Berislam secara Kaffah - Apa benar kita memilih dosa masing-masing?
Saya pernah melihat film pendek islami tapi lupa judulnya. Ada kalimat seorang tokoh antagonis yang ngena banget buat saya. Begini kurang lebihnya;
"udahlah. kita setiap manusia tu milih dosa masing-masing, gausah lebay ngomentarin perbuatan gua ini"
"udahlah. kita setiap manusia tu milih dosa masing-masing, gausah lebay ngelarang ini itu, gua juga tau aturan itu"
Sadar ga sih, kita itu pilih-pilih aturan, suka mengurang-ngurangi aturan mana yang harus dipatuhi. Pilih-pilih mana aturan yang dilaksanakan mana aturan yang di-gapapa-in kalau dilanggar. Berdalih, cuma sedikit ini cuma sebentar ini. Ini aturan Allah padahal.
Mengingatkan orang lain adalah mengingatkan diri sendiri. Tetapi jangan malah jadi membenarkan perbuatan sendiri yang sudah jelas salahnya, untuk pembenaran. Oh gapapa lho kaya gini, Oh gapapa lho cuma gini doang mah. Maksud saya membenarkan itu adalah menganggap dirinya adalah bener/gapapa/santaila gausa lebay ini (dah biasa istilahnya) padahal aslinya salah yang sudah jelas salahnya dalam aturan Allah. Mau sedikit mau banyak ya tetap saja salah. Kalau aturan itu bisa dilaksanakan dan diupayakan mengapa aturannya tidak dipatuhi. Misalnya riba. Riba mungkin belum bisa secara penuh untuk dihindari karena hal itu sudah termasuk dalam sistem global yang tidak bisa diberantas oleh individu. Sehingga tugas kita adalah sampai tahap mengupayakan. Nah, kalau 'janganlah kamu mendekati zina'. Allah bilang mendekati saja jangan. Aturan ini bisa dipatuhi secara secara individu atau dalam hubungan antar individu, tidak seperti riba.
Apakah benar kita memilih dosa kita masing-masing? Padahal kita sebagai hamba Allah dan mengaku muslim sepatutnya ingin berislam secara kaffah, dimana Din Islam tegak secara kaffah adalah di Madinah pada zaman Rasulullah saw. Madinah zaman Rasulullah saw lah yang menjadi kota teladan jika ingin menegakkan Islam secara kaffah dalam setiap sistem dan lini kehidupan masyarakatnya. Berislam secara kaffah bisa dimulai dari upaya mematuhi aturan-aturan Allah yang bisa dipenuhi dalam ranah atau ruang lingkup yang lebih kecil. Bagimana bisa berislam secara kaffah dalam lingkup masyarakat kota bahkan negara jika aturan-aturan yang lebih mampu diupayakan (yang tidak terkendala sistem yang lebih besar) saja tidak dipatuhi.
Pertama adalah niat. Orientasi kita adalah Allah. Aqidah diperkuat, maka syariat pun tegak, dan buahnya adalah akhlak baik dalam berislam. Percuma kalau akhlak baik namun niatnya bukan mencari ridha Allah, misalnya ingin dianggap baik oleh orang sekitar. Akhlak yang baik adalah akhlak yang tepat dalam situasi dan kondisi. Islam tidak merubah karakter seseorang namun mengarahkannya menjadi potensi manfaat dalam kontribusi kejayaan Islam. Seperti Amr bin Ash yang suka mendebat dan mengkritik ketika sebelum masuk islam dan memusuhi islam dengan menyebarkan kritik buruk tentang Islam, namun menjadi diplomat ulung bagi Islam dan menjadi utusan penting Rasulullah saw. Begitu juga Umar ra yang garang dan berkobar sebelum Islam sangat lantang usahanya memerangi Islam, namun ketika masuk Islam Umar ra adalah yang paling berani membela Islam dan paling marah jika Rasulullah saw disakiti namun paling lembut hatinya karena sering menangis ketika mengingat ia di masa jahiliyah, saking takutnya Allah tidak ridha.
Ketika seseorang dikehendaki Allah dalam kebaikan ia akan dipermudah dalam melakukan kebaikan-kebaikan meskipun sebelum menjalaninya, hal-hal tersebut terlihat terjal dan berliku. Namun saat menjalaninya malah menjadi terasa mudah. Seperti ketika berdakwah. Banyak rintangan dan tantangan tentu tak mudah. Sulit bahkan. Namun tidak menyurutkannya dalam melaksanakan dakwah tersebut. Ia tetap menjalaninya dan mengambil jalan berliku nan sulit dalam dakwah itu. Allah mudahkan ia untuk tetap menjalaninya. Berbeda dengan yang diberi rintangan atau ditunjukkan tantangan beratnya dakwah namun ia malah tidak mau mengambil jalan kebaikan tersebut kemudian ia tidak jadi melaksanakannya. Nah hati-hati, kalau tidak dikehendaki kebaikan dan diabaikan Allah, ia malah dimudahkan dan dilancarkan kepada potensi-potensi dosa, keburukan, atau dipersulit dalam melakukan kebaikan. Hal ini bisa jadi karena berarti ada yang harus ditaubati darinya, bisa karena niat yang belum lurus atau ada kejadian di masalalu yang belum ditaubati. Contohnya diri saya sendiri, terasa sekali karena saya baru saja tersadar tadi setelah maghrib ketika sedang belajar bahasa inggris, saya merasa dipersulit Allah ditunda-tunda untuk tes ielts padahal rasanya saya sudah meluruskan niat, ternyata ada dosa yang berhubungan dengan per-bahasa inggris-an yang belum saya taubati. Saya tersadar bahwa ini sangat terkait. Ketika saya sadar, ternyata tentang per-bahasa inggris-an juga.
Satu lagi, diijinkan Allah adalah belum tentu diridhai Allah. Sehingga, sangat penting bahwa orientasi kita adalah ridha Allah. Saya pernah mendengar kajian bahwa contohnya seperti saat kita meminta sesuatu kepada Allah. Terkadang kita pun tidak mendasarkan alasan kita meminta hal itu karena ingin Allah ridha. Apakah iya kita meminta ini itu dalam doa kita adalah agar Allah ridha? Jangan salah, iblis pun berdoa kepada Allah agar diijinkan menyesatkan manusia sampai hari akhir. Allah ijinkan dan kabulkan permintaan iblis itu. Kalau diberi Allah, misalnya ketika meminta sesuatu lalu akhirnya diijinkan oleh Allah namun malah Allah biarkan "nyoh nyoh tak kei tapi urusino dewe" (nih Saya berikan, nih Saya ijinkan tapi urus sendiri dan rasakan sendiri akibatnya) seperti itu kan tidak enak. Jadi apapun itu, seharusnya orientasi kita adalah RIDHA ALLAH. Apakah pantas kita mengharap, memohon, dan meminta ridha Allah tapi kita sendiri tidak ridha pada ketentuanNya salah satunya dengan melanggar aturanNya?
Ya, terkait dosa atau maksiat tadi, mintalah perlindungan Allah agar terhindar dari berbuat dosa dan maksiat karena kita tak pernah tau potensi dosa apa yang menghampiri. Mintalah Allah memudahkan kita untuk bertaubat setiap saat. Mintalah Allah agar kita dituntun dan dibimbing untuk mendapatkan ridha-Nya dan dikehendaki kebaikan di jalan kebenaran. Mintalah kepada Allah agar ujian apapun tidak mengganggu keoptimalan dan kemaksimalan pengabdian kita kepada Allah dalam menjalankan Islam secara kaffah dan berdakwah dijalanNya.
Ruh diri dalam ruh umat, 13 September 2020.