Hai biru, bagaimana kabarmu?
Hari ini lagi lagi kau bertemu angka barumu.
Kali ini, ke dua puluh tujuh.
Di tanggal dua tujuh bulan ke tujuh.
Ya, ternyata sudah banyak jumlah angkamu.
Kau bahkan tidak mengira akan menyentuh tahun yang ini bukan?
Well, you made it!
Walau dengan derai tangis yang entah kenapa frekuensinya sering sekali.
Tentang kekhawatiran,
Tentang langkah baru,
Tentang kekecewaan yang berbalut rasa ragu yang kurasa…
Tak ada perlunya sama sekali kau takuti.
Kau bertemu dengan orang orang yang akan menjadi masa depanmu di tahun ini.
Keluarga barumu di masa depan nanti.
Orang orang yang baik yang tak ingin melihatmu bersedih lagi.
Tidakkah itu hal yang baik yang kau dapat di akhir dua enammu ini?
Biru ku rasa pasti kau sadari itu,
tahun ini kau jadi anak yang sangat nakal, Nakal sekali.
Lebih dari apa yang pernah kau perbuat selama dua puluh tujuh tahun ini.
Kau kecewakan keluargamu,
Dan kau kecewakan dirimu sendiri, lagi.
Dan kau berpura baik baik saja walau kulihat senyummu meringis perih.
Membuat janji baru di atas kaki goyahmu.
Berharap yang kali ini tak akan
mengecewakan hati siapapun.
Biru, ku tahu kau ingin menangis sekuatkuatnya kali ini.
Kali ini tepat dua mimpimu pupus sudah berkeping.
Mimpi yang kau ucap di usia 13 tahun dulu, yang kau jadikan patokan ritme langkahmu.
Kini sudah hancur berkeping.
Biru, tak apa.
Mungkin ini jawaban bahwa tak semua rencana harus terjadi.
Tak apa, selama kamu toh masih bisa berdiri.
Tak apa, selama setidaknya kamu bertahan, Itu sudah cukup untukku yang berada di ragamu ini.
Tak apa, kau cukup menjadi orang yang baik yang selalu kau harapkan seperti dulu.
Nanti hati dan ragamu akan utuh lagi.
Biru, apa yang paling kau inginkan tahun ini?
Hidup tenang? Bersamanya?
Ah, tak adakah harapan yang lain?
Baiklah, biar satu persatu kita selesaikan kali ini.
Mari kita berdoa agar pilihanmu akan tetap menyayangimu seperti yang selalu dilakukannya selama ini.
Merinduimu ketika jauh, dan selalu mengupayakan agar jarak cepat terhapus dengan sendirinya tahun ini.
Biru, semoga kita masih bersama tahun depan nanti.
Di duadelapan, duasembilan dan selanjutnya, nanti…
Biru, kuatlah dari hari ini.
Selamat dua tujuh, biru, inti hatiku.
Semoga sembuh dari rasa rapuh yang mengganggu dan menyebalkan ini.