#37 untukmu yang masih disimpan oleh waktu-Nya.
Aku menenangkan jiwa yang sering gelisah, menahannya dari prasangka dan harap yang berlebihan. Karena aku ingin ketika namamu benar-benar diizinkan hadir, aku telah cukup matang untuk berkhidmat, bukan menuntut; memahami, bukan menghakimi.
Maka dari itu, ada doa yang tak pernah kusebutkan dengan lantang, namun selalu kubawa dalam sujud dan jeda-jeda sunyi. Doa agar setiap langkah yang kelak mempertemukan kita dipenuhi keberkahan, agar perjumpaan itu tidak hanya menghadirkan kebahagiaan tetapi juga ketaatan. Dan kini, aku berusaha merawat hatiku dengan sabar.. untuk mendidiknya agar lembut, supaya kelak aku tak datang sebagai sebab luka dalam hidupmu.
Tentangmu, aku tak berusaha menebak arah takdir. Rasa ini kutitipkan sepenuhnya pada Rabb-ku, tempat paling aman untuk segala sesuatu yang belum bernama. Kau hidup sebagai sebagai doa yang tidak selesai, sebagai kemungkinan yang tak kukejar, namun kuserahkan. Dalam diam, aku percaya bahwa Allah lebih tahu ke mana rasa ini seharusnya pulang.
Dan jika suatu hari Allah mempertemukan kita di persimpangan jalan yang tidak pernah aku bayangkan, aku ingin menyambutmu tanpa takut dan ragu. Karena aku meyakini bahwa rencana terbaik bukanlah yang paling kuinginkan, melainkan yang paling Allah ridhoi. Maka hanya pada-Nya saja aku berserah, sebab setiap inci takdir-Nya selalu lebih indah daripada segala harap yang pernah kususun sendiri.
—tulisan manis awal tahun,
Shifwah K.














