Berbekal perlengkapan dan persediaan yang lebih dari cukup, Mas Jun menengadahkan tangan ke langit seraya berucap lirih. Samar terdengar doa-doa diselingi harap cemas, Mas Jun akan meninggalkan zona nyamannya untuk selamanya. Memang berat meninggalkan kampung halaman, pergi ke perantauan tidaklah semudah yang difikirkan banyak orang.
Perlu 6 jam berjalan dari kampungnya menuju ke kota, namun Mas Jun terlanjur berangkat petang hari. Difikirnya ia kuat memikul barang yang berlebih, ternyata tekad tak melulu bisa memberi kekuatan tambahan. Langit sudah sangat gelap, ternyata bulan malam ini memilih berselimut malu di balik awan. Mas Jun memaksakan diri berjalan di gelapnya malam, tak terhitung banyaknya ranting menggores badan cekingnya. Sepertinya gelap hanya mempengaruhi matanya, tidak pada kegigihannya.
Gubrak. Ia terperosok ke dalam lubang jebakan hewan.
Kakinya terkilir karena menahan berat barang bawaannya, merah bengkak hampir seperti apel. “Sial!”, teriaknya keras. Mas Jun perlahan bangun dan mencoba berdiri di kakinya sendiri namun selalu terjatuh karena tidak kuat. Fikirannya berkecamuk, panik mulai merasuk karena takut diterkam harimau gunung.
“Hey Jun, butuh bantuan?” Sahut seorang pria di atas lubang jebakan.
“Ya aku sangat butuh bantuan, cepat tolong aku! Imbal Mas Jun dengan cepat.
“Baiklah, tapi dengan satu syarat Jun“
Jun menghela napas, keheranan karena lelaki itu meminta syarat.
“Syarat apa itu? Cepatlah jangan bermain-main, semua akan aku penuhi asal aku keluar dari lubang ini!“ Nada Mas Jun mulai meninggi.
Tiba-tiba tangga kayu muncul dari atas lubang. Mas Jun sangat terkejut lelaki tersebut bisa mendapatkan tangga di tengah hutan seperti ini, tapi tanpa fikir panjang dia menaiki tangga tersebut agar segera kabur dari lubang kesialannya malam ini.
“Hei, dari mana kau dapatkan tangga di tengah hutan seperti ini?” Tanya Mas Jun penasaran.
“Apa kau ingin keluar dari hutan ini secepatnya?” Lelaki itu tak menggubris Mas Jun.
“Hei, jawab aku! Aku sedang tidak ingin bercanda saat ini!“ Mas Jun geram karena merasa sedang dipermainkan.
“Apa kau ingin keluar dari hutan ini secepatnya?” Lelaki kembali mengulang pertanyaan yang sama dengan nada datar.
Mas Jun menghela napas panjang, mencoba menahan kekesalannya pada lelaki itu. Raut mukanya kerung, sesekali menampakkan kebingungan dengan jelas.
“Ya, ya, ya, aku ingin segera keluar dari tempat yang menyebalkan ini“ Mas Jun tidak bisa menahan sedikit pun gejolak emosinya yang tercampur aduk.
Mas Jun bangkit dari duduknya, lalu berjalan terpincang-pincang berusaha mengikuti Lelaki misterius tersebut.
Sejak malam itu, pemuda bernama Jun tidak pernah sampai ke kota yang ia tuju. Yang tersisa hanya cerita rakyat tentang dua sosok lelaki yang selalu mengitari hutan tersebut, tak pernah keluar, tak pernah berhenti.