
seen from Germany
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from Poland
seen from Türkiye
seen from South Korea

seen from Uruguay
seen from Australia
seen from Taiwan
seen from Russia

seen from Italy

seen from Italy

seen from Italy
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
Selingan
"Latour, Lacan, Zizek"
Tidak ada modernitas, tidak ada budaya. Lantas yang ada apa? Prancis memang tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Sebagai penggemar Prancis, dapat dikatakan saya anak baru di dunia perpenggemaran ini. Saya fanboi Prancis.
Karena anak baru, saya masih terus terkejut dengan pernyataan-pernyataan yang meluncur dari isi pikiran para filsuf Prancis.
Sayangnya, di tulisan ini tidak bisa seratus persen Prancis, karena pernyataan Bruno Latour di atas akan saya tabrakkan dengan kritik Slavoj Zizek ke Jacques Lacan tentang "synthome", homolog semena-mena yang dilakukan Jacques Lacan pada ajaran Karl Marx.
Seperti kita tahu, Jacques Lacan adalah seorang psikiater dan psikoanalis, itu artinya dia memiliki kekuatan (power) yang amat besar, untuk tidak mengatakan "terbesar", sebab memahami ilmu alam dan bekerja sebagai laki-laki berkulit putih yang memahami ilmu alam, dan tidak sekadar ilmu alam, melainkan ilmu kejiwaan, Lacan tidak bisa menafikan sangkaan bahwa dia bisa saja mengarang apapun untuk menjustifikasi ajarannya.
Ini yang kemudian di-point out oleh Zizek. Dalam buku "The Sublime Object of Ideology", Zizek mengkritik penggunaan kata "synthome" yang disangkakan ke Lacan oleh Zizek sendiri sebagai "Homolog" yang semena-mena. Apa maksudnya? Homolog harus dilakukan pada dua objek atau lebih yang apple to apple. Jikalau tidak, ia menjadi justifikasi kebenaran.
Kebohongan ilmiah ini lah yang membuat Bruno Latour, seorang pemikir abad ke-20 di bidang filsafat teknologi, cocok kita sempalkan ke kritik Zizek terhadap Lacan.
Latour bilang, di buku "We Have Never Been Modern" (1991), tidak itu yang namanya budaya karena tidak ada yang namanya zaman modern. Memang tidak mudah memahami ini karena kita adalah warga negara berkembang, tapi tidak mudah artinya kita hanya butuh waktu sedikit lebih lama dibanding warga negara dunia kedua untuk pada akhirnya manggut-manggut sama kritak-kritik para Europeans.
-
Bagaimana hubungan Latour dengan Lacan? Latour lahir tahun 1947, setelah perang dunia kedua selesai dan Lacan tahun 1901, sebelum perang dunia pertama dimulai. PR banget mencari titik temu yang homolog di antara keduanya.
No worries! Dalam setiap PR selalu ada solusi. Latour mengatakan 2 (dua) hal:
1. Zaman modern itu tidak ada, artinya kita tidak pernah menjadi manusia yang modern.
2. Budaya itu tidak ada (dan karena inilah kita tidak pernah menjadi manusia yang modern).
Di sini lah kita menemukan homolog antara dua pernyataan Latour dengan dua pernyataan Lacan tentang ajaran Karl Marx yang ia rangkum dalam sebuah kata sakti yaitu "synthome".
Apa itu? "Synthome" memiliki banyak makna dan cara melakukan homolog adalah dengan mengambil 2 (dua) saja:
1. Gejala individu yang memiliki kejiwaan yang menolak kebudayaan
2. Gejala sosial yang menciptakan individu yang memiliki kejiwaan yang menolak kebudayaan
Nah, di mana kah masalah kedua pernyataan ini? Kalau di dalam dirinya, sih, (das ding, an sich) tidak ada, ya namanya justifikasi, mana mungkin terdapat kontradiksi internal. Tapi, kalau kita melihat dari sudut pandang Marxist seperti Slavoj Zizek, filsuf asal Slovenia yang sekarang mengajar di European Graduate School, dan juga filsuf selebritas, kita dapat menyimpulkan bahwa "synthome"-nya Lacan itu tidak ilmiah, pseudo-ilmiah, dan ini sebuah kejahatan pendidikan juga, lho. Kalau dibiarkan begitu saja ajaran pak psikiater dan psikoanalis Jacques Lacan tanpa didampingi kritik sosial dan ideologi a la Slavoj Zizek, bukan hanya dampaknya buruk bagi nasib pendidikan kita di Indonesia secara umum, tapi juga kita jadi tidak mampu mengenali diri sendiri karena ya, mau gimana, psikologi modern ciptaan Sigmund Freud didistorsi oleh Jacques Lacan, bahkan dia memberi lapisan etika pada ajaran Sigmund Freud ("Seminar VII: Ethics of Psychoanalysis ") seolah tanpanya ilmu dan tentunya beserta sosok Sigmund Freud menjadi tidak etis. Wow!
-
Selingkuh itu dilakukan oleh mereka yang angkuh. Sedikit jenuh, mereka bilang sudah tidak butuh. Sedikit menjauh, mereka bilang, cintanya sudah tidak utuh.
Kata siapa kita bertarung dengan waktu? Sungguh....kita tidak sedang bertarung dengannya. Kita hanya sedang bertarung dengan diri sendiri.
Kita bukan lawan yang satu level dengan waktu.
Menggugat Film Porno
"Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar."
Kekalahan umat manusia atas teknologi. Ramalan yang kiranya seperti angin, kalau tak ingin dibilang seperti kentut, tak terlihat namun terasa. Hembusannya memang makin terasa sekitar satu dekade ini, dan makin subur saja. Bagaimana tidak, potensi teknologi melalui algoritmanya yang tidak hanya berusaha untuk meniru tetapi juga berusaha menjadi manusia itu sendiri menjelma menjadi mimpi buruk. Mimpi buruk yang akhirnya menjadi jualan juga dalam film science-fiction. Hilangnya peluang kerja, hidup dilenakan oleh mesin, manusia menjadi obesitas, genosida manusia dan mesin menguasai dunia. Spekulasi para ahli memang menuju kesana. Tapi dalam film kejadian buruk itu selalu digambarkan dengan begitu megah. Dan umat manusia batal menggigil ketakutan.
Toh kekalahan ini belum terbukti juga, nyatanya nanoteknologi, tangan bionik, penemuan bibit tahan penyakit tidak pernah menjadi ancaman bagi manusia. Terkontrol. Bahkan bisa dibilang sesuai dengan apa yang telah berusaha dicapai pada awalnya.
Ini merupakan hal yang besar, karena peradaban manusia pun belum pernah merasakan lompatan peradaban seheboh sekarang, yang dalam kurun waktu 400 tahun saja semua berubah begitu cepatnya.
Ketika kita memimpikan teknologi teleportasi, bisa saja dalam 50 tahun mimpi tersebut akan terwujud. Sebuah nikmat yang bahkan sulit dibayangkan para leluhur, yang mana harapan untuk menempuh perjalanan antara Kairo menuju Alexandria dalam waktu sekian jam hanyalah angan kosong. Hal menyedihkannya, angan tersebut baru dikabulkan oleh anak cucu mereka tiga millenium kemudian.
Lebih menyedihkan lagi bila kita menyadari bahwa dalam peradaban akan selalu ada penyelewengan. Teknologi sebagai piranti yang suci nyatanya dengan terpaksa harus menanggung dosa anak manusia. Peristiwa yang dimulai sejak rilisnya Le Coucher de la Mariée, tahun 1896, mengawali perubahan aktifitas hormonal yang tadinya merupakan konsumsi pribadi menjadi konsumsi publik. Diakui atau tidak, tayangan berkonten erotis itu berevolusi menjadi tayangan yang lebih vulgar. Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar. Sigmund Freud saja mengamininya.
Sang bapak psikoanalisis pun berfatwa bahwa bila dorongan purba itu ditahan, maka secara naluriah tubuh akan mencari berbagai objek demi pemuasan kebutuhannya.
Bila hal ini terjadi kepada orang dewasa mungkin tidak akan menjadi terlalu bermasalah. Kebijaksanaan berpikir, walaupun harus diakui tidak semuanya punya, secara keumuman dimiliki oleh orang dewasa. Terlebih bila sudah menikah, lancarlah agenda penetrasi dan injeksi yang tinggal disesuaikan saja kebutuhannya. Entah untuk kebutuhan prokreasi atau rekreasi, serevolusioner apa gerakan yang dipilih, bisa dipastikan ini kegiatan legal dan diterima masyarakat. Persoalannya ketika konten yang sebegitu dewasanya bebas akses, apakah anak-anak tidak akan tersentuh atas ekspansi industri celaka ini?
Sudah terlalu banyak bukti empiris. Kasus siswi SMP yang dihamili oleh seorang siswa SD, dan banyak kasus lainnya seharusnya membuka mata kita bahwa tayangan celaka itu rupanya mengakselerasi kemampuan reproduksi anak di masa kini. Bagi anak era 90-an, masa SD merupakan masa bermain yang indah. Berkejaran bersama layangan putus, berjibaku mencari belut di selokan, berburu burung. Bukan malah berburu kelamin. Ditanya soal mimpi basah saja diam seribu bahasa. Sebaliknya, generasi selanjutnya tercatat dalam sejarah menjadi generasi dengan imajinasi sempit, nalar dangkal, literasi rendah. Paling-paling hanya kuat membaca stensil koran merah pojok jalan.
"Semua karena visi futuristik kanak-kanak remuk redam digagahi khayalan seronok yang belum saatnya dikonsumsi."
Persoalan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa manusia tak pernah takluk atas teknologi. Teknologi tetap menjalankan tugas yang diamanatkan padanya, memperkecil beban umat manusia. Tugas yang begitu mulia. Sayang seribu sayang, layaknya Siti Nurbaya yang tak bisa memilih sang pujaan hati, teknologi juga tak bisa menentukan apa yang harus ia sederhanakan. Apakah menyederhanakan jalan bagi peradaban atau malah menyederhanakan jalan menuju kehancurannya? Kami izinkan tuan dan puan bersabda.
"Cara Pandang"
Sama-sama membaca Al Quran, namun tentu akan berbeda antara kita yang masih awam, dan mereka yang telah memahami makna dan tafsirnya.
Mereka yang memahami Al Quran, memaknainya sebagai hadiah terindah dari Dzat yang Mahapenyayang, bukan sekadar lembar tebal yang bertulis aksara arab.
Sama-sama melihat semesta raya, namun pasti berbeda antara kita yang melihatnya sebagai sekadar peristiwa yang berulang, dan mereka yang mentadabburi setiap detak gerak alam.
Kita membiarkan hikmah terbuang, mereka mengumpulkan serakan makna hingga terbitlah kebijaksanaan.
Sama-sama mengenal Rasulullah ﷺ, namun tentu berbeda antara cara pandang kita mencintai beliau, dan cinta orang-orang yang mendalami perjalanan hidup sang Rasul.
Mereka memaknai cinta dengan ilmu, bukan terbawa arus atau sekedar meniru.
Apa yang membedakan kita dan mereka? Cara pandang. Bagaimana membeningkan cara pandang kita dalam memaknai itu semua? Jawabnya; ilmu pengetahuan.
"Langit kita tinggi, tapi terbang kita masih saja rendah", tutur Ustadz Anis Matta. "Mengapa kita terbang rendah? Karena kita belum punya 'perangkat' untuk terbang tinggi." Sederhana saja.
Berbekal, mengilmui, berkembang dan jangan bilang 'sudah' untuk terus berbenah. Jangan bercukup dengan 'riak setinggi depa', padahal samudera ilmu masih 'bergelombang raksasa.'
@edgarhamas