Filsafat, Bermuara Ateisme atau Meneguhkan Keimanan?
Hari ini ketika bangun tidur, saya dikejutkan dengan adanya notifikasi di smartphone saya. Salah satu dari banyak notifikasi itu, ada email masuk yang terasa asing, dari askfm. Saya sudah lama sekali tidak bermain di platform itu. Bahkan saya tidak pernah membuka akun atau sekedar search and go pada browser. Sebenarnya yang membuat saya terkejut bukan karena dari ask.fm nya namun isi email itu. Notifikasi email tersebut berisi pertanyaan yang menggelitik benak saya. Pertanyaan yang diajukan 12 jam yang lalu hari ini. Begitu tulisannya. Entah siapa yang bertanya dan entah mengapa harus bertanya lewat askfm padahal sudah lama saya tidak menggunakannya. Kemungkinan untuk saya bisa melihat pertanyaan itu kecil jika saya tidak membuka email dari akun tersebut, karena email akun tersebut berbeda dengan email yang saya gunakan untuk akun lain dari social media saya. Ternyata qodarullah saya melihat notifikasi itu malah ketika saya baru bangun, tapi saya baru bangun tidur sudah disuruh mikir. Begini pertanyaannya kira-kira jika saya coba meluruskan "kenapa ada golongan dalam agama Islam yang tidak setuju dengan filsafat/hal-hal filosofis atau bahkan mengharamkan filsafat, gimana menurut kamu".
Melangkahkan kaki turun dari tempat tidur lalu ke kamar kecil gemes banget pengen jawab. Mengerjakan beberapa tugas harian dan tumpukan pekerjaan gemes banget kepikiran pengen jawab. Gemes banget pengen jawab karena saya sudah punya jawaban atas pertanyaan semacam itu. Karena saya sudah pernah mendiskusikan ini sebelumnya dan memang pernah melihat sendiri bahwa terdapat golongan yang mengharamkan filsafat dalam Islam. Saya mikir seharian bagaimana menjawab ini dengan kalimat yang tepat. Hingga saya memutuskan untuk menjawab melalui platform tumblr dengan sebuah tulisan agak panjang.
Bismillah,
Pertama saya tidak akan berbicara mengenai golongan di dalam agama lain selain Islam. Disini saya hanya akan berbicara dalam ranah agama Islam.
Kemudian, apa itu filsafat dan bagaimana konsep filsafat itu muncul. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa arab فلسفة. Kata filosofi yang diserap dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan kata aslinya, yang diambil dari bahasa Yunani Φιλοσοφία (philosophia) yang arti harfiahnya adalah "pecinta kebijaksanaan" atau "ilmu". Seseorang yang mendalami bidang filsafat disebut filosof/filusuf. Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar yang pada akhirnya proses belajar tersebut bermuara pada sebuah proses dialektika. Untuk mempelajari filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Ini bedanya dengan ilmu terapan, filsafat merupakan hal mendasar atau fundamental karena filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Sebetulnya, ilmu lain lahir dari filsafat. Pada berbagai hasil pemikiran dan argumentasi dari proses dialektika kajian suatu permasalahan, tentu saja ada hal-hal yang memerlukan penyelesaian yang membutuhkan pembuktian dengan metode percobaan dan eksperimen. Maka lahirlah cabang ilmu lain. Namun, dalam logika berpikir dan logika bahasa pun terdapat keterbatasan dikarenakan keterbatasan otak manusia itu sendiri. Maka ilmu dan pengetahuan manusia pun juga terbatas. Kita sebagai manusia harus menyadarai betul bahwa kemampuan kita memiliki batas. Perumpamaan sederhananya, jarak pandang mata kita saja terbatas. Maka kita perlu bantuan teknologi untuk mengetahui keberadaan belahan bumi lain. Terbukti bahwa kita perlu menggunakan bantuan alat. Meskipun alat tersebut kita yang membuat, tetap saja akurasi dan jangkauannya terbatas. Begitu pula dengan hal lain dalam diri manusia. Dari sini, sekali lagi saya menyadari bahwa kita terbatas, manusia memiliki batas kemampuan. Sehingga tidak patut manusia menuhankan logika, otak, maupun pemikirannya.
Bahasan selanjutnya adalah mengenai adanya golongan yang mengharamkan filsafat. Menengok sejarah filsafat sejak zaman Yunani Kuno, ini menjadi salah satu alasan golongan tersebut tidak menyetujui konsep filsafat apapun itu bentuknya. Para filosof pada zaman itu tidak sedikit yang memaparkan hasil argumentasinya memiliki pandangan bertolak belakang dengan ajaran agama, termasuk agama Islam. Sejak zaman lahirnya agama Kristen pun, para filosof banyak mengalami pertentangan karena bertolak belakang dengan doktrin gereja. Sebenarnya hasil argumentasi para filosof dapat menjadi subjektif tergantung pada sudut pandang masing-masing filosof. Sehingga hasil argumentasi dan pemikirannya pun dapat sejalan atau bertolak belakang dengan doktrin-doktrin agama. Agama maupun keyakinan akan Tuhan masa itu dan masa kini dikenal dengan cap 'doktrin' tanpa kebenaran mutlak. Sehingga banyak para filosof yang haus akan kebenaran mutlak dan mencarinya dimulai dengan mengurai berbagai hipotesis mengenai Tuhan. Namun beberapa dari mereka lupa bahwa otak mereka terbatas sehingga 'menyatakan bahwa argumennya adalah kebenaran mutlak' adalah tidak tepat. Karena untuk mengetahui nilai kebenaran dari 'kebenaran multak' (premis bernilai benar) tentu saja ada pembandingnya dengan sesuatu yang salah atau nilai kebenarannya bertolak belakang dengan nilai kebenaran mutlak (premis bernilai salah) yang disebut 'bukan kebenaran mutlak'. Padahal mereka tidak mengetahui nilai kebenaran salah satu dari dua premis tersebut. Ditambah pula ada juga hal-hal diantara dua premis tersebut yang bersifat mengecoh dan abu-abu (entah benar entah salah, biasa disebut syubhat dalam Islam). Maka tidak sedikit filosof yang memberi kesimpulan bahwa tidak ada tuhan adalah 'kebenaran mutlak' atau konsep ini biasa disebut ateisme. Muara inilah yang menjadi salah satu penyebab adanya golongan yang mengharamkan filsafat. Golongan ini khawatir jika seorang mulsim berkecimpung di dunia filsafat akan bermuara kepada ateisme atau menentang keimanan kepada Allah.
Mengutip kalimat F. Schuon berikut "Ajaran Islam dimulai dari kebenaran untuk dapat mengalami kehadiran". Berarti ajaran Islam adalah muara kebenaran itu sendiri sehingga dihadirkan. Kalimat tersebut mengingatkan saya akan hasil-hasil argumentasi para filosof yang bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Hasil yang bertolak belakang tersebut bisa jadi karena pemikiran untuk mencari kebenaran dimulai dengan membuat hipotesis bahwa hasilnya pasti akan bertolak belakang dengan premis awal. Sehingga apapun argumentasinya, sebisa mungkin adalah untuk menolak premis awal. Padahal bisa jadi hasil yang bertolak belakang dengan premis awal bernilai 'bukan benar'. Ditambah pula kedua premis tidak diketahui nilai kebenarannya seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Ini menjadi tidak netral dan terjadinya logical fallacy. Bahkan dalam Islam sendiri, Islam mendorong penalaran dan argumentasi agar manusia tidak hanya mengerti dan mengikuti keyakinan serta konsep-konsep Islam, tetapi juga menemukan kebenaran dari konsep Islam tersebut, kebenaran dalam diri mereka sendiri dan dunia tempat mereka berpijak. Ajaran tauhid sekalipun tidak diterima begitu saja tanpa adanya argumentasi. Berpikir dengan logika yang benar pasti akan bermuara pada kebenaran mutlak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Islam sendiri sangat memuliakan pecinta ilmu karena mencari ilmu merupakan salah satu amal terbaik. Ibadah yang dilakukan seseorang yang memiliki ilmu tentang ibadah tersebut akan lebih bernilai sempurna dibandingkan orang yang beribadah tanpa tahu ilmunya. Bahkan dapat berujung kepada kemusyrikan bila tidak tahu ilmunya. Maka tentu saja filsafat dan pemikiran filosofis dibutuhkan dalam mempelajari Islam itu sendiri. Banyak ayat dalam Al-Quran bahwa Allah berfirman agar manusia banyak-banyak berpikir. Karena Allah saja sering sekali memerintahkan kita untuk banyak berpikir dan Islam sendiri adalah agama yang paling masuk akal dalam nalar orang-orang yang mau berpikir, maka hasil pemikiran filosofis yang tepat dan menghasilkan kebenaran mutlak semestinya bermuara kepada semakin bertambahnya keyakinan kita kepada Allah dan semakin bertambah teguh pula iman kita. Jadi, selama ilmu filsafat dipergunakan sebagaimana mestinya dan kita mematuhi aturan-aturan dalam ilmu filsafat mengenai logika berpikir yang tepat serta menyadari bahwa ada hal-hal diluar batas kemampuan manusia dalam membuktikan premis, maka itu pun akan bermuara kepada semakin mendekatnya diri kepada Allah. Kebenaran mutlak yang bisa kita buktikan adalah bahwa manusia itu terbatas. Maka Zat Allah sebagai Tuhan adalah tidak terbatas. Maka kedua premis tersebut menjadi terbukti keduanya. Ada hal-hal yang kita terbatas untuk mengetahuinya, sedangkan Allah Maha Mengetahui. Tiada daya upaya kecuali Allah. La hawla wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.
Bandung, 1 Oktober 2020.
Fitri Nurul Kamila














