"Satu jam sebelum matahari tak jadi terbenam, aku akan tidur di matamu" Puisi dan Prakarya adalah harmoni (at Yogyakarta)
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

bliss lane
RMH
No title available
todays bird
Interview Vampire Daily
Monterey Bay Aquarium
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Noah Kahan
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Kiana Khansmith
Not today Justin
art blog(derogatory)

tannertan36

pixel skylines

❣ Chile in a Photography ❣
hello vonnie
🩵 avery cochrane 🩵
No title available
KIROKAZE
seen from India

seen from Brazil
seen from Iraq

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Vietnam
seen from Italy
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from France

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States

seen from Greece
seen from United States
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from United States
@c-stephanie-blog
"Satu jam sebelum matahari tak jadi terbenam, aku akan tidur di matamu" Puisi dan Prakarya adalah harmoni (at Yogyakarta)
-Memberi Hadiah-
Malam ini, sebelum menutup hari Ingin rasanya aku memberi hadiah Kepada teman-teman ku yang baik
Seorang keponakan lucu
Pict Source: instagram.com//andienaisyah
Puisi Jelang Paskah
Lantunan Via Dolorosa dan video ilustrasi peristiwa penyaliban jelang paskah selalu punya kekuatan magis, membentang layar hitam dimana dosa cela diperlihatkan. Kemudian, dihari minggu kita kembali bahagia, mencari telur-telur paskah. Rangakaian hari jelang paskah juga selalu mengingatkan saya pada sebuah puisi karya Joko Pinurbo yang berjudul “Celana Ibu”
### Maria sangat sedih, Menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya menggenakan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri.
“Paskah?” tanya Maria.“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya,Yesus naik ke surga.
### Saya ingat sewaktu menunjukan puisi ini pada seorang teman, keningnya berkerut. “Penghinaan!” ujarnya. Tentu saja saya tidak bisa menampik, memang tidak ada tertulis dalam Injil peristiwa Maria membuatkan celana untuk Yesus. “Celana Ibu” mungkin adalah penghayatan peristiwa paskah imajinatif yang dituliskan oleh Joko Pinurbo, saya juga tidak tahu pasti apa yang hendak disampaikannya. Siapa bisa menerka isi hati penyair?.Mungkin saja ia hendak menggambarkan relasi yang begitu intim antara ibu dan anak, atau ia ingin mengatakaan bahwa cinta seorang ibu yang akan selalu memberi yang terbaik untuk anaknya, seperti Maria yang membuatkan celana untuk Yesus, sebab ia ingin melihat anaknya naik ke surga dengan penampilan terbaik. Eitss, saya tidak akan membahasnya secara theologis, apalagi kritenisasi. Tapi pada moment jelang paskah ini saya hendak membuat puisi balasan untuk “Celana Ibu”.
###Kebul asap tungku perapian, telur yang kurebus sebentar lagi matang Ku kurangi beberapa kayu, agar api nya padam sedikit demi sedikit.
Sembari kuseselesaikan jahitanku, Terhitung hingga saat ini, tiga hari sudah kuhabiskan waktu dengan gelisah.
Jahitanku hampir jadi, sebuah celana. Ada bercak darah di lututnya, darah dari jariku yang tak sengaja tertusuk jarum.
Hendak kucuci, tapi tak sempat lagi Celana ini untuk anakku, dia akan bergegas pergi hari ini.
Ia suka celana buatanku, kubujuk ia untuk pulang. Makan bersama dalam satu meja dengan lauk telur rebus.
Tapi ia tidak mau ditahan, Ia pun pergi, jalannya mundur Semakin lama semakin jauh, aku tak bisa lagi melihat wajahnya.
Tersisa hanya lutut dengan bercak darah yang masih terlhat.
Gagal Paham Das Kapital
Saat memutuskan untuk menyelami teori kristis, rasanya sulit untuk melewatkan satu nama, Karl Marx. Sumbangsih pemikiran Marx hingga saat ini masih menjadi pijakan pengetahuan sejumlah ilmu akademik. Karya terbesar Marx menjelma dalam sebuah buku yang ditulis bersama rekannya Friedrich Engles yang bertajuk "Das Kapital". Tulisan Marx tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap penyalahgunaan sistem kapitalis yang meluas di Eropa pada abad ke 18. Dalam "Das Kapital", Marx mengidentifikasi ada nya kelas-kelas dalam masyarakat, yaitu kaum kapitalis atau borjuis yang memiliki alat-alat produksi dan kaum buruh atau proletar yang tidak memiliki alat maupun bahan produksi. -Minggu, 9 April 2017- "hari minggu adalah hak untuk malas" ujar seorang kawan kala itu. Usai sarapan, kami bersantai sambil menatap gawai masing-masing. Tapi seorang teman ini memilih untuk membaca sebuah buku yang dibelinya di sebuah pameran. Saya tidak tahu persis buku yang dibacanya, tapi sekilas isinya menyinggung tentang pembagian kelas sosial masyarakat a la "Das Kapital" milik Marx. Tak berselang 10 menit, buku tersebut ia tutup dan dengan wajah nanar dia berkata: "sekarang aku tahu, aku ada di kelas yang mana. Ternyata aku adalah kaum proletar, aku harus tahu diri" ujarnya. Sepertinya ada yang salah dengan teman yang satu ini. Jika dipelajari dengan baik, Saat menulis "Das Kapital", Marx sesunguhnya menaruh harapan terciptanya kesadaran kelas, terutama bagi kau proletar yang kesengsaraannya semakin meningkat akibat kontradiksi kapitalisme kaum borjuis. Ohh, sungguh dia sudah gagal paham, dengan gagasan Marx soal pembagian kelas. Kuharap Marx tidak kecewa di alamnya sana. Referensi: Bahan Ajar "Teori Sosial Kritis" oleh Heru Nugroho
-Gara-Gara si Komo-
Generasi 90an pasti sudah tahu siapa yang selalu bikin macet jalanan. Siapa lagi kalau bukan si Komodo menggemaskan bernama Komo, yang belakangan saya ketahui jika pada awalnya karakter Komo adalah sebuah boneka naga yang di beli di disneyland oleh Seto Mulyadi atau Kak Seto, orang yang pertamakali memperkenalkan karakter si Komo.
Cerita tentang si Komo pertamakali ditayangkan di Televisi Penyiaran Nasional dalam bentuk sandiwara boneka pada tahun 1991. Si Komo kala itu sangat terkenal dimana-mana, bahkan sampai sekarang saya masih ingat betul setiap lirik lagu “Si Komo Lewat”. Ya, walaupun harus diakui jika dulu saya lebih tertarik pada Barney and friends ketimbang menonton Kak Seto mendongeng Komo, Ulil, Dompu dan Piko. Maklum, orangtua saya masih berada dalam bayang-bayang wacana kolonial.
Si Komo sekarang jarang sekali terdengar kabarnya, harusnya dia berhak protes. Toh, jalanan tetap saja macet meski dia tak pernah lagi tampak.
Si Komo tak sepenuhnya menghilang,sekarang ia tetap ada, dia tidak lagi melewati jalan Thamrin, jalan Sudirman, lewat bundaran HI hingga Harmoni, terakhir sampai di Monas untuk melihat pembangunan merata.
Tapi si Komo ada difikiran saya, ada juga di hati mengisi sampai kesudut-sudut. Si Komo memang tak pantas untuk dilupakan.
Love You, Komo Yogyakarta, 12 April 2017
Hari Bumi Tahun Lalu
Dengan sebuah kamera kuabadikan gambar demi gambar dari puluhan mahasiswa yang menggunakan jaket almamater berwarna coklat yang memenuhi bundaran jalan protokol di kota Pontianak. Masing-masing dari mereka memegang poster dan spanduk, isinya data-data -yang entah didapat darimana- tentang jumlah pohon yang rusak, lahan yang gundul, udara yang tercemar dan ada pula yang bertuliskan tuntutan kepada pemerintah untuk menindak koorporasi yang turut menyumbang kerusakan lingkungan. Saat itu pukul 14:00 WIB, seperti biasanya matahari di kota Pontianak bersinar tak pernah tanggung-tanggung. Tapi ajakan untuk terus memperhatikan lingkungan terus disampaikan tanpa lelah lewat pengeras suara. Aksi ini cukup berhasil menyita perhatian, terbukti beberapa pengemudi yang melintas sengaja memperlambat laju kendaraan mereka dan menyempatkan membaca tulisan-tulisan pada poster. Usai menyampaikan orasi selama 40 menit, kegiatan hari itu pun disudahi. Beberapa mahasiawa pun dengan sigap membagi-bagikan konsumsi makanan ringan beserta air mineral kemasan gelas plastik. Wajah mereka tampak bangga dan penuh haru, telah menjadi bagian kecil dari agen perubahan untuk bumi. Setelah cukup mendapatkan gambar yang dibutuhkan, aku pun bermaksud untuk berpamitan dengan adik-adik aktifis ini. Kutepuk bahu kanan dari salah satu orator aksi dan bepamitan, terujar sedikit pesan dariku: "Aksi hari ini keren, tapi kalau bisa besok-besok ajak temanmu bawa botol minum dari rumah, masa aksi peduli lingkungan harus berakhir menjadi salah satu kegiatan "penyumbang" sampah plastik di bumi?" Pontianak, April 2016
Ngelunjak
Katamu lebih baik memeluk dari belakang, agar aku terhindar dari tikaman masa lalu.
Tapi kamu tidak sadar, Masa lalu sekarang semakin ngelunjak Dia tidak mau lagi diam-diam di belakang
Dia menunggu di depan Dengan busur dan 4 buah anak panah Siap melesatkan anak-anak panah 3 jam sekali
3x4 = 12 Selama 12 jam sehari aku harus waspada Yang ngelunjak kadang sering lupa diri Yaa, namanya juga ngelunjak
Yogyakarta, 9/4/2017
-Sabtu, Delapan April, Dua Ribu Tujuh Belas-
Siapa perduli pada akhir pekan, Jika pada senin hingga jumat kamu selalu merasakan nikmatnya tidur pada pukul 21:00 dan bangun pada pukul 07:00 keesokan harinya
Tapi akhir pekan kali ini bukan hari yang biasa, sebelumnya akhir pekan lebih sering digunakan untuk menyelesaikan tenggat waktu, Karena senin selalu punya alasan untuk terlihat menakutkan
Hari ini, dua belas jam berakhir dengan mengunjungi pameran buku, makan enak dan menyalurkan hasrat narsisistik bersama lima perempuan yang mengaku kuat.
Sambil berperan ganda menjadi Cik Siti dari negeri jiran dan Nyonyah Poer dari Salatiga, perjalanan dua belas jam terasa dua belas menit.
Semarang, 08/04/17
-Becak- Kalau boleh, kuingin cinta seumpama becak saja, Hanya cukup untuk dua pasang bokong Dan sepasang otak Yang tak mau memikirkan pisah
-Cerita Perpisahan- Kali ini saya harus mengucapkan salam perpisahan, bukan pada manusia tapi pada sebuah kalung. Kalung tersebut saya temukan tidak sengaja di sebuah toko daring 6 tahun yang lalu, harganya waktu itu 15 ribu rupiah. Bentuknya sederhana, terbuat dari benang nilon dengan bandul berbentuk wajah Buddha Gautama. Tapi kalung tersebut menjadi baranga kesayangan saya, dia juga menjadi saksi bisu ketika dulu (dulu sekali) saya menjalani hidup sebagai Megan Fox. Dua tahun yang lalu saya putuskan untuk tidak memakainya lagi, sebab ada beberapa benang yang lepas, takutnya nanti jadi rusak. Bahkan saat harus hijrah ke Yogyakarta, kalungnya tetap saya bawa, walau akhirnya dia hanya jadi penunggu laci lemari. Tapi beberapa minggu lalu saya putuskan untuk memakainya lagi, benar saja kalung saya rusak, benangnya lepas, bandulnya juga lepas. Akhirnya dia kembali menjadi penunggu laci lemari, dan saya bisa menuliskan kisah yang amat sedih ini. Yogyakarta, 5 April 2017
Akan jadi apa kita 15 tahun lagi?
Akan jadi apa kita 15 tahun kedepan? Kita seringkali naif, berharap hidup akan selalu berkah, punya keluarga bahagia, bila selalu berbuat baik, patuh pada orangtua, menikah tepat waktu. Sama naif nya ketika bangun pagi dan berharap hari akan selalu baik-baik saja ketika ritual tersenyum di depan kaca sudah ditunaikan. Tapi aku rela menjadi naif, jika di masa depan aku bisa melihat ayah mengantar Embun Galilea ke sekolah. Duduk manis bonceng depan di vespa keluaran tahun 70an, Vespa yang sama, yang mengantarku ke sekolah. Pulang sekolah beli es krim dulu. "beli dua ya, kek. Punyaku rasa coklat, untuk ibu yang rasa vanila" bagaimana denganku? Aku ada di dapur, menikmati es krim yang sudah mencair, setelah sebelumnya mendongeng kisah "kancilwati". Seekor kancil betina yang suka mencuri timun.
-Belajar dari Permen Davos- Mari belajar dari permen davos yang legendaris Saat awal masuk ke dalam mulut, mentolnya terasa "menggigit" lidah Seperti mecicipi minyak angin cap kapak Kemudian, lidah mu akan terbiasa. Mentol yang kuat dan "menggigit" akan hilang. Digantikan rasa manis dari kepingan putih yang makin lama makin tipis Kamu akan semakin menikmati dengan mengunyah permen sampai habis. Bukankah hidup juga harus demikian? Selayaknya ngemut permen davos, Yang sukar diawal harus dihadapi sampai akhirnya menemukan manis. Jangan berhenti disitu, setelah yang pertama habis. Ulang lagi seperti diawal sampai habis lagi, ulangi lagi. Tenang, harga permen davos di warung kelontong hanya seribu rupiah. Yogyakarta, 3 April 2016
Memotret matahari terbit adalah masa paling berharga ketika kita kehilangan kesempatan tidur. #belumtidur (at Komplek Swakarya Jogjakarta)
How i love longdays exploring this placed called home (at Pantai Seruni, Gunungkidul Handayani)
Pagi berkabut, bulan tak mau pergi (at Yogyakarta)
Pagi ini dan pagi-pagi sebelumnya, aku telah jatuh cinta pada sebuah jendela.
Generasi mecin sedari dulu, Rambut jagung sedari dulu, Anak Dunia Fantasi sedari dulu. (at Dunia Fantasi (DUFAN) - Taman Impian Jaya Ancol)