Semua Salah Hamish
Di sini saya hanya ingin menuliskan sudut pandang berbeda. Sudut pandang yang bisa jadi sering dilupakan banyak orang. Tidak ada niat membela apa dan siapa, hanya sebagai kacamata berbeda yang siapa tahu suatu hari bisa menjadi bahan obrolan saat ngopi bersama teman.
Akan saya mulai dari "semua salah Hamish". Katanya, semua pengkhianatan dimulai dari satu niat jahat. Seolah cinta yang retak itu hanya punya satu pelaku, satu nama, dan satu wajah untuk disalahkan.
Padahal bisa saja, kesalahan itu lahir dari dingin yang terlalu lama dibiarkan menyelimuti suasana di dalam rumah. Dari dua orang yang berhenti saling mendengarkan, saling menatap mata, tapi masih berusaha bertahan dengan berbagai pertimbangan besar, lalu berpura-pura tetap baik-baik saja setiap harinya.
"Cinta yang dulu terasa hangat, kini dipaksa berjalan tanpa alas kaki di lantai yang dingin."
Mungkin dia salah. Anggap saja mungkin dia memang benar-benar selingkuh. Tapi sebagai sesama manusia biasa yang dikaruniai hati, pikiran, dan perasaan, pernahkah kita bertanya: Apa yang dia rasakan di rumah sebelum melakukan kesalahan besar di luar?
Suatu hari ada salah satu balasan followers perempuan yang masuk di DM akun Instagram saya yang saat itu sedang membahas isu serupa. Kurang lebih bunyinya seperti ini, "Mereka yang menyalahkan dan menghujat mungkin belum pernah merasakan bagaimana rasanya pulang dengan nyaman dan tenang di rumah yang kita sadari bukan milik kita". Perhatikan kalimatnya baik-baik. Bila perlu, baca ulang pelan-pelan.
Ketika seseorang mulai terbiasa menahan lapar hati, lalu ada tangan lembut lain yang tiba-tiba menawarkan sepiring pengertian, lalu menyuapinya dengan sepenuh rasa, apakah itu sepenuhnya salah? Atau ia hanya manusia biasa yang sedang ingin merasakan utuh karena terisi kembali?
Ketika di rumah, kata-kata hanya jadi perang dingin yang tak berujung, dan di luar sana ada seseorang yang berbicara dengan lembut, dengan telinga yang tulus mendengar, dengan mata yang tenang menatap — apakah salah kalau hati manusia biasa itu sempat bergetar?
"Memang pada akhirnya, menghukum hasil akan jauh lebih mudah dibanding menelusuri sebab."
Perselingkuhan tidak selalu tentang mencari tubuh lain, kadang hanya tentang mencari tempat di mana seseorang itu bisa merasa hidup kembali. Ketika di rumah sudah terlihat gelap dan kehilangan cahaya, tanpa disadari datanglah seseorang membawakan lilin yang menyala.
Kita bisa dengan mudah bilang, "Kalau sudah tak bahagia, ya tinggalkan saja!". "Kalau memang begitu, lebih baik ceraikan dulu!".
Pertanyaannya, siapa yang benar-benar bersedia merobohkan begitu saja sesuatu yang pernah ia bangun dan perjuangkan mati-matian?
Jadi, sebelum kita melempar argumen, coba bayangkan ini: mungkin dia sudah berbulan-bulan bicara tapi tak didengar. Mungkin dia sudah lama membukakan pintu yang seharusnya menjadi tempat pulang. Mungkin dia sudah lama menunggu pelukan yang tak kunjung datang.
Kalau semua salah Hamish, itu karena dunia lebih suka cerita yang sederhana — karena menyalahkan satu orang memang jauh lebih mudah daripada mengakui bahwa cinta juga bisa redup secara perlahan, dan tidak ada yang sadar sampai semuanya sudah terlambat. Seringkali kita menutup mata dari kenyataan bahwa ada juga cinta yang gagal bukan karena satu pengkhianatan, tapi karena dua hati yang perlahan berhenti saling memahami.
Ada kalanya kita lupa, bahkan cinta pun bisa lelah kalau tak pernah diistirahatkan dengan pengertian dan perhatian. Terkadang ada orang yang terlihat jahat di mata orang lain, padahal ia cuma sedang mati-matian bertahan menjadi versi dirinya sendiri.
Disclaimer: Di dalam tulisan ini saya tidak sedikit pun melegitimasi perselingkuhan atau pengkhianatan, hanya sebatas berbagi sudut pandang.















