Ternyata Sehampa Ini
Ternyata hidup sendiri di masa kerabat dan kawan sebaya sudah berumahtangga ternyata sehampa ini.
Mungkin aku sering mengeluh kesepian. Namun puasa di perantauan kali ini aku merasakan sebagai puncaknya kesepian. Tak ada undangan buka puasa bersama. Teman sepermainan sudah berkeluarga. Bahkan sekadar chat ringan saling berbagai video Ramadan core saja sama sekali tidak ada.
Jujur sedih. Hidup sendiri di usia lebih dari tiga puluh. Hampanya sungguh terasa. Orang tua jauh di kampung halaman, pun mereka juga fokus beribadah. Aku di sini juga. Hanya saja aku benar-benar merasakan begitu hampanya sahur seorang diri dan buka seorang diri. Tak ada obrolan ringan hangat di sela-sela momen kebersamaan yang tak aku punya itu.
Karena kehampaan ini, aku sungguh ingin sekali masih mendapatkan rezeki untuk menikah dengan lelaki pilihan dan membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah dengannya. Sungguh aku merasa tidak sanggup untuk hidup sendiri tanpa teman bercerita.
Meski harus kuakui, selelah itu ternyata memohon untuk dipersatukan dengan jodoh terbaik. Tak sering rasanya aku ingin menyerah tentang penantian ini. Namun kali ini aku benarâbenar memohon semoga menikah masih menjadi rezeki dan juga takdir yang digariskan untukku.
Meski aku paham, bahwa apapun itu pasti yang terbaik. Dan aku sangat paham bahwa Allah pasti akan selalu memberi yang terbaik.
Jakarta, 5 Maret 2025








