"Bestfriend" (Juli 2023): Sebuah Pengorbanan Estetika Paul Partohap bagi Soul dan R & B"
Mendengar lagu terbaru Paul Partohap, "Bestfriend", yang dirilis awal bulan ini, membuat saya terkagum-kagum karena tidak mudah menggubah lirik lagu Soul dan R & B yang sederhana tanpa terjatuh ke lubang genre Pop, yang notabene memiliki lirik lagu yang paling sederhana di antara semua genre lagu.
Lagu "Bestfriend" terasa easy-listening, akan tetapi tidak demikian adanya di saat kita mampu menelisik ke dalam komposisi akordnya.
Terdapat banyak fill-in yang dimaksudkan untuk mengisi kesederhanaan komposisi pada lagu "Bestfriend" ini. Mungkin dimaksudkan Paul Partohap dan timnya agar dapat melakukan penetrasi pasar yang lebih dalam lagi dibanding sederet lagu-lagu bergenre Soul dan R & B di Indonesia sebelumnya.
Harap maklum, secara umum, genre Soul dan R & B bukan lah genre yang lahir di Indonesia, sehingga bicara soal pasar (market) musik, tentu saja seseorang yang menyanyikan lagu atau bahkan mendedikasikan hidupnya untuk berkarir di genre lagu Soul dan R & B ini harus melakukan pengorbanan, persis seperti yang dilakukan oleh Paul Partohap, yaitu melakukan penyederhanaan pada lirik lagu dan melakukan kompensasi atau "subsidi silang" terhadap komposisi kunci lagu atau akord atau chord atau akor atau kord.
Sedikit bicara soal genre, setelah preseden Tyler the Creator mengungkapkan usahanya untuk melakukan genre-bending di rap, mungkin kita perlu mempertimbangkan matang-matang istilah tersebut untuk skena musik di Indonesia.
Without you right here with me
Loving u is my most natural feeling
Jikalau kita melupakan judul lagu "Bestfriend", kita akan dengan mudah terjebak pada anggapan atau sangkaan yang premature tentang tipe atau jenis atau bentuk cinta dan kasih sayang yang digambarkan oleh verse-nya.
Kita akan mengira si Aku mencintai dan atau mengasih-sayangi si Kamu yang merupakan sebentuk cinta erotis (Eros), padahal kita telah mengetahui dari judul lagu ini, bahwa rasa kebingungan dan ketakutan jikalau kehilangan sahabat (best friend) di bagian Verse pertama ini menunjukkan bahwa yang dibahas Paul Partohap adalah cinta yang platonis, cinta tanpa syahwat, semata-mata respek dan protektif.
Sense of belonging atau perasaan rindu yang mendalam terhadap kehadiran seorang sahabat di lagu ini diperlihatkan oleh bagian pre-chorus.
Your love just like a sunlight
Paul menggunakan metafora "matahari" atau lebih tepatnya "cahaya dan atau sinar matahari" (sunlight) sebagai peribaratan kehadiran rasa cinta sang sahabat, si Kamu, kepada si Aku.
Dapat kita bayangkan kembali, bagaimana jadinya si Aku jikalau tanpa si Kamu, khususnya rasa cinta yang diberikan oleh si Kamu kepada si Aku.
Dan, tidak perlu kita bayangkan lama-lama, karena jawabannya terdapat pada larik-larik berikutnya:
It's like a summer to my winter heart
Ia lah seperti hati yang beku-dingin bagaikan musim salju, si Aku, jikalau cinta dan kasih sayangnya si Kamu, tidak ia peroleh, oleh karena selain seperti cahaya dan atau sinar matahari, cinta dan kasih sayangnya tersebut itu pula seperti hangat dan atau panas-bahagia-nya musim panas.
Bentuk resiprokasi atau ketersalingan cinta dan kasih sayang di antara si Aku dan si Kamu yang membuktikan bahwa lagu ini adalah bukan tentang cinta Eros atau cinta yang erotis melainkan cinta yang platonis, terdapat pada lirik-lirik terakhir pre-chorus.
Promise that you'll see me
Hold your arms and lift you up
Si Aku tidak cuma bersikap pasif menerima cinta dan kasih sayang si Kamu dalam ungkapan-ungkapan kerinduan dan rasa memilikinya (sense of belonging), akan tetapi juga memberikan suntikan semangat kepada si Kamu dengan bentuk love language (gaya dan atau cara mengungkapkan bahasa cinta dan kasih sayang) berupa sentuhan fisik (physical touch).
Masuk ke bagian klimaks yaitu chorus, kita akan mendengar kalimat-kalimat yang menunjukkan tanda-tanda lain sebuah kisah cinta yang platonis, yaitu di saat si Aku memberikan ruang pribadi yang dibutuhkan si Kamu.
Through good times and bad times
Artinya, si Aku dan si Kamu tidak perlu juga selalu bersama dalam suka dan duka, hanya ketika si Kamu menginginkan si Aku, baru lah si Aku menghadirkan dirinya bagi si Kamu. Ini artinya si Aku tidak obsesif terhadap dirinya sendiri dan terlebih-lebih dan atau apalagi, terhadap si Kamu.
Tidak cuma perkara rasa rindu dan love language, si Aku juga menyediakan dirinya alias "pasang badan" pula untuk membela eksistensi dan hak-hak hidup manusiawi si Kamu.
Ini mengingatkan saya pada sebuah ucapan terkenal dari Voltaire, penulis Prancis yang membela hak-hak kebebasan berpendapat, "Aku tidak setuju dengan apa yang kamu ucapkan, tapi aku akan membela hak kamu untuk mengucapkannya."
You teach me how to appreciate life
Making memories with you is my most favorite thing
Verse kedua lagu "Bestfriend" kembali memunculkan sisi-sisi romantis sebuah cinta, "belahan jiwaku", kata si Aku kepada si Kamu, yang akan sedikit mengecoh kita lagi jikalau saja kita sempat terlupa bahwa ini bukan lah tentang cinta yang erotis, melainkan kepada seorang yang disebut sahabat terbaik.
Di bagian terakhir ini, kita akhirnya mengetahui alasan di balik terjalinnya cinta resiprokal ini, yaitu bahwa si Kamu ternyata telah banyak mengajari si Aku tentang cara menghargai kehidupannya sendiri.
Tentu saja, jikalau kita berempati dan menempatkan kaki kita di dalam sepasang sepatu yang dikenakan oleh si Aku, kita juga pasti akan mengungkapkan seluruh kalimat yang diungkapkan si Aku kepada si Kamu di dalam lagu ini.
Lagu diulang ke pre-chorus kemudian ke chorus lagi untuk yang kali terakhir. Mengulang lagi metafora matahari, musim panas, dan musim salju, yang seakan menunjukkan bahwa kasih cinta yang resiprokal itu dapat terjadi di berbagai musim. (Fin) ***