styofa doing anything
h

Kiana Khansmith
art blog(derogatory)
taylor price

⁂
Keni

Andulka
Monterey Bay Aquarium
almost home
Misplaced Lens Cap
hello vonnie
ojovivo

oozey mess

❣ Chile in a Photography ❣

tannertan36
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

@theartofmadeline
sheepfilms

roma★

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Ukraine
seen from United States

seen from Germany

seen from Singapore

seen from Singapore

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Singapore

seen from Belgium
seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from Belgium

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from France
@bukanceritaputeri
Have faith ❤
Istri Cerdas
“Maukah aku beritakan kepada kalian wanita paling baik di surga?” Tanya Rasulullah kepada para sahabat. “Ya Rasulullah.” Jawab para sahabat. Beliau bersabda “Setiap wanita yang penuh kasih sayang lagi banyak melahirkan anak. Jika suaminya marah kepadanya, maka ia berkata, “Inilah tanganku ada pada tanganmu. Aku takkan pernah bisa memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku.” (H.R. Thabrani)
Beberapa hikmah yang bisa kita ambil adalah menjadi istri idaman itu kriterianya adalah lembut, subur dan taat pada suami. Taat ini tentunya selaras dengan ketaatan pada Allah. Taat pada suami merupakan bentuk dari taat pada Allah. Landasan utama seorang istru adalah agama yang kokoh.
Syaikh Saleh bin Ahmad al Ghazali menambahkan kriteria istri idaman. Menurut beliau, istri idaman itu memiliki kriteria cerdas, sabar dan sederhana. Kecerdasan memungkinkan seorang istri melihat permasalahan dengan objektif. Kesabaran akan memberi kemudahan baginya dalam keadaan sempit maupun lapang. Kesederhanaan akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi tenang dan nyaman.
Kali ini kita akan membahas tentang istri yang cerdas. Cerdas disini berkaitan dengan komunikasi dengan suami dan juga berkaitan dengan cara menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.
Istri sebagaimana umumnya perempuan, mayoritas mengedepankan perasaannya dibandingkan logikanya. Berkebalikan dengan suami yang lebih mengedepankan logika. Seringkali bentuk kasih sayang yang diberikan kepada pasangan sesuai dengan keinginan sendiri. Sebagai contoh, seorang istri jika memiliki masalah lebih butuh teman cerita ketimbang solusi. Ketika menemui kondisi suami yang dalam masalah, istri berfikiram bahwa dengan bercerita beban suami akan mereda. Maka, ia memaksa suaminya untuk bercerita. Maksud dari istri tentu baik, namun akan diterima berbeda oleh suami. Suami akan merasa terganggu saat memiliki masalah kemudian direcoki istrinya untuk bercerita. Suami ketika memiliki masalah lebih memilih masuk ke dalam ‘gua’ untuk memikirkan jalan keluarnya.
Niat yang baik jika tidak mengetahui ilmunya bisa jadi akan menimbulkan keburukan. Bisa jadi suami akan marah ketika dipaksa istri untuk bercerita. Dalam hal ini kita perlu belajar pada Bunda Khadijah. “Selimuti aku, selimuti aku” kata Muhammad kala itu. Khadijah tak bertanya yang ia lakukan adalah menyelimuti sang suami dan memberikan ketenangan dan kenyamanan tanpa pertanyaan mengganggu seperti “Kamu kenapa?” “Kedinginan kah?”
Hal lain yang perlu dimiliki seorang istri adalah kemampuan memberikan penghargaan kepada suami. Laki-laki perlu diberikan ruang untuk memberikan keputusan dan melakukan berbagai hal dalam keluarga. Hal itu yang menjadikan ia orang yang dibutuhkan dan dihargai karena kemampuannya dalam memimpin rumah tangga.
Selanjutnya adalah kemampuan seorang istri untuk menasehati suami. Dalam berumah tangga tentu suami tak selalu benar. Jika salah sudah seharusnya diberi nasehat. Istri yang cerdas akan menyiapkan suami untuk menerima nasehat dan menemukan waktu yang tepat untuk dinasehati. Suami kita tentunya tak sebaik Umar yang ketika dimarahi diam saja. Bisa jadi ketika dinasehti akan membuatnya marah. Lalu bagaimana? Suami sebagaimana fitrahnya menjadi pemimpin cenderung memiliki persepsi ia yg benar. Ketika melakukan kesalahan dan langsung diberi nasehat, ini akan membuatnya merasa tidak dihargai sebagai pemimpin.
Penerimaan atas kesalahan suami adalah kunci agar suami mau mendengarkan nasihat istri. Tetap tunjukkan akhlak yang baik ketika suami melakukan kesalahan. Sampaikan nasihat saat suasana tenang dan cair dengan bahasa yang baik dan dengan ketulusan.
Semoga kita menjadi seorang istri cerdas, istri yang mampu mencintai suami sebagaimana ia ingin dicintai hingga Ridho Allah terlimpahkan pada keluarga kita. (tw)
Sumber : Bahagianya Merayakan Cinta Barakallahulaka
🌷SUPERMOM’s NOTE🌷 Edisi #marriedbydesign 13 Mei 2017
🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥 💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com 💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe 💌 Twitter & Instagram: @supermom_w 💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com 💌 WhatsApp: +6285725105272
the thing that gives me happiness is saying ‘thank you god’ to every misfortune in life and also to every blessing. it gives me this sense of contentment that whatever god has for me comes in his divine plan and he knows better for me. that every good and every bad come to better me, so thank you, i pray i forever stay under your shelter.
thesmilingakh (via thesmilingakh)
الباقي
some days i am surprised about my own strength. i ask myself how I could have swallowed so much dirt. and yet caused blossoms to erupt in my lungs again. but on other days i regret having asked as I remember: i have Allah with me. from my first breathe to my last. all the way along.
May الله heal the broken heart. The ones who are silent, who cannot express their pain. The ones who are tired of torment. The ones who need a break. May الله put an end to your sadness, may He put a smile on your face.
Be you, do you 😊
#quoteoftheday
Sekali sekala rindu datang. Buat kita teringat dan terkenang. Kadang buat kita gembira sebab pernah ada. Kadang buat kita kesal sebab pernah rasa. Kadang buat kita sedih sebab sekarang dah hilang. Rindu. Kadang-kadang malu nak mengaku. Kadang-kadang kerana ego kita tak mahu beritahu.
(via tersenyum-melihat-langit)
You know why we are all so happy in Ramadan? Because for one month in a year, we are all doing what we were created to do - worship in a state of brokenness and gratitude.
(via jannahflowers)
“Endless love is fueled by endless friendship. If you want to have the greatest romance ever, have the greatest friendship ever. Cultivate it; do not let your friendship die. Remember, it’s not a lack of love that destroys relationships; it’s usually a lack of friendship.” ~Unknown
It takes years to make me realize that is friendship what matters most in marriage. If you married your best friend in love and life, be grateful. You have all that you need ❤
#love #journey #togetherness
Someone died today. Someone is going to die tomorrow. It might be me, or it might be you. It might be someone in my family or in your family. This might be the last thing I’ll write here, or it might be your last post that you read. For everyday life gets shorter. We need to spend it preciously. We need to remind ourselves that we live for Allah, not for this dunya. We need to remind ourselves of akhira. So my dear reader, let this post be a reminder to you. Try harder, work harder, get back to Allah and work for a place in Jannah.
at your best you still won’t be good enough for the wrong person. at your worst, you’ll still be worth it to the right person.
“I love all the roads we will walk together I love all the sceneries we will see together I love all the questions we will shyly ask each other And all the answers to those questions I love you in all those moments From your bride” - Eun Tak`s letter to Kim Shin
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017