Sore tadi aku menonton salah satu variety show Korea favoritku, Master in The House. Tema pada episode yang aku tonton adalah: Festival Kegagalan. Saat menonton episode itu, aku jadi berpikir dan merefleksikan tentang makna kegagalan. Kenapa orang merasa gagal? Kenapa orang itu menuliskan angka 77 pada jumlah kegagalan pada hidupnya? Kenapa yang lainnya ada menuliskan angka 3? atau angka 4?
Lalu aku teringat pada masa-masa di mana aku sering menemukan pertanyaan “apa kegagalan terbesar yang pernah kamu alami?”. Yep, masa-masa itu adalah masa kuliah (jaman jadi maba yang ikut wawancara berbagai organisasi), yang entah kenapa harus ada pertanyaan macam itu.
Dulu, aku selalu memerlukan waktu lama untuk menjawab ketika mendapati pertanyaan "apa kegagalan terbesarmu sampai saat ini?". Entah kenapa, rasanya seperti tidak ada momen yang terpikirkan tentang itu. Sedangkan ketika diberikan pertanyaan "Apa keberhasilan terbesarmu sampai saat ini?" aku selalu punya banyak pilihan momen untuk dijadikan jawaban. Menimbang-menimbang mana keberhasilan yang paling besar dari semua keberhasilan yang terbayang untuk aku jadikan jawaban.
Yaampun, mulus bener ya kayaknya hidupnya.. Sampe-sampe gabisa memikirkan kegagalan. Giliran disuruh mikir keberhasilan, banyak bener yang dipikirin. wkwkwk..
Tapi aku pernah ditolak di sekolah yang paling aku impikan saat aku lulus SMP, padahal sudah sampai pada tahap seleksi paling akhir dari banyaknya rangkaian seleksi. Dan aku menangis di malam setelah pengumumannya.
Aku pernah mendapatkan hasil "TIDAK LOLOS" pada pengumuman SNMPTN dan menangis di sore harinya.
Aku pernah mengulang satu mata kuliah karena kecerobohanku saat ujian dan menangis kecewa karenanya.
Aku pernah mengalami penurunan nilai dan peringkat yang drastis pada saat SMP dikarenakan kesalahanku sendiri di masa itu dan juga menangis menyesal karenanya.
Aku pernah mengikuti kompetisi tingkat nasional, sudah optimis karena mendapatkan nilai tertinggi pada saringan karya tertulis, tapi sayang tidak berhasil masuk final setelah tahap presentasi.
Aku pernah membuka beberapa bisnis, namun akhirnya terhenti karena ketidak mampuan untuk mengelola seorang diri, ada juga yang terhenti karena pandemi, sehingga toko menjadi sepi.
Aku pernah menulis mimpi untuk ikut conference di luar negeri, membuat paper dengan sungguh-sungguh untuk dapat lolos seleksi. Tapi ternyata hasilnya belum memenuhi ekspektasi.
Wah, ternyata setelah aku coba tuliskan di sini, banyak juga ya kisah menyedihkanku? Menurut kalian, apa kisah di atas itu adalah kegagalan?
Tapi sebenarnya, kegagalan itu apa sih?
Menurutku, hal ini hanya tentang perspektif. Bagaimana kita melihat, menilai, dan memberi judul suatu momen dimana kita tidak sampai pada harapan dan ekspektasi. Apakah ingin menilainya sebagai kegagalan, atau hal lainnya?
Bagiku sendiri, momen yang semacam itu tidak akan aku nilai sebagai kegagalan, tapi aku anggap itu hanya momen ketidaktepatan saja. Entah itu tidak tepat waktunya, tempatnya, siapanya, caranya, atau bahkan jalannya. Yang berarti, memang bukan jalan hidupku ada di sana.
Ketika hal tersebut terjadi, sedih boleh, kecewa boleh, menangis boleh. Itu hal yang wajar saat menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tapi, setelahnya kita harus kembali berusaha.
Karena kegagalan itu belum terjadi kalau kita belum berhenti.
Yep. Kegagalan itu hanya terjadi ketika kamu berhenti dan tidak mencari jalan lain.
By the way, tentang kisah-kisah menyedihkan yang aku tuliskan di atas, mau tahu kelanjutannya?
Walau aku tidak lolos masuk SMA yang paling aku impikan, ternyata aku malah lolos masuk MAN IC Serpong, yang secara teknis, secara statistik, rating dll justru lebih bagus dari sekolah yang aku impikan itu. Alhamdulillah.
Walau aku tidak lolos SNMPTN dengan pilihan Manajamen-UI, tapi akhirnya aku kuliah di Manajemen-UI juga! Aku masuk melalui jalur SIMAK. Alhamdulillah.
Walau di kelas 8 SMP aku pernah mengalami penurunan nilai dan peringkat drastis di semester 2, pada akhirnya, di kelas 3 aku bisa mendapatkan surat rekomendasi pendaftaran SMA yang mensyaratkan berada di peringkat 10 paralel. Beserta bonus Nilai UN yang alhamdulillah termasuk nilai tertinggi di sekolah.
Walau aku tidak berhasil masuk final pada kompetisi nasional, aku mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru dari kegiatan itu. Alhamdulillah. Lagi pula, setelah aku pikir lagi, entah apa gunanya juga jika saat itu aku menang kompetisi untuk kehidupanku saat ini. Hehe.
Walau paperku yang bertemakan sosial saat itu tidak lolos untuk bisa dipresentasikan pada sebuah conference internasional, ternyata alhamdulillah saat ini aku bekerja di pemerintahan yang berperan melakukan perencanaan untuk negeri ini di bidang sosial. Bukankah itu justru lebih berdampak secara nyata dibandingkan sebuah paper?
Sungguh plot twist sekali ya hidup ini.
Aku bersyukur karena di masa lalu aku tidak pernah memberi judul kisah-kisah sedihku itu sebagai kegagalan. Karena ternyata, di masa selanjutnya (masa kini) kisah itu justru berlanjut menjadi kisah yang baik, yang mungkin bisa dibilang adalah kesuksesan.
Saat menulis ini (yang prosesnya mengalir saja), aku jadi tersadar akan kebenaran suatu kutipan kalimat yang pasti kalian semua sudah sering mendengarnya:
“Kegagalan adalah awal dari keberhasilan” atau “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”
Jadi, jangan terlalu cepat memberi judul seuatu momen ketidaksesuaian dengan ekspektasi dan harapan itu sebagai kegagalan, ya! :) Karena kita gak pernah tahu bagaimana kelanjutan cerita dari momen tersebut. Tugas kita hanya terus berusaha. Pada akhirnya, pasti ada jalan yang terbuka. Dan hal baik pasti ada di ujungnya.