i like. . .
No title available

Kaledo Art

shark vs the universe
wallacepolsom

No title available
noise dept.

#extradirty

祝日 / Permanent Vacation
trying on a metaphor
AnasAbdin

No title available
One Nice Bug Per Day

titsay
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Stranger Things
taylor price
Game of Thrones Daily
Three Goblin Art
Claire Keane
seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from Italy

seen from Taiwan
seen from United States

seen from Denmark

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
@biliksunyi
i like. . .
masihkah kau menyimpan cerita-cerita itu, seperti aku yang menyimpannya rapi untukmu?
Sebuah Surat #4
Dear, LDA.
Berkali-kali aku mengatakan: aku telah mengikhlaskanmu
Berkali-kali juga aku membantahnya sendiri, dan mengakui aku belum benar-benar mengikhlaskanmu
Aku masih mendengar tawamu yang renyah, saat tengah malam di sudut kamarku
Senyumu, wajahmu yang sedang cemberut, kantung matamu, semua masih sering muncul setiap aku memejamkan mata, di penghujung malam saat aku sedang bergulat dengan insomnia
Kamu, yang telah mengajarkan banyak hal padaku
Tentang bagaimana menjadi dewasa
Tentang bagaimana menjadi manusia
Tentang bagaimana menjadi sempurna
Tapi, kamu lupa mengajarkanku
Tentang bagaimana melupakan dan mengikhlaskanmu
Yogyakarta, 13 Agustus 2022.
Sebuah Surat #3
Dear, LDA.
Ke, malam ini aku merindukanmu, lebih dari biasanya.
Apakah berdosa merindukanmu yang sudah bahagia dengan orang lain, sedangkan aku tak punya kuasa apapun atas rasa rindu ini. Apa aku berdosa, Ke?
Ke, hidup memang seberat ini ya? Kadang, aku ingin cepat-cepat menyudahinya. Lagipula, untuk apa sih kita lama-lama hidup di dunia? Toh, akhirnya juga mati.
Ke, malam ini aku merasa kacau. Lebih kacau dari malam-malam biasanya. Masalahnya, aku tak tahu apa yang membuatku kacau begini. Jika tahu, mungkin aku tak akan sekacau ini.
Ke, capek juga ya ternyata pura-pura bahagia. Capek juga hidup di bawah deadline demi deadline. Capek juga hidup dengan janji demi janji yang diingkari.
Capek juga ya pura-pura mengikhlaskan.
Yogya, 5 Juli 2022
I don't hear music anymore
My ears are tired of all the pictures in the words
'Cause you are in them still
(Yellowcard, Hang You Up)
Sebuah Surat #2
Dear, LDA.
Beberapa malam ini Jogja rasanya dingin sekali. Bagaimana malam di situ? Semoga tetap dan selalu hangat ya.
Oh iya, sampai lupa aku mengucap salam. Boleh kan? Setidaknya kamu menjawabnya di dalam hati. Selamat malam, jika kamu membaca pesan ini malam. Selamat pagi, jika kamu membacanya pagi. Selamat siang, jika kamu membacanya siang. Dan selamat sore jika kamu membacanya sore.
Aku bingung, kenapa orang-orang begitu berduka dengan kematian Sapardi. Kenapa mereka begitu kehilangan, sementara aku tidak? Apa karena aku tidak dibesarkan oleh puisi-puisinya? Memang sih, aku lebih akrab dengan umpatan-umpatan jalanan, ketimbang kata-kata puitik penuh metafora seperti milik Sapardi.
Tidak banyak yang aku tahu tentang Sapardi. Dan dari sedikit yang aku tahu, salah satunya adalah "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana". Seperti apakah cinta yang sederhana itu? Yang aku tahu, kalimat ini sering dijiplak oleh orang-orang yang enggan berjuang untuk cintanya. Adakah cinta yang sederhana? Bukankah mencintai selalu rumit? Tidak pernah sederhana.
Seperti Romeo yang mencintai Juliet. Seperti Majnun yang mencintai Layla. Atau seperti, Rahwana yang mencintai Sinta. Bukankah semua tidak ada yang sederhana? Rumit, pelik! Ruwet, kata Jokowi.
Tapi aku lebih bingung lagi dengan Chairil. Bisa-bisanya dia menginginkan hidup seribu tahun lagi. Mau ngapain dia hidup seribu tahun? Tentu dia akan menjadi manusia yang paling kesepian di semesta ini.
Jikapun Tuhan menawari, aku akan menolaknya. Sebab, kau juga tidak akan hidup seribu tahun lagi.
Yogya, 25 Juni 2020
Sebuah Surat #1
Dear, LDA.
Aku selalu takut, setiap malam hampir habis. Aku takut, orang-orang bisa melihat semua kepayahan dalam diriku, yang selama ini aku tutupi dengan retorika dan omong besar. Aku takut, ketika matahari mulai berpendar selepas subuh. Ketika suara-suara manusia mulai riuh terdengar, mengusir malam yang tenang.
Kenapa semakin hari, hidup semakin menyeramkan? Manusia semakin kejam. Luka, duka, lara, tangisan, pekikan, jerit kesakitan, rintihan, terus terdengar setiap hari, setiap saat. Cacian, hinaan, umpatan, benci, semua membaur, membuat hari ini terasa lebih mengerikan ketimbang perang Mahabarata di Kurusetra.
Aku tak bisa berpikir, bagaimana Pancasila dengan Ketuhanan yang Maha Esa-nya justru disembah sebagai berhala baru. Aku tak bisa berpikir, bagaimana Pancasila dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab-nya, justru dijadikan alat untuk merampas hak-hak manusia lainnya.
Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa Pancasila dengan Persatuan Indonesia-nya, justru dijadikan alat untuk merobek-robek persatuan itu sendiri. Aku tak tahu, kenapa Pancasila dengan nilai musyawarah dan mufakatnya itu justru dijadikan alat untuk menyumpal mulut orang-orang yang tidak sependapat. Bahkan, aku tak habis pikir kenapa Pancasila yang katanya menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu justru menjadi alasan untuk bersikap pilih kasih.
Sampai sekarang, aku juga masih bertanya-tanya, kenapa sila ketuhanan digambarkan dengan bintang pentagon seperti yang ada di bungkus puyer obat sakit kepala? Apakah karena para pendiri negeri ini adalah orang-orang mumet? Aku juga masih bertanya-tanya, kenapa kemanusiaan dilambangkan dengan rantai? Apakah itu artinya tugas negara adalah merantai dan mengekang kebebasan rakyat?
Aku sama sekali tak mengerti, kenapa sila persatuan itu dilambangkan dengan beringin? Ah, bukankah akar beringin itu bisa menjalar sampai jauh ke mana-mana untuk menyerap air? Apakah ini artinya tugas negara adalah untuk mengisap rakyat? Entah.
Yang pasti, aku juga tidak paham kenapa musyawarah mufakat dilambangkan dengan kepala banteng. Apakah untuk melambangkan rakyat dan pemerintah kita yang ngamukan seperti banteng? Lalu, kenapa keadilan dilambangkan dengan padi dan kapas? Aku pernah dengar, katanya ini melambangkan pemerintah kita yang kerjanya cuman makan dan tidur.
Sssssstttttt, jangan bilang siapa-siapa ya, takutnya besok pagi ada ormas yang datang ke rumahmu.
Aku benar-benar tak tahu, apa yang sedang terjadi sekarang. Aku merasa semuanya menjadi anomali. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan, tapi sepertinya semesta tak mau mendengar. Banyak juga hal lain yang ingin aku tanyakan, tapi sepertinya tak ada yang mau memberikan jawaban.
Banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan. Tentang bagaimana bayi bisa bernapas di dalam rahim ibunya. Bagaimana bisa ada air di dalam buah kelapa. Bagaimana elit global menguasai perekonomian dunia. Bagaimana John Lennon bisa membuat lagu seindah Oh My Love. Bagaimana bisa sebuah boneka menjadi presiden di negara yang jumlah penduduknya ratusan juta. Tentang, kenapa yang menjadi presiden pertama Indonesia justru Sukarno, alih-alih Tan Malaka. Kenapa Tuhan menciptakan cinta, tapi di saat yang bersamaan juga menciptakan benci. Aku juga ingin bertanya, kenapa aku bisa sangat merindukanmu?
Yogya, 5 Juni 2020
Bagimu, kita sudah berakhir. Tugasku untuk menyingkir. Aku bukan berhenti mencintaimu, aku hanya berhenti menunjukkannya.
Sepenggal yang Tertinggal #12 (Final)
Kemarin, saya berencana menyerahkan semuanya langsung kepadamu. Bahkan, saya sudah mulai menyiapkan keberangkatan ke Lombok tahun ini.
Tapi waktu saya ternyata tidak cukup. Semua berjalan terlalu cepat, tanpa sudi memberi saya waktu sedikit lebih banyak.
Saya takut, jika menunggu bertemu langsung, semua ini tidak akan pernah sampai kepadamu. Toh benar katamu, saya sudah dewasa, dan saya harus tahu mana yang bijak dan tidak.
Menemuimu, sepertinya bukanlah pilihan yang bijak saat ini. Yang paling bijak, kamu dan saya tidak perlu bertemu lagi, sama sekali.
Benar, janji untuk bertemu sempat terucap. Tapi, bukankah janji ada memang untuk diingkari?
Jangan salah, saya sudah berusaha. Sebisa, semampu saya untuk menepati semuanya. Tapi ternyata sulit, ketika hanya salah satu yang membangun tapi yang lain justru meruntuhkan.
Lagipula, untuk saat ini, bertemu sama saja menggarami luka yang masih basah.
Panggilah saya bajingan, panggilah saya pengingkar, panggilah saya pecundang, selama itu bisa membuka pintu maafmu untuk saya.
Kamu berhak bahagia. Maka berbahagialah. Dan saya tidak punya pilihan lain selain melanjutkan dan menyelesaikan yang masih tersisa. Menempuh jalan terjal dan berliku, juga bahaya. Mungkin, memang jalan itu yang Tuhan takdirkan untuk saya.
Selamat menempuh hidup baru.
Yogya, 30 Agustus 20, 02.20 a.m.
Sepenggal yang Tertinggal #11
Sebenarnya masih banyak, hal-hal kecil yang awalnya saya kira tidak berarti apapun, tapi semua menjadi berarti selepas kepulanganmu. Mungkin kamu sudah lupa, karena bagimu mungkin itu semua tidak pernah penting.
Tapi saya sudah tidak sanggup menuliskannya. Jangankan menulis, untuk mengingat lagi saja rasanya sudah sangat tidak keruan. Saya seperti sedang mengiris bagian tubuh saya sendiri.
Yang saya tahu, mengenalmu adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Terima kasih, sudah lahir ke dunia. Terima kasih sudah menggoreskan sekelumit kisah di buku catatan saya. Terima kasih sudah menjadi aktor penting dalam roman saya, meski bukan tokoh yang utama.
Saya berjanji, kamu akan bangga karena pernah mengenal saya. Meski kamu tidak pernah menganggap semuanya penting.
Sepenggal yang Tertinggal #10
Puasa hari pertama tahun lalu cukup bersejarah dalam hidup saya. Itu adalah hari pertama saya bekerja di sebuah media nasional yang berkantor di Solo (meski di sana saya hanya bertahan setengah tahun, dan kembali pulang ke Yogya).
Saat itu, dari Yogya saya memacu sepeda motor menyusuri jalanan Yogya-Solo. Sebelumnya, saya tidak pernah menempuh jalur itu. Saya menempuh perjalanan ke Solo dari Gunungkidul, sehingga belum pernah menempuh jalanan itu.
Seingat saya, itu adalah perjalanan pertama saya menyusuri Jalan Yogya-Solo sejauh itu menggunakan sepeda motor. Tapi ingatan itu salah, ketika saya memasuki Kota Klaten. Ketika saya melalui sebuah jalan yang menyerupai Jalan Ring Road di Yogya, di tengah ada jalur utama yang besar, dan di tepi ada jalur yang lebih kecil.
Ya, saya pernah melewati jalan ini sebelumnya. Lagi-lagi bersama kamu. Saya ingat betul, ketika melewati jalan itu bersamamu, saya sudah mengarahkan sepeda motor ke jalur kecil di tepi sebelum kamu berkata, “Lewat atas aja Wid”. Suara itu masih membekas, dan makin membekas seiring laju motor saya ke arah timur.
Peristiwa lima tahun silam kembali terlintas, sangat jelas di pikiran saya saat itu. Ketika kamu meminta saya untuk menemanimu ke sekolah tempat penelitian skripsimu: SMKN 3 Klaten.
Saya tidak tahu, dan sama sekali tidak mau tahu, apa yang kamu urus waktu itu. Yang saya tahu, saya harus mengantarmu, dan harus selamat sampai tujuan, dan kembali pulang ke Yogya.
Kita sampai di SMKN 3 Klaten. Kamu pergi, menemui seorang guru, yang entah siapa. Saya menunggu di loby, tempat piala dan piagam dipajang. Cukup lama kamu pergi dan mengobrolkan entah apa dengan sang guru. Dan saya masih menunggu.
Hingga awan hitam yang menyelimuti langit Klaten kala itu, tak sanggup lagi menahan beban yang dia bawa. Hujan tumpah, membasahi tanah Klaten. Kamu tidak kunjung kembali, saya menikmati hujan itu seorang diri, dalam dingin.
Kamu datang dengan wajah berseri. Ketika hujan mulai reda, dan matahari kembali cerah. Kita pulang. Berdua kembali ke Yogya.
Sepenggal yang Tertinggal #9
Belakangan saya sering menghabiskan waktu di sebuah angkringan di bantaran sungai Winongo, dekat parkiran bus di Ngabean, Yogya. Persimpangan di Ngabean, membuat saya teringat bahwa kita pernah membuat kaos ‘Pers’ untuk anak-anak.
Kita membuatnya benar-benar dari nol, dari kamu yang membuatkan desain, mencari bahan, menjahitkan, sampai mencari tempat sablon. Bahkan sampai membuat brand.
Saat itu, kita datang ke sebuah konveksi, di gang sempit dekat parkiran bus Ngabean. Kita membeli bahan di sebuah toko kain di dekat rel Wirobrajan. Kamu memilah dan memilih, mana bahan yang cocok. Sementara saya, hanya ikut saja apa keputusanmu.
Itu menjadi perjalanan yang penting bagi saya. Kamu membuat saya belajar, bagaimana menjalankan sebuah usaha clothing, dari awal sampai akhir.
Tapi bukan itu yang terpenting. Mungkin semua tidak akan sepenting itu, ketika perjalanan saya tidak bersamamu.
Sepenggal yang Tertinggal #8
Dari ingatan tentang kenangan di Kotagede itu, ingatan saya berlanjut ke sebuah momen ketika kamu susah payah mencarikan tiket travel Yogya-Surabaya untuk saya, juga Fitri dan Fatur. Kamu menjadi orang yang paling mengkhawatirkan kami saat itu. Tidak hanya mengkhawatirkan, bahkan kamu rela diibuat repot untuk hal yang sama sekali tidak ada untungnya buatmu.
Kita ke Terminal Condongcatur, namun nihil. Tidak ada tiket yang sesuai harapan. Langit Yogya gelap, awan hitam dan tebal menyelimuti cakrawala. Sesekali, petir menyambar. Dan, hujan yang teramat deras turun, sangat deras.
Seseorang di Terminal Condongcatur menyarankan kita untuk ke Terminal Jombor. Tanpa menunggu reda, karena hari juga sudah semakin sore, kita menerobos hujan yang terus turun tanpa ampun. Menjelma kaki-kaki runcing para dewata.
Kilat terus menyambar, disusul guntur yang menggelegar berulang kali. Saya tidak bisa melihat wajahmu dari kaca spion. Saya hanya berdoa, semoga kamu baik-baik saja.
Kita sampai di Terminal Jombor. Namun lagi-lagi, nihil. Padahal pakaian kita kuyup, jas hujan yang kita kenakan tidak mampu melindungi dari derasnya hujan yang turun. Juga dari cipratan air yang disebabkan oleh mobil-mobil bajingan yang tetap melaju kencang tanpa peduli ada dua manusia yang sedang berboncengan dan diliputi kebingungan.
Hari makin sore, padahal besoknya saya sudah harus berangkat ke Surabaya. Tidak ada lagi pilihan, selain menggunakan bus Yogya-Surabaya dari Terminal Giwangan. Dan karena gengsi denganmu, saya beranikan diri menggunakan opsi terakhir itu.
Terima kasih.
Sepenggal yang Tertinggal #7
Cerita yang sudah bertahun-tahun saya lupakan, muncul lagi ke ingatan saya ketika saya tersesat di Kotagede beberapa bulan silam. Saat itu, saya sedang mencari lokasi sebuah acara kampung untuk saya liput. Tapi alamat yang tertera tidak jelas, hingga membuat saya tersesat di sekitar Keraton Kotagede.
Lagi-lagi saya merasa de javu. Saya seperti pernah melewati jalanan ini. Hingga ingatan perihal kisah beberapa tahun silam muncul, di tengah keputusasaan saya mencari alamat.
Saya duduk di jok motor, sembari mengisap rokok di tepi jalan. Dan saya ingat, kita juga pernah tersesat di daerah yang sama.
Saat itu, kamu mengantar saya, mencari sebuah alamat seorang aktivis lingkungan, pembuat kerajinan dari sampah plastik. Celakanya, kamu lupa di mana alamat pastinya.
Berjam-jam kita tersesat di daerah Kotagede, bolak-balik dan hanya berkutat di daerah yang sama hanya untuk mencari rumah seorang perempuan. Hemm, maaf ya, karena saya yang ikutan lomba di Surabaya, kamu jadi ikutan repot.
Bahkan ide lomba saya juga kamu yang memberinya. Iya, kaos Maling (Ramah Lingkungan), yang kemudian saya ubah namanya menjadi T-Link, T-shirt ramah lingkungan.
Setelah bertanya ke sana dan ke mari, ketika kita sama-sama hampir putus asa, akhirnya seorang warga memberi tahu di mana rumah perempuan yang saya lupa namanya itu. Dan ternyata, dari tadi kita sudah melewati rumah itu berkali-kali.
Sayangnya, ketika kita sampai, rumah itu tampak sepi. Kosong. Kita memanggil dan mengetok pintu rumah itu berulang kali, namun nihil. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Si perempuan itu, ternyata sedang di luar kota. Kamu kecewa. Tapi tidak lama. Bukankah hidup memang sekadar perihal kecewa dan mengecewakan? Yasudahlah, kita pulang.
Sepenggal yang Tertinggal #6
Selepas dari Tebing Breksi, kamu mengajak ke Candi Ijo, yang lokasinya tidak jauh di atas Tebing Breksi. Seperti biasa, saya okey. Tidak sampai 10 menit, kamu dan saya sudah sampai di Candi Ijo.
Sepeda motor sudah saya parkirkan. Kita sudah berjalan beberapa langkah. Tapi ketika kamu melihat ke dalam candi yang sangat terik, kamu mengurungkan niat untuk masuk.
Saya yang takut kondisimu makin parah, setuju saja. Meski jujur, saya saat itu cukup penasaran dengan Candi Ijo. Karena itu, selepas kamu pulang, beberapa kali saya datang ke Candi Ijo, terutama ketika pikiran tengah kalut.
Kita memilih untuk pulang, tapi lewat jalan yang berbeda. Entah, saya tidak tahu daerahnya. Tapi yang jelas, jalan yang kita lewati adalah jalan desa dengan pemandangan sawah di kanan dan kirinya.
Kita berhenti di tepi jalan, melihat seorang ibu tua sedang merontokkan biji padi dari tangkainya. Di dekatnya, ada sebuah sepeda tua yang sudah berkarat. Kita berhenti, dan mengambil beberapa foto. Salah satu fotonya, masih ada di akun instagrammu.
Sepenggal yang Tertinggal #5
Kita sama-sama tidak tahu, di mana Tebing Breksi berada. Mencari alamat dulu tidak semudah sekarang, yang tinggal mengetikkan nama tempat di layar gawai, dan kita akan dituntun ke lokasi yang kita tuju. Tapi dulu hp kita sama-sama masih jadul, tentunya untuk saat ini.
Kamu hanya tahu, Tebing Breksi ada di dekat Candi Prambanan. Dan tanpa pikir panjang, kita melaju ke arah Candi Prambanan. Dengan kamu yang masih sibuk menghubungi temanmu, di mana Tebing Breksi berada.
Tapi sampai di Candi Prambanan, jawaban tak kunjung datang. Kita berkeliling,mengitari daerah di sekitar candi.
Di tepi jalan, terpampang foto Rama dan Sinta. Sebuah media promosi pertunjukan Sendratari Ramayana.
“Koe ngerti opo sing njijiki cuk?” tanyamu sembari mendekatkan wajahmu ke telinga saya yang tertutup helem. Dekat sekali.
“Opo?” jawabku berbalik bertanya, karena saat itu gambar Rama dan Sinta sama sekali tidak menarik untuk saya.
“Masa Rama nganggo lipstik,” balasmu diikuti tertawa, renyah sekali.
Aku mengintipmu dari kaca spion. Kamu tampak lebih ceria, wajahmu tidak terlalu pucat lagi. Saya senang.
Hingga akhirnya, sebuah pesan pendek masuk ke ponselmu. Pesan dari temanmu, berisi petunjuk arah untuk menuju Tebing Breksi. Akhirnya.
Saya memacu motor, mengikuti arahanmu dari belakang. Jalan menuju Tebing Breksi ternyata menanjak, berliku, dan berlubang. Tidak sampai setengah jam kita sampai di tujuan.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada beberapa penambang batu kapur. Tidak ada wisatawan, tidak ada penjaga parkir, tidak ada penjual tiket. Kita masuk begitu saja.
Siang itu, matahari sangat terik. Saya khawatir, kamu makin tidak enak badan. Tapi tampaknya, kamu sangat menikmati.
Kamu mengajari saya bagaimana caranya memotret, sialnya sampai sekarang saya masih payah mengoperasikan kamera. Saya juga tidak pernah punya ketertarikan untuk mendalami bidang itu. Tapi siang itu, entah apa yang membuat saya begitu antusias membidik obyek demi obyek.
Kamu sabar, sangat sabar mengajari saya menggunakan berbagai jenis tombol jika hasil jepretan saya ngeblur, terlalu gelap, atau terlalu terang.
Siang itu, medio 2015, tepat lima tahun silam, hanya ada kamu dan saya, orang asing di Tebing Breksi. Sisanya hanya ada beberapa tukang batu di bawah terik yang jahanam.
Kemudian seorang ibu tua lewat, menggendong kayu bakar dalam ikatan yang besar. Dia menaiki tebing, dan hilang di balik semak-semak. Sejumlah anak SMP cewek-cowok dengan seragam lengkap datang.
“Cie, pacaran ya,” katamu menggoda mereka. Bocah-bocah itu hanya diam.
“Bolos ya? Tak bilangin gurumu lho,” lanjutmu.
Muka bocah-bocah itu mulai panik. Kamu dan saya tertawa. Lalu kembali tenggelam, melihat ibu bumi terus dilukai.
Sepenggal yang Tertinggal #4
Saya lupa kapan tepatnya, tapi pagi itu saya bangun kesiangan. Saya masih memakai pakaian yang sama, yang saya pakai ke kampus hari sebelumnya. Cuci muka, gosok gigi, pakai sepatu, saya berangkat ke Kesbangpol dengan dokumen yang tidak pernah keluar dari tas selama beberapa hari.
Ya, saya akan mengurus izin penelitian.
Antrean ternyata sudah cukup panjang. Setelah mengambil nomor urut, saya menjauh dari kerumunan, duduk di bawah pohon di sudut tempat parkir. Saya tidak mau ada yang mengendus dan tahu kalau saya belum mandi.
Saya menyapu pandangan ke setiap sudut gedung, hingga saya merasa ada sesuatu yang aneh. Gedung itu seperti tidak asing, saya seperti pernah datang ke sana sebelumnya. Tapi kapan? Itu pertama kali saya mengurus izin penelitian.
Ah, baru aku ingat setelah beberapa menit termenung mengingat-ingat ke masa-masa silam. Kamu pernah mengajakku ke tempat itu untuk urusan yang sama, mengurus izin penelitianmu.
Saya ingat, kita naik ke lantai dua. Desain tiap sudut bangunan itu, terutama tangga tempat kita naik, masih lekat di pikiran saya.
Dulu, saya sama sekali tidak paham, apa sebenarnya yang sedang kamu urus. Yang saya tahu, kamu sedang kurang sehat, dan karena itu saya diminta untuk menemanimu ke sana.
Sayang, saat itu hasilnya mengecewakan. Entah, ada masalah apa saya tidak tahu, saya juga tidak mau tahu. Yang pasti, wajahmu saat itu tampak sangat kecewa. Dan saya bingung, tidak tahu apa yang harus saya lakukan?
Tapi tidak lama, air mukamu langsung berubah. Di depan saya, seolah kamu ingin menunjukkan bahwa semua baik-baik saja.
“Hunting aja yok, cuk,” ajakmu.
Tidak mau membuatmu makin kecewa, langsung saja saya iyakan ajakanmu. Masalahnya, kita tidak tahu mau hunting foto ke mana. Hingga entah dari mana kamu mengusulkan Tebing Breksi.