Langit Zhongshan Park cukup cerah hari ini. Jing Yuan berjalan pelan di samping Yue Lian, tangannya menggenggam mesra tangan istrinya untuk memastikan wanitanya itu tak kehilangan keseimbangan. Yue Lian dengan perutnya yang sudah membuncit di usia kehamilan lima bulan, mengeluh pelan sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Jing Yuan, aku capek,â keluh Yue Lian, wajahnya sedikit merengut. Rambutnya yang panjang tergerai dan keringat tipis sedikit membasahi dahinya meski udara saat itu sejuk.
Jing Yuan dengan kaos kuning dan jaket cokelat tersenyum lembut.
âSebentar lagi kita sampai di bangku favoritmu, sedikit lagi sayang.â
'Bangku favorit?', batinnya.
Yue Lian mendengus, tapi tetap melanjutkan langkahnya. Akhirnya mereka sampai pada sebuah bangku kayu tua yang terletak di bawah pohon yang cukup rimbun. Bangku itu menghadap ke danau kecil, terdapat angsa, burung, dan bunga teratai. Jing Yuan membantu Yue Lian duduk, memastikan istrinya nyaman sebelum ia duduk di sisinya.
âEh, ini...â Yue Lian memandang bangku itu lama, matanya melihat sekeliling.
âBukannya ini... Bangku yang dulu kita duduki saat pacaran??â
Jing Yuan terkekeh, matanya yang kuning keemasan menatap mata amethyst milik istrinya itu.
âBaru sadar ya? Benar sayang, dulu kita duduk di sini hampir setiap minggu. Terkadang kamu mengeluh soal pekerjaanmu, lalu nyanyi lagu-lagu ngga jelas.â
'Dan kita juga pernah memakai baju yang sama seperti sekarang ini.'
Yue Lian memukul lengan Jing Yuan pelan, wajahnya memerah.
Yue Lian tersipu, kalimat suaminya barusan membuatnya bernostalgia.
'Aku mencintaimu, Jing Yuan.'
'Aku sangat mencintaimu, Yue Lian.'
Jing Yuan melihatnya, ia tersenyum lebar seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran sang istri. Lalu ia memandang danau di depan mereka.
âDulu, waktu kita duduk di sini, aku cuma berani pegang tanganmu. Sekarang...â
Ia melirik perut Yue Lian yang membuncit dan mengelusnya,
âlihat, kita sudah bikin manusia kecil", lanjutnya.
Yue Lian tersenyum malu mendengar ucapan suaminya.
âAku nggak menyangka menikah dengan pria yang ternyata suka menggodaku setiap hari."
âDan aku nggak menyangka menikahi wanita yang hobinya nyanyi nggak jelas, apalagi saat di tempat tidur dan di kamar mandi", balas Jing Yuan sambil berbisik, menggoda istrinya yang pemalu itu.
Saat mereka bersenda gurau, pasangan lain lewat di depan mereka sambil memakan popsicle. Yue Lian terdiam seketika, matanya menatap popsicle itu.
"Hmm, istriku mau popsicle?"
"Mau... Mau yang warna biru..."
Jing Yuan mendengar suara manja tersebut dan menatap lembut Yue Lian.
âBaik bumil. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana.â
Ia berjalan menuju stand popsicle di dekat danau. Tak lama, Jing Yuan kembali dengan sebuah popsicle berwarna biru. Mata Yue Lian berbinar dan tersenyum lebar.
"Terima kasih sayang... Tapi kok belinya cuma satu?"
"Kebetulan sisa satu dan sesuai dengan yang kamu inginkan", jawab Jing Yuan. Ia sangat senang melihat ekspresi istrinya, ia membuka bungkus popsicle tersebut dan menyuapinya.
"Padahal nggak usah disuapin", protes Yue Lian, tapi tetap membuka mulut saat Jing Yuan mendekatkan popsicle tersebut.
âSudah, bumilku yang cantik ini cukup diam dan nikmatiâ, ujar Jing Yuan dengan suara lembutnya.
Ia memperhatikan Yue Lian yang menjilat dan mengulum popsicle, bibirnya yang penuh sedikit mengilap karena lelehan es. Tiba-tiba pikirannya melayang ke malam-malam tertentu di rumah mereka, saat Yue Lian... mengulum sesuatu yang jelas bukan popsicle atau es krim. Wajah Jing Yuan mulai memanas. Pria itu menghela nafas panjang, mencoba mengalihkan pandangan ke danau, tapi memori-memori nakal itu terus memenuhi kepalanya.
âYue Lian, kamu sengaja ya?â gumamnya, suaranya sedikit serak.
Yue Lian yang sedang asyik menikmati, berhenti dan memandang suaminya dengan bingung.
âApa? Sengaja apa sayang?"
Jing Yuan memijat pelipisnya, mencoba menahan tawa dan dorongan lain yang mulai menggelitik.
âNggak, nggak apa-apa. Dilanjutin makannya, jangan pikir yang macam-macam.â
Yue Lian semakin bingung dan menunjuk wajah Jing Yuan yang mulai memerah.
âMacam-macam gimana? Sebentar, mukamu merah sayang. Ada apa sih?"
'Istriku ini polos sekali.'
Jing Yuan hanya menggeleng sambil menghela nafas panjang.
âFokus ke es kamu sayang â mau mencair nih, atau aku yang habiskan.â
Yue Lian tertawa mendengar perkataan suaminya, ia kembali menjilat dan memasukkan popsicle tersebut ke dalam mulutnya, mengulumnya. Ia tak sadar bahwa gerakan itu membuat Jing Yuan semakin gelisah hingga membenarkan posisi duduknya.
"Hmm, setelah ini kita pulang ya."
"Kok buru-buru mau pulang... Apa jangan-jangan kamu sakit ya??" Yue Lian menempelkan tangannya ke dahi Jing Yuan."
Jing Yuan kembali menghela nafas dan tersenyum, sentuhan tangan Yue Lian di dahinya membuatnya semakin tambah gelisah.
"Enggak sakit, tadi kata bumilku ini capek, hm? Kamu nggak boleh terlalu capek, sayang."
"Iya juga sih... Iya deh, nanti langsung pulang ya..."
Jing Yuan menatap Yue Lian tersenyum. Ia masih sangat berusaha mengalihkan pikirannya, tangannya mengelus kepala Yue Lian.
'Kendalikan dirimu, Jing Yuan. Istrimu sedang hamil.'