Ya Allah, aku sayang banget sama anak-anak teman belajarku. Aku titip mereka terus yaa, semoga mereka selalu bahagia menjalani setiap fase usianya. Pertemukan mereka dengan guru-guru terbaik yang akan menemani proses belajar mereka ✨🌻
Stranger Things
occasionally subtle

★

if i look back, i am lost
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her
dirt enthusiast
RMH

Janaina Medeiros

⁂

shark vs the universe

No title available
Acquired Stardust
Sade Olutola

Discoholic 🪩
Claire Keane

祝日 / Permanent Vacation
we're not kids anymore.
d e v o n
Jules of Nature
seen from United States
seen from France
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Italy
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from South Africa
seen from Brazil
seen from United States

seen from Austria
@juliarpratiwi
Ya Allah, aku sayang banget sama anak-anak teman belajarku. Aku titip mereka terus yaa, semoga mereka selalu bahagia menjalani setiap fase usianya. Pertemukan mereka dengan guru-guru terbaik yang akan menemani proses belajar mereka ✨🌻
pada suatu hari nanti
pada suatu hari nanti, semua susah dan payah, semua sakit dan luka, semua sedih dan kecewa, semuanya sudah tidak penting lagi.
kamu tidak lagi meminta kekuatan, kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, atau ketenangan hati. urusan dunia tidak lagi membebanimu, tidak lagi membuatmu gelisah.
pada suatu hari nanti, hari kamu bertemu dengan Allah, yang kamu minta hanyalah ampunannya, maafnya, rahmatnya. yang kamu inginkan hanya taubatmu diterima, amalmu disyukuri, luka-lukamu menghapus dosa.
ya Allah izinkan kami bertemu dengan-Mu, melihat wajah-Mu dan rupa-Mu, dipeluk oleh-Mu. pada suatu hari nanti, pada hari yang amat bahagia.
Ya Rabb, aku sayang banget sama mereka. Jaga mereka selalu ya, penuhi selalu mereka dengan kebaikan-Mu ✨🌻
Terima kasih sudah menghadirkan mereka di hidupku duhai Dzat Yang Maha Baik.
Allahku Yang Maha Baik, tolong jaga orang-orang baik itu. Penuhi mereka selalu dengan kebaikan-Mu. Terima kasih telah menghadirkan mereka dihidupku. Sungguh, semoga segala kebaikan yang mereka berikan itu, Engkau balas dengan pahala yang tak berkesudahan. ✨🌻
barangkali ada
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: telah babak belur, terseok-seok berjuang menjaga keimanan, pikiran, perasaan, ucapan, tulisan, perbuatan.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: merasa hidup kadang tidak adil, nyaris memutuskan tidak sanggup melalui badai dunia, bingung takdir mana yang ujian mana yang hukuman.
barangkali ada di antara teman-teman yang sama seperti saya: kecewa berkali-kali, patah hati sampai tidak ada yang bisa dipatahkan lagi. tercerai-berai, tetapi entah mengapa Allah kuatkan lagi.
barangkali ada di antara teman-teman yang ingin Kembali dan Sembuh sama seperti saya: Kembali kepada jalan Allah yang Dia ridhoi, bertaubat setaubat-taubatnya, memohon keberkahan hidup, dan mendambakan kepulangan yang paling lembut. lalu Sembuh, punya keyakinan untuk melangkah lagi, setiap hari, setapak demi setapak. hidup dengan kebahagiaan dan ketenangan yang sunyi.
menyambut sepuluh hari terbaik, izinkan saya menemani kamu. atau mungkin, tolong temani saya. yuk kita sama-sama Kembali dan Sembuh. dan semoga Allah menjadikan kita sebersih hari kita dilahirkan ke dunia.
buku Doa Arafah ini panjangnya 80 halaman B6 atau A5. memuat semua Asmaul Husna dan banyak doa Qurani dan Sunnah. sengaja disusun agar pada tanggal 9 Dzulhijjah--pada hari Arafah--saya (dan mas Yunus) punya bekal yang cukup perihal apa yang ingin diminta kepada Allah Swt. saya memperkirakan, buku ini akan habis dibaca sambil berdoa dalam sekitar 4-6 jam.
buku ini saya persembahkan juga untuk teman-teman Tumblr-ku, yang selalu jadi semangat saya menulis. gratis, tidak ada hak cipta, boleh disebarluaskan, boleh diedit sesuai kondisi diri. buku Kembali dan Sembuh dapat diunduh di sini.
kalau buku ini bermanfaat untukmu, kasih tau saya ya. boleh kirim DM, reply, atau reblog postingan ini.
selamat Kembali dan Sembuh. semoga Allah memelukmu selalu.
Beberapa waktu ini aku belajar bahwa esensi pendidikan bukan hanya sekadar mencetak generasi yang cerdas intektual, tetapi juga harus melahirkan generasi yang matang secara fitrah dan memiliki rasa takut kepada Rabbnya. Sebab faktanya, negara ini tidak pernah kekurangan orang pintar, tidak kekurangan orang berilmu.
"Nak, teruslah belajar sampai dengan ilmu itu menjadikan engkau takut kepada Rabbmu. Nak, teruslah belajar, miliki cita-cita dunia tapi juga sadar akan target akhirat."
22:41 WIB, dalam sebuah keresahan.
tentang tabur tuai
Allah Swt. dengan tegas bilang: tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula. Allah juga bilang: setiap perbuatan manusia pasti ada ganjarannya. seharusnya, kalimat-kalimat ini cukup untuk membuat kita berpikir seribu kali sebelum berkata, sebelum bersikap, sebelum bertindak--bahkan sebelum berpikir. seharusnya, kita hati-hati.
jangan perlakukan orang lain dengan cara yang kita tidak ingin diperlakukan. perhatikan caramu bicara, melirik atau menatap, bahkan memposisikan badan. adakah yang berpotensi menyakiti?
jangan mengambil yang bukan hak kita apalagi menzhalimi hak orang lain. kalau sesuatu yang kamu punya diambil / direbut orang lain, kamu mau?
jangan mendoakan keburukan bagi orang lain. bagaimana kalau malaikat mengaminkan agar doa itu justru kembali kepadamu? kepada keluargamu?
jangan membicarakan keburukan orang lain. ingat kamu hanya beda dosa. mudah sekali bagi Allah untuk menjerumuskan kamu ke sana juga.
jangan mencela keputusan hidup orang lain. kamu nggak pernah tau apa yang ada di bawah permukaan. belum tentu kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak kalau kamu ada di posisinya.
jangan iri dengan hidup orang lain. mungkin kamu menginginkan kebahagiaannya, tapi percayalah kamu tidak menginginkan penderitaannya.
jangan manipulatif: menyakiti orang lain dan malah teriak-teriak kalau yang disakiti membela diri. apalagi menggunakan ketidakbenaran untuk menyerang. bereskan luka pengasuhanmu supaya kamu nggak meneruskannya kepada siapa-siapa.
jangan menyalahkan orang lain atas perbuatanmu, ketidakmampuanmu, atau ketidakbahagiaanmu. pada satu titik, ketenangan hidupmu adalah tanggung jawabmu sendiri. selanjutnya tetap begitu.
jangan suka mengolok-olok. ingat Allah Maha Memuliakan, tetapi juga Maha Menghinakan. jangan menertawakan orang lain kalau kamu tidak mau ditertawakan malaikat.
jangan merasa lebih baik apalagi mulia dari orang lain. kamu tidak tau taubatnya. barangkali Allah lebih menyayanginya. lagipula, mudah sekali bagi Allah untuk membuka aibmu di hadapan seluruh dunia.
jangan menyimpan dendam. yang pelan-pelan mati karena dendam itu kamu, bukan orang lain yang kamu dengki terhadapnya. belajar memaafkan. mulai dari dirimu sendiri mungkin?
urusan sama manusia rumitnya berkali-kali lipat. bisa jadi suatu hari kamu menyesal, tetapi akibat yang kamu perbuat masih tertinggal pada orang lain. bisa jadi suatu hari kamu meminta maaf, tetapi belum tentu dia memaafkan.
balasan atas perbuatan kita itu bukan soal akan atau tidak, tetapi soal kapan. tetapi ingatlah, Allah Maha Pemaaf dan rahmat Allah tiada terhingga. mumpung masih ada waktu, minta maaflah. kalau malu, mintalah maaf melalui Allah. minta Allah menyembuhkan siapa saja yang pernah kamu lukai. minta Allah melembutkan hatinya untuk memaafkanmu.
semoga rahmat Allah melingkupi kita.
Tetiba kangen kuliah, kangen temen-temen kuliah, kangen belajar, kangen ngobrol sama mereka, kangen istirahat di kostan sembari nunggu jam kuliah selanjutnya, kangen rapat sama panitia pps. Kangen ih, Ya Allah jaga mereka selalu ✨🌻
Mudah Menangis
Akhir-akhir ini, saat tekanan hidup lagi banyak. Yang dirasakan, bukan stres. Tapi bisa tetap tenang. Sesuatu yang tidak kumiliki 2 tahun yang lalu. Ternyata, cara berpikirku udah berubah.
Tapi untuk bisa mencapai perubahan seperti ini, besar sekali rasanya hal yang harus dihadapi dalam kapasitasku sekarang. Sering setiap malam berpikir, dimana jalan keluarnya. Ternyata, Allah mencabut banyak hal dalam hidupku. Tapi setelah hal itu tidak ada, aku tahu yang sebenarnya ia cabut bukanlah itu, tapi benih-benih kesombongan, perasaan merasa bisa mengendalikan hidup, bergantung pada diri sendiri, dan semua hal yang membuatku justru semakin jauh dariNya.
Lalu, ketika aku merasa tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Ia hadiahkan untukku sebuah penghiburan yang membuatku menangis berhari-hari setiap memikirkannya.
Kini, rasanya aku lebih mudah menangis. Setiap kali memikirkan semua perubahan hidupku dalam dua tahun terakhir. Rasanya, "berhala-berhala" dalam hidupku dihancurkan, digantikan dengan perasaan bergantung yang sangat kuat kepada-Nya.
Tidak lagi terikat dengan harta. Melihat dunia dengan pandangan yang lebih tepat. Melihat masalah dengan lebih positif. Punya keyakinan tentang masa depan. Serta tujuan yang lebih jelas.
Satu per satu, inshaAllah nanti kita tata lagi. Kita perbaiki. Akhirnya, aku merasa tenang karena bisa menerima ketetapannya dengan hati yang lapang.
KG
Orang yang paling baik dan banyak jasanya dalam hidupku adalah Ai, setelah mama dan bapak. Semoga Allah memberikan Ai umur yang panjang nan berkah, sehat nan bahagia, Allah balas kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat-lipat, diluaskan rezekinya, Allah jadikan keluarganya keluarga yang sakinah dan penuh kasih sayang di dalamnya. Semua doa terbaik untuk Ai.
Aku sering nangis karena kesel ke Ai, aku pernah kecewa sama Ai, aku sering gak sependapat sama Ai. Tapi aku sayang sekali sama Ai. Ya Allah, terima kasih sudah hadirkan Ai dihidupku. Jaga Ai selalu Ya Rabb. ✨🌻
Titik Pasrah
Pernah terpikir tidak, tentang titik paling sunyi dari seseorang yang sedang patah?
Ia ada pada momen ketika segala amarah mendadak bungkam, menyisakan jemari yang gemetar saat mengeja: "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin". Sebuah pengakuan sunyi bahwa hati telah terlampau jauh tersesat dalam harapnya sendiri, sampai akhirnya ia tertidur lelap dalam pasrah yang paling dalam.
Lalu saat pagi kembali, dan ia mendapati sisa perih itu ternyata belum juga beranjak, bibirnya hanya mampu berbisik lirih: "Robbi inni massaniyadh dhurru wa anta arahmur rahimin". Ia tak lagi mencari siapa yang salah, ia hanya sedang menunjukkan serpihan dirinya pada Sang Pemilik Kesembuhan.
Pada saat itulah, urusannya dengan dunia telah benar-benar usai. Ia sudah menitipkan lukanya pada tangan yang paling berkuasa. Dan tanpa perlu diminta, di titik itulah penyesalan bagi yang pernah mematahkannya akan mulai merayap perlahan, tanpa suara, namun jauh lebih menyakitkan dari sekadar sebuah kehilangan.
--
memaafkan adalah perjalanan paling sunyi yang pernah ditempuh manusia. di dalamnya hanya ada percakapan jujur antara luka dan doa yang tak terucap. biarlah langit yang menjaga bagian-bagian yang tak sanggup kita genggam sendiri. sebab terkadang, cara terbaik untuk pulih adalah dengan benar-benar berserah.
Aku lagi nyari bahan tentang homeschooling. Ada yg punya rekomendasi akun, jurnal, atau apapun yg berkaitan dengan homeschooling buat aku pelajari?
Salah satu sahabatku seumur hidupnya gak pernah pacaran, medsos yg dia pake cuma WhatsApp, telegram, sama YouTube untuk share video pembelajaran itupun karena dia seorang guru. Hidupnya didedikasikan untuk pendidikan, kayanya ngajar tuh jadi hobinya dia. Tapi, Alhamdulillah kalau sudah waktunya menikah, Allah pertemukan juga dengan jodohnya.
Aaaaah, MasyaAllah laa quwwata illa billah. Alhamdulillah. Senang bangeeeet, s perempuan yang super mandiri itu sebentar lagi jadi istri orang. ✨🌻
Tentang Dai
Dai itu tipe anak yang social skill nya cukup bagus, sejak pertama perkenalan kami, ia selalu inisiatif memulai lebih dahulu. Dai sangat membantu saya dalam beradaptasi disini.
"Oh Bu Julia rumahnya di Cimahi juga"
"Bu jangan lupa ingatkan An ada zoom jam 10.00"
"Bu besok belajar apa?"
"Bu, aku sudah mandi, sudah sarapan dan pakai seragam sekolah. Hari ini teleponnya jam berapa?"
"Bu Julia, An belum ngaji. Aku sudah."
Kalau urusan belajar mau pelajarannya menyenangkan, membosankan, sulit, mudah bagi Dai semua ia jalani dengan semangat.
Karena kondisi Dai, kami (sekolah dan keluarga) sangat membatasi asupan glukosa dan protein tinggi untuknya sehingga ia sering diam-diam mengelabui kami.
"Bu Julia, tadi Dai beli teh pucuk tuh." lapor salah seorang temannya
"Betul Dai?"
"Iya, soalnya aku pengen banget bu."
"Kan kemarin sudah beli, nanti bilang ke Papah ya kalau Dai sudah beli minuman manis di sekolah jadi nanti di rumah engga beli lagi ya."
"Iya bu. Bu kalau besok aku beli es krim boleh?"
"Minggu ini sudah yaa, tidak beli-beli dulu minuman manis di sekolah. Dai juga kan baru sembuh dari flu."
"Oh iya ya bu, aku lupa haha" Ia tertawa dengan khasnya ia tertawa
Mendampingi Dai dan An, saya seperti Ibu dari 2 anak laki-laki. Saya sebisa mungkin untuk selalu adil dalam memperlakukan mereka. Meski pada kenyataannya saya menyadari porsi perhatian saya ke An sedikit lebih banyak. Seperti hari ini, saya dititipi siswa siswi kelas 8 juga harus mendampingi Dai dan An.
"Dai, An karena hari ini Bu E tidak masuk. Dai dan An ikut belajar di kelas ya bersama teman-teman yang lain. Tapi nanti mengerjakan tugasnya yang sudah ibu buat ya."
"Oh, oke." respon An
An selalu memanggil-manggil saya, meminta mendampingi ia belajar.
"Dai, ibu boleh bantu An dulu? Ini Dai kerjakan dulu mana yang Dai bisa. Setelah An selesai, ibu nanti bantu Dai. Oke?"
"Oke bu, aku kerjakan ini dulu saja."
"Siip"
Tak berselang lama
"Gimana Dai, sudah bisa nak? Dai, ibu mau bantu menjelaskan dulu di depan ya buat teman-teman yang lain, tidak apa-apa Dai Ibu tinggal dulu?"
"Iya bu."
Dai anak yang tidak sabaran tapi sabar. Lha gimana sih? Iya, Dai dan An itu punya sisi tidak sabaran, harus aku lebih yang lebih dahulu. Mungkin karena tingkat kecemasan mereka lebih tinggi dibanding anak seusianya. Tapi Dai pada saat-saat 'riweuh' seperti itu paling bisa diandalkan. Paling gampang dimintai untuk menunggu terlebih dahulu. Saya jadi sering merasa bersalah karena seperti menomor dua kan Dai.
Dai, maaf ya kalau Ibu terlalu sering meminta pengertiannya Dai. Maafin Ibu kalau sering meminta Dai untuk menunggu. Terima kasih ya Dai sudah menjadi tempat Ibu belajar.
Pengendalian dirinya Dai semakin kesini semakin baik, Dai keren. Ibu bangga sama Dai 👍🍀
Eh, kok kangen yak!
Sekarang kayanya mereka udah kelas 3 SMA deh. Dai si anak yg senang eksperimen ini bentar lagi memasuki dunia orang dewasa. Semoga Allah melindunginya selalu 🌻✨
Selesailah apa yang harus selesai!
Waktu itu entah keberanian dari mana saya mengajukan diri untuk menemani mamahnya teteh berobat di Bandung. Sempat bingung nanti ngobrolin apa ya, bisa gak ya nyaman satu sama lain.
Kemudian hari itu tiba, saya menunggu di lobi dan tidak lama Mamahnya teteh dan Abah datang, baru sampai dari luar Bandung. Lalu dengan otomatis saya mengambil peran seorang anak seperti biasanya seorang anak pada umumnya, mengambilkan tiket antrian, mengisi ini itu, setelah administrasi selesai kami menunggu panggilan yang cukup panjang. Gak mungkin dong cuma diem, kami ngobrol ngaler ngidul, tapi sebenarnya ada satu pertanyaaan yang cukup mengganggu sejak luka itu bapak goreskan, yang pengen banget saya lontarkan dengan penuh tuntutan, mungkin berasal dari sisi jahat saya sebagai manusia.
"Apa kamu gak tahu kalau bapak udah punya keluarga. Apa kamu gak tahu kalau bapak udah punya istri dan anak? Apa kamu gak ngerasa jahat sudah menghancurkan hidup orang lain?"
Tapi sisi baik di dalam pikiran saya mencoba untuk mengendalikan dan berperang dengan ego.
"Untuk apa kamu tanya itu ju? Untuk mencari siapa yang salah? Terus kalau udah tahu kamu bakalan puas? Apa keuntungannya?"
Lalu saya menepis keinginan untuk bertanya perihal itu, toh buat apa juga sih, mamah dan bapak juga kan udah gak ada. Sekarang waktunya untuk memperbaiki jembatan yang putus. Nanti kalau udah waktunya bagian-bagian yang hilang ini bakalan ketemu sama jawabannya kok dan jadi cerita yang utuh.
Bak gayung bersambut, justru obrolan mamahnya teteh semakin menjurus ke masa lalu. Sembari mendengarkan saya terus mengola perasaan jangan sampai ada ekspresi yang kurang berkenan, sampai pada sebuah kalimat
".............Mamah gak tahu neng kalau bapak sudah berkeluarga............"
Pikiran saya langsung menyimpulkan "Waah bapak nih yang salah, bapak nih akarnya."
Kemudian cerita demi cerita disampaikan, kisah demi kisah dibagikan. Pikiran saya mengolah banyak keributan di kepala. Merespon dengan apa yang sepantasnya saya merespon. Lalu tiba panggilan untuk mamahnya teteh, karena tidak boleh ditemani maka mamahnya teteh lah sendiri yang masuk ke ruang pemeriksaan. Allah seperti memberi waktu untuk saya berpikir dengan jernih, mengola hati dengan nurani yang bersih. Saya duduk menunggu dengan pikiran yang berkecamuk.
Ingin sekali mengatakan bahwa ini adalah kesalahan bapak. Bapak yang jahat, bapak yang tersesat. Tapi....... Mama sering bilang:
Ketika bapak salah mengambil langkah. Mungkin ada andil dari kesalahan mama juga. Mungkin mama lupa mengingatkan. Mungkin ada kewajiban mama yang tidak tertunaikan dengan baik, mungkin ada hak bapak yang tidak terpenuhi sebagaimana harusnya.
Aaaaah terbuat dari apa hatimu maaaa?
Sepanjang hari itu cerita dari mamahnya teteh seperti sedang mencari tempat di dalam pikiran, memasangkannya dengan celah-celah yang hilang.
Saya seperti sedang dihidangkan banyak jawaban, lalu dituntut untuk mengambil pensikapan yang paling tepat. Allah tengah menguji.
Lama berpikir, meresapi. Tidak mungkin Allah menghadirkan ini tanpa hikmah yang harus saya maknai. Lalu saya berkata pada diri saya sendiri, berselirih dalam hati
"Pak, aku gak tahu keadaan bapak saat itu gimana. Aku gak tahu apa yang bapak dan mama lalui. Aku gak tahu pertimbangan apa yang bapak pikirkan. Aku juga gak tahu alasan apa yang membuat bapak mengambil keputusan itu. Tapi aku akan belajar untuk memahami kerumitan ini dan aku sekarang akan benar-benar memaafkan bapak, setulusnya, sepenuhnya. Biar, apapun nanti cerita dan fakta yang akan datang di masa depan. Aku tidak berhak menghakimi. Aku wajib mengimani, ini adalah bagian dari takdir-Nya. Kini, aku anggap selesai."
Hari itu selesailah apa yang harus selesai!
hal-hal yang susah
memaafkan orang lain itu susah banget. tapi bayangkan nanti saat hari akhir Allah bilang ke kamu, "kamu selalu berusaha memaafkan. kamu berdoa meminta agar hatimu bisa memaafkan. maka Aku maafkan pula semua kesalahanmu. masuklah ke dalam surga-Ku."
memberi jalan (dalam banyak arti) bagi orang lain itu susah banget. tapi bayangkan nanti saat harus melewati siraat Allah bilang, "kamu sering mengalah dan memberi jalan untuk orang lain. sekarang lewatilah jembatan ini dengan mudah. semua makhluk memberimu jalan."
menutupi aib orang lain itu susah banget. tapi bayangkan saat semua rekaman hidupmu diputar Allah bilang, "yang ini tidak perlu. hidupnya hanya diisi kebaikan." lalu kamu diberi pakaian yang sangat bagus.
mengikhlaskan janji dan utang orang lain itu susah banget. tapi bayangkan saat di akhirat Allah bilang, "sesungguhnya kamu punya utang puasa, utang sholat, utang nazar, utang zakat. tapi semuanya sudah Aku ampuni dan anggap lunas karena kamu selalu mengikhlaskan utang orang lain."
tidak membalas perbuatan jahat orang lain dan alih-alih mendoakannya itu susah banget. tapi bayangkan saat di akhirat Allah bilang, "semua dosamu sudah diampuni karena malaikat-malaikat mendoakanmu setiap kamu mendoakan orang yang menyakitimu."
kalau kamu melakukan hal-hal yang susah, jangan lupa berdoa dalam hati. minta hadiah yang besar. kalau hanya ketenangan dan kebahagiaan di dunia, itu masih kurang. minta yang abadi.
"ya Allah, aku sekarang lakukan ini. nanti kelak di akhirat, ampuni aku, maafkan aku, bela aku, tutupi aibku, beri aku jalan yang mudah, beri aku pakaian yang bagus, masukkan aku ke surga terbaik-Mu."
Lihat jam
"Udah jam segini kenapa belum ngantuk ya?"
Lalu ingat
"Ah iya, tadi disuguhi teh tarik."
Sepertinya setiap Selasa, Jumat, dan Sabtu sudah menjadi rutinitas istirahat jadi lebih malam. -_-