Opini tentang Pernikahan, dari Luyyina di usia 21-nya
Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Saat ini kuliahku sudah memasuki semester tua, semester 6. Kalau lancar, insyaAllah 2 semester lagi aku akan lulus sebagai Sarjana Ekonomi. Aamiin..
Tujuanku setelah ini sebenarnya masih belum terlalu jelas. Entah akan memberanikan diri untuk terjun di dunia yang benar-benar aku minati, yaitu bisnis atau terlebih dahulu mencicipi bangku kantoran, bekerja di balik meja 8 jam sehari, berangkat pagi dan pulang sore. Yang jelas, aku ingin segera sukses, segera kaya. Aku punya mimpi untuk dapat memiliki mobil pribadi sebelum usia 25, memiliki rumah pribadi sebelum usia 28, pengalaman menjelajah berbagai negeri di usia semuda mungkin, dan mimpi-mimpi lainnya yang aku sadari butuh usaha keras untuk itu.
jadi, kalau dipikir-pikir, timeline hidupku kurang lebih akan seperti ini:
Kuliah – Lulus – Kerja – punya mobil – punya rumah – terus kerja – keliling Eropa – bikin cake house – mau ke sini – mau ke sana – mau ngasih ini – mau bikin itu – mau ngelakuin ini – mau bisa itu -lalu …. waktu pun terus berjalan. terus tiba-tiba udah tua deh -_-
“Loh? kapan aku nikah ya? wah ga bakal bisa nikah dulu sih kalau gini, soalnya kalau udah nikah ga bebas, harus ngurus rumah, ngurus suami, belum lagi kalau udah punya anak, susah deh buat blablablablablabla… yaudah deh, nikahnya nanti aja!”
Engga, itu bukan timeline rencana hidupku kok. itu cuma sebuah pikiran randomku ditengah perjalanan Bandung-Depok beberapa hari lalu.
Lalu setelah pikiran random itu, aku muai berpikir tentang “mau bebas dulu”. apa iya dengan tidak menikah dan fokus mengejar mimpi-mimpi itu adalah suatu hal yang disebut bebas? Apakah ya keputusan untuk tidak menikah dulu dengan alasan aktualisasi diri itu yang disebut dengan bebas?
“iya dong, kan kalau ga nikah jadi ga ada beban urusan rumah tangga, ga perlu mikirin orang lain, ga perlu ngurusin ini dulu, ga ngurusin itu dulu, fokus aja di mimpi yang pengen dicapai…….”
Sebelumnya, tulisan ini aku khususkan untuk pembaca wanita yaaa. tapi kalau ada laki-laki yang mau baca juga mangga aja, silakan.
Nih, kebanyakan orang menganggap masa lajang merupakan masa kebebasan. Kenapa? Katanya, karena kita bisa bekerja lembur tanpa khawatir ada yang menunggu di rumah, bisa main kesana kemari bersama teman-teman, bisa nongkrong lembur mengejar deadline di coffeshop hingga tengah malam, bisa mengikuti berbagai kegaiatan sesuka kita, bisa aktif di berbagai organisasi tanpa perlu bagi waktu dengan pasangan, bisa ke luar negeri sendiri tanpa mikir ada yang nemenin, bisa kemana-mana sendiri tanpa bergantung orang lain, bisa ini sendiri, bisa itu sendiri, wah, menyenangkan deh kalau masih sendiri. Bebaaaas!
Wow. Apa iya itu sebuah kebebasan?
Aku, sebagai seorang yang jarang beropini karena selalu merasa takut akan penolakan atas pendapatku kali ini mencoba untuk nulis opini. Namanya opini, tentu dari sudut pandang pribadi. Jadi, maaf maaf aja kalau terlihat sotoy. Namanya juga opini. Tapi, dengan adanya berbagai dasar yang tiba-tiba lewat di pikiran saat proses beropini ini, semoga bisa menutupi kesotoyanku yang masih fakir ilmu ini.
Jadi gini, aku pernah baca suatu hadits yag bilang kalau wanita itu adalah fitnah bagi lelaki. Setelah aku cari, hadits yang cukup menarik dan berkaitan bunyinya nya begini nih:
حفظه الله. عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
• اِتَّقُوْا النِّسَاءَ : waspadalah terhadap wanita; maksudnya, yaitu berhati-hatilah terhadap fitnah yang ditimbulkan olehnya
• فِيْ النِّسَاءِ : pada wanita, yakni fitnah itu disebabkan oleh kaum wanita.
Wanita itu memang sudah kodratnya menjadi salah satu hal yang rentan untuk menimbulkan fitnah. Berkeliarannya kita bisa jadi menjadi fitnah bagi lelaki, dan bagi diri kita sendiri. Jadi, kalau dari pandangan penulis pribadi, yang didukung oleh hadits ini melihat bahwa ternyata tidak ada kebebasan bagi seorang wanita lajang. karena wanita kodratnya adalah fitnah. Di sini lain, salah satu hikmah atau kebaikan menikah sendiri adalah untuk menghindari fitnah.
Jadi, kebebasan pada wanita itu ada ketika lajang atau menikah yaaa?
Terus secara random ku jadi kepikiran tentang safar (perjalanan) bagi seorang wanita.
Katanya kalau lajang itu bebas, bisa pergi kemana aja sendirian tanpa harus ribet mikirin siapa yang nemenin, tanpa harus bergantung sama orang lain untuk bisa pergi kemana-mana, pokoknya enak lah. gausah ribet-ribet bergantung sama orang, sendiri juga berangkaaaat!
Bener gak sih sebebas itu kalau wanita lajang?
Rasulullah pernah bersabda, yang kemudian diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas bahwa beliau mendengar dalam khotbah Rasulullah saw: “Sungguh, janganlah seorang laki-laki menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali dia bersama mahramnya. dan tidak boleh seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya”.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Said: “Bahwasanya Rasulullah saw. melarang wanita bepergian dua hari ataua dua malam perjalanan, kecuali disertai oleh suami atau mahramnya”
Dua imam itu juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi wanita untuk bepergian sehari dan semalam perjalanan, kecuali bersama mahramnya.”
Riwayat lain dari dua imam tersebut: Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang wanita bepergian selama tiga hari, kecuali bersama mahramnya.”
Dari ketiga riwayat tersebut, ada perbedaan terkait lamanya safar yang Rasulullah sebutkan, ada yang sehari semalam, dan ada yang tiga hari. Namun, tidak ada penetapan jarak minimal untuk kata safar.
Jadi, yang dilarang sehari, tiga hari, atau berapa hari? Ternyata, kalau dibaca dari hasil mengkaji yang ditulis di buku fiqih wanita tulisan Prof. Dr. Mohamed Osman El-Khosht, adanya perbedaan waktu dalam riwayat itu disesuaikan dengan pertanyaan yang ditanyakan kepada Rasulullah. Ketika beliau ditanya tentang wanita bepergian selama sehari semalam, maka beliau mengatakan bahwa wanita tidak boleh safar selama sehari semalam tanpa suami atau mahramnya, ketika ditanya tentang wanita safar selama dua hari, beliau mengatakan bahwa wanita tidak boleh safar selama dua hari atau lebih tanpa mahramnya, safar selama tiga hari pun begitu dan begitu seterusnya. Jadi, kalau disimpulkan, kata safar adalah mutlak, yaitu semua perjalanan yang dapat disebut safar. dan seorang wanita dilarang bersafar (bepergian) tanpa mahram atau suaminya, baik jaraknya tiga hari perjalanan, setengah hari, dan lainnya. (Untuk penjelasan lebih lengkapnya, bisa baca langsung di bukunya. Termasuk jika memang gak punya suami atau mahram yang bisa menemani safar.)
Jadi, apakah melajang dengan alasan ingin jalan-jalan tanpa bergantung pada orang lain dulu adalah suatu kebebasan yang dimaksud?
Karena ini opini, izinkan saya untuk beropini. Tidak maksud untuk menyimpulkan, karena inginnya pembaca sekalia yang menyimpulkan. Tapi terserah sih kalau kalian mau menganggap ini sebuah kesimpulan. hehe
Kebebasan diri kita sebagai wanita bukanlah ketika kita melajang dan terus-terusan mengejar karir, berkesibukan, pergi kemana-mana sendiri dan terus mengejar “kesusesan” dalam definisi dunia. Itu bukanlah kebebasan tenyata, karena akan timbul fitnah di sana. Juga karena ada batasan di sana saat kita masih “sendiri”.
“Wah, kok islam sangat membatasi? Aku kan pengen jalan-jalan…”
Bukan gitu sisters, justru islam sangat melindungi. Kita, sebagai wanita, merupakan makhluk yang lemah. Iya, lemah. Barang kali kita pernah mendengar bahwa wanita itu kurang akal dan agamanya.
“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)
“tapi gue atlet taekwondo loh, sering ikut kejuaraan.”
Kuat di sini bukan hanya kuat fisik, tapi juga kuat hati, mental, dan imannya. Wanita kadang mudah terusik perasaannya, mudah tergoyah pendiriannya, atau mudah terluka hatinya. Maka dari itu, wanita disebut kurang akal, karena untuk persaksian saja dua orang wanita sebanding dengan seorang pria. Disebut kurang agamanya, karena wanita punya masa haidh yang membuat kita tidak bisa terus-terusan beribadah seperti laki-laki.
Kalau aku boleh iseng sih, aku pengen bilang gini: “jangan sok kuat yaa" hehe
Sooooooo, menurut aku pribadi, justru kebebasan yang lebih indah adalah kebebasan yang bukan kebebasan duniawi, yang justru ternyata ada saat kita sudah menikah.
Simpelnya sih, kalau kita udah nikah bakal ada rasa mawas diri (?) juga yang bikin kita ngerasa kalau kita istri orang yang juga harus jaga nama baik suami. Terus kalau udah nikah bakal lebih terlindung dari fitnah, kalau bepergian gak perlu khawatir gak ada mahram buat nemenin, aman lah pokoknya! insyaAllah..
Jadi, kalau ingin bebas, jangan menunda menikah, segerakan saja (kalo udah ada calonnya ya).
Mangga diistikharahkan dulu supaya mantap, demi menghindari maksiat.
Buat yang belum ada calon, ya bersabar aja, semua udah Allah atur. Pinter-pinter jaga diri aja dan berdoa supaya gak terjerumus dalam kemaksiatan dikala kesendirian dan penantian ini. Semoga Allah melindungi kita. Aamiin…
Btw, ini bukan postingan ajakan nikah muda ala-ala jaman sekarang yaaa. Ini cuma hasil berkontemplasi #asik. Pemikiran random dikala perjalan dari Bandung menuju Depok.
Maapkan random banget formatnya, namanya juga opini dari pikiran random. ditambah lagi penulis amatiran yang udah lama gak nulis. Jadilah susunan bahasa dan penulisnya super random. heheeee
Perbincangan anrata Aku dan Aku di pikiranku, Perjalanan Pagi Hari Bandung – Depok
Referensiku dari internet dan buku yang aku baca:
https://almanhaj.or.id/4117-waspadalah-terhadap-fitnah-dunia-dan-fitnah-wanita.html
El-Khosht, Mohamed Osman. Fiqih Wanita: Dari Klasik sampai Modern (Fiqh an-Nisa…..
https://rumaysho.com/1989-wanita-kurang-akal-dan-agamanya.html