This is 12 AM. I’m trying to sleep but I cannot because I do really want to share my thoughts on an issue. As my friends had different opinions, I thought sharing my opinion to them was not a good idea so let me share it here. Gonna use Bahasa Indonesia (((yes it’s not only bAhaSa))) because bro this one comes from the deepest of my heart.
Around 6 years ago (it;s a long time already!), I had been active doing service in a church in Bandung and there was this one woman priest. 2 years ago, my friend told me that this priest renounced her priesthood because she had divorced. It was a shock news to me. I knew she and her (let’s just said) ex-husband were not a lovey dovey couple like other priests. But having a divorce was still a shock to me because, you know, we didn’t really accept divorce in Christianity, right? There were so many speculations including they were divorced because they had no child after a long year marriage.
Well, after that we never talk about it until last end-of-month, the church hold the priest’s farewell event. As someone shared on IG story, I watched the re-run event posted on youtube and heard the explanation from the priest.
She said that she was “divorcced” because of abuse in her marriage. It was a BIG shock to me becasue it’s not only her, but her husband was also known in the church. I know, I know that nothing is impossible, a person can be an evil inside, but it was still a shock!
And, of course, as expected, there was a debate about this. As we all know, abuse is a sensitive topic. But, wait, before we talk about the debate, I want to let you know that now the priest hasn’t renounced her priesthood. She is on probation in other church right now.
Okay, let’s talk about the debate. Here are two different opinon about the issue.
1. She is a priest. If a priest cannot do what God said, “let not man separate”, how can she be a model for others?
2. She is also a human who has a life. We cannot keep her in an abusive environment. It’s an acceptable reason to divorce so it’s also ok for her to keep being a priest. She can be a good priest by listening to other’s stories and giving advice as she already had the problem.
Well, I agree with both opinions BUT eventhough the second opinion is true and valid, that doesn’t mean she can keep being a priest. Let me just write in Bahasa Indonesia T_T
Setuju banget kalau dia adalah manusia yang hidupnya berharga. Kita juga harus inget kalau Tuhan mau kita berdamai dengan kehidupan kita sendiri. I’m not really sure about this, but I believe that divorce, or at least berpisah meski tidak bercerai secara legal, adalah salah satu cara terbaik untuk seseorang bisa berdamai dengan hidupnya setelah berada di dalam lingkungan yang abusive. Ketika seseorang bisa berdamai dengan hidupnya, ia bisa memuliakan Tuhan lebih lagi. Again, I don’t really know bagaimana Alkitab membahas ini, tapi I think it’s not a bad idea to separate the priest from her husband.
Now, should she keep being her priest? My opinion is no, at least not in that specific church. Again, sebenarnya Tuhan udah bilang kalau perceraian itu gak bisa. I know it can be interpreted differently but we should understand that the church had interpreted the verse kalau perceraian itu tidak diperbolehkan Allah. Karena ketika mereka menikah dengan pemberkatan, Tuhan yang sudah menyatukan mereka. Siapalah manusia yang bisa memisahkan mereka? Ya, terserah gitu ya kalau lo gak setuju dengan pendapat itu dan merasa terusik, ya gak osah beribadah di situ dan cari gereja yang sesuai dengan how you interpret BIble gitu. It’s actually ok kan. No church is 100% correct in interpreting Bible.
Kalau pendeta nya mau dan merasa dalam kondisi yang dia alami memang jalan terbaik adalah cerai kayak yang tadi gue sampein, it’s totally ok for her to have that personal view. But we need to understand that the church cannot accept that. Some people said harusnya ada kelonggaran karena ini kan tentang abuse. But, guys, hukum Tuhan itu gak abu-abu. Hukum Tuhan itu hitam dan putih. Selalu inget kalau Tuhan itu memang Maha Kasih, tapi Tuhan itu juga Maha Kudus. We can still love and accept each other, tapi apa yang salah itu ya salah. Gak ada T&C dalam menentukan itu melanggar hukum Tuhan atau gak. Jadi, kalau gereja menginterpretasikan sabda Tuhan itu sebagai “tidak boleh bercerai”, menurut gue, gereja TIDAK BISA mentoleransi itu. Sebagai pendeta yang seharusnya jadi teladan dalam melakukan hukum Tuhan, maka pendeta di gereja tersebut tidak bisa bercerai. Jadi, I totally agree with the church kalau mereka gak bisa menerima dia jadi pendeta lagi di gereja itu.
Tapi, kalau dengan itu, gereja langsung kayak no you need to renounce your priesthood right now, itu juga jahat. Gereja gak bisa seenaknya jadi hakim juga karena selain pernikahan, kependetaan itu kan juga perjanjian di hadapan Allah. Solusi yang ditawarkan saat ini ke pendeta itu menurut gue, sekali lagi gue tekenin kalau ini menurut gue, adalah solusi yang ter-aman. Gak bisa bilang ini terbaik, tapi setidaknya ter-aman. Kenapa? Karena gereja masih memberikan pilihan ke dia. Coba ayo kita cari dulu apa ada gereja lain yang bisa menerima kondisi di dan punya pemahaman yang berbeda dengan kita. It’s a good enough solution, right? Dia tetap bisa bercerai dan memiliki kehidupan yang dia rindukan, tapi dia tetap juga bisa melayani sebagai pendeta sesuai yang sudah dia komitmenkan.
Lagian, di dalam kehidupan, gak akan mungkin ada hidup tanpa pengorbanan. Gue jadi mikir, kenapa harus kecewa kalau misalpun memang pada akhirnya harus menanggalkan status kependetaannya ya? Apa melayani Tuhan, hidup sebagai hamba Tuhan, menjadi pendengar dan pemberi saran yang baik hanya bisa dilakukan jika sebagai pendeta? No. Kita bisa jadi orang biasa tapi memberikan hidup kita sepenuhnya untuk Tuhan, sama seperti yang dilakukan pendeta. Bedanya cuma kita gak punya kewenangan tertentu misal untuk melakukan baptis gitu. Ya gak sih?
Setelah dicek lagi ini udah panjang banget T_T jadi intinya menurut gue sih, pendeta ini memang sudah harus berpisah sama suaminya dan menjalani kehidupannya sebagai seorang yang bebas dari kekerasan. Tapi dia memang juga gak bisa lagi jadi pendeta di gereja yang sama karena tidak sesuai dengan biblical view yang gereja itu pegang. Dalam hal ini, menurut gue, kita gak perlu stand di salah satu side aja karena tidak ada yang 100% salah di antara mereka. Kita bisa terima keputusan keduanya dengan baik dan mendoakan keduanya, pendeta dan gereja, tetap bisa melayani Tuhan. That’s my two cents. God bless! xo













