5 Jangan
1. Jangan selalu ingin diketahui oleh orang lain.
2. Jangan selalu ingin dilihat oleh orang lain.
3. Jangan ingin dipuji, jangan takut dicaci.
4. Jangan ingin dihargai
5. Jangan ingin dibalas budi
-Nasehat pagi ini, Aagym
he wasn't even looking at me and he found me
RMH
AnasAbdin

JBB: An Artblog!

Origami Around
Keni
Jules of Nature
Sade Olutola
DEAR READER

ellievsbear

roma★

#extradirty
art blog(derogatory)

Kiana Khansmith
wallacepolsom
Monterey Bay Aquarium
NASA
Today's Document
Xuebing Du
styofa doing anything
seen from Netherlands
seen from Spain

seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Indonesia
seen from Malaysia
seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Spain
@catatanbahja
5 Jangan
1. Jangan selalu ingin diketahui oleh orang lain.
2. Jangan selalu ingin dilihat oleh orang lain.
3. Jangan ingin dipuji, jangan takut dicaci.
4. Jangan ingin dihargai
5. Jangan ingin dibalas budi
-Nasehat pagi ini, Aagym
Bagaimana jika aku setuju bahwa... tak ada kesibukan yang benarbenar menyita waktu kita, yang ada hanya.. kamu.. mungkin bukan prioritasnya..
Banyak ibu yang merasa tidak cukup berharga saat aktivitasnya hanya berkisar di rumah dan anak anak saja.
Begitu beberapa cerita yang beredar di sekitar saya. Rasa yang beberapa tahun lalu juga saya rasakan sendiri.
Kok, bisa?
Padahal di rumah kan kerjaannya banyak, yaaa. Gak ada nganggurnya. Kenapa bisa ngerasa gitu?
Let me ask you something,
Pernah gak ngebayangin kerja di perusahaan bertahun tahun tapi gak pernah sekalipun ada yang muji prestasi kita? Atau bahkan gak ngeh bahwa kita kerja di sana?
Nah.
Begitu kira kira perasaan yang dipendam para perempuan yang merasa keberhargaannya pelan2 habis dikikis dengan peran domestik yang dia punya.
Bukan, ini bukan soal kurangnya keimanan.
Tapi karena diapresiasi adalah basic needs setiap manusia.. Buat para suami, itu bisa dengan mudah didapetin di lingkungan kerja, ya gak? They finish the assignment, then the Boss will compliment their work.
Nah, buat para perempuan ini enggak. Mereka kerja di area domestik yang gak nampak. "Terlihat" gak ngapa ngapain.
Udah masak, eh.. boro2 dipuji, sama anak malah dilepeh.. walaupun tauu banget bahwa anak ngelepeh itu wajaaar, tapi tetep aja yekaaan ada yang cenut di hati mengingat tadi bela belain nyoba bikin macem2 menu MPASI dari jam 5 pagi? 😂
Atau, siapa juga sih yang memujinya, karna berhasil mengaplikasikan teknik menyapu yang berhasil bikin kinclong seisi rumah hanya dalam waktu setengah jam?
Banyak ibu yang merasa tidak cukup berharga saat aktivitasnya hanya berkisar di rumah dan anak anak saja.
Begitu beberapa cerita yang beredar di sekitar saya. Rasa yang beberapa tahun lalu juga saya rasakan sendiri.
Kok, bisa?
Padahal di rumah kan kerjaannya banyak, yaaa. Gak ada nganggurnya. Kenapa bisa ngerasa gitu?
Let me ask you something,
Pernah gak ngebayangin kerja di perusahaan bertahun tahun tapi gak pernah sekalipun ada yang muji prestasi kita? Atau bahkan gak ngeh bahwa kita kerja di sana?
Nah.
Begitu kira kira perasaan yang dipendam para perempuan yang merasa keberhargaannya pelan2 habis dikikis dengan peran domestik yang dia punya.
Bukan, ini bukan soal kurangnya keimanan.
Tapi karena diapresiasi adalah basic needs setiap manusia.. Buat para suami, itu bisa dengan mudah didapetin di lingkungan kerja, ya gak? They finish the assignment, then the Boss will compliment their work.
Nah, buat para perempuan ini enggak. Mereka kerja di area domestik yang gak nampak. "Terlihat" gak ngapa ngapain.
Udah masak, eh.. boro2 dipuji, sama anak malah dilepeh.. walaupun tauu banget bahwa anak ngelepeh itu wajaaar, tapi tetep aja yekaaan ada yang cenut di hati mengingat tadi bela belain nyoba bikin macem2 menu MPASI dari jam 5 pagi? 😂
Atau, siapa juga sih yang memujinya, karna berhasil mengaplikasikan teknik menyapu yang berhasil bikin kinclong seisi rumah hanya dalam waktu setengah jam?
Ada gak yang nyebut dia keren, karna bisa milih deterjen yang mampu bikin baju wangi seharian?
Ada gak yang memuji dia hebat karna mampu masak - nyuapin anak - dan ngosek kamar mandi (dan terkadang, sekaligus nonton drakor) dalam satu waktu? 😆
***
Varriabel apresiasi itu absen dari hidupnya.
Berusaha untuk bisa merasa berharga saat gak ada apresiasi itu susah, kata aku mah. Ga tau kalo Mas Anang.
Ada yang bisa.
Tapi secara fitrah pastilah ada kebutuhan untuk dipuji. Dianggep ada. Bukan karna haus publikasi, tapi ini mah soal kepekaan hati.
Hal hal sederhana yang membantu mereka menemukan bahagia dari dalam rumahnya.
***
Beberapa kawan saya ada yang bersepakat membangun kebiasaan saling memuji dengan pasangannya.
Sepulangnya kerja, suami akan memeluknya sambil berkata, "Makasih ya Dek, udah jaga anak anak hari ini.. mereka sehat. Pinter. Abang bangga.."
Aw aww.. Dilan beserta gombalannya pun mendadak gak ngefek lagi.
Atau sesekali jelang tidur tiba tiba nyeletuk random,
"Makasih ya Say, anak anak dibacain buku tiap malem.."
Lalu dialog diakhiri dengan transferan duit buat ikut pre order Nabiku Idolaku di emaknya Qila, wakakakaak..
Mengejutkan!
Ternyata kebiasaan itu mampu menyembuhkan sang istri dari baby bluesnya. Cukup hanya dengan memuji, gak perlu pake konsonan langit atau pancaran sinar ultrafeng.
***
Saat istri merasa di hargai, percayalah..
Energinya ituuu bakalan bertambah berkali kali lipat. Kesabarannya ngadepin anak, juga akan bertambah luas.. masakannya semakin enak disantap. Wajahnya makin enak dilihat.
Royal lah memuji istri. Bantu dia untuk merasa percaya diri.
Sebagaimana ribuan tahun lalu yang lalu, Rasulullah memuji mereka dengan sebutan "perhiasan dunia yang paling indah",
Sebagaimana beribu tahun lalu, beliau angkat keberhargaan diri mereka dengan berkata : bahwa syurga diletakkkan di kedua telapak kaki mereka.
Ah,
Kami -para istri- ini, memang seringkali lupa cara mencintai diri kami sendiri. Jadi, tolong bantu ingatkan kami, ya..😊
Kamu, adalah alasan mengapa aku berhenti menenun kata beberapa waktu silam..
Dan kamu jugalah yang kini menjadi alasan utamaku untuk kembali meramu kata.
dari Bahjatul Fitriyah tertuju pada Faristio @catatanfaris
Hai bayi dalam rahim, diamdiam aku merindukanmu, diamdiam aku mencintaimu, diamdiam aku berharap kesholehanmu, diamdiam aku memohon Allah agar menjadikan aku orang tua yang penuh tanggung jawab. hai bayi dalam rahim, keluarlah sesuai titah RabbMu keluarlah dengan bimbingan dan keridhoan RabbMu Sungguh kesholehanmu telah kunantikan bahkan sebelum Allah pertemukan aku dengan Abimu.... Hei bayi dalam rahim. Semoga bisa bersama hingga syurga. 💟
😭
Jangan.
Jangan biarkan laporan orang lain akan hatinya mengganggu harimu.
Biar mereka merasakan rasa mereka sendiri. Dan biarkan hatimu merasa rasanya sendiri.
Tak pernah ada paksaan dalam mencintai, tak pernah ada paksaan dalam memilih pada siapa akan jatuh hati...
Semoga cepat move on, ya. Karena aku masih tak bisa memberi jeda pada hati selain hati pasanganku kali ini.
Aku mencintainya karena Allah yang menyatukan kami. Lalu semua perhara ragu gundah galau selesai.
Aku telah menemukan dan dipertemukan. Maka takkan kucari lagi selainnya.
Semoga kau pun cepat dipertemukan.
salah satu hal yang patut disyukuri saat penat melanda adalah semakin sering buka al qur'an.
Mungkin karena emang pemahaman yang terbentuk al qur'an adalah sumber ketenangan. Dimana kalam Allah tertuang disana. Tak ada kalam yang lebih indah dan berpengaruh pada hati selain kalam Allah 💟
Makanya. Kadang bahagia juga ditengah penat karena masalah atau sibuk karena urusan duniawi, asalkan al qur'annya nggak jauhjauh...
Tapi yaaaa mumet sih adaaaa lah ya, namanya juga manusiaaa 💆💆💆
Ya Allah mohon pinjamkan kekuatanMu 😭
Jelang hari lahir dedek bayi, ummi makin degdegan terus. Ya Allah mudahkan lancarkan selamatkan sempurnakan. Engkau yang Maha Kuasa ya Rabb... 😭
AA Gym: Mengobati Futur
Kajian Ma'rifatullah
👳 K.H Abdullah Gymnastiar 🕌 Daarut Tauhiid 📅 Kamis, 28 September 2017
Jarang orang yang takut turun keimanannya kepada Allah, padahal yang paling bahaya dalam hidup ini adalah Futur. Kalau tidak di rem futur ini maka akan mati dalam keadaan Suul Khotimah.
Gejala-Gejala Futur
1. Malasnya Ibadah >>> Mungkin tidak meninggalkan yang fardhu tapi malas. Yang biasanya tepat waktu jadinya sering menunda-nunda sehingga mengakhirkannya.
2. Tidak ada lagi nikmatnya ibadah >>> Tidak ada lagi bergetarnya hati saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Kalau futur sudah mulai maka salat itu tidak ada kenikmatan dan hanya jadi formalitas saja. Kuantitas ibadah berkurang dan kualitasnya pun jelek.
3. Hati yang makin keras & gersang >>> Karena kurangnya dzikir dan berinteraksi dengan Allah.
4. Semakin banyak melakukan hal yang sia-sia >>> Awalnya melakukan hal-hal yang kecil sehingga semakin terbiasa dengan kesia-siaan seperti hijab & pandangan yang terjaga akhirnya jadi ikhtilat.
5. Sibuk dengan penilaian orang >>> Sibuk memperbaiki casing daripada isi.
6. Tidak ada kecemburuaan lagi dalam agama (tidak ada ghirah) >>> Menjadi tidak memiliki rasa untuk membela agama, dan acuh dalam urusan dakwah.
7. Dominan memikirkan duniawi >>> Bergaul dengan orang-orang yang sama-sama memikirkan dunia dan memperbagus topeng saja.
Penyebab Futur
1. Maksiat >>> Hati menjadi gelap dan tidak bisa bercermin kepada diri sendiri karena sudah terbiasa dengan maksiat yang berawal dari maksiat kecil.
2. Salah bergaul >>> Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi maka ia akan kebawa wangi. Salah gaul akan membuat salah standar. Diri kita di ibaratkan hp yang perlu charger dan tidak selamanya juga hp terus di charger, jadi diri kita harus di cas dengan lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.
3. Kurang ilmu / Ilmu yang dipelajari kurang pas dengan tuntunan Rasul sehingga amalan kurang pas atau salah.
4. Beramal berlebihan sehingga menyebabkan tidak mau mengulanginya lagi >>> Fisik, ilmu, amal tidak bisa disamaratakan karena kondisi setiap orang berbeda. Yang bagus itu pertengahan tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
5. Makanan Haram >>> Jangan pernah ghasab juga.
Cara Mengobati Futur
1. Bertafakur >>> Harus punya waktu untuk bertafakur dan merasakan apa saja yang harus di tafakuri di setiap waktu, seperti salat yang susah khusyu maka tafakurilah salah satunya dengan dzikir. Harus berani sistematis dalam bertafakur, evaluasi setiap waktu yang sudah digunakan. Kalau lagi futur lebih banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan dan memusuhi saudara sendiri.
2. Taubat >>> Minta ampun kepada Allah karena kita sudah mengkhianatinya dan Allah Maha Tahu atas semua perbuatan dan pikiran kita.
Mau apa kamu hidup? Siapa yang membuat kamu seperti sekarang?
>>> Allah yang memberikan semuanya untukmu dan Allah masih menutupi aib-aibmu.
Perbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah dan sesali semua dosa yang sudah diperbuat.
Semua kerusakan keimanan kita berawal dari dosa sendiri.
Selain memohon ampun mintalah pertolongan juga kepada Allah >>> Yaa Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘Ala diinik.
3. Dobrak dan paksakanlah diri agar terbebas dari gangguan syaithan.
Setan hanya bisa membisikan saja seperti triplek lapuk, ciri bisikan setan adalah sesuai dengan yang nafsu sukai. Semuanya pake judul Entar.
Buatlah TARGET harian dan sanksinya yang membuat kita takut gagal dalam kebaikan serta mintalah tolong dan bantuan kepada teman di sekitar.
QS Al-Ankabut: 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Kurangilah interaksimu dengan HP
4. Cut >>> Ganti hobi dengan yang membawa kita lebih dekat dengan Allah.
Semangat Bertafakur.
Seorang kawan pernah berkata, “Bila perjalananmu dengannya tidak membuatmu lebih mengenal Allah, pulang saja. Bila pencapain bersamanya membuatmu jauh dari Allah, lepaskan saja. Bila mencintainya hanya membuatmu tidak taat kepada Allah, maka tinggalkan dia.”
Sebab, bukan cinta namanya jika semakin menjauhkan diri dengan sang Maha pemilik cinta.
Ini perihal mencintai dengan sebaik-baik cinta. Cinta yang tidak membuat luka, cinta yang tidak meninggalkan lara. Sebab bukan cinta jika rasanya bak laksana menggenggam bara.
Cinta yang baik adalah cinta yang menenangkan. Cinta yang menyembuhkan. Cinta yang membahagiakan. Bukan tangisan lara yang menghujam batin seorang anak adam.
Lantas ketika mencintai membuat kita semakin jauh dariNya. Maka tanyakan pada diri, cinta macam apa yang kini bertahta hingga mencintai makhluknya lebih indah dibandingkan mencintaiNya..
Tengoklah saat ini tentang mimpi yang masih menggantung, tentang perasaan yang tergadaikan dan tentang luka yang belum sembuh. Untuk menata ulang kembali agar perasaan yang salah segera dibenahi oleh-Nya.
Ini bukan perihal patah hati yang tidak berkesudahan. Namun ini perihal mencintai dengan ikhlas. Ikhlas mendapatkan atau barangkali ikhlas mengikhlaskan.
Cinta yang hakiki adalah cinta yang didalamnya seseorang bisa tumbuh bersama dalam kebaikan, memberi maaf meski salah dan memberikan ruang untuk berteduh. Tentunya surga-Nya adalah tujuan akhir dari semua perjalanan ini.
Duhai diri yang sedang ditumbuhi cinta. Jadikanlah dirimu dan cintamu menumbuh dengan cinta yang baik, yang selalu paham perihal hakikat mencintai dengan benar. Mencintai-Nya, mencintai karna-Nya, dan dicintai-Nya. Jadikan ia laksana oase kebaikan bagi siapapun, penuntun kebaikan untuk sipapun. Bukankah Rahmatan lil alamin adalah semboyan terbaik agama ini?
Maka mencintailah dengan lembut, dengan penuh rahmat dan kasih sayang. Jikapun perasaanmu ditumbuhi cinta oleh-Nya, jangan jadikan Ia cemburu atas perasaan fitrah itu. Bukankah kau lebih paham atas perasaanmu sendiri?
Mencintailah dengan baik, duhai anak adam. Yang setiap kebaikannya laksana Al-Qur’an yang mencintai seseorang yang mau membersamainya. Laksana Rasulullah yang mencintai umatnya. Laksana Allah yang selalu mencintai hambanya.
Napak tilaslah kembali perjalanan kisahmu.. dengan muhasabah atas kisah yang telah lalu. Ia laksana pembelajar terbaik untuk dirimu. berbaiklah, melembutlah..
©Ibn Syams (self reminder)
JAGA
Jika Kau telah sengaja menanamkan lalu menyuburkan cinta dan kekaguman utuh pada negara maupun orang-orang yang tak pernah kutemui, maka tolong jaga mereka dan iman ini hingga Engkau ridho mempertemukan dan menyatukan kami.
Al kautsar. . Ini adalah salah satu surat yang begitu jelaas menunjukkan betapa Allah Maha Baik, Maha Pemberi Karunia, Maha Agung dalam Rancangan Takdir HambaNya, Ar Rahman.. Ar Rahiim... . Allah membuka surat ini dengan penyampaian bagaimana Allah telah mencukupi hambaNya dengan nikmatNya. Nikmat yang bahkan jika seluruh lautan dijadikan tinta, maka pasti masih saja kurang untuk dipakai menulis satu per satu karunia dariNya... . Surat ini tentang pengajaran. Ada hal yang Allah inginkan dan sukai dari hambaNya. Bukan, ini bukan tentang hubungan timbal balik, melainkan sebuah kelayakan. Sungguh Allah masih memberi kita oksigen gratis walaupun kita tak beribadah. Tapi ibadah adalah sebagai tanda syukur kita. Tanda bahwa kita hamba yang tau diri, tidak hanya menerima nikmat tapi tak berterima kasih pada yang memberikannya... Allah perintahkan berkurban. Dalam artian sempit, ialah kurban di hari adha. Sedangkan dalam artian luas, berkurban adalah melepas diri dari kehambaan kepada Tuhan selain Allah. Allah sesungguhnya hanya ingin kita menghamba kepadaNya, satu. Menjalankan tauhid. Tanpa mencari pertolongan dan mengantungkan harap pada selainNya. . Surat ini tentang penguatan. Bahwa manusia sekaliber Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam sekalipun; dibenci, dihina dan dicaci. Beliau yang sudah jelas selalu dalam kebaikan, yang paling tinggi derajatnya, tercipta tanpa dosa, dan yang paling dicintai Allah saja, masih ada yang berseberangan dengannya. Apalagi kita? . . Sungguh surat ini ingin menyampaikan bahwa dalam keadaan apapun, Allah ada bersama kita. ❤ . Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tattimmush shalihaat. Semoga Allah senantiasa berkenan mengarahkan, memudahkan dan meridhoi setiap gerak gerik kita. Semoga Allah selalu jadi tujuan pertama. Aamiin. . . . Jakarta, 23 Juli 2017. . #CatatanBahja #AlQuran #SalahSatuSuratFavorit #PerjalananCintaSeorangHamba #LillahBillahFillah
Trust Allah. ❤
When we have Allah with us, why should we be afraid of any opposition. When you can internalize that Allah is with you, then no external factors can overcome you.
KONEKSI
Aku ingin merangkak menemuiMu Dalam hening maupun keramaian Berbisik khusyuk lamat-lamat Berharap kemudian Engkau hadir Menjawab segala gundah Menjalin kembali koneksi yang sempat terputus
Bukan. Engkau tak pernah memutuskan koneksi itu Tapi aku. Aku yang abai pada bukti nyata cintaMu
Aku ingin menetap. Tak lagi loncat untuk mencari arti diri PadaMu aku berharap, Ditemukan Dibersamai Diarahkan Dicintai Dilindungi Diselamatkan Dipenuhi Diridhoi.
Sebab seluruh asa menuju padaMu, Maka apapun, akan meniada jika dibanding Engkau.
Saling Sabar
Ternyata di bulan ke sembilan saya menikah, saya semakin menyadari bahwa ada beberapa hal yang dulu saya pahami ternyata keliru. Sebabnya sederhana; hanya karena saya membaca tanpa mengalami, bertanya tanpa mengalami, dan kini saya mengalaminya-menjalaninya, hingga jawaban itu ternyata terhimpun seiring berjalannya waktu. Banyak kekhawatiran saya tentang pernikahan yang ternyata tidak terjadi, kekhawatiran yang saya buat-buat dalam pikiran saya sendiri waktu itu. Juga ternyata banyak hal tak terduga yang mengejutkan, oleh karena saya memang tidak tahu, tidak ada pedomannya, dan memang saya kini menyadari bahwa setiap pernikahan akan memiliki kisahnya masing-masing. Eksklusifitas yang hanya bisa dirasakan oleh sepasang manusia yang menikah tersebut.
Seringkali orang lain mengatakan kepada kami kalau kami terlihat cocok karena banyak kesamaan, misal sama-sama suka menulis, juga sama-sama suka berkegiatan sosial. Atau ada orang tak dikenal yang mengatakan kalau kami itu saling melengkapi banget, kayak puzzle. Ada satu rahasia (mungkin bisa saya katakan sebagai ilmu) pernikahan yang dulu saya tidak pelajari tapi akhirnya saya pahami setelah menikah, yaitu ilmu saling sabar.
Mau bagaimanapun, saya dan istri adalah dua pribadi yang berbeda dan tumbuh amat berbeda sejak lahir. Mau disatukan seperti apapun, akan selalu ada celah-celah perbedaannya. Mau saling melengkapi seperti apapun, akan selalu ada pertentangan-pertentangannya. Hanya saja, hal-hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan di tempat umum karena akan selalu berakhir di rumah.
Dan kuncinya adalah ilmu saling sabar. Sebenarnya, saya dan istri hanya melakukan itu sebagai upaya kami dalam membina rumah tangga muda ini. Kami tidak bersikeras untuk saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bersikeras bahwa kami harus segera berlipat ganda potensinya. Semua itu butuh satu hal yang penting, yaitu kesediaan masing-masing kami untuk dilengkapi, disadarkan, ditekan (dalam hal positif), didorong, dan sebagainya untuk menjadi pribadi yang berkali lipat baiknya.
Ilmu saling sabar. Kami hanya berusaha untuk saling sabar menghadapi diri kami sendiri, saling sabar juga menghadapi satu sama lain sebagai pasangan. Saling sabar terhadap sifat-sifat, terhadap ekspektasi, juga terhadap ego. Kami berusaha keras untuk saling sabar, yang ternyata itupun sangat sulit.
Ketika menikah nanti, kita mungkin akan menyadari kalau ternyata tidak selalu menikah itu saling melengkapi. Belum tentu kehadiran kita melengkapi kekurangannya, juga sebaliknya. Belum tentu kehadirannya meniadakan kekurangan kita. Bisa jadi justru semakin menambahnya. Belum tentu kehadirannya mampu meredakan kekhawatiran dan keresahan kita dulu ketika sendiri, bisa jadi justru kekhawatiran kita semakin bertambah.
Kita perlu untuk saling sabar. Sebab selama-lamanya kita harus saling beradaptasi. Kita harus saling percaya, saling menerima satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengendalikan ego. Dan untuk melakukan itu semua, kita perlu untuk saling sabar.
Selamat mempersiapkan kesabaran sebagai bekal, pastikan ia tidak ada habisnya. Jangan membatasinya. Biarkan itu tumbuh setiap hari dalam pernikahan nantinya.
©kurniawangunadi | 15 Juni 2017
So its not drama, we have done the same things too before and also in the next and always, @petrichor-senja Love 💙