Arafah adalah harinya berdoa.
Jika ada sesuatu yang selama ini hanya berani kamu simpan dalam diam, jika ada harapan yang terlalu besar hingga kamu lupa mengucapkannya, atau jika ada keinginan yang terasa begitu jauh sampai kau sendiri ragu apakah ia akan tercapai—maka besok, bawalah semuanya pada Allah.
Mintalah keteguhan untuk hati yang sering goyah. Mintalah kekuatan untuk pundak yang kerap lelah. Mintalah jalan keluar untuk setiap kebuntuan arah. Dia akan memahami doa-doamu meski tiap untaian katanya tidak sempurna.
Barangkali hari ini kita sedang berdiri di persimpangan yang membuat bingung. Barangkali kita sedang memandangi kenyataan yang terasa mustahil untuk diubah. Barangkali kita sedang menggenggam luka, kehilangan, penantian, dan ketidakpastian yang terlalu lama menetap dalam dada.
Ingatlah, bukankah Dia membelah lautan untuk Musa ketika di hadapannya hanya jalan buntu dan ketakutan? Bukankah dijadikan dingin kobaran api untuk Ibrahim ketika segala sebab dunia seolah mengarah pada kebinasaan? Maka apa yang membuat kita berpikir bahwa kesulitan kita terlalu besar bagi-Nya?
Maka berdoalah. Sebut satu per satu harapan yang selama ini kamu sembunyikan karena takut kecewa. Sampaikan kepada-Nya semua yang tidak mampu kamu ceritakan pada manusia.
Sebab tidak ada doa yang terlalu besar untuk Allah yang menciptakan langit dan bumi. Tidak ada harapan yang mustahil bagi Dia yang berkata, "jadilah!".
Mintalah dengan riuh. Dengan seluruh harap yang kita jaga agar tidak habis. Dengan seluruh air mata yang mungkin belum sempat jatuh. Dengan keyakinan bahwa ada Allah yang Maha Mendengar.
Karena pada Arafah, doa-doa yang selama ini menggigil dalam dada akan dirayakan-Nya lewat takdir baik yang menghampiri kita.











