Menulis dan Cerita Di Dalam Pusarannya
Menulis adalah salah satu bagian dari cara healing terbaik yang murah dan bisa dilakukan di mana saja. Sebagai seorang yang pas-pasan dan mager, aku cukup bersyukur karena ternyata menulis jadi salah satu bagian dari cara healing yang cukup ampuh dan seringkali menyelamatkanku dari keribetan dan kebuntuan cara berpikirku sendiri. Meski dalam beberapa titik tertentu, keluar rumah, berlibur, berbaur dengan manusia-manusia lain juga masih dibutuhkan tapi setidaknya aku masih punya opsi pilihan lain untuk bisa menghibur, menyenangkan, sekaligus menyembuhkan diri dengan cara yang paling sederhana.
Segala hal tentang menulis bagiku adalah cara belajar terbaik. Bagiku, seorang penulis harus penuh usaha dan daya untuk mencoba menuliskan apa yang ada di dalam bayang pikiran dan nuansa abstrak emosinya. Barangkali menjadi penulis tak lebih dari seseorang yang belajar untuk mempelajari diri sendiri dan mencintai dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Selain harus sanggup memahami apa yang ada dalam dirinya, seorang penulis perlu memiliki kemahiran dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa dan menjabarkannya sebagai suatu hal yang mudah untuk dimengerti. Paling apesnya. tulisan itu hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Kalau mujur, tulisan itu menjadi rumah dan dicintai banyak orang.
Sebagai seorang penulis amatiran, tentu saja aku lebih memilih untuk menulis dengan cara yang paling bebas. Namanya juga seorang amatir, menulis tentunya hanya sebuah bagian dari kesenangan dan rasa puas. Jika menulis kemudian kuubah menjadi sebuah ketentuan dan syarat-prasyarat, tentu saja aku sudah kabur lebih dahulu. Meski harus kuakui bahwa menulis tidak hanya tentang kebebasan tapi juga tentang kerunutan, kelogisan, dan keterbacaan sebuah tulisan. Hanya saja, sebagai seorang penulis amatir, tentu aku tidak akan membahas hal-hal seperti itu. Sebab, sekali lagi, aku hanya seorang penulis amatir yang menulis demi kesenangan dan kepuasan.
Bagiku kegiatan menulis bukan hanya sekedar berpencak kata dan bermain makna. Ada hal lain dalam pusaran prosesnya yang menuntut para penulis untuk lebih jujur, lebih dalam, dan lebih teliti dalam mengamati objek/subjek tulisannya. Jika dipikir-pikir, semua orang tentu saja bisa menulis hanya dengan pencak kata dan main makna. Kita bisa saja langsung mengakses AI dan menuliskan prompt yang kita inginkan untuk mendapatkan hasil tulisan yang kita harapkan. Hanya saja, bagiku, tulisan-tulisan itu serasa kehilangan ruhnya. Sentuhan manusiawi yang jujur dan apa adanya. Ketidaksempurnaan hasil pikiran manusia yang khas dan campur kode bahasa yang unik. Tidak ada yang lebih istimewa dari sebuah hasil tulisan daripada kejujuran dan ketelanjangan dari "tidak sempurna"nya manusia yang justru lebih menghangatkan hati.
Tentu saja, aku seringkali mendengar atau melihat sekumpulan orang-orang yang tak begitu suka dengan kata-kata. Mereka mungkin berpikir bahwa penulis tak lebih dari sekadar orang yang ahli pilin kata dan otak-atik makna sesuai keinginan. Yah, kumaklumi saja. Barangkali, mereka tidak cukup beruntung untuk menemukan sebuah tulisan yang membuat mereka jatuh hati dan belajar darinya. Atau jangan-jangan, mereka tidak merasa bahwa quotes-quotes yang gemar mereka kutip itu adalah bentuk dari kecintaan dan kebutuhan dasar mereka untuk menemukan kata-kata yang mampu menentramkan hati mereka sendiri? Entahlah. Jelasnya, sebagai penulis amatir, aku hanya tak ingin orang-orang menganggap bahwa menulis rasanya begitu jauh, sulit, dan membingungkan. Bagiku, menulis semudah kamu tiba-tiba menulis quotes colongan dari hasil ingatanmu. Semudah menulis catatan kilat dimana-mana. Semudah membuat status facebook atau story WA. Semudah kamu mengetik pesan cinta untuk orang-orang pilihan yang sudah kamu ukir di peta hidupmu.
Nah, sebagai penulis amatir yang suka menulis. Tentu saja aku berusaha mengakrabkan diri dengan kegiatan menulis setiap harinya meski seringkali kelabakan. Aku mencoba menulis apapun. Kadang aku menulis curahan hati colongan, kutipan abal-abal, kemacetan dalam bekerja, hingga rasa kangen diam-diam. Jika tiba-tiba saja aku ingin menulis tentang sesuatu/seseorang, aku bisa diam di depan laptop/hp berjam-jam. Mencoba untuk menumpahkan semua hal yang ada dalam diriku. Mengkurasi ulang hasil tulisan sebelum akhirnya aku memutuskannya menjadi hasil final. Tulisan-tulisan itu tentu beralamat. Hanya saja tak semuanya yang selamat sampai tujuan. Beberapa tergeletak begitu saja di draft usang komputerku. Menunggu untuk dikunjungi dan dikirim. Naas, beberapa kuputuskan untuk tetap diam selamanya di sana. Enggan kukirim, sebab beberapa hal kurasa sudah tepat pada tempatnya. Beberapa berjudul, seringkali tanpa judul. Anehnya, setiap tulisan yang kulahirkan punya memorinya sendiri. Meski tanpa judul, seringkali, sekali baca-aku sudah tahu memori mana yang kupilih untuk kuingat kembali saat membacanya.
Malam ini, sebagai penulis amatir, aku memilih untuk tetap berjaga hinga tengah hari. Memutar satu lagu berulang kali selama menulis catatan ini dan mencoba untuk menjelaskan mengapa menulis selalu jadi pilihan paling sederhana untuk membenamkan diri dalam ketidaknyamanan, memprosesnya, dan menuliskannya pelan-pelan. Aku baru saja memutuskan untuk membaca ulang beberapa tulisanku. Lalu, tiba-tiba saja, aku ingin berdiam diri di depan layar laptopku. Bukan untuk bekerja dan menyelesaikan setumpuk list pekerjaan yang perlu kuselesaikan. Namun, untuk menulis jurnal colongan yang tiba-tiba saja sudah begitu panjang.
Ah, hari ini tidak ada yang kutahan dari isi pikiranku. Semua kutulis dan meluncur begitu saja. Entah sudah berapa puluh kali aku memutar lagu yang itu-itu saja sementara jari-jariku masih mengetik. Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku ingin sekali menulis tentang kutipan yang tidak sengaja kutemukan dalam galeri hpku. Kutipan ini kutemukan ketika dulu aku membaca buku Zarathustra karya Nietzsche. Kurang lebih begini:
Kunci agar dapat tidur dengan baik adalah dalam sehari: sepuluh kali berdamai dengan diri sendiri, sepuluh kali tertawa dan bersikap riang, dan juga mendapatkan sepuluh kebenaran dalam sehari. Kalau tidak, engkau akan mencari-cari kebenaran di malam-malam pula, sebab jiwamu masih lapar.
Setelah kutulis kutipan buku di atas, aku terdiam. Tulisanku jadi mandeg. Lagi-lagi, tulisanku kini jadi mentok dan segini saja. Mungkin karena malam sudah makin larut dan mataku sudah mulai tak kuat melek. Bagaimanapun juga, jika saja ada satu orang yang berhasil baca tulisan ini sampai akhir, sebagai penulis amatir, aku ingin berterima kasih karena sudah bertahan. Kuharap kalian tidak merasa menyesal membaca catatan amatir ini dan menemukan sesuatu dari tulisan ini. Kuharap kalian berbahagia dan selalu mudah untuk menemukan cara "healing" terbaik versi kalian sendiri.
Your online "pen-pal", L.










