atas hingar bingar yang tak diperlukan, menepi menjadi sebuah pilihan menenangkan nan menyenangkan
One Nice Bug Per Day

Discoholic 🪩
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Not today Justin
No title available
wallacepolsom

izzy's playlists!

Janaina Medeiros
Stranger Things
Claire Keane
No title available
Keni
Misplaced Lens Cap

tannertan36
TVSTRANGERTHINGS
NASA
No title available

titsay
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from Australia

seen from United States

seen from Spain
seen from Canada
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Luxembourg
seen from Bahrain
seen from Lithuania
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada

seen from China

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
@beraniputih
atas hingar bingar yang tak diperlukan, menepi menjadi sebuah pilihan menenangkan nan menyenangkan
Kangenmu Karo Gundul Wes Kebayar Lunas, Wik
Yang menyebalkan dari kehilangan seseorang adalah kita tak pernah siap dengan kemungkinan atas setiap kepergian, tulis Tomo di akun twitter miliknya.
Minggu pagi kali ini tak seperti biasanya. Sebuah pesan masuk ke gawai. Sebuah kabar duka. Lemas, lemas tak terkira. Minggu yang masuk dalam libur panjang kali ini membuat lemas. Tanpa membalas pesan, saya langsung menelpon sang pengirim pesan. Memastikan. Ah, lebih tepatnya saya ingin kabar itu tidak benar.
Namun, jawaban yang tak saya inginkan justru terjadi. Validasi akan kabar duka yang baru saja tersampaikan. Air mata menetes sembari mencoba berkirim pesan kepada kawan lain untuk (lagi-lagi) memastikan kabar tersebut. Hasilnya sama. Air mata menetes semakin deras.
Pagi itu kami kehilangan lagi seorang kawan baik. Kawan yang kerap kami bercandai dengan sebutan Wakil Presidene Cah-Cah.
Angan melayang seminggu sebelumnya. Kami sempat duduk bercengkrama bersama guna membahas persiapan toko yang rencananya akan segera kami buka. Gelak tawa beriringan dalam obrolan kala itu, di kedai kopi milik salah satu kawan kami.
Selepas dari kedai, kami pulang menuju tempat masing-masing. Dalam perjalanan pulang entah mengapa saya terpikirkan untuk merekam video saat kami berkendara. Kebetulan kawan kami ini mengendarai vespa.
Beberapa video tercipta yang kemudian saya susun setelah sampai di kamar. Kompilasi video yang tersusun kemudian saya unggah sebagai bahan instastory malam ini. Ah, dini hari lebih tepatnya.
Angan kembali melayang tatkala kota ini merayakan juara. Konvoi di ruas kota sangat semarak. Di beberapa sudut persimpangan, kawan kami ini membantu mengatur jalanan.
Tepat sepanjang underpass Makam Haji, kawan kami ini berjalan membantu mengatur jalan dari arah berlawanan rombongan. Membawa megaphone yang sering digunakan di atas tribun kami ketika menyaksikan tim kebanggaan berlaga.
Sampai kemudian kami sama-sama berisitirahat di salah satu pom bensin arah Kartasura.
“Aku pengen ngrasakke nguripke flare, Tom.” ujarku kepada Tomo yang kebetulan membawa beberapa flare untuk perayaan kali ini.
Sejurus kemudian kami berjalan agak sedikit menjauh dari pom bensin. Setelah dirasa aman, kami menyalakan flare yang kami bawa. Nyanyian-nyanyian juara terus digelorakan.
Flare yang saya bawa masih menyala. Saya berikan kepada kawan yang sedari tadi membawa megaphone. Kami kembali bernyanyi merayakan keberhasilan tim ini menjadi kampiun di kasta kedua liga.
Angan lain kembali menghampiri. Tepatnya tatkala tim ini berhasil memastikan diri lolos ke partai final, yang artinya kami sudah pasti lolos ke kasta tertinggi liga.
Sebuah unggahan di twitter membuat saya terenyuh. Unggahan yang berisi foto seorang kawan sedang mengunjungi makam kawan karibnya yang sudah berpulang 3 hari pasca tim ini diakusisi oleh pemilik baru pada Maret 2021 yang lalu.
Kawan kami menuliskan di unggahan twitternya dengan kerinduan mendalam,
“wingi sore ndolani koncoku 1 iki, tak critani akeh nak Persis mlebu semi final, tak critoni ngalor ngidul tentang awak dewe pernah ngawal Kebanggaane iki tekan ngendi², nganti meh mbrebes mili, dan hasile iki ndul, PERSIS SOLO lolos liga 1 ndul, mesti koe melu seneng ndul .”
Di akhir februari ini, koe wes iso cerita akeh ning Gundul, Wik. Ngobrol cah 2 ning swargo. Ngobrolke opo wae. Ngobrolke nek Persis wes munggah kasta, cerita-cerita lawas kalian berdua. Dan liya-liyane.
Wik, koe wes tenang saiki ning swargo. Kangenmu karo Gundul wes kebayar lunas. Matursuwun wes akeh ngrewangi selama iki. Matursuwun wes dadi konco sing apik. Gusti Allah luwih sayang karo awakmu.
Titip salam buat Galihor di Surga, ya.
Selamat jalan, Wiku Hilmawan. Swargi langgeng.
Seorang kawan mengingatkan, pada sebuah obrolan panjang melalui sambungan telepon, tentang mempersiapkan banyak hal yang barangkali tak sesuai yang direncanakan. Kalimat pengingat ini terlontar tatkala ia menyadari kawannya satu ini tak kunjung menyempurnakan nyali. Berandai-andai dan berharap dunia tak bergerak.
Memiliki niat baik tak serta merta membuat orang mau melangkah mewujudkannya. Selalu saja ada beragam alasan yang dibuatnya. Di antara manusia-manusia itu ada namaku di dalamnya.
Manusia yang tak kunjung selesai dengan beragam kegelisahan akan masa depan. Terlalu banyak menimbang ini dan itu yang membuat lebih banyak diam tak bergerak.
Seseorang yang tahu akan apa yang ia tuju, perjuangkan dan berujung dapat diraih. Namun masih saja berkutat pada kekhawatiran akan hal-hal di luar kuasa. Merasa tak siap, merasa tak pantas, dan perasaan-perasaan lainnya.
“Ungkapkan, sebelum menyesal tak bisa mengungkapkannya,” ujarnya.
Ya, di antara banyak hal yang dirasa problematik, perihal mengutarakan suatu hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Tak tampak seperti yang banyak orang kenal: ceria, cepals-ceplos, mudah membaur dan semacamnya.
Seperti menyimpan ketakutan akan penolakan besar. Seseorang yang tak ambisius harus dihadapkan dengan pilihan maju atau tidak sama sekali.
Entahlah. Semoga semesta masih berpihak ketika waktunya tba. Waktu yang entah kapan. Sangat tak terukur.
Lagi-lagi hanya semoga dan semoga.
Perjalanan kali ini dapat dirangkum melalui dua hal: kemampuan dan kerja keras.
Sederet nama berpengalaman memberi sumbangsih nyata dalam ruang kemampuan. Modal awal untuk mengarungi perjalanan liga. Banyak kepala menggadang-gadang perjalanan akan dilalui dengan mulus dan tanpa cela.
Namun, seperti yang sama-sama diketahui, jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi dirasakan. Membuka liga dengan kemenangan namun keraguan akan racikan mulai bermunculan.
Di tengah perjalanan, memori kala tak berhasil meraih tiga angka di dua laga penuh harga diri terus terpatri. Riak keraguan soal komposisi dengan nama berpengalaman beriringan terjadi. Dibarengi dengan rasa penasaran berbalut ragu atas sosok yang meracik komposisi.
Hingga kemudian kerja keras dari setiap yang ada menjadi tumpuan lainnya. Satu per satu memberi kontribusi nyata. Tak ada yang mutlak siapa paling berjasa. Keping-keping tersusun dari beragam kepala.
Mengamini diksi yang terpampang di salah satu lambang tim Negeri Elizabeth: 𝘢𝘳𝘵𝘦 𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘣𝘰𝘳𝘦 Dengan skill dan kerja keras.
Angan naik kasta akhirnya tiba. Dibalut dengan trofi gelar juara. Kombinasi kemampuan dan kerja keras terbayar nyata.
Terima kasih Laskar Sambernyawa. Terima kasih semua.
𝘛𝘩𝘪𝘴 𝘵𝘦𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘴 𝘢𝘭𝘳𝘦𝘢𝘥𝘺 𝘮𝘢𝘥𝘦 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘢𝘯𝘥 𝘭𝘪𝘧𝘵𝘦𝘥 𝘵𝘩𝘦 𝘴𝘱𝘪𝘳𝘪𝘵𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘤𝘪𝘵𝘺.
Sedari pagi, Jakal turun hujan. Tidak deras memang. namun cukup membuat cucian yang baru saja saya cuci belum bisa dijemur di luar.
Saya pikir ketika siang hujan sudah reda. Ternyata gerimis kecil terus membasahi. Malam ini hujan memang sudah reda, namun hawa dingin merasuk begitu nyata.
Tiba-tiba saya ingin susu jahe. Itung-itung sebagai penghangat tubuh. Namun, sejauh ini belum menemukan ramuan susu jahe yang pas di sekitar sini. Tidak seperti di Solo yang saya rasa lebih mudah menjumpainya.
Akhir-akhir ini saya merasakan kerinduan mendalam. Tentang banyak hal. Lebih-lebih pada masa yang sudah terlewat dan tak bisa diulang. Ya, tidak ada yang bisa memutar waktu kembali.
Saya rindu dengan kebiasaan menulis apapun dahulu. Meski setelah saya baca-baca lagi saya bergumam, “Ngapain sih dulu nulis begini?” Haha.
Saya kemudian membaca ulang tulisan-tulisan lawas. Sampai kemudian saya bertemu pada sekumpulan tulisan di tahun 2016. Tahun dimana saya masih sering nongkrong di sekre mungil dekat kantin FISIP.
Dulu, tiap hari saya tulis apa saja yang saya kerjakan hari itu. Dalam hal ini konteks organisasi yang pernah saya pimpin. Apa-apa yang saya atau tim saya kerjakan. Tulisan-tulisan lawas ini bisa ditemui di tumblr melangkah-bersama.
Dari membaca tulisan lawas itu, saya kemudian terbang pada kenangan lama. Tentang mereka-mereka yang sangat banyak membantu saya. Tanpa mereka, apalah saya ini.
Ah, jika bisa, ingin saya sampaikan terima kasih kembali satu per satu ke setiap orang di tim ini.
Dari sekian hal yang pernah terjadi sebelumnya, barangkali ini yang paling tak terduga. Dering telpon di beberapa kali pagi buta dari sumber yang bahkan tidak terbayangkan sebelumnya.
Pernah berharap iya, dulu jauh sebelum mengenal dunia. Tapi sampai ke titik hari ini adalah sesuatu yang sangat tak terbayangkan sebelumnya.
Jaga ritmenya, jaga nafasnya.
Ingat, bukan balap sprint, tapi sebuah maraton.
Pasti ada waktu dan garis finishnya. Dengan gelar pemenang bersanding bangga. Semoga.
Singalong
Akhir pekan ini adalah akhir pekan yang cukup panjang. Hari jumat tanggal merah. Sebenarnya hari sabtu aku harus tetap masuk sesuai jadwal, namun pada akhirnya aku meminta ijin untuk kerjaanku sabtu aku kerjain remote.
Jumat malam akhirnya terobati juga rasa kangen rekaman podcast dengan alat yang lebih proper. Adalah Mas Roni dan kawan-kawan dari Elbe Space yang memfasilitasi. Elbe Space adalah ruang kolektif-kreatif yang ada di Jalan Radjiman, Laweyan. Beberapa pekan sebelumnya, di sini terselenggara diskusi soal musik. Spesifiknya metal. Dan aku didapuk untuk jadi moderator. Sebuah pengalaman tak terduga.
Memoderatori acara musik saja belum pernah terbersit, lha ini musik 'keras' lagi. Hahaha. Pengalaman baru.
Nah, jumat malam aku bersama Tom rekaman lagi nih. Dengan alat yang lebih proper, kualitas yang dihasilkan juga bagus banget. Ada kesenangan malam itu. Sama dengan aku tidak menyangka podcast ini masih berjalan sampai hari ini dengan dinamika pun apresiasi yang beragam.
Sabtu pagi, aku memutuskan mencoba kedai baru depan kampus. Ya tentu karena aku membutuhkan wifi untuk mengerjakan pekerjaan hari itu.
Entah, sabtu itu jadi sabtu yang campur aduk. Aku seperti merasa kehilangan tapi aku tau tidak ada yang hilang. Merasa sendirian padahal aku tau banyak kawan baik di sekitar.
Untungnya, malam hari sedikit mereda. Aku menuju ke Elbe Space lagi karena di sana terselenggara Singalong, acara karaoke ala teman-teman suporter.
Meski sadar bahwa suara ini fals, aku menikmatinya. Ikut bernyanyi yang aku bisa.
Sampai kemudian Tom merekam momen ketika kami menyanyikan lagu Matraman - The Upstairs. Ku putar ulang video itu dan yah aku senang.
Senang masih bisa berkumpul dengan kawan-kawan. Senang karena aku kembali mencoba hal baru. Berkenalan dengan kawan baru.
Malam itu aku bertemu dengan Bagas, seorang vokalis salah satu band di Solo. Bagas ini memiliki unit usaha persablonan. Karena kebetulan aku hendak ingin membuat bendera, maka ngobrollah kami berdua.
Saat ku tanya berapa harga membuat bendera, Bagas menjawab, "Buat Pagar Hijau? Tak bikinin wae." Heeey. Dia menawarkan gratis. Aku tak habis pikir dengan orang-orang ini. Aku desak untuk tanya berapa harganya, Bagas enggan menjawab. Ya Allah.
Dan di detik ini, ketika menuliskan ini, aku tiba-tiba merasa takut. Takut tak bisa membalas kebaikan dari kawan-kawanku. Aku juga merasa malu. Mengapa aku belum bisa se-ringan tangan kawan-kawanku ini.
Aku masih sering merasa jengkel mengapa menjadi seorang yang fast-respon ketika membalas pesan sementara yang berbalas pesan denganku berlaku sebaliknya. Masih sering jengkel ketika ada janjian lebih sering aku yang menunggu. Rasanya harus ada yang diubah dari perasaan ini. Biarkan mengalir saja. Menikmati dinamika kehidupan, menikmati proses dan terus kejar yang diimpikan. Yakin usaha sampai, wes.
Ke Cirebon
Sabtu, 6 Maret 2021, saya melakukan perjalanan menuju Cirebon bersama rombongan guna menghadiri akad nikah salah satu kawan baik. Ini adalah kali kedua saya ke Cirebon. Pertama kali ke Cirebon ya sama kawan yang mau akad nikah ini, 4 tahun sebelumnya kalau nggak salah. Wildan adalah kawan itu.
Saya tidak pernah merasakan se-campur-aduk ini. Padahal bukan saya yang nikah. Ada perasaan bahagia akhirnya Wildan menikah juga, setelah sekian purnama mendambakan ada nggak wanita yang mau sama dia. Haha.
Saya senang dengan pilihan siapa wanita yang akan dinikahi Wildan. Namanya Khusnul. Saya juga kenal dengannya. Kami (saya, Wildan dan Khusnul) pernah bekerja satu organisasi. Dimana Wildan menjadi ketua, sedangkan saya dan Khusnul menjadi ketua bidang masing-masing.
Tapi ada juga perasaan waswas. Jangan-jangan Wildan bakal susah lagi nih nongkrong bareng kita-kita. Secara dia sudah punya “teman nongkrong” yang lebih intim dan berpahala haha.
Wildan melangsungkan akad sekitar pukul 9 pagi. Pas dia ngucapin kalimat “saya terima nikahnya” jujur saya seperti ‘maktratap’. Asyuu, koncoku rabi. Haha.
Sebenarnya saya berniat untuk biasa aja. Tapi kok ya sedikit mbrambang, untung nggak sampai nangis. Mau dibilang apa sama teman-teman lain yang datang coba.
---
Beberapa kawan menikah dengan sesama kawan juga. Mudahnya, saya sama-sama kenal dengan dua mempelai. Sebelumnya, ada Mas Doni dan Atikah serta Ghilman dan Wafa.
Hari itu Ghilman dan Wafa datang sama anaknya, Nayla. Lucu sekali. Sejauh ini sih lebih banyak mirip Wafa ya, mungkin karena sedikit gempal. Haha.
Di perjalanan pulang saya, Afif dan Febri saling ngobrol. Diantaranya adalah perasaan senang punya kawan yang menikah dengan kawan sendiri. Semacam seneng aja gitu kalau ngumpul bareng-bareng. Baik yang laki atau yang perempuan jadi nggak canggung.
---
Awalnya saya ingin mengunggah foto di instagram, setelah sekian lama, dengan foto kami bertiga: saya, Wildan dan Khusnul. Sebagai apresiasi dan penghormatan besar terhadap Wildan. Bisa dibilang selama di kampus Wildan ini adalah orang yang paling sering direpoti oleh saya, beberapa kali saya juga jengkel dan sebal dengannya. Tapi nampaknya lebih banyak saya yang membuatnya kesal haha.
Saya cuma berharap setelah ini unggahan foto di instagram Wildan didominasi foto mereka berdua. Lha, selama ini kalau dihitung hampir 25% isi instagram Wildan itu kalau nggak foto saya, saya yang motoin atau minimal ada saya di momen tersebut. Ncen Bhajingaaaaaaaan.
--
Seperti yang tertulis dalam kado, “Sakinah sampai Jannah dan Khusnul Khatimah” adalah harapan saya dan kawan-kawan lain untuk kalian berdua.
Sakinah saklawase ya Wil, Nul.
Pulang.
Beberapa waktu belakangan, setiap pagi hujan selalu turun di daerah Jakal. Mungkin daerah-daerah lain juga. Turunnya hujan di pagi hari ini membuat dilematis. Setidaknya bagi saya. Pilihan antara menarik selimut kembali atau memutuskan untuk memasak air dan menyeduh kopi.
Dan pagi ini saya memutuskan untuk mengambil pilihan kedua. Seusai menjalankan ibadah subuh, membalas beberapa pesan yang semalam belum sempat saya balas karena ketiduran, dan membuka media sosial untuk mengetahui update hasil pertandingan bola semalam; Liga Malam Jumat, saya memasak air.
Seusai kopi tersajikan, saya duduk dan membuka laptop. Membakar satu batang gudang garam sembari membuka youtube dan menuliskan: pulang ke pamulang.
Akhir tahun lalu saya tidak begitu paham kalau lagu Pulang ke Pamulang adalah karya Endah n Rhesa. Saya mendengar lagu itu dari aplikasi spotify yang terputar secara acak. Maklum, saya belum ada urgensi untuk mem-premium-kan aplikasi ini.
Pekan lalu, saya menyimak obrolan Gofar dengan Endah n Rhesa dalam sesi Ngobam andalannya. Sebuah acara ngobrol dengan musisi yang sering saya ikuti. Saya banyak belajar dari Gofar bagaimana ia membawakan sebuah sesi diskusi/obrolan, mengulik hal-hal yang tak terduga, dan ya selalu ada hal-hal baru yang saya dapatkan.
Tidak melulu rumah, setiap kita punya definisi pulang masing-masing.
Pagi ini saya merefleksikan makna pulang dalam sekup yang lebih luas. Tidak akan membahas keluarga dalam hal ini karena ya sebagian besar kita keluarga adalah refleksi utama pulang itu sendiri.
Saya mencoba memaknai pulang sebagai tempat dimana saya diterima dan menjadi diri sendiri. Tidak ada yang perlu ditutupi.
Tahun ini bisa dibilang adalah tahun yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Sosok yang biasa bertegursapa canda ria kini tak lagi sama. Ada perbedaan jalan yang harus dipilih. Hal-hal yang dahulu mungkin bisa sering dilakukan bersama, kini tak lagi. Tidak ada yang perlu disesal, cukup dikenang.
Semua yang pernah hadir dalam diri kita, mau tidak mau pasti pernah memberikan efek untuk diri kita sekarang.
Saya mencoba memaknai lagi pulang itu apa, siapa, dimana. Dan untuk jawaban itu, bahkan hingga tulisan ini saya ketik, pencarian masih berlanjut. Semoga segera. Apapun, siapapun dan dimanapun. Pulang.
Kadang saya berpikir. Kenapa ya saya jarang memiliki circle pertemanan dekat yang acap kali bertemu selalu berusaha mengabadikan momen dengan foto dan buru-buru mengunggahnya di media sosial?
Pikiran saya ini terbesit manakala sering mendapati banyak kawan yang setiap bertemu kawan lainnya diakhiri dengan unggahan momen di media sosial. Tidak, tidak ada yang salah disana. Saya juga beberapa kali melakukannya. Tidak sering memang.
Dari masuk kuliah, mungkin circle pertemanan saya banyak dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak cukup untuk dibilang instagramable. Tidak di tempat-tempat dengan latar belakang yang apik bagi jepretan foto.
Saya ingat, hampir satu tahun ada tempat yang paling rutin saya dan kawan-kawan kunjungi. Berangkat selepas maghrib/isya, pulang bebarengan dengan pemilik tempat jualan.
Kalau tidak salah ini terjadi ketika saya duduk di semester empat. Kami sering datang ke Hik Raja Koyor. Hik atau angkringan adalah tempat yang sangat mudah dan banyak dijumpai di Kota Solo, lebih-lebih di sekitar kampus tempat kami kuliah. Di Kentingan.
Koyor merupakan salah satu makanan dengan kandungan lemak yang tinggi, yang disajikan dengan cara dibakar terlebih dahulu. Kami menyebutnya Hik Raja Koyor bukan karena penjual menemakan hiknya demikian. Tapi karena kami sepakat di hik ini sajian koyornya paling banyak dan terhitung enak dibanding hik-hik sekitar.
Selain koyor, Es Teh Kampul adalah varian minuman yang paling akrab kami pesan. Sebenarnya, kalau dalam bahasa lebih gaul disebut es lemon tea. Tapi kami menolak menyamakannya. Pertama, secara rasa berbeda. Kedua, secara harga apalagi. Haha.
Atau di masa penghujung kuliah dan sampai sekarang, kami sering nongkrong di Wedangan Pur. Wedangan yang berada di Jalan Thamrin. Dimana baru-baru ini, lahan kosong di dekat wedangan sudah berubah menjadi coffeshop bernama Thamrin Coffee. Padahal lahan kosong itu dulunya adalah tempat kami buang air ketika sudah kebelet.
"Ngencingin mana lagi yok, barangkali jadi coffeeshop lagi," candaan yang sering kami lontarkan.
Di dua tempat dengan dua circle pertemanan yang berbeda, kami masih belum akrab dengan mengabadikan momen melalui foto. Mungkin karena seringnya kami datang ke tempat itu. Juga karena kami terlalu hanyut dalam obrolan dan canda tawa.
***
Semakin dewasa semakin ada-ada aja yang dipikirkan pun direnungi. Hal-hal sederhana. Perjumpaan realita.
Seperti kali ini, tiba-tiba terbesit perihal circle pertemanan. Kehidupan pertemanan yang barangkali tidak seperti umumnya orang jaman ini. Ah, atau barangkali saya saja ya yang berpikir berlebihan? Entahlah.
Tapi dari sekian hal itu, selalu ada yang patut untuk disyukuri. Proses berkehidupan, interaksi yang terjalin, komunikasi yang berkesinambungan serta apa-apa yang menjadi beban sekaligus pelepas penat.
Amit
Pada mulanya, saya datang ke kamar kos milik Mas Tomi karena janjian akan rekaman podcast bersama. Tapi ketika saya sampai disana, ternyata Mas Tomi tidak sendiri. Ada Jobi dan Wilis, sepasang kekasih yang baru saja selesai lamaran.
Saya melihat sepasang kekasih ini sedang mengabsen satu-satu kawannya. Ternyata, itu berkaitan dengan undangan pernikahan mereka Oktober mendatang. Pesta pernikahan mereka direncanakan tidak terlalu besar, sekitar 300-an undangan kata mereka. Hanya kerabat dan kawan terdekat saja yang mereka undang.
Saya kenal Jobi baru-baru saja. Belum ada 3 bulan. Tapi Jobi sudah memberikan woro-woro supaya saya bisa hadir dalam pesta pernikahannya. Artinya, secara tidak langsung saya sudah dianggap kawan terdekatnya.
Kawan asal Sragen yang memiliki darah Bonek ini pernah menampung saya di kamarnya manakala saya terlambat pulang ke kos karena terlampau malam dan jalan menuju kos sudah diportal. Malam itu, kami banyak bercerita. Lebih-lebih soal kehidupan menjelang pernikahan.
Ada satu hal dari jobi yang memberi kesan kepada saya. Ia selalu menggunakan awalan kalimat, “Amit” sebelum membicarakan sesuatu. Amit disini bisa diterjemahkan sebagai “permisi”. Sebuah bentuk kesopansantunan, bahkan kepada kawannya sendiri.
Ia seperti memberi rasa hormat kepada lawan bicaranya dan melakukan tindakan preventif agar tidak ada ketersinggungan atas obrolan yang terjalin. Saya memaknainya sebagai kebiasaan yang luhur, yang bisa jadi sudah jarang ditemukan secara jamak pada kehidupan umat manusia saat ini.
Dari “amit”-nya Jobi saya juga belajar. Bahwa memberi penghargaan kepada lawan bicara lebih terhormat daripada sekadar memaksakan lawan bicara menerima apa yang kita sampaikan. Sebuah nasihat kehidupan yang berarti bagi saya.
Mengutip salah satu lagu milik Begundal Lowokwaru, sebuah band asal Malang, “...Sapalah sang mentari diufuk barat Kepal keras tangan kini Kau telah punya pendamping Selamat menikah teman Dan esok pasti kau tetap tuangkan rindumu Pada kami dengan rasa bangga dijiwamu Pastikan tetap temani hari hari kita Dengan istri disampingmu Dan dengan bayi dipelukmu..”
Selamat menikah, Job.
Di Sebuah Kesempatan di Masa Depan
Di sebuah kesempatan di masa depan, kamu perlu menengok kembali unggahan foto ini. Sekilas, fotonya hanya menampakkan dua orang yang berjabat tangan dengan latar sebuah acara konsolidasi mahasiswa. Unggahan yang menyedot perhatian lumayam banyak. Terbukti dengan ratusan komentar dari kawan-kawan, juga dari orang-orang lain. Tentu, bukan karena foto atau tulisan yang tertera. Oktober 2017 menjadi satu diantara beberapa bulan paling luar biasa selama mengenakan almamater kampus. Berurusan dengan banyak pihak, media, aparat kepolisian, LBH dan lain sebagainya. Di sebuah kesempatan di masa depan, ajak anak atau cucumu datang kepadaku. Akan ku ceritakan bagaimana hebatnya ayah dan kakek mereka. Tentang tekad yang membaja dan rasa haru yang tak dapat diungkap kata. Di sebuah kesempatan di masa depan, kita akan sama-sama bersyukur pernah menikmati itu semua. Selamat mempersiapkan menjadi ayah dan kakek, Wil.
Selamat Jalan,
Telinga saya teramat akrab dengan lantunan macam Stasiun Balapan atau Cicak Rawa. Selain karena lingkungan keseharian saya semasa kecil, lagu-lagu tersebut melekat pada salah satu sepupu saya. Beliau adalah cucu pertama di keluarga besar ibu.
Ketika akan masuk sekolah dasar, sepupu saya mengalami sebuah insiden kecalakaan. Hingga kemudian Gusti Allah memberikan karunia kepadanya, dengan sedikit berbeda dari kita kebanyakan. Beliau memiliki gangguan kejiwaan. Semenjak itu, sepupu saya ini hanya berkawan dengan sebuah tape atau kita biasa menyebutnya radio.
Lewat suara radio miliknya, lagu-lagu Sang Maestro selalu berputar. Sepupu saya juga memiliki banyak sekali kaset dari album-album Sang Maestro. Di keluarga besar kami, sepupu saya ini bisa dibilang yang paling ngefans -ditengah kondisi beliau yang sedikit berbeda dari kami semua.
Lagu-lagu Sang Maestro kemudian secara tidak langsung dapat dengan mudah kami hafal ketika kecil dulu. Sama sekali tidak ada niatan menghafal lagu-lagunya. Tapi entah karena daya magis dan keakraban lingkungan sekitar kami, lagu-lagunya merasuk dalam sanubari kami. Berdendang kecil ria ditengah gempuran lagu-lagu mainstream ala televisi kala itu.
Tahun 2019 bisa dibilang adalah salah satu tahun beliau. Lagunya kembali berdendang di kalangan anak muda. Saya dan kebanyakan anak usia saya, seolah kembali bernostalgia dengan masa kecil. Masa dimana kami secara tidak sadar telah banyak khatam lagu-lagunya.
Naik daunnya kembali lagu-lagu Sang Maestro setidaknya membuat kami berbangga. Di tengah banyaknya kawan-kawan dari Kota semasa kami dewasa ini yang sering memandang sebelah anak-anak Ndeso, sering menyebut kampungan, kami seolah tersadar akan sebuah kebanggan lawas yang dari dulu kami malu-malu untuk akui.
Sang Maestro membuat kami sadar bahwa kebudayaan harus dilestarikan. Akan tetap menyesuaikan jaman. Rasa malau akan kedaerahan hanya membuat kita menjadi merasa tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan untuk berdaya saing dan menjadi dirinya sendiri.
Tahun 2019, Bekraf menggelar acara festival di benteng Vestenbrug Solo. Salah satu pengisi acaranya adalah Sang Maestro. Kami tidak ingin melewatkan momen itu. Setelah berdesakan dan sedikit bersitegang dengan beberapa orang karena susahnya masuk ke venue, akhirnya kami bisa menyaksikan beliau secara langsung ketika kami dewasa.
Dulu yang hanya kami dengar melalui radio-radio milik kakek kami, milik sepupu kami, kini dapat kami saksikan secara langsung. Energi luarbiasa kami dapatkan malam itu. Setidaknya, kami bangga akan budaya kami, tidak malu menyanyikan lagu-lagu masa kecil kami dan terpenting kami bergembira di tengah lagu-lagu patah hatinya.
Hari ini, di tanggal kelima bulan lima tahun 2020, Gusti Allah memanggilnya. Mengumpulkannya dengan Ayah dan Kakaknya yang sudah terlebih dahulu tinggal.
Bagi kami, ia akan tetap bersemayam dalam lubuk hati kami. Lagu-lagunya akan tetap dinyanyikan sampai kapanpun. Dan karenanya, kami bisa kembali bangga atas kedaerahan kami.
Terimakasih Pakdhe Didi Kempot. Selamat jalan.
“Siapapun, jangan menyerah.” tulis Adetya Evan dalam akun twitternya.
Kita tidak pernah tau, pada titik mana rasa menyerah itu menghampiri. Bisa jadi ketika berada dalam posisi dengan bahan bakar masih setengah lebih. Tapi lebih sering terjadi manakala penunjuk bensin sudah berada di kotak merah; ketip-ketip.
Sebuah pekan yang cukup menguras energi, emosi bahkan sempat air mata. Pergolakan yang luar biasa. Fasenyapun naik dan turun. Pernah sejatuh-jatuhnya, pernah pula ada titik semangat untuk bangkit.
Jangan menyerah. Kalimat sederhana, namun beragam pemaknaan. Ada yang bilang omong kosong. Ada yang terenyuh dan bergejolak hatinya. Ada yang biasa saja.
Ah, terimakasih tweetnya, Van. Jangan menyerah.
Bebek Goreng Dini Hari
Aku sudah bersiap memejamkan mata, merebahkan badan pada kasur biasanya, memutar lantunan merdu Abdur-Rahman As-Sudais dalam Surah An-nisa, menarik selimut dan menggenggam bantal yang kujadikan guling seadanya.
Disela-sela lantunan merdu yang terdengar, mata ingin terpejam tapi otak terus bergerak tak beraturan. Kesana-kemari. Sebelum memutuskan tidur, seorang kawan memberi kabar, lebih tepatnya meminta bantuan. Ia butuh beberapa jumlah uang karena gawai dan dompet seisinya raib. Ia meminta bantuan dengan nominal yang lumayan. Ingin sekali aku membantu langsung saat itu juga.
Pikiranku terus berjalan. Aku benar-benar tak bisa tidur. Banyak hal yang biasanya tak terpikirkan, kini menjadi bulan-bulanan. Memikirkan yang tak biasanya terpikirkan.
Sekeras usahaku untuk memejamkan mata, perut memberontak. Ia menagih asupan. Karena iba, aku memutuskan untuk memesan makanan melalui layanan aplikasi daring. Ya, pukul dua pagi.
Tanganku bolak-balik mencari menu yang cocok. Lebih tepatnya, yang bisa datang lebih cepat. Bebek goreng. Aku putuskan untuk memesannya.
Dua puluh menit akhirnya pesananku tiba. Aku melahapnya. Diakhiri dengan meneguk teh hangat dan sebatang sampoerna, aku memutuskan untuk mencoba kembali tidur.
Ternyata masih belum bisa. Kemudian aku membuka laptop, menulis ini, dan kini aku merasakan kantuk. Saatnya terpejam. Semoga shubuh membangunkanku kembali. Karena pagi, terlalu sayang untuk dilewati.
Saat sebagian besar mata terpejam, ia beranjak dari kasurnya. Mengambil satu buah gelas, kemudian mengisi air putih dari galon di ruang tengah. Ia meletakkan gelas yang sudah terisi itu di atas meja, tempat biasa ia memainkan gim Pro Evolution Soccer di laptopnya.
Masuk kembali ke kamarnya, mengambil satu bungkus Sampoerna dan sebuah korek kemudian ia duduk di depan meja tadi.
Ia kemudian membakar satu batang, meneguk air putih di gelas, kemudian membuka gawainya. Aplikasi paling awal yang ia tuju adalah twitter. Baginya, sosial media yang tak pernah ia lewatkan sejak pertama kali membuatnya adalah twitter. Bukan facebook, tidak pula instagram.
Baginya, twitter memberi banyak lalu lalang informasi. Ia dapat tahu ketika seorang kawan baru saja terjebak macet. Atau, kawan lainnya yang mendengus kesal, mungkin karena sikap pacarnya. Atau hal-hal lain.
Lamat-lamat ia membaca tweet seorang kawan. Dimana sang kawan menceritakan kisah asmara, umm lebih tepatnya kisah bagaimana ia sedang mengagumi seorang pria.
Ia membaca pelan tweet itu. Sampai di titik ia sadar. Bahwa pria yang ditulis oleh kawannya itu adalah dirinya.
Sedikit tersenyum, kemudian ia memilih menutup gawai. Membakar sebatang Sampoerna lagi, meneguk air putih, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Berjalan keluar kosnya. Melihat bulan yang nampak sempurna. Ia baru sadar jika ini malam lima belas.
Sambil menatap langit, ia bergumam dalam hati. Terkadang tidak semua yang kita cintai akan kita miliki. Dan terkadang tidak semua yang kita miliki itu kita cintai. Tetaplah berbahagia.