Tentang mu (2)
Malam itu, dia mematikan kameranya saat kami sedang video call. Memang saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 00:35. Artinya dia bersiap untuk tertidur. Tapi sebenarnya bukan karena itu, melainkan karena dia menangis. Ya, aku tahu dia sedang menangis karena terdengar suara isakan tangisnya yang begitu kecil. Saat kutanya, “Mengapa kameranya dimatikan?”, “Sudah mengantuk” katanya berdalih. Padahal aku tahu kalau dia tidak ingin memperlihatkan air matanya itu. Bukankah sedih itu sesuatu yang wajar, karena itu emosi dasar yang ada pada manusia. Aku hanya terdiam cukup lama, membiarkan dia meluapkan emosinya dengan menangis. “Gapapa bang kalau mau nangis, jangan ditahan.” Ucapku, “Nggak kok, ini mah ngantuk aja tadi habis nguap. Hoooaaammm" katamu sambil berpura-pura menguap. "Iiih gapapa lagi kalo mau nangis mah. Nggak usah malu. Pasti sangat berat untuk menerima semuanya kan, Bang?", "Laki-laki nggak boleh menangis, harus kuat” lanjutnya. Hufffttt…
Aku penasaran, siapa sih yang pertama kali mempopulerkan pernyataan tersebut. Mengapa harus bersembunyi ketika sedang sedih? apakah karena takut dicap lelaki cengeng? Apakah bagimu menangis memiliki makna yang negatif, meski tidak selalu begitu? Semua pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di pikiran hanya membuatku tambah bingung. Bingung harus melakukan apa disaat dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya. Akhirnya aku mencoba untuk mencari topik pembicaraan, agar perasaannya sedikit teralihkan, meski aku tidak tahu apakah cara ini akan berhasil.
Aku bercerita tentang murid-murid yang ada di sekolah. Menceritakan bagaimana anak-anak jaman sekarang memperlakukannya tidak sama seperti dahulu saat kami masih sekolah dasar. Dimana ketegasan dan kedisiplinan dianggap sebagai guru yang galak, dan ditakuti murid-murid. Dia pun menanggapinya dengan serius 😆 meskipun sepertinya perasaan sedih itu masih melekat di hatinya, tapi setidaknya aku berhasil membuatnya tidak bersedih lagi.















