Sedu di Malam Tahun Baru
Malam tahun baru ini, saya sendiri.
Ini adalah momen terlucu sekaligus terbangsat. Ketika berharap bahwa keramaian mungkin membawa sedikit riuh namunkeriuhan itu pergi dengan riuhnya, lalu berharap yang dekat di hati akan menemani tapi toh dia punya hidupnya sendiri, pada akhirnya saya menghabiskan malam dengan sendiri....
Di situ saya menyadari bahwa saya sendiri. Benar-benar sendiri.
Ini adalah titik dimana ketika orang mengasihani saya sekarang pun, rasanya saya hanya akan mengamini dan mengedikkan bahu.
Saya sadari, bahwa saya hidup dengan cara yang menyedihkan.
Saya enggan denial. Hanya saja, selama ini saya mengira bahwa saya sudah terbiasa dengan banyak hingar bingar dan teman yang datang dan pergi tanpa menetap, sehingga kesendirian bukan lagi hal yang menakutkan. Namun, malam ini baru saya sadari, bahwa saya, dengan keterbiasaan saya akan sepi, tetap menyadari akan rasa sepi dan sedih akibat kesepian itu.
Rasa sepi itu menjambak seluruh senang dalam diri. Apalagi dalam momen seremonial seperti malam tahun baru yang biasanya, akan penuh keramaian dan gelak tawa orang-orang terdekat, saya menghabiskan malam itu dengan meminum secangkir kopi dan melampiaskan tangis tanpa air mata dalam sebuah untaian kata.
Kesepian ini, membuat saya mengukur-ukur. Mengukur-ukur bahwa apa sebetulnya yang salah dalam kehidupan pertemanan saya selama ini. Mengukur, apa mungkin memang benar, pertemanan adalah hal yang transaksional, dan saya tidak mampu memberi nilai yang pantas untuk sebuah pertemanan? Berapa harga pertemanan itu sendiri? Dan kalau pun terukur, mampukah saya untuk membayarnya?
Sementara saya sendiri, hanya punya uang tak seberapa dalam saku saya.
Mungkin saya takut ditinggal lagi sehingga memilih berhenti berteman. Bukan tidak mungkin juga, saya terlampau berekspektasi tinggi pada sebuah hubungan pertemanan. Karena tidak jarang, saya seringkali berteman dengan orang yang mengakui pertemanan itu secara verbal, tapi pada akhirnya, hubungan pertemanan itu sendiri tak pernah berjalan dua arah. Saya seringkali menghubung, bertanya, menyapa; sebelum akhirnya lelah, dan memutuskan untuk tidak lagi berusaha dan berekspektasi.
Melihat pola pertemanan di sekitar, mungkin memang benar jika pertemanan adalah sebuah hal yang transaksional. Sayangnya, saya sendiri belum mampu membayar hubungan transaksional tersebut. Itulah kenapa, kerap kali saya adalah menjadi pihak yang ditinggalkan dan dibuang.
Karenanya, mari kita menangis di malam tahun baru. Mungkin bahagia itu bukan milik kita malam ini. Kalau begitu, sempatkan untuk menjerit dan menangisi apapun yang menjadi sumber resah, karena besok dan hari selanjutnya, kita belum tentu punya waktu untuk meneteskan air mata. Sebab kehidupan, pahitnya, akan terus berlari tanpa menunggu kita menyeka tangis sendiri.












