Di gerbong restorasi, dalam perjalanan pulang bertolak dari Purwokerto...
R: Nop, sepanjang karirmu naik gunung selama ini, menurutmu mana yang paling oke?
N: Hmm... Sejauh ini ya Slamet kali ini, Rak
Novri mengungkapkan beberapa alasan. Masuk akal, pikirku. Setelah mengobrol beberapa lama, kami kembali ke gerbong masing-masing. Sobatku itu turun duluan di Solo, sedangkan aku masih melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Kurang lebih sudah genap 2 hari sejak kami turun dengan selamat dari Gunung Slamet. Kukira akan masih tersisa jejak euphoria mengasyikkan sisa pendakian kemarin. Namun yang ada di benakku justru sebaliknya, "Kok hampa ya?"
Pendakian kemarin memang bisa dibilang pendakian yang cukup baik. Perjalanan naik dan turun sesuai estimasi, logistik yang dibawa pun ringkas dan tidak berlebihan. Treknya memang lumayan panjang dan ekstrim, namun semua lelahnya terbayar oleh keindahan yang disuguhkan di puncak. Iya, sangat seru dan menyenangkan kok. Tapi kenapa rasanya ada yang kurang ya?
Sudah sejak lama juga aku mendambakan bisa naik gunung bareng Astonic, namun belum pernah bisa karena kendala izin ortu. Saat akhirnya kini sudah dikabulkan, kenapa kok rasanya belum puas ya?
Semakin tervalidasi bahwa yang aku cari bukanlah pendakiannya, atau trek menantangnya, atau view di puncaknya, atau hasil foto-foto epicnya. Aku semakin paham bahwa yang kucari adalah menikmati waktu dan perjalanan bersama orang-orangnya.
Jujur, bayanganku tentang mendaki bersama Aspal itu adalah pendakian yang ramai, yang banyak ngobrol selama perjalanan dan di camping area. Perjalanan yang minimal akan ada si A, si B, si C, si D, dan mungkin si E. Bukan pendakian yang orangnya cuma sedikit ini dan lebih fokus ke berjalan mencapai puncak.
Menyenangkan sih, tapi ternyata bukan ini yang benar-benar kucari wkwk.
Emang dasar ngga pandai bersyukur kamu, Rak. Udah dikasi rezeki tenaga, waktu, dan budget buat perjalanan kemarin aja kamu masih minta lebih wkwk.
Gapapa ya, cuma mau nulis aja buat mengurai gelisah yang gajelas ini. Jangan bilang-bilang ke Novri sama Syauqi yah hehe.
Oke, mungkin sudah saatnya aku menghentikan ambisi buat mendaki bareng Astonic ini. Realistis aja, Rak, kamu itu jauh dari mana-mana dan teman-temanmu itu sudah pada punya prioritas masing-masing huhu...
Anw, biar ga terlalu sedih, aku mau kasih foto ini. Oleh-oleh buat manteman Tumblr aq~
Kontemplasi di kamar kos, 17 April 2022