanya tak telantar – Umar pun mengusulkan: sang pemimpin harus mendapatkan uang dari baitul maal, tempat menyimpan milik kolektif.
Ditentukan kemudian bahwa jumlah uang itu tak berlebihan: cukup sebagaimana yang dibutuhkan untuk makanan kebanyakan pengikut Nabi. Meskipun demikian, ada sebuah pesan Abu Bakar menjelang wafat. Ia menyuruh orang mengambil bagian hartanya sebanyak 8.000 dirham untuk dikembalikan ke baitul maal. Pemimpin itu selalu khawatir, adakah ia berhak memperoleh makan dari harta bersama itu.
Kisah-kisah semacam itu selalu memesonakan kita. Sebagaimana dicobatunjukan oleh Abul A’la al-Maududi dalam bukunya yang baru-baru ini diterjemahkan, Khilafah dan Kerajaan, semuanya adalah contoh bagaimana seorang pemimpin harus bersikap: Ia harus tahan terhadap godaan previlese. Ia harus keras kepada dirinya sendiri. Ia harus orang pertama yang mengalah.
Orang Jawa punya kata untuk ini, aja dumeh. Orang Prancis juga punya kata untuk ini, noblesse oblige. Seorang yang punya posisi lebih tinggi harus mengabdi lebih banyak.
Yang malang dalam sejarah manusia ialah bahwa ternyata tak setiap pemimpin bisa demikian. Buku al-Maududi sendiri menyebut pelbagai keburukan yang terjadi dalam riwayat para pemimpin Islam. Bahkan kesalahan telah dilakukan oleh sebagian sahabat Nabi: orang-orang yang pernah menyaksikan bagaimana kepemimpinan yang sepatutnya dijalankan. Para sahabat itu, kata al-Maududi, toh bukan manusia yang ma’sum, terlindung dari berbuat dosa. Dan penulis itu tak ingin menutup-nutupinya.
Buku Khilafah dan Kerajaan karenanya sangat menggugah, tapi, tentu saja, ia terutama hanya menyoroti etika kepemimpinan. Ia kurang menganalisa latar belakang sosial ekonomi sejarah yang “merosot” itu. Ia juga tak menelaah dinamika kekuasaan, ketika keperluan-keperluan sosial berubah dan konflik baru timbul. Al-Maududi memang berbicara tentang kekuasaan sebelum mendapatkan kekuatannya dalam organisasi birokrasi.
Zaman khilafah rasyidah tentu saja zaman ketika kekuasaan bersumber pada kewibawaan seorang tokoh atau lebih. Dalam keadaan seperti itu, dikatakanlah bahwa sebuah masyarakat menjadi baik karena pemimpinnya baik. Tapi bisakah kita bicara hal yang sama kini? Orang masih omong soal perlunya panutan, tingkah laku pemimpin yang diteladani. Tapi, dalam kenyataan, banyak hal yang sebenarnya tak tergantung hanya dari niat baik seseorang, betapapun berkuasanya dia.
Sebab, pada gilirannya, seorang pemimpin memerlukan sebuah mesin. Makin majemuk sebuah masyarakat, makin sukar masyarakat itu bergerak hanya oleh teladan tingkah laku. Diperlukan kampanye, komunikasi, penataran, dan diperlukan pula tangan dan kaki yang efektif. Dalam perkembangannya kemudian, sang pemimpin ikut tergantung pada tangan dan kaki itu. Birokrasi juga punya kebutuhan-kebutuhannya. Bahkan, kadang ada konflik antara kepemimpinan dan mesinnya sendiri.
Pengalaman sejarah itu akhirnya mengisyarakatkan satu hal: cita-cita kenegaraan dalam abad ini, apa pun benderanya, tak cukup hanya mengimbau budi pekerti. Ajaran dan pedoman tentang itu penting, tapi bukan lagi yang terpenting. BukuKhilafah dan Kerajaan sendiri justru membuktikan, ada batas kekuatan itu. Bila para sahabat Nabi sendiri bisa menyimpang dari semangat Islam, tentu ada faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang ternyata tetap tak dapat sepenuhnya diubah dan disucikan. Apalagi, menurut al-Maududi, syariat sendiri tak selamanya memberi petunjuk yang pasti.
Itu tak berarti bahwa inspirasi kemuliaan akan jadi hal yang sangat sepele. Kisah Abu Bakar dan Umar di atas tetap menunjukan kapasitas manusia untuk berbuat baik, tanpa memerlukan batin yang super. Namun, zaman tak berhenti di sana, kesalahan dan kelaliman kemudian terjadi, dan hari sudah terang siang untuk kita bisa bertanya siapakah yang bisa terus menerus sempurna. Jawabnya: tak seorang pun, tak satu pihak pun.
Maka, harapan-harapan harus punya cadangan. Kita perlu siap dengan pilihan yang tak amat bagus dan sementara itu tetap tak dirundung kecewa. Dalam dunia seperti ini, barangkali, kompromi punya kandungan kebajikannya. Suatu pengakuan kedaifan yang hati-hati.
Puasa itu Untuk Allah
Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” Hadis lengkapnya adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, ‘Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.
— HR Bukhari dan Muslim
Ayahku
Saya dapat tulisan bagus dari grup diskusi di media sosial. Tulisan yang mencerahkan ini dibagikan oleh Ustadz Musyafa Ad Dariny, MA. Saya bagikan lagi kepada anda semoga bermanfaat, khususnya kenangan kepada (alm) ayahanda (jika ia sudah tiada)
Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.
Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang”.
Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah”.
Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil”.
Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif”.
Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini”.
Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah”.
Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya”.
Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan”.
Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda”.
Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama”.
Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua?”.
Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita?”.
Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang”.
Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.
Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat”.
Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermuamalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. [Al-Isro’: 23-24].
Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.
Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu. (133)
Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, yang pada akhirnya memberikan perasan damai, tentram, dan tabah. Ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dan khusyuk memberikan perasan seakan-akan mendapatkan bimbingan dan petunjuk-Nya dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
Zaka al-Farisi, Dalam buku Agar Hidup Lebih Hidup
Mums and Maids #igiveadayoff
Ada yg udah nonton video ini?
Gak banyak komentar deh. Lihat aja :)
– View on Path.
Perempuan
“Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata.
Raden Ajeng Kartini, dalam suratnya kepada Rosa Manuela Mandris Abendanon
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Surat Raden Ajeng Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902
Impossible
Ada yang tahu lagu Imsposible-nya James Arthur ini nggak sih?
Tapi lagunya -menurut saya- memang enak, lebih merinding dibandingkan saat dinyanyikan Shontelle. huhu^^
silakan dinikmati saja. :)
Ka follback ya. :) salam kenal.
Done ^^
salam kembali.
ALLAHUMMAGHFIR
Aku khawatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas ke imanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yg tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang lidah fasih tapi berhati lalai, ada yg khusuk namun sibuk dalam kesendirian.
Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagai sufi. Ada yg banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yg banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yg murah senyum namun hatinya mengumpat.
Ada yang berhati tulus namun wajahnya cemberut. Ada yg berlisan bijak namun tak memberi teladan. Ada pezina yg tampil menjadi figur. Ada yg punya ilmu tapi tak paham. Ada yg paham tapi tak menjalankan ada yg pintar tapi membodohi. Ada yg bodoh tapi tak tahu diri. Ada org beragama tapi tak berakhlaq, ada yg berakhlaq tapi tak ber Tuhan.
Lalu, diantara semua itu, dimana aku berada?
#copas grup wa
Entalah Film pendek ini berjudul sebelah (kata Mbak Ica layak ditonton)
FIlm berdurasi 14 menit 27 detik
“Emang boleh melihara kucing di sini?” “Jangan bilang siapa-siapa ya. Ini rahasia kita berdua aja.”
ternyata ini film tahun 2011 ya. Sudah cukup lama juga. *merasa gagal jadi penggemar Kang Reza* :p
Filmnya tentang apa? Ah…sudahlah tonton saja. Terlalu sayang untuk saya ceritakan. ;) Pesan saya, perhatikan setiap detail untuk merangkai benang merah pada akhir cerita.
Selamat menonton!
Hidup harus lebih dari sekedarnya.
Alm. Budi Laksmono