Softly by Your Side
Menjelang 10 Oktober, suasana di Dawn Winery terasa semakin hangat meski angin musim gugur di luar semakin dingin.
Aleid, yang biasanya mandiri, tampak berbeda beberapa hari ini. Ia lebih sering mencuri sentuhan kecil, seperti meraih tangan Diluc saat mereka berjalan, menyandarkan kepala di bahu lelakinya saat mereka duduk di beranda, atau sekadar menatapnya dengan senyum penuh makna.
Diluc, meski awalnya sedikit terkejut dengan tingkah Aleid yang tak biasa, diam-diam menikmati setiap momen itu. Ia mengakui betapa hatinya berdesir setiap kali Aleid bersikap... manis.
Sehari sebelum ulang tahun pernikahan mereka, malam ini suasana di ruang tamu terasa tenang. Cahaya api dari perapian menerangi ruangan dengan kilau oranye yang lembut, menciptakan bayang-bayang dua insan yang sedang berkasih. Pria bersurai merah itu duduk di sofa, membaca buku catatan, meski matanya lebih sering melirik ke arah Aleid daripada ke halaman buku yang cukup melelahkan itu.
Dengan rambut Aleid yang tergerai dan mengenakan piyama senada dengan suaminya, ia tiba-tiba menggeser posisinya. Tanpa berkata apa-apa, ia merebahkan diri, menjadikan paha Diluc sebagai bantal.
Diluc menurunkan dan menaruh buku catatan tersebut, alisnya terangkat dengan ekspresi setengah bingung dan sedikit menggoda.
"Nyonya Ragnvindr,” katanya dengan nada rendah yang khas, namun ada nada main-main di dalamnya, “kau nyaman sekali, ya?”
Aleid hanya mendengus pelan, memutar tubuhnya sedikit sehingga ia bisa menatap wajah Diluc dari bawah. Matanya berbinar tapi ia tak menjawab. Sebaliknya, ia meraih tangan Diluc dan meletakkannya di rambutnya, seolah meminta suaminya untuk mengelusnya.
Diluc tertawa kecil, suara yang jarang terdengar namun selalu membuat Aleid merasa istimewa. Pipinya sedikit merona, kontras dengan sikapnya hari ini.
“Hmm..." gumam Diluc, jari-jarinya mulai mengelus rambut Aleid dengan gerakan lembut, “tiba-tiba seperti anak kucing.”
Aleid tersenyum dan sedikit tertawa, namun tetap tak mengatakan apa-apa. Kemudian ia hanya memejamkan mata, menikmati kehangatan suara perapian dan tangan lelakinya. Di hatinya, ia merasakan gelombang emosi yang sulit dijelaskan. Mungkin karena hari mereka semakin dekat atau mungkin karena lima tahun pernikahan membuatnya semakin menyadari betapa berharganya setiap detik bersama Diluc. Ia tak perlu kata-kata untuk menyampaikan perasaannya, bersandar di sisi Diluc sudah cukup baginya.
Di sisi lain, Diluc berusaha menjaga rahasianya tetap aman. Melihat Aleid yang begitu manis dan lembut malam ini, ia nyaris ingin membocorkan kejutannya, tapi ia menahan diri. Senyumnya melebar saat ia memandang wajah Aleid yang damai.
“Kau pasti akan menyukainya.”
Malam ini, di antara keheningan dan kehangatan, mereka berdua terhubung dalam cara yang sederhana namun mendalam... menanti hari istimewa.












