いつでも捜してしまう どっかに君の笑顔を
I always end up looking, for your smile to appear somewhere
急行待ちの 踏切あたり At the railroad crossing, waiting for the express to pass
こんなとこにいるはずもないのに Even though I know you couldn’t be at such a place
Aku termangu di gerbong stasiun, setengah berdiri sambil bersandar pada pembatas kaca sembari menikmati alunan 'one more time, one more chance' karya Masayoshi Yamazaki.
Aku kalah telak pada jarak. Ya, hari ini adalah hari kedua sejak aku tahu bahwa aku dipaksa kalah akan jarak. Hubungan yang kupikir akan menemu ujung ceritanya, ternyata bukan. Lagi-lagi bukan. Kupikir, hal paling brengsek dalam hidup adalah ketika semua usaha yang kita kerahkan tidak pernah sedikitpun mampu mendekatkan pada apa yang kita cari. Nihil. Mengutuk pada takdirpun juga tak ada gunanya. Manusia seperti kita dipaksa segera sadar penuh bahwa kita ini hanya lelakon yang bergerak sesuai dalang kehidupan.
Deru keretapun kalah bising dengan banyaknya suara sumbang berkecamuk dalam kepalaku. Salah apa aku? Apa kurangku? atau inikah karma yang kudapat karena dosa di masa laluku? kenapa harus terjadi tatkala aku hampir menginjak usia kepala tiga? dan di antara semua orang, kenapa harus aku? Satu-dua bulir air mata siap menuruni pipiku, bergegas aku tepis: kepala kudongakkan untuk menahannya menitik.
Empat puluh menit berlalu. Kereta itu akhirnya tiba. Lamunanku buyar tatkala pemberitahuan pemberhentian cukup lantang tersiar. Air mata yang sudah enggan turun di ujung matakupun menguap bersama dinginnya gerbong kereta. Life must go on, batinku. Siap tidak siap, mau tidak mau, hidup akan terus berjalan. Barangkali saat ini aku sedang di bawah, tergerus roda hingga hancur berkeping, kalah. Tapi siapa yang tahu, esok hidupku akan membaik juga dipenuhi banyak cinta? Bukankah hidup seperti roda? Ya, hidup selalu berputar seperti roda: cakra manggilingan.
Yogyakarta-Klaten, 13 September 2023











